BOSS WITH BENEFIT

BOSS WITH BENEFIT
Bab. 103. Apa Daddy Boleh Berkunjung?



Ucapan Willona membuat Reka jengah. Pria itu pun bertekat untuk bekerja lebih keras lagi, agar segera bisa mengisi perabotan di dalam apartemennya.


Memang sudah terisi sebuah sofa di ruang tamu, kompor listrik di dapur, kasur dan lemari pakaian di dalam satu kamar. Namun, masih banyak barang-barang yang harus di lengakapi lagi.


Adik Regina itu sampai menerima tawaran teman sejawatnya untuk ikut membuka praktek di sebuah klinik pribadi.


Reka mendapat jadwal bekerja di rumah sakit dari pagi hingga siang, kemudian akan melanjutkan bekerja di klinik milik temannya pada sore hingga malam hari.


Dan kini sudah dua minggu berlalu sejak pembelian apartemen itu. Itu artinya dua minggu sudah Reka bekerja di dua tempat. Dua minggu pula ia tak mengunjungi sang kakak. Hanya sesekali membalas pesan wanita hamil itu.


“Re, ada apa?” Tanya Willona yang melihat sang kakak ipar duduk termenung di kursi mini bar, yang ada di kediaman keluarga Sanjaya.


“Aku merindukan Reka. Sudah dua minggu kami tidak bertemu. Dia juga hanya membalas pesan ku sesekali.” Ucap istri William itu dengan sendu.


Hari ini adalah akhir pekan. Ia dan sang suami tidak pergi ke kantor. Namun, seperti biasa pria itu akan pergi menemui teman-temannya. Regina pun tidak pernah membatasi pergaulan suaminya, semasih itu di batas normal. Dan pria itu ingat akan statusnya.


Mendengar ucapan kakak iparnya, Willona menjadi salah tingkah. Ia bingung harus menjawab apa. Gadis itu tau, apa saja yang di lakukan oleh dokter muda itu. Namun, ia tak mungkin mengatakannya.


“Dia keras kepala membeli apartemen, tidak mau menempati apartemen William. Begini kan jadinya, bekerja di dua tempat, apa tidak lelah? Apa tidak butuh waktu berlibur? Tidak merindukan kakaknya?” Wanita hamil itu pun mendengus kesal.


Ya, Regina tau sang adik bekerja di dua tempat. Pria yang setahun enam bulan lebih muda darinya itu sudah meminta ijin, untuk mengambil pekerjaan tambahan.


“Biarkan saja, Re. Dia masih muda. Mungkin ada hal yang ingin dia penuhi? Atau ada impian yang ingin diwujudkan. Kita tidak tau, kan?” Willona berusaha memberi pengertian. Bagaimana pun, ia adalah orang di balik alasan mengapa Reka menjadi orang sibuk saat ini.


“Aku tau. Katanya dia mau membeli perabotan untuk apartemennya. Dan juga, dia mau menabung untuk biaya menikah. Kekasih saja tidak punya, mau menikah dengan siapa coba?”


Willona semakin di buat salah tingkah oleh Regina. Gadis yang tadinya duduk di samping kakak iparnya, pun beranjak masuk ke dalam mini bar, dan mengambil sekaleng minuman bersoda di dalam lemari pendingin. Ia juga mengambilkan sebotol minuman jeruk untuk sang kakak ipar.


“Minum dulu, jangan marah-marah. Nanti keponakan ku terlahir judes.”


‘Cih, susah sekali memancing Willona untuk mengakui hubungannya dengan Reka.’


Regina meraih botol jus jeruk itu, kemudian meneguknya. Ia sebenarnya curiga, jika adik dan adik iparnya itu memiliki kedekatan. Karena pernah tanpa sengaja mendengar Willona menelpon dan menyebut nama Reka.


Regina juga sempat melihat adik iparnya itu menggunakan jaket kulit milik sang adik. Tentu Wanita hamil itu yakin jika pakaian itu milik sang adik, karena Regina memesan edisi terbatas, khusus untuk Reka saat pria itu mendapat gelar dokter nya.


“Aku sebenarnya ingin Reka cepat menikah. Dia sudah 27 tahun. Nunggu apa lagi? Eh, punya tabungan malah di belikan apartemen. Kalau rumah kontrakan kemarin itu kecil, bisa saja kan mengontrak yang lebih besar?” Regina kembali memancing adik iparnya.


