
Beberapa hari berlalu, akhirnya hari yang dinantikan oleh nyonya Aurel tiba. Hari ini ia dan pak Antony akan terbang menuju kampung halamannya.
Wanita paruh baya itu membawa satu koper besar berisi keperluannya dengan sang suami. Mereka rencananya di sana tiga hari, dan kembali di akhir pekan.
“Sudah siap?“ tanya pak Antony kepada sang istri, yang kini tengah duduk di sampingnya di dalam pesawat.
Mereka mengudara selama satu jam lima puluh menit. Dan akhirnya mereka tiba di kota tujuan.
“Siap.” Jawab nyonya Aurel. Pak Antony pun mengulurkan tangan ke arah sang istri. Dan mengajak wanita itu keluar dari burung besi yang telah membawa mereka ke kampung halaman nyonya Aurel.
Sebuah pulau kecil yang padat penduduk, tak sepenuhnya di sebut kampung, karena perkembangan jaman telah merubah kampung menjadi kota yang padat aktivitas.
“Ternyata banyak yang telah berubah, pa.” Ucap nyonya Aurel yang kini berdiri di parkiran bandara, menunggu mobil atau taxi yang akan mereka tumpangi.
“Iya. Ternyata kita melewatkan banyak hal.”
Sebuah mobil berhenti di hadapan mereka. Seorang pria yang mungkin seusia William keluar dari pintu depan sebelah kanan.
Pria itu menawarkan jasa, setelah mengatakan kemana tujuan dan bernegosiasi harga, pak Antony dan sang istri ikut dengan pria itu.
“Namanya siapa pak?” Tanya nyonya Aurel dari bangku penumpang.
“Saya Agus, Bu.”
Nyonya Aurel mengangguk. “Asli orang sini?” Tanyanya lagi.
“Iya, Bu. Apa ibu dan bapak datang ke sini untuk berwisata?” Tanya pemuda itu sopan, pulau mereka memang terkenal dengan keindahan alamnya. Dan di jadikan sebagai tempat wisata.
“Ah, ya. Sekalian pulang kampung. Sudah hampir dua puluh tahun aku tidak pernah pulang.”
Pemuda itu mengerutkan alisnya. Bagaimana bisa, ada orang kaya yang melewatkan berkunjung ke daerahnya.
“Istriku terlalu sibuk mengurus rumah, makanya dia tidak sempat berkunjung.” Pak Antony menjawab rasa penasaran sopir itu. Ia tau apa yang pemuda itu pikirkan.
Pemuda itu menganggukkan kepalanya, sekaligus bergidik, ia merasa penumpangnya ini seorang cenayang.
“Papa apa-apaan mengatakan hal begitu?” Tanya nyonya Aurel dengan mendelik.
“Lalu? Papa harus bilang apa? Apa papa harus mengatakan jika mama yang selalu menolak ajakan papa berlibur ke tempat indah ini, hanya karena mama tidak ingin mengingat masa lalu?”
Nyonya Aurel bungkam. Pulau dimana kota kelahirannya berada, memang sangat indah, dan terkenal sebagai objek wisata. Namun, nyonya Aurel selalu menolak ajakan pak Antony untuk berlibur kesini, karena ia akan merasa sedih atas kepergian orang tuanya.
Nyonya Aurel akan memilih kota lain, bahkan memilih luar negri untuk tujuan liburan akhir tahunnya.
****
Setelah menempuh perjalanan kurang lebih selama satu setengah jam, akhirnya nyonya Aurel dan pak Antony tiba di kota kelahiran nