I Am Home

I Am Home
Exstra part 6



Reni tengah bersolek di depan meja riasnya, dia tengah berdandan untuk menuju ke tempat kerja suaminya, Dimas baru saja menghubunginya dan meminta Reni untuk datang, Dimas ingin mengajak makan siang Reni di luar kebetulan memiliki waktu senggang hinga sore hari.


Setelah memastikan penampilannya sudah rapi Reni kemudian menyambar tas nya di atas meja, dia keluar dari kamar lalu menuruni anak tangga.


"Bu Reni pergi dulu ya" pamit Reni pada ibunya ketika melihat sang ibu tengah bersantai di ruang tamu.


"Kalau mau pergi izin dulu sama suami mu" tutur ibu Reni.


"Orang mau ke kantor Dimas wle" Reni menjulurkan lidahnya, hal yang membuat sang ibu langsung memukul pahanya.


"Ish... emang Reni anak kecil masih di pukul begitu" protes Reni.


"Kelakuan kamu masih kaya anak kecil" sungut sang ibu.


Bunyi klakson mobil mengakhiri perdebatan keduanya, Reni mencium punggung tangan ibunya, kemudian keluar dari rumah untuk menuju mobil yang akan mengantarkan dia bertemu dengan suaminya.


Sepanjang perjalanan Reni sibuk dengan ponselnya, dia sedang berkirim pesan dengan Dimas, Dimas bertanya posisi Reni, dia juga meminta Reni mengabari jika sudah sampai nanti, Dimas akan menjemput Reni di lobby rumah sakit.


"Pak langsung pulang saja ya Reni nanti pulang bareng mas Dimas" ucapnya pada driver setelah mobil sampai di depan lobby rumah sakit.


"Baik mba".


Reni melangkah memasuki loby rumah sakit, dia sudah mengirim pesan pada Dimas, memberi tahu jika dia sudah sampai, Dimas memintanya menunggu sebentar.


Reni duduk di bangku panjang yang ada di Rumah sakit, pandangan matanya melihat ke sekeliling hingga dia menangkap satu sosok yang dia kenali dan ingin sekali dia hindari, namun terlambat karena orang itu sudah berdiri di depan Reni.


"Apa kabar Ren?" tanya Aldo.


"Baik" Reni menjawab dengan malas.


"Boleh duduk" pinta Aldo menunjuk bangku kosong di sebelah Reni.


"Ini tempat umum" ketus Reni.


Reni sangat kesal dengan Aldo jika mengingat suatu hal dimasa lalu, bagaimana Aldo dengan tanpa malu mendatangi Reni dan memaksa Reni bicara di luar, dia berujar menyesal telah meninggalkan Reni dan memilih wanita lain, Aldo bahkan terang terangan mengajak Reni menikah dan akan menceraikan istrinya, karena menurut Aldo istrinya ternyata tidak lebih baik dari pada Reni seperti apa yang dia bayangkan.


Dimas yang mengetahui hal itu langsung marah, tepat satu minggu sebelum hari pernikahan mereka, Dimas datang kerumah dan memarahi Reni habis habisan di depan kedua orang tua Reni karena Reni bertemu dengan Aldo tanpa sepengetahuan Dimas, bahkan di depan ayah Reni, Dimas berbicara dengan lantang akan membatalkan pernikahanya, Dimas menuduh Reni menghianatinya, apalagi Dimas membawa bukti sebuah foto, terlihat Aldo tengah memeluk tubuh Reni dan mencium pipinya, Reni mencoba menjelaskan tentang apa yang terjadi, namun semua orang langsung memvonis Reni bersalah termasuk kedua orang tuannya, untung saja Ardi turun tangan saat itu, dia membantu Reni menjelaskan pada Dimas tentang apa yang terjadi, hingga akhirnya Dimas memaafkan Reni.


"Sedang ada keperluan apa di sini Ren?" tanya Aldo sembari tersenyum manis, Reni hanya melirik dengan malas.


Aldo terus berbicara, dia bahkan merayu Reni dengan bernostalgia tentang kenangan indah mereka berdua saat dulu berpacaran.


"Sampai hari ini aku belum bisa melupakan mu Ren, bahkan aku masih berharap kamu yang jadi istriku" tuturnya tanpa tahu malu.


