
Acara rapat yang membosankan akhirnya selesai, semua peserta langsung keluar dari ruang rapat, tujuan mereka selanjutnya adalah mading (majalah dinding), pengumuman pembagian kelas baru saja di tempel di mading pagi tadi.
"Panas men" tanya Ardi dengan senyum jahilnya, terlihat di depannya dua sejoli yang sedang bergandengan tangan, Anna dan Aldo.
"Sikat aja kenapa men" ujar Amar.
"B*acot lo berdua, diam!" Noval pun angkat bicara, entah kenapa jika berhubungan dengan Anna dan Aldo membuat Noval cepat emosianal "Ingat men jangan lo berharap lagi sama tuh cewe, paham!" Dimas hanya menggeleng mendengar ucapan tegas Noval.
Satu persatu murid yang tengah berkumpul di depan mading menyingkir ketika sebuah suara yang berat mengejutkan mereka.
"Minggir semua, gue mau lihat kelas" Noval dengan suara berat, ekspresi wajah dingin dan tatapan tajam berbicara sembari melipat tangan di depan dada membuat orang lain semakin segan.
Setelah tidak ada lagi yang menghalangi, the bad boys langsung merapat menuju mading, mata mereka pun dengan teliti membaca satu persatu nama yang tercetak di atas kertas itu.
"Lo ngatur sekelas sama tuh orang juga men?" tanya Noval dengan nada tidak sukanya, jari telunjuknya terarah ke salah satu nama.
Ardi menggelengkan kepalanya, membantah semua tuduhan Noval.
Nirvanya Attalia, nama yang ada di urutan nomor dua dari bawah daftar siswa kelas XI IPA 3, nama yang cukup asing bagi Dimas.
"Emang siapa si dia?" tanya Dimas dengan wajah bingung.
"Anna" jawab Ardi singkat.
Dimas tersenyum tipis.
"Padahal lebih bagus di panggil Vanya atau Lia kenapa harus di panggil Anna ya" monolognya yang membuat ketiga orang sahabatnya hanya melongo.
"Bodo Amat" ucap ketiganya kompak kemudian melangkah menjauhi Dimas yang masih terdiam memaku.
"Kenapa gue baru tahu nama lengkapnya sekarang ya, udah setahun lebih kenal padahal" ucap Dimas dalam hati sembari tersenyum bodoh dan mengusap tengkuknya.
...****************...
Lapangan terlihat sudah di penuhi ratusan murid baru, dari yang masih berseragam SMP, hingga murid yang berseragam lusuh (murid yang harus mengulang MOS), beragam ekspresi pun terlihat, dari ekspresi wajah antusias hingga ekspresi wajah bermalas malasan pun terpampang nyata.
Tiga personel the bad boys yang sudah bersekolah selama lebih dari setahun baru kali ini mengikuti upacara hari senin, bukannya menyesal karena mereka tidak mengikuti upacara selama setahun terakhir, justru mereka menyesal mengikuti upacara untuk pertama kalinya.
"Nyesel gue nurutin omongan si Amar" ucap Noval dengan pandangan lurus ke depan.
"Terakhir kalinya gue percaya sama Amar" sambung Dimas.
"Tau gini sering sering ikut upacara gue, pemandangan indah men" si mata keranjang Ardi.
Ketiga sahabat itu awalnya malas untuk mengikuti upacara, mereka niatnya ingin datang setelah upacara selesai, namun dengan bujuk rayu Amar yang bilang jika panitia MOS hanya ikut pembukaan upacara saja setelah itu mereka bebas, akhirnya membuat ketiga orang itu mempercayai Amar, walaupun berakhir dengan kebohongan Amar.
Setelah upacara selesai para murid baru langsung di arahkan menuju aula, mereka akan di kumpulkan terlebih dahulu di aula sebelum nantinya akan di bimbing oleh kakak pendamping untuk memasuki kelas masing masing.
Anita sebagai ketua OSIS langsung membuka acara, dia memperkenalkan diri kemudian sedikit memberi arahan serta nasihat agar tidak ada murid baru yang membuat ulah saat MOS, tatapan matanya tertuju pada dua personel the bad boys seakan sedang menyindir kenakalan Noval dan Ardi saat MOS tahun lalu.
Setelah acara pengarahan dan sambutan yang di berikan oleh ketua OSIS selesai, Amar pun mengambil alih kendali mic dari tangan ketua OSIS.
"Tes.. tes.. Selamat pagi semua" sapa Amar.
"Pagi kak"
"Perkenalkan nama kakak Amar, biasa di panggil sayang"
"Wuuuuu" sorakan seketika terdengar bercampur dengan gelak tawa.
Amar kemudian memanggil satu persatu pendamping kelas, di mulai dari kelas X1 Ardi dan Eva, lalu Aldo dan Bunga pendamping kelas X2, Dimas dan Anna pendamping kelas X3, dan seterusnya.
Banyak mata yang tak berkedip menatap Dimas dan Anna yang berjalan beriringan menuju ke depan, mereka memang terlihat sangat serasi, apalagi Anna yang murah senyum walaupun Dimas berjalan dengan wajah tanpa ekspresi tidak mengurangi keserasian mereka.
"Serasi banget".
"Cocok banget kak Dimas dan kak Anna" komentar komentar dari murid baru.
Para murid baru pun meninggalkan aula dengan rapi untuk mengikuti kakak pendambing masing masing menuju ke kelas mereka, tersisa panitia inti dan panitia yang bertugas di lapangan saat ini, termasuk Amar dan Noval.
"Men lo ke kelas sana, monopoli biar lo jadi ketua kelas" perintah Noval yang sedang duduk bersama Amar di sudut Aula.
