BOSS WITH BENEFIT

BOSS WITH BENEFIT
Bab. 115. Aku Sudah Memaafkan Mu.



“Kamu ingin bertemu dengan sekretaris mu? Datang ke alamat ini sekarang, sebelum kembali melarikan diri. William”


Sebuah pesan William kirim ke nomor ponsel milik Alvino. Suami Regina itu juga mengirim lokasi keberadaannya saat ini.


“Kamu serius?”


Kalimat balasan yang di kirim Alvino membuat William berdecak kesal.


“Apa aku pernah berbohong? Bukankah sudah ada buktinya? Aku pernah mengatakan akan merebut Regina, dan sekarang dia menjadi milikku.”


Hampir lima menit menunggu, akhirnya pesan itu kembali terbalas.


“Baiklah, aku kesana sekarang. Tolong jaga, jangan sampai Tamara melarikan diri lagi.”


Mata William membelalak. Seketika ia menggeleng tak percaya.


“Dia pikir aku penjaga keamanan? Seenak jidatnya menyuruhku menjaga wanita itu.” Suami Regina itu menggerutu. Ia kemudian menghampiri kedua mertuanya.


“Bu, sejak kapan wanita itu ada disini?” Tanya William kepada ibu mertuanya. Mereka bertiga kini duduk di salah satu meja, dimana biasanya Pak Regan menerima tamu.


Sementara. Regina dan Tamara, masih berada di dalam ruang kerja nyonya Karin.


“Sudah hampir dua bulan.” Jawab Nyonya Karin sembari menghela nafas pelan.


“Astaga, selama itu? Apa ibu tidak pernah bercerita kepada Gina? Bukannya kalian setiap hari bertukar kabar?” William memberondong ibu mertuanya dengan banyak pertanyaan.


“Aku sudah pernah memperingatkannya. Tetapi, mertuamu ini keras kepala. Katanya hanya berniat menolong, demi kemanusiaan. Lihatlah sekarang.” Pak Regan menjawab sebelum sang istri sempat berbicara.


“Yang namanya menolong itu tidak memandang siapa orangnya, yah. Tujuan ibu baik.”


“Sudah, Bu. Yang ibu katakan benar. Kita harus menolong siapa saja yang membutuhkan bantuan. Baik yang kita perbuat, baik pula yang nantinya kita dapatkan.” Ucap William bijak.


“Sok bijak kamu.” Tukas pak Regan.


“Aku memang bijak, ayah.” Balas William jumawa.


“Aku sudah mengirim pesan pada si Rahwana. Aku yakin, sekarang dia dalam perjalanan.” Ucap pria itu lagi.


“Siapa Rahwana?” Tanya pak Regan terheran.


“Itu, mantannya Gina, yah. Aku sengaja memanggil begitu. Entah kenapa, sangat sulit untuk aku menyebut namanya.” Jawab William sembari mengusap lehernya.


“Tuh, kan. Tadi kamu sok bijaksana. Ternyata kamu sendiri tidak baik. Mengubah nama orang sembarangan.”


“Aku baik, ayah. Buktinya aku memberitahu keberadaan wanita itu. Jika tidak, mungkin aku membiarkan saja dia pergi lagi.”


“Kamu memang benar-benar anaknya Antony.” Ucap pak Regan menatap sang menantu. Ia teringat dengan sang sahabat, meski suka asal, namun memiliki hati yang sangat baik.


“Ya iyalah, yah. Sudah jelas aku anak papa Antony. Ayah pikir aku anak pungut?”


“Sudah. Cukup!! Pusing kepala ibu mendengar perdebatan kalian. Menantu dan mertua sama saja. Kalian memang cocok.” Nyonya Karin kemudian bangkit dan meninggalkan kedua pria berbed usia itu.


“Apa ibu datang bulan, yah? Kenapa tiba-tiba marah?”


“Sembarangan kamu. Mertuamu itu sudah monopose.” Bisik pak Regan pada sang menantu. Dan pria muda itu pun mengatupkan bibirnya seketika.


*****


Hening menyelimuti ruang kerja nyonya Karin. Tak ada salah satu dari kedua wanita hamil itu yang berbicara. Hanya terdengar dentingan kecil dari jam yang menempel di dinding.


“Maafkan aku, mbak.” Tamara memberanikan diri membuka pembicaraan. Ia tak ingin berlama-lama dalam situasi kecanggungan ini.


Regina menghela nafas pelan. Ia yang duduk di atas sofa, pun menyandarkan punggung pada sandaran kursi panjang itu. Sementara, Tamara duduk di sebuah kursi di depan meja kerja nyonya Karin, namun mereka duduk berhadapan.


