BOSS WITH BENEFIT

BOSS WITH BENEFIT
Bab. 99. Maukah Kamu Menjadi Kekasihku?



“Kalian tunggu dulu. Kita makan malam bersama. Baru keluar untuk melihat-lihat apartemen.” Nyonya Aurel bersuara.


“Tunggu sebentar. Mama akan mengecek makanannya dulu.” Wanita paruh baya itu bangkit.


“Tapi, Tan—.”


“Tidak ada penolakan Reka, atau kamu jangan membawa Willona.” Ibu dua anak itu berucap sembari mengoyangkan jari telunjuknya di udara.


Dan Reka hanya mampu menghela nafas pelan.


“Apa ada yang ingin kalian jelaskan?” William kembali bertanya, setelah sang mama menghilang dari ruang keluarga.


“Maksudmu apa?” Tanya Reka dengan alis berkerut.


“Oh, adik iparku tersayang. Jangan berpura-pura, atau perlu aku perlihatkan lagi? Honey, apa kamu membawa ponsel?” William berbicara dua arah.


Regina mengangguk, kemudian merogoh saku celana kain yang ia gunakan.


“Sepertinya, mama dan papa belum tau.” William kembali berucap. Ia meraih ponsel sang istri, kemudian membuka media sosial.


“Abang, i-itu.” Willona mulai bersuara.


“Itu tidak seperti yang kalian pikirkan. Maksudku, memang itu aku dan Willona. Kami melakukan itu supaya Willona tidak di ganggu mantannya lagi.” Reka mengambil alih menjelaskan, karena adik William itu seperti sulit untuk berbicara.


“Jadi kalian memang bertemu di pesta ulang tahun itu?” Selidik Regina. Dan kedua orang yang lebih muda itu pun mengangguk.


“Wah.. Adik dan adik iparku keren juga ya. Jadi begitu caranya mengusir mantan yang sering menganggu?” William berucap sembari menganggukkan kepalanya.


“Aku pikir, kalian memang memiliki hubungan.” Ucap Regina pelan, namun masih di dengar oleh ketiga orang lainnya.


“Re, ka-kami.” Willona menggelengkan kepalanya. Entah kenapa, lidah gadis itu terasa sangat kelu.


“Ada hubungan pun tidak masalah. Aku setuju.” Wanita hamil itu berbicara dengan antusias.


“Re, tidak seperti itu. Kami baru saling mengenal.” Reka menghela nafasnya pelan. “Lagipula, kami bukan kalian, yang baru kenal langsung naik ranjang.”


Mata Regina membulat sempurna kala mendengar ucapan sang adik.


“Reka, kamu—.”


“Anak-anak, ayo makan. Papa sudah menunggu di ruang makan.” Suara Nyonya Aurel menginterupsi.


“Reka awas ya kamu.” Regina kembali melanjutkan ucapannya dengan menatap nyalang sang adik.


Sementara, dokter muda itu hanya mengedikan bahunya.


“Apa kabar kamu, Reka?” Pak Antony memeluk sebentar pri muda itu.


“Aku baik. Om apa kabar?”


“As you can see, I’m fine.” Ucap pria paruh baya itu sembari merentangkan kedua tangan. Memperlihatkan keadaannya yang baik-baik saja.


Reka menangguk. Mereka kemudian mengambil tempat duduk masing-masing di kursi meja makan.


“Lain kali, datang bawa alat periksa. Biar om bisa cek kesehatan.” Ucap pak Antony terkekeh.


Reka pun menatap penuh tanya.


“Om serius, Ka. Om memang rutin memeriksakan kesehatan.”


“Pa, pergi ke rumah sakit seperti biasa saja.” Willona menyela obrolan mereka.


“Loh, kalau sudah ada yang gratis, kenapa harus bayar?” Ucap pak Antony tergelak.


“Jaman sekarang mana ada yang gratisan?” Celetuk William sembari membalik piring di hadapannya, kemudian menyodorkan kepada sang istri, agar benda yang terbuat dari keramik itu diisi.


“Tentu ada. Menantu harus memeriksa mertuanya secara gratis.”


Reka tiba-tiba saja terbatuk mendengar ucapan pak Antony.


“Astaga, Reka. Kamu kenapa? Belum juga makan.” Regina menyodorkan segelas air kepada sang adik.


Pak Antony dan nyonya Aurel pun tergelak bersama.


Acara makan malam di mulai. Dengan tenang, tanpa ada yang menggoda satu sama lain.


****


“Kita mau kemana?” Tanya Willona yang sudah duduk di samping Reka. Mereka kini ada di dalam mobil.


“Mencari apartemen.” Jawab pria itu sembari menyalakan mesin mobil. Kemudian meninggalkan halaman rumah Sanjaya.