"Malas ah" jawab Amar.
"Lo kalau sampai gak jadi ketua kelas siap siap kita gantung di tiang bendera" Ancam Noval yang di balas senyuman mengejek oleh Amar, Amar pun kemudian meninggalkan Noval dan berjalan menuju ke kelas mereka.
...****************...
Dimas dan Anna terlihat sedang berbicara di depan kelas memberi arahan kepada para murid baru tentang kegiatan yang akan mereka lakukan hari ini, mereka juga mengecek barang barang yang harus di bawa oleh murid murid baru itu.
"Ann lo lanjutin, gue mau ke toilet dulu" Dimas langsung keluar kelas tanpa menunggu persetujuan dari Anna.
Setelah Dimas keluar Anna pun kembali menjalankan tugasnya sebagai pendamping kelas.
"Adik adik semua, barang barang yang wajib di bawa keluarkan ya, taruh di atas meja kak Anna mau cek satu persatu" ucap Anna di sertai senyum manisnya.
Anna kemudian berkeliling menghampiri meja satu persatu, mata bulatnya melihat dengan teliti untuk mengecek barang yang di bawa oleh murid baru.
"Barang barang kamu mana dek?" tanya Anna ketika langkah kakinya berhenti di salah satu meja.
"Gak bawa kak" jawab murid laki laki itu dengan arogan.
"Kenapa kamu gak bawa? nanti kamu di hukum sama kakak kakak Disman (Disiplin dan kemanan)".
"Biarin" jawabnya cuek.
Anna pun menghela nafas panjang, dia sebenarnya merasa kesal dengan tingkah murid baru itu, Dimas yang baru kembali dari toilet berjalan menuju ke meja guru yang ada di depan, dia langsung menghempaskan badannya ke atas tempat duduk, matanya menangkap interaksi antara Anna dan salah satu murid baru, terlihat ada ketegangan di sana.
Anna yang sudah merasa jengkel dengan murid itu kemudian berjalan untuk menghampiri Dimas.
"Dim ada satu murid yang gak bawa barang MOS sama sekali" adu Anna dengan wajah cemberut dan bibir yang mengerucut ke depan, Dimas yang melihat hal itu hampir tersenyum karena gemas.
"Terus?" ucap dimas berusaha menahan diri untuk tidak tersenyum.
"Bantuin ngomong dong Dim, aku udah kesel ngomong sama dia"
"Yaudah biar nanti Disman aja yang beresin" jawab Dimas kemudian kembali fokus memainkan ponselnya.
Anna terus merengek pada Dimas, dia meminta Dimas untuk menegur murid tersebut.
"Ishh.." Dimas merasa kesal dengan Anna kemudian berdiri dan menghampiri murid itu.
Dimas kemudian berjalan menghampiri meja yang tadi di tunjuk oleh Anna, meja tempat anak baru yang tengil dan songong berada, Dimas lalu bertanya penyebab kenapa anak itu tidak membawa barang MOS sama sekali, jawaban yang di berikan oleh anak itu sedikit membuat Dimas terpancing emosi.
"Lo mau jadi jagoan di sini boy?" tanya Dimas dengan tatapan penuh intimindasi.
"Apa urusan lo?" jawabnya sembari membalas tatapan tajam Dimas.
"Kurang ajar lo di diemin, berdiri lo ikut gue"
Di depan kelas Anna yang melihat perdebatan itu merasa khawatir, dia yang bisa merasakan Dimas yang tengah emosi sedikit panik, apalagi ketika terdengar bentakan dari Dimas, Dimas juga menggebrak meja.
"Dim,.... Dim .... sabar Dim, sabar" ucap Anna seraya berjalan menghampiri Dimas.
Dimas pun menarik lengan Anak baru itu dengan kasar, terjadi perlawanan dari anak itu hingga mereka pun tarik menarik, Anna yang berdiri di sebelah Dimas tidak sengaja terdorong tubuh Dimas yang menyebabkan Anna terjatuh, Dimas yang melihat hal itu langsung emosi, dia langsung menarik kerah baju anak baru itu, Dimas kemudian mencekik leher anak itu dengan kencang dan menyudutkan tubuhnya ke tembok.
"Ya ampun Dimas" pekik Anna ketika melihat Dimas mencekik anak baru itu, Anna kemudian langsung berlari keluar kelas untuk meminta bantuan dari panitia yang lain.
Beberapa panitia laki laki langsung berlari masuk ke dalam kelas setelah mendengar teriakan dari Anna, Noval yang kebetulan sedang berpatroli langsung masuk, dia berlari menghampiri Dimas, terlihat wajah anak itu sudah merah padam.
"Men udah men" Noval langsung memiting leher Dimas lalu menarik tubuh Dimas untuk menjauhi anak tersebut, anak baru itu langsung terduduk lemas berusaha mengambil oksigen sebanyak banyaknya.
Panitian lain langsung membawa tubuh anak tersebut keluar dari kelas, mereka membopong tubuhnya karena sangat lemas.
"Gila lo mau mampusin anak orang?" hardik Noval dengan suara lirih.
"Emang belum mampus?" ucap Dimas sembari tersenyum jenaka.
"Si kambing malah ketawa" Noval menoyor kepala Dimas kemudian mengajaknya ke luar dari kelas.
"Gue mau ketemu orang tua asuh gue dulu men" ucap Dimas setelah berada di luar kelas.
"Siapa?" tanya Noval bingung.
"BK" jawab Dimas singkat.
Noval tersenyum tipis, dia mengantar kepergian Dimas dengan tendangan ringan di ****** Dimas.