I Am Home

I Am Home
Will you marry me?



"Are you serious!" pekik Ardi dengan suara tinggi, dia tidak bisa menyembunyikan rasa terkejutnya setelah mendengar penuturan Andro terkait penyebab terjadinya keributan di lobby hotel tadi.


Andro mengangguk, dia kemudian memberikan ponselnya yang terdapat beberapa foto dan viedo peristiwa yang terjadi di dalam ballroom tadi, Andro juga menunjukkan chat dari Namira untuk memperkuat alibinya, sebelumnya Ardi memberitahu Andro jika sahabatnya Dimas saat ini tengah menjalin hubungan asmara dengan Namira.


Ardi langsung menghempaskan tubuhnya bersender di sofa, dia memijit keningnya karena tiba tiba kepalanya terasa berat, pukulan pukulan kecil pun Ardi berikan tepat di dahinya, efek alkohol dan fakta yang baru saja dia dapati.


...****************...


Dimas baru saja menghentikan mobilnya di halaman parkir apartemen tempat Namira tinggal, sepanjang perjalanan tadi tidak ada obrolan sama sekali dari mereka, kebisuan seakan terasa begitu nyaman.


Mereka berdua masih teridam tenggelam tanpa ada yang bicara, tak ada niatan dari Namira untuk sekedar pamit lalu keluar dari mobil, dia masih duduk dengan kepala menunduk tangan saling mencengkram satu sama lain seakan tengah mengumpulkan keberanian untuk mengungkap sebuah kejujuran.


Sedangkan Dimas masih setia mencengkram kemudi, pandangannya lurus ke depan dengan pikiran yang sedang berkecambuk, ucapan Ardi selalu terngiang di kepalanya "yang istimewa akan kalah dengan yang selalu ada", tiba tiba rasa ingin memiliki Namira seutuhnya begitu kuat tarasa dari dalam hatinya.


"Dim"


"Mir"


Dimas dan Namira berbicara besamaan, namun Dimas sedikit terkesiap mendengar Namira memanggilnya dengan nama langsung, karena setelah mereka meresmikan hubungan Namira selalu memanggil Dimas dengan sebutan sayang.


"Ladies first" ucap Dimas.


Namira menggeleng.


"Kamu dulu Dim" pinta Namira agar Dimas terlebih dahulu berbicara.


Huh.... Dimas mencoba menarin nafas dalam dalam sebelum berbicara, pertanyaan dari Namira sebelum mereka keluar dari bar cukup membuat Dimas gelisah.


Flashback on......


"Dim kamu lebih memilih mana hidup bersama orang yang mencintaimu atau kamu cintai?" tanya Namira setelah beberapa saat mereka dalam keheningan.


"Aku akan memilih hidup dengan orang yang aku cintai" jawab Dimas.


"Kenapa?"


"Setidaknya aku bahagia walau akhirnya mungkin saja bisa terluka" Dimas menyesap minumannya "Aku akan punya waktu untuk membuat dia mencintaiku, kalau aku hidup dengan orang yang mencintaiku bisa saja aku akan membuatnya terluka karena aku akan terus mengejar orang yang aku cintai".


"Kalau kamu?" tanya Dimas.


"Sama sepertimu" jawab Namira sembari mengangguk.


"Jika saat ini kamu hidup dengan wanita yang kamu cintai tapi wanita itu mencintai pria lain dan pria lain itu juga mencintai wanitamu" Namira menatap wajah Dimas sembari tersenyum hangat "Kamu akan memilih melepaskannya untuk bahagia atau bertahan dengan egomu dan membuat wanitamu merasakan segala rasa sakit?"


"Kenapa kamu bertanya seperti itu?"


"Hanya pendapat?" Namira mengangguk.


"Tapi aku rasa bukan hanya sekedar pendapat" Dimas tersenyum miring.


Deg.....


Namira terkejut melihat perubahan ekspresi Dimas.


"Aku hanya bercanda" Dimas tertawa sembari mengusap kepala Namira.


"Jadi?" Namira berusaha berekspresi sebiasa mungkin.


"Aku tidak akan melepasnya, kecuali dia yang memintaku pergi"


Dimas menggenggam erat tangan Namira, genggaman yang terasa begitu sakit seakan dia sebentar lagi akan kehilangan Namira untuk kedua kalinya.


Flashback off......


Dimas menyenderkan kepalanya lalu melihat ke arah Namira.


"Terakhir kita bertemu dulu sebelum berpisah kamu pernah bertanya tentang rencana hidupku" terang Dimas berusaha bernostalgia dengan masa lalu, Namira memasang ekspresi datar tanpa menyahuti ucapan Dimas.


"Kamu masih ingat ketika aku berbicara sudah memiliki rencana hidupku dengan mu di masa depan?" Namira mengangguk.


"Tapi setelah kamu pergi aku menjalani hidupku dengan rencana hidup tanpa adanya dirimu, lalu kamu datang dan memintaku memberi mu kesempatan dan aku pun mengabulkannya, kini aku menjalani hidupku sesuai rencanaku dengan adanya dirimu"


Namira menarik nafas dalam, dia nampaknya sudah bisa membaca arah pembicaraan Dimas.


"Lalu apa rencana hidupmu sudah sesuai semua dengan yang kamu bayangkan dulu?" tanya Namira.


Dimas menggeleng.


"Tinggal satu yang belum terwujud" ucap Dimas sembari menggeser posisi duduknya untuk menghadap kearah Namira.


Dimas menggenggam tangan Namira dengan erat, dia tatap dalam dalam mata Namira berharap masih bisa menemukan bayangan dirinya di mata Namira seperti dulu saat mereka saling mencintai satu sama lain.


"Menikah dengan mu" ucap Dimas mantap "Hanya itu yang belum terwujud".


Namira langsung membuang wajahnya untuk menghindari tatapan Dimas yang begitu menusuk kalbu saat dia berkata satu hal yang belum terwujud dalam rencana hidupnya.


"Look into my eyes listen to me" Dimas menangkup wajah Namira kemudian dia tatap mata Namira dalam dalam.


"Will you merry me?" pinta Dimas dengan tatapan penuh harap.