Setelah makan malam usai, Reka kembali meminta ijin pak Antony dan nyonya Aurel untuk membawa anak gadis mereka keluar.


“Malam-malam begini? Kamu serius?” Tanya Willona tak percaya. Pasalnya, kini sudah pukul 8 malam.


“Kita keliling saja dulu. Aku mau mencari apartemen di dekat rumah sakit. Pasien akhir-akhir ini meningkat. Memang rumah kontrakan tidak terlalu jauh, tapi saat siang hari, lalu lintas tidak bisa di ajak kompromi.” Dokter muda itu seolah menumpahkan rasa kesalnya. Sering kali ia terjebak di tengah padatnya lalu lintas jalanan.


Mendengar ucapan Willona, Reka pun menepikan mobilnya. Untung saja tidak ada tanda larangan parkir disana. Karena mereka masih berada di sekitar kompleks perumahan.


“Kenapa berhenti?” Tanya Willona heran.


“Apa sebegitu tidak inginnya kamu bersamaku?” Tanya pria itu, ia pun membuka sabuk pengaman yang belum lama membelit tubuhnya.


Dokter muda itu pun menatap lekat, gadis cantik di sampingnya.


Di tatap seperti itu membuat Willona salah tingkah. Entah kenapa, pria itu selalu saja bisa membuatnya gugup, bahkan mampu membuat jantung gadis itu berdetak lebih cepat.


“Katakan, Willona. Apa kamu begitu tidak ingin berdua dengan ku?”


Reka mencondongkan tubuhnya. Membuat jarak kedua orang itu begitu dekat.


“A-aku.” Gadis itu menahan dada Reka yang kian mendekat.


“Jangan lakukan lagi, itu akan menjadi ciuman keempat ku.” Ucapnya saat wajah dokter tampan itu mulai mendekat.


“Ralat, itu ciuman keempat kita.”


Kepala Willona menggeleng. “Itu juga yang keempat untukku sendiri.”


Reka mencebik. “Jadi aku pria pertama untukmu.” Di tatapnya lekat wajah gadis cantik itu, dan Willona pun menganggukkan kepalanya.


“Apa karena itu, kamu tidak ingin bersamaku? Takut jika aku mencuri ciuman lagi?”


Kepala model cantik itu kembali mengangguk.


“Iya. Karena kita tidak memiliki ikatan untuk terus melakukan hal itu.”


“Kalau begitu, ayo kita jalin ikatan itu.”


Alis Willona berkerut, ia mencoba mencerna apa yang di ucapkan oleh adik dari kakak iparnya.


“Apa maksudmu?”


Reka menghela nafasnya panjang. Ia kemudian meraih jemari Willona dan menggenggamnya erat.


“Willona Aureli Sanjaya, mau kah kamu menjadi kekasihku?”


Deg…


Jantung Willona kembali berdetak cepat. Ia pernah di perlakukan seperti ini sebelumnya. Namun, baru kali ini merasakan debaran yang berbeda.


“A-aku.”


“Aku tau, kita baru saling mengenal, dan perkenalan kita di awali dengan kesan yang kurang baik. Setiap bertemu kita selalu saja bertengkar. Namun, Tanpa aku minta, ada rasa berbeda yang mulai tumbuh di hati aku, dan itu tumbuh untuk kamu.”


Willona memberanikan diri menatap pria yang kini juga sedang menatapnya.


“Reka.”


“Iya sayang?”


“Tapi aku baru saja putus, dan sakit hati atas pengkhitanan itu masih terasa.” Ucap gadis itu sembari menunduk.


Reka mengangkat dagu Willona, membuat pandangan mereka kembali beradu.


“Aku akan menunggu, sampai kamu mau menerima aku.”


Willona seperti tersihir oleh manik mata dokter muda itu. Tanpa disadari, ia mengangguk. Dan sedetik kemudian, Reka pun menyatukan bibir mereka berdua.


“Aku mencintaimu.” Ucap pria itu di sela pagutan mereka.


“Boleh aku meminta sesuatu?” Tanya Willona saat tautan mereka terlepas.


“Minta apapun, asal jangan memintaku menjauhimu.”


Willona mencebikan bibirnya. Ia menjadi besar kepala, merasa pria itu telah menjadi budak cintanya.


“Tolong rahasiakan ini dari keluarga kita.”


Kedua alis Reka hampir menyatu mendengar permintaan pujaan hatinya itu.


“Setidaknya, sampai hubungan kita benar-benar jelas.” Lanjut wanita itu lagi.


“Tentu. Kita masih punya banyak waktu untuk saling mengenal dan menumbuhkan rasa itu di hatimu untukku, hanya untuk aku.”


.


.


.


Bersambung.