
“Papa jadi ingin bertemu dengan anaknya Regan, seperti apa sih dia? Sampai mana ngotot ingin menjadikan mantu.” Ucap pak Antony di sela-sela acara sarapan pagi mereka, di dalam kamar hotel.
Tempat menginap yang mereka dapatkan memang bukan hotel bintang lima, namun masih sangat nyaman untuk di tempati.
“Temui saja, orang anaknya tidak ada disini.” Jawab nyonya Aurel terkekeh. “Yang jelas, dia bukan gadis kecil ingusan lagi.” Lanjutnya sembari memasukkan potongan semangka ke dalam mulutnya.
“Dia itu wanita karir. Pekerja keras dan mandiri. Sangat cocok dengan William.” Sambung wanita paruh baya itu lagi.
“Apa bedanya dengan Regina? Dia juga mandiri, pekerja keras.”
“Jangan membandingkan dengan Regina lagi, pa. Atau tidak ada pergulatan lagi.”
Pak Antony menelan potongan semangka dengan susah payah. Apa mungkin istrinya cemburu dengan Regina? Ah, tidak. Itu tidak boleh terjadi. Maka, papa dari William dan Willona itu pun tidak membahas masalah Regina dan gadis yang ingin di jodohkan oleh sang istri.
‘Baiklah, aku akan bertindak cepat. Sebelum William bertemu gadis itu, aku pastikan dia terjebak dengan Regina terlebih dulu.’
“Kemana kita hari ini, ma?” Pak Antony mengalih pembicaraan.
“Mama ingin mengunjungi rumah mama yang dulu, pa. Kata Karin, ibu yang merawat rumah itu, sudah lama menanyakan kabar mama.”
“Ya sudah, nanti kita kesana. Nanti kita berikan sedikit uang, kasihan dia tinggal sendirian.”
Nyonya Aurel mengangguk, mereka kemudian melanjutkan sarapannya.
***
Sementara di apartemen William dan Regina tengah bersiap untuk ke kantor. Seperti biasa, Regina akan memilihkan setelan yang akan William kenakan untuk bekerja.
Mereka sama-sama bersiap, namun Regina masih menggunakan handuk piyama, karena ia sedang memilih dasi yang cocok untuk sang atasan. Wanita itu pun tersenyum saat mendapat warna yang pas di padukan dengan jas yang William gunakan. Regina pun membalik tubuhnya.
“Will, bagaimana jika—.” Ucapan wanita itu terhenti. Ia menelan ludahnya kasar. Dasi di dalam genggaman jatuh ke lantai begitu saja.
“Honey. Ada apa?” Tanya William yang melihat sang sekretaris mendadak pucat.
“Will,”
“Ya, Honey. Ada apa?” Pria itu mendekat ke arah Regina.
“Willona?” Regina berucap lirih. Namun masih bisa di dengar oleh William.
Alis William berkerut, mendengar sang sekretaris menyebut nama adiknya.
“Ada apa dengan Willona, Hon?” Tanya pria itu tak mengerti.
“Di belakangmu.” Mata William membulat. Sedari tadi ia berdiri membelakangi pintu masuk ruang ganti.
Pria itu seketika memutar tubuhnya. Sang adik dengan mata memicing dan bersedekap dada, sedang berdiri di ambang pintu.
“Na? Sejak kapan kamu disana?”
“Mungkin sepuluh menit yang lalu.” Jawab Willona santai, gadis itu kemudian berlenggang ke dalam ruang ganti sang kakak.
Dengan cepat William menyembunyikan Regina di balik punggungnya.
“Jadi ini yang membuat Abang betah tinggal di apartemen?” Tanya model cantik itu, sembari meneliti ruang ganti kakaknya. Ia mencebik, kala mendapati alat berhias wanita, ada di atas meja rias.
“Na, aku bisa jelaskan.”
“Hmm.. apa yang ingin Abang jelaskan? Aku bisa menyimpulkan sendiri.” Pandangan gadis itu jatuh pada makhluk cantik yang sedang berdiri di balik punggung sang kakak.
Jangan tanyakan lagi bagaimana perasaan Regina sekarang. Pipinya terasa sangat panas, dan jantungnya berdetak sangat cepat. Ia merasa seperti sedang tertangkap basah sedang berselingkuh, oleh seorang istri sah.
“Willona, aku—.”
“Na, jangan katakan apapun pada mama dan papa. Mereka akan berpikiran buruk terhadap Regina.” William memotong ucapan sang sekretaris.