“Ya, namanya seorang pria, Re. Dia pasti ingin memiliki sesuatu dari hasil kerja kerasnya.” Willona berpendapat.


“Iya, sih. Tapi, jika dia bekerja terus, aku takut dia di tinggalkan lagi.”


Alis Willona berkerut mendengar ucapan kakak iparnya.


Reka pernah di tinggalkan?


“Siapa yang meninggalkan, Re?” Tanya gadis itu penasaran. Sebab, Reka belum pernah bercerita tentang masalalunya.


Regina menghela nafas pelan. Ia kembali meneguk minumannya sebelum bercerita.


“Kekasihnya. Hubungan mereka berakhir karena Reka terlalu sibuk bekerja, dan jarang punya waktu untuk gadis itu. Makanya, dia meninggalkan adikku dan mencari pria yang bisa menemaninya setiap saat.” Jelas Regina panjang lebar.


“Apa sudah lama?”


“Apanya?” Tanya Regina bingung.


“Maksudku, apa Reka dan kekasihnya itu, sudah lama berpisah?” Tanya Willona ragu.


“Sekitar setahun. Iya, aku tidak ingat jelas. Sepertinya sudah setahunan.” Istri William itu mengedikan bahu tanda tak tau.


Dan Willona pun hanya menanggapi dengan anggukan kepala.


“Honey, i’m home.” Suara William menggema dari ruang tamu. Regina pun turun dari atas kursi, kemudian menghampiri sang suami.


“Apa yang kamu lakukan, Hon?” Tanya William saat sang istri mengendus dirinya dari ujung kepala, hingga perut.


“Aku sedang memastikan, tidak ada parfum wanita yang menempel di tubuhmu.”


William menganga mendengar jawaban sang istri. Wanita itu benar-benar berubah semenjak hamil. Sangat posesif kepadanya.


“Tidak ada yang seperti itu, Hon. Semua teman-temanku tau, aku sudah memiliki istri.”


Regina pun menanggapi hanya dengan mengedikan bahunya. “Siapa yang tau?”


“Sudah, jika kalian ingin bermesraan, sana masuk kamar. Jangan menodai penglihatan ku.” Willona menyela di antara pasangan suami istri itu. Ia merasa jengah sendiri melihat mereka saling berpelukan di tempat umum begitu.


“Bilang saja kamu iri.” Tukas William sembari mengandeng sang istri untuk pergi ke kamar mereka.


“Siapa yang iri.” Jawab Willona tak terima.


Pasangan suami istri itu pun tergelak bersama. Kemudian meninggalkan Willona sendirian.


“Bagaimana, Hon? Apa kamu berhasil mengulik informasi dari Willona?” Tanya William kepada sang istri saat mereka sudah berada di dalam kamar.


Tadi pagi, wanita hamil itu sempat bercerita tentang kecurigaannya. Dan mengatakan akan mencari tau tentang hubungan adik-adik mereka.


“Tidak. Adikmu susah sekali untuk mengaku.” Jawab Regina sedikit ketus.


“Mungkin mereka memang tidak ada hubungan, Hon.” William mencoba menghibur sang istri.


“Tidak mungkin. Jaket kulit itu bukti nyata. Aku memesannya khusus dan edisi terbatas.” Nada suara Regina terdengar semakin tidak bersahabat.


‘Gawat, jangan sampai dia marah. Atau kesejahteraan boy akan terancam.’


“Nanti kita cari tau lagi, Hon. Aku yakin, mereka tidak akan bisa menutupi lebih lama.” Ucap William sembari mendekap tubuh sang istri dari belakang.


“Anak daddy, apa kabar hari ini? Tidak rewel, kan?” Pria itu mengalihkan pembicaraan dengan mengusap lembut perut sang istri. Tangannya kini bahkan berada di balik baju yang Regina gunakan.


“Dia baik, Dad.” Ucap Regina sembari menyandarkan punggung pada tubuh sang suami.


“Itu artinya, daddy boleh berkunjung? Semalam kan tidak jadi, bagaimana jika daddy berkunjung sekarang?” Suara William mulai terdengar berat. Bibirnya pun sudah tak tinggal diam. Perlahan mengendus pada cerukan leher sang istri.


Regina pun menganggukkan kepalanya.


“Hmm.” Jawaban singkat sang istri, pun membuat William kemudian menuntun tubuh semampai itu ke atas ranjang. Ada hal yang lebih penting di tuntaskan, daripada membahas hubungan Reka dan Willona.


.


.


.


Bersambung.