BOSS WITH BENEFIT

BOSS WITH BENEFIT
Bab. 127. Aku Juga Mencintai Reka.



“Katakan apa yang telah terjadi di antara kalian.” Yang berbicara bukanlah nyonya Aurel, karena wanita paruh baya itu masih terkejut dengan lamaran putra sahabatnya itu.


Melainkan sang suami, pak Antony yang duduk di sampingnya.


Reka yang sedang menunduk, pun mengangkat kepalanya. Ia melepas tangan nyonya Aurel, kemudian mengusap kedua pipinya.


“Kembalilah duduk. Dan ceritakan apa yang telah terjadi pada kalian berdua.” Perintah pak Antony.


Sementara, pasangan William dan Regina hanya menyimak.


Reka hanya bisa patuh, ia kembali duduk di samping Willona. Kembali meraih jemari gadis itu, kemudian menggenggamnya dengan lembut.


“Cih, dia sama bucinnya denganku.” Gumam William melihat pergerakan adik iparnya.


Regina yang mendengar ucapan sang suami, memperingatkan pria itu untuk diam melalui tatapan matanya.


Pria itu pun memberikan senyum terbaiknya. Jika tidak menurut, kesejahteraan si boy, menjadi taruhannya.


“Om, tante. Maafkan aku. Aku telah lalai menjaga Willona.” Ucap Reka kemudian.


“Apa kalian berpacaran?” Tanya pak Antony.


Reka menatap Willona sejenak. Namun gadis itu hanya diam menundukkan pandangannya.


“Aku dan Willona, kami tidak berpacaran, om. Tetapi kami memang sedang dekat.”


Reka kemudian menceritakan hubungan mereka. Yang berawal dari pertemuan tak sengaja di bandara. Hingga menjadi semakin dekat, sampai pria itu jatuh cinta pada Willona.


“Lalu, kesalahan apa yang telah kalian perbuat? Apa kamu menghamili putriku?” Tanya pria paruh baya itu lagi.


“Papa.” Nyonya Aurel menggeleng tak percaya. Sang suami bertanya tanpa basa-basi.


“Tidak, om. Maksudku, belum. Dan mungkin akan segera hamil.”


Jawaban Reka membuat semua orang di sana tersentak. Willona yang menunduk pun seketika mengangkat pandangannya.


“Apa? Bukannya aku benar?” Goda Reka pada gadis di sampingnya itu. Saat melihat gadis itu menatapnya tak percaya.


Tangan William terkepal. Ingin sekali meninju dokter muda itu, namun ia urungkan niatnya. Suami Regina itu teringat, jika dirinya juga tidak lebih baik dari Reka.


“A-apa maksudmu Reka?” Regina menatap penuh tanya pada sang adik.


Reka kembali menatap orang-orang yang duduk di sofa seberang meja.


“Aku dan Willona, kami sudah melewati batas.” Pria muda itu menghela nafas untuk kesekian kalinya.


“Semalam, Willona pergi ke pesta temannya, aku sudah melarang karena perasaan ku tak enak. Tetapi dia tetap pergi. Dan benar dugaan ku, saat di pesta, mantan kekasih Willona memberinya minuman yang telah di campur obat.”


“A-apa?” Nyonya Aurel terkejut. Sehingga menghentikan ucapan Reka.


Reka menganggukkan kepalanya.


“Biarkan Reka bicara dulu, ma.” Sela pak Antony. Nyonya Aurel pun mengatupkan bibirnya.


“Untung saja Willona ingat menghubungi aku. Sebelum pria itu menyadarinya. Aku membawa Willona ke apartemen, maafkan aku, om, tante. Harusnya aku membawa Na pulang, tetapi melihat kegilaan yang dialaminya, aku tidak berani membawa dia kemari.”


“Jadi kalian melakukan itu semalam?” Tanya pak Antony.


“Iya, om. Jujur, aku sudah bersusah payah menahan Na, aku bahkan merendamnya di dalam bak mandi. Tetapi, dia sepertinya mengonsumsi obat dosis tinggi. Sehingga tidak ada cara lain untuk menghentikan kegilaannya.”


Diingatkan kembali kejadian semalam, Willona hanya mampu menunduk sembari meremat jemari Reka. Ia sungguh tak bisa membayangkan bagaimana dirinya menguasai tubuh Reka.


“Kurang ajar!! Katakan padaku, Na. Siapa pria yang telah memberi obat. Akan aku habisi dia dengan tanganku.” William kini di kuasai amarah. Ia tak terima adiknya di perlakukan seperti itu.


“Dad, tenanglah.” Regina mengusap lengan sang suami.


“Aku tidak bisa tenang, Hon. Bagaimana jika Reka tak cepat datang. Aku tidak bisa membayangkan pria itu merusak adikku.”