Willona mencebik. “Gunakan pakaian kalian. Aku tunggu di bawah. Kita sarapan bersama.” Setelah mengucapkan hal itu, Willona pun meninggalkan mereka.
“Will, bagaimana ini?” Nada suara Regina terdengar ketakutan. Membuat William mendekap sejenak tubuh wanita itu.
“Jangan khawatir. Aku mengenal Willona dengan baik. Semuanya pasti baik-baik saja. Ayo, gunakan pakaianmu. Kita sarapan bersama.”
Saat sampai di ujung tangga, Regina lagi-lagi harus menelan ludahnya kasar. Ia melihat Willona sedang menata sarapan di atas meja makan. Regina sendiri belum sempat menyiapkan sarapan karena ia dan William bangun terlambat, akibat pergulatan yang terjadi di antara mereka semalam.
Dan pagi ini, William berencana mengajak Regina sarapan di dekat kantor. Namun, sepertinya itu hanya tinggal rencana, karena sang adik sudah menyiapkan makan pagi untuk mereka.
“Ayo kita sarapan.” Willona berucap santai. Gadis itu kemudian mengambil tempat duduk di salah satu kursi.
“Maaf, kita berbagi sarapan. Aku hanya membawa untuk dua orang. Aku tidak tau jika ada penghuni lain di apartemen ini.”
William dan Regina saling tatap sejenak. Mereka kemudian ikut mengambil tempat duduk.
“Na, aku bisa jelaskan.”
“Sarapan dulu, bang. Bicaranya nanti saja.”
Willona mulai menyuap sarapannya, namun berbeda dengan dua orang lainnya, yang hanya menatap hidangan di hadapan mereka.
“Dimakan, Re. Tidak ada racunnya, kok.” Gurau Willona.
Dengan ragu, Regina menyantap sarapan itu, bukan karena takut di racun, tetapi ia merasa tidak enak hati. Willona pasti berpikiran yang tidak-tidak tentang dirinya dan William, meski itu benar adanya.
Isi piring telah habis berpindah kedalam perut. Masih di meja makan, Willona mulai mengintrogasi kedua pelaku yang kedapatan berduaan di dalam ruang ganti.
“Jadi, apa yang ingin Abang jelaskan padaku?” Tanya Willona setelah ia selesai meneguk segelas air putih.
William menelan ludahnya kasar. Baru kali ini ia merasa tak berdaya di hadapan sang adik.
“Na.. aku dan Regina—
“Bukannya Regina sudah mempunyai kekasih?”
“Regina sudah putus dengan kekasihnya.”
“Apa karena Abang?”
“Tidak.” Bukan William yang menjawab, tetapi Regina sendiri. Ia tidak mau jika Willona menganggap William yang menjadi penyebab putusnya hubungan Regina dan Alvino.
Willona menatap Regina. Ia meminta penjelasan melalui tatapan matanya.
“Kekasihku, maksudku mantan kekasihku berselingkuh dengan sekretarisnya, dan aku melihat sendiri mereka—
“Sudah jangan di jelaskan. Aku mengerti.” Willona mengusap tangan Regina yang ada di atas meja.
“Lalu, sejak kapan kalian tinggal bersama?” Selidik gadis itu lagi.
Kepala Regina menggeleng.
“Tidak perlu disembunyikan. Aku tau, aku sudah melihatnya. Jangan katakan kamu datang untuk membantu Abang bersiap. Mana mungkin kamu datang menggunakan handuk piyama?” Willona pun terkekeh di akhir ucapannya.
“Na, please. Jangan katakan apapun pada mama dan papa.” William meraih tangan kiri sang adik yang berada di atas meja.
‘Tunggu, bukannya papa berencana menjodohkan mereka berdua? Papa memberiku uang jajan tambahan untuk merahasiakan ini. Dan Abang, kamu juga harus memberi aku uang tambahan untuk menjaga rahasia kalian.’ Batin gadis itu tertawa jahat.
“Hmm,, ini sih tergantung Abang.. kalau—
“Kamu tenang saja. Abang transfer.” William menjawab dengan cepat. Tentu ia tau maksud dari ucapan sang adik.
Willona tersenyum penuh kemenangan. Banyak uang yang masuk ke dalam rekeningnya bulan ini.
“Kalau begitu, rahasia kalian aman di tanganku.”
‘Papa.. sebenarnya tak perlu repot-repot menjodohkan mereka. Mereka sendiri sudah sejauh ini. Aku yakin, Abang dan Regina pasti sudah.. ah biarkan saja. Mereka sudah sama-sama dewasa.’
.
.
.
Bersambung.