“Kita belum pernah bicara sebelumnya. Sungguh, aku minta maaf atas semua yang telah aku lakukan. Menyesal, sungguh aku menyesal. Tetapi, tidak ada gunanya. Semua sudah terjadi. Aku tidak bisa mengubah apapun.”


Tamara berbicara dengan pandangan menunduk. Dan Regina menyimak setiap kata yang terlontar dari bibir wanita itu.


“Harusnya aku tidak termakan bujuk rayu Alvino. Harusnya aku mencari cara lain agar mendapat biaya pengobatan nenekku.”


“Sudahlah, Tamara. Seperti yang kamu katakan tadi, semuanya sudah terjadi.”


“Tetapi aku sudah menghancurkan hubungan mbak dengan Alvino.”


“Aku dan Alvino tidak berjodoh. Sekalipun kamu tidak merusak hubungan kami, mungkin yang orang lain yang melakukannya. Karena pada dasarnya, hubungan kami tidak kuat. Alvino masih ingin menikmati masa mudanya, dan tak ingin terikat.”


Tamara memberanikan diri menatap Regina. Ada ketakutan di hatinya, jika ia akan di amuk oleh wanita itu.


“Apa kamu mengira aku akan mengamuk padamu?” Tanya Regina saat mereka beradu pandang.


Kepala Tamara menggangguk kecil.


“Untuk apa? Sekarang aku sudah mempunyai William. Jika kamu merebut suamiku, baru aku akan mengamuk padamu. Kamu tau, kenapa waktu itu aku tidak menampar atau menjambak rambut mu? Itu karena aku merasa belum berhak atas diri Alvino. Kami hanya berpacaran, tidak ada tali yang mengikat hubungan kami. Jika aku mau, mungkin saat pertama kali melihat kalian bersama, aku sudah menghabisi kalian.”


Tamara bangkit kemudian mendekat dan bersimpuh di hadapan Regina. Ia memberanikan diri menggenggam tangan wanita itu.


“Maafkan aku, mbak.” Ucapnya mulai terisak.


“Sudah, duduk di sampingku. Jangan begini. Aku sudah memaafkan mu.”


Regina menuntun Tamara duduk di sampingnya.


“Kamu sedang hamil, kan? Jangan terlalu berpikir yang tidak penting.”


Alis Tamara hampir menyatu mendengar ucapan Regina.


“M-mbak tau darimana?” Wanita itu terbata.


“Alvino yang memberitahu. Sekarang keadaannya sangat memprihatinkan. Tak terurus. Dia menghabiskan waktu untuk bekerja, dan setelah itu mencarimu.” Jelas Regina membuat Tamara tersentak.


Apa benar Alvino mencari keberadaannya?


“Jangan pergi lagi, mungkin sekarang dia dalam perjalanan kemari. Aku sudah meminta suamiku untuk menghubunginya.”


Ya, Regina lah yang meminta William menghubungi Alvino. Wanita itu pula yang memberikan nomor ponsel pria itu kepada sang suami.


“T-tapi, mbak?”


“Apalagi? Apa kamu tidak kasihan dengan bayi di dalam perutmu? Dia juga membutuhkan kehadiran seorang ayah dalam hidupnya.”


Tamara kembali menundukkan pandangannya. Ia meremat jemari di atas pangkuan.


“Jika kamu tidak ingin bersamanya, setidaknya pikirkan nasib anakmu kelak. Ia juga membutuhkan nama ayah di akte kelahirannya.”


“Tapi dia menolak dan tidak ingin berbicara denganku.” Ucap Tamara lirih dan nyaris tak terdengar.


“Percayalah padaku. Dia sudah berubah. Dia menyesali semuanya. Sama seperti dirimu. Alvino juga diliputi rasa bersalah.”


Regina kemudian mendekap tubuh Tamara dari samping. Ia mengusap lembut lengan wanita itu.


“Lakukan semuanya untuk anakmu.”


Tamara pun mengangguk. Ia sedikit memutar tubuh, lalu memeluk Regina.


“Terima kasih, mbak.”


“Hmm.”


William pun melihat kedua wanita itu saling memeluk dari jendela kaca yang tirainya sedikit terbuka, bisa bernafas lega. Ia sudah mengira akan terjadi baku hantam antara sang istri dan Tamara.


“Kamu memang baik, Honey. Tidak salah jika aku cinta mati sama kamu.” Pria itu bermonolog.


“Jelas. Dia putriku. Sudah pasti baik hati dan tidak sombong.” Tiba-tiba ayah mertuanya sudah berdiri di samping William.


“Astaga, membuat kaget saja.” Ucap William sembari mengusap dada.


.


.


.


Bersambung.