Tangan William terkepal. Ia siap melayangkan tinjuan kapan saja.


“Abang.” Willona terharu mendengar ucapan sang kakak.


Willona pun bangkit menghampiri kakaknya.


“Maafkan aku, bang. Aku tak bisa menjaga diriku.” Ucap Willona dalam dekapan sang Kakak. Gadis itu tak sanggup lagi menahan tangisnya. Sedari tadi mencoba tegar, namun air matanya tumpah ketika melihat amarah sang kakak.


‘Oh Tuhan, mungkinkah yang terjadi pada adikku adalah karma dari ulahku pada Regina? Maafkan aku, Tuhan.’


“Jangan menangis.” Hanya itu yang mampu William ucapkan.


“Jadi kamu ingin menikahi putriku?” Pak Antony kembali bersuara. Membuat pelukan William dan Willona terlepas. Kini gadis itu duduk di antara sang kakak dan kakak iparnya. Regina pun mendekap tubuh adik iparnya dari samping.


“Iya, om. Secepatnya.” Jawab Reka dengan tegas.


“Lalu apa Regan dan Karin tau tentang hal ini?”


Pak Antony menganggukkan kepalanya. Sebagai orang tua, ia hanya bisa merestui, jika itu sudah menjadi keinginan anak-anaknya.


“Na, apa kamu yakin akan menikah dengan Reka?” Tanya sang mama.


Kepala Willona mengangguk. Tak ada alasan lagi untuknya menolak lamaran pria itu. Gadis itu juga telah mencintai Reka sepenuh hati.


“Kamu yakin, Na?” Sang kakak ipar ikut memastikan. Bagaimana pun juga, semua orang di rumah itu tau, hubungan Willona dan Reka tidak pernah akur.


“Iya, Re.” Jawab Willona sambil tersenyum.


“Apa karena Reka yang—


“Tidak.” Kepala Willona menggeleng dengan cepat.


“Bukan karena itu, tapi, tapi karena aku juga mencintai Reka.” Ucapnya sembari menundukkan kepala.


“Baiklah, kalau kalian memang sudah saling mencintai. Tidak ada alasan untuk papa tidak merestui hubungan kalian. Papa harap, kalian bisa sama-sama dewasa, dan saling memahami kedepannya.”


“Terimakasih, om. Aku janji, sebisa ku akan membahagiakan Willona.” Ucap Reka tanpa ragu.


“Mulai sekarang, panggil papa dan mama. Kamu akan menikah dengan Willona, itu artinya kamu akan menjadi anak kami juga.” Ucap nyonya Aurel.


“Iya, ma.” Reka tersenyum kepada calon mertuanya.


Setelah beberapa saat, mereka pun makan malam bersama. Di meja makan, tidak ada pembicaraan lagi di meja makan.


Usai makan malam, Reka pun pamit pulang.


“Jangan lupa kabari orang tuamu, papa dan mama kapan pun siap menikahkan kalian.” Ucap pak Antony sembari menepuk pundak calon menantunya.


“Iya, pa.”


Pak Antony dan Nyonya Aurel pun kembali ke kamar mereka.


“Reka?” Regina mendekati sang adik.


“Re.”


Mereka berdua saling memeluk. Sadari tadi tak mendapat kesempatan, kini giliran mereka untuk bicara berdua.


“Re, maafkan aku.” Ucap Reka.


“Tidak apa-apa. Aku justru bangga padamu. Kamu begitu bertanggung jawab. Semalam berbuat, hari ini langsung melamar.” Ucap sang kakak terkekeh.


“Aku tidak mau Willona meragukan aku.”


Regina menganggukkan kepalanya.


Willona menganantar Reka hingga ke teras depan.


“Hati-hati di jalan, ya.” Ucap wanita itu.


Mungkin ini yang namanya jatuh cinta, gadis itu merasa enggan berpisah dengan Reka.


“Iya, kamu jangan bergadang. Setelah ini langsung tidur. Jangan berpikir yang macam-macam. Aku mencintaimu.”


Pria itu kemudian mendekap pujaan hatinya. Tak lupa melabuhkan kecupan di atas kening gadis itu.


“Astaga.. mata suciku ternodai.” Ucap William di ambang pintu.


“Hei, cepat pulang sana. Tidak ada mesra-mesraan lagi.” Pria itu mendekat, kemudian menarik sang adik menjauh dari Reka.


“Dasar kakak ipar tidak pengertian.”


“Bicara sembarangan lagi, aku pastikan pernikahan kalian batal.”


“Kamu mengancamku?”


Willona menggelengkan kepala melihat tingkah laku kakak dan calon suaminya.


“Sudah, kamu pulang sana. Abang, ayo masuk.”


Willona pun menarik kakaknya masuk ke dalam rumah.


.


.


.


Bersambung.