Dimas yang baru saja datang langsung merasa geram ketika melihat Aldo tengah berbicara dengan istrinya, dia dapat melihat ekspresi tidak nyaman di wajah Reni.


"Orang yang sedang anda rayu sudah memiliki suami dan saya pastikan dia bukanlah wanita yang akan tergoda dengan laki laki lain" ketus Dimas sembari menarik tangan Reni untuk berdiri di belakangnya.


"Sayang" Reni terkejut ketika melihat Dimas yang menarik tangannya, apalagi Dimas sedang menatap tajam ke arah Aldo dengan rahang yang mengeras, dia takut jika terjadi keributan nantinya.


Aldo hanya memberi senyum meremehkan pada Dimas.


"Saya bersama Reni lebih lama dari anda, saya lebih tahu bagaimana Reni, kita sudah melalu banyak hal indah bersama, anda pasti tahu itu" ucap Aldo berusaha memprovokasi Dimas.


Reni mengeraskan genggaman tangannya, dia merapatkan tubuhnya dengan Dimas, berharap bisa sedikit meredakan emosi Dimas.


Dimas menampilkan senyum iblis di bibirnya, Aldo baru saja salah memilih lawan, Dimas bukanlah orang yang mudah kalah jika hanya berperang mental saja, Dimas adalah si licik dengan mulut manis, hanya mulut beracun Ardi yang bisa mengalahkannya.


"Saya tahu semua yang anda lalui di masa lalu bersama istri saya, jika saya jadi anda saya tidak akan pernah melepas wanita seperti Reni, tapi saya mengucapkan terimakasih karena kebodohan anda saya bisa mendapatkan wanita yang sangat sempurna seperti Reni" Dimas tersenyum penuh kemenangan ketika melihat wajah kesal Aldo.


"Satu pesan saya, jangan berharap apapun pada istri saya, karena harapan anda hanya akan menjadi angan angan belaka" Dimas menepuk bahu Aldo "Hati hati anda gila karena obsesi anda, saya bisa merekomendasikan psikiater yang bagus untuk anda" Reni tersenyum lebar mendengar ucapan Dimas pada Aldo, ketakutannya akan terjadi keributan lenyap seketika, dia baru ingat siapa suaminya, bahkah ayah Reni yang sangat galak saja bisa di taklukan oleh Dimas apalagi hanya Aldo seorang laki laki manja.


Dimas langsung meninggalkan Aldo yang hanya bisa diam membisu tanpa menjawab ucapannya lagi, Reni berusaha mengimbangi langkah suaminya yang berjalan dengan cepat.


Dimas langsung menghempaskan diri di atas sofa, pandangan menatap tajam sang istri yang masih berdiri mematung di sebelahnya.


"Berdiri di depanku" ucap Dimas tegas.


"Ada yang perlu kamu jelaskan?" tanya Dimas lirih, namun dengan suara lirih Dimas saja sudah mampu membuat pikiran Reni blank.


"Khayreani Amalia" tegas Dimas.


Reni tidak akan bisa meluluhkan hati Dimas dengan sikap dan suara manjanya ketika Dimas sudah berbicara dengan tegas apalagi menyebut nama lengkapnya.


"Dia yang datang menghampiriku saat aku sedang menunggu mu tadi, aku sudah mengacuhkannya tapi dia terus berbicara" jawab Reni dengan wajah yang tertunduk, jangankan menatap wajah Dimas untuk mengangkat kepalanya saja Reni tidak berani.


"Mendekat"


Reni langsung maju satu langkah, tubuhnya seakan otomatis merespon ucapan Dimas ketika Dimas sedang berada di mode marah.


"Tahu kesalahan mu?" tanya Dimas.


Reni mengangguk.


"Jelaskan!"


Reni harus mengakui dan menjelaskan kesalahannya jika ingin Dimas langsung memaafkannya, ini bukan kali pertama dia menghadapi kemarahan Dimas, namun Reni tetap saja takut jika menghadapi Dimas dalam mode seperti ini, pernah sekali Reni pulang malam karena menghadiri pesat ulang tahun temannya tanpa memberitahu Dimas, esoknya Reni di perintahkan oleh Dimas untuk membuat pengakuan dosa di depan Dimas dan kedua orang tuanya.


"Aku tidak mencoba menghindar dan langsung pergi ketika bertemu dia, aku salah telah melanggar aturan dari kamu" Reni masih ingat ucapan Dimas dulu saat Dimas memaafkan kesalahan Reni dan tak jadi membatalkan pernikahan mereka, Reni harus menghindar atau langsung pergi ketika bertemu Aldo.


"Kemarilah" Dimas berbicara dengan nada lembut seperti biasa yang menandakan kemarahan Dimas sudah hilang, Reni berani mengangkat kepalanya, dia kemudian berjalan mendekati Dimas lalu duduk di atas pangkuan suaminya.


Dimas langsung mendekap tubuh istrinya dengan erat seakan dia sangat takut kehilangan Reni.


"Aku hanya takut kamu pergi" bisiknya di telinga Reni.


"Meskipun ada laki laki yang datang menawarkan ribuan kali lipat dari semua yang kamu berikan, percayalah aku tak akan pernah berpaling dari mu sayang" Reni memeluk erat laki laki yang sangat dia sayangi.


Begitulah cara Dimas mendidik Reni, dia akan membiarkan Reni mengakui kesalahannya dan akan langsung memaafkan kesalahan Reni saat itu juga jika istrinya telah berkata jujur.


"Aku takut kalau kamu sudah menyebut nama lengkap ku" rajuk Reni.


"Maka dari itu jangan membuat ku menyebut nama lengkap mu" balas Dimas sembari mencium bibir tipis isterinya.


Reni sangat menganggumi Dimas, dia sangat menghormati Dimas dan segan terhadap suaminya, karena selama Reni menikah hampir tidak pernah menemukan kekurangan Dimas, Dimas selalu memperlakukan Reni dengan lembut dan penuh kasih sayang, walaupun Reni salah Dimas akan menghukumnya denga cara yang luar biasa lembut, tak sekalipun Dimas bermain fisik pada Reni bahkan membentak Reni saja Dimas tidak pernah.


"Terimakasih sudah menjadikan dan memperlakukan ku sebagai Ratu sayang, kamu laki laki yang sangat sabar menghadapi segala tingkah ku, aku sangat menyayangi mu suamiku" ucap Reni dengan tulus.


"Karena kamu memang Ratu bagi ku"


Cup.... Dimas mengecup kening Reni.


"Kamu memang wanita yang sangat beruntung memilki suami sepertiku" ucap Dimas dengan bangga.


"Kebiasaan deh percaya diri sekali" cibir Reni.


"Itu fakta, aku yakin laki laki lain akan pergi meninggalkan mu tepat satu bulan setelah menikah"


Reni terkekeh, dia membenarkan ucapan Dimas, bagaimana Dimas yang selalu sabar menghadapi keras kepala Reni, Reni yang selalu bertingkah semaunya sendiri ketika awal awal pernikahan, Reni yang masih menjalani kebiasaan lamanya seperti saat sebelum menikah, Reni bahkan yakin jika suaminya bukan Dimas mungkin Reni akan mendapat kekerasan fisik karena segala tingkah lakunya yang sangat menjengkelkan dulu, saat awal awal menikah adalah masa tersulit mereka karena mereka harus beradaptasi satu sama lain dengan kehidupan barunya, apalagi perkenalan mereka yang terbilang cukup singkat, sehingga keduanya belum begitu mengenal sifat masing masing.


"Aku mencintaimu suamiku" ucapnya sembari mengecup bibir Dimas.


"Aku tahu" jawab Dimas sembari tersenyum hangat.


"Kenapa tidak membalas?" kesal Reni karena Dimas tidak membalas ungkapan cintanya.


"Apa perlu?"


Reni mengangguk.


Dimas tertawa lirih "Tak perlu aku mengatakannya karena aku yakin kamu bisa merasakan sebesar apa rasa cinta dan sayangku untukmu"


Reni langsung memeluk dengan erat tubuh Dimas, tentu saja Reni tahu sebesar apa cinta Dimas tanpa dia mengatakannya, Reni sudah sangat hafal dengan sifat suaminya itu, Dimas bahkan tidak pernah mengungkapkan perasaanya pada Reni namun Dimas langsung menunjukkan dengan perbuatan tentang sebesar apa rasa cintanya pada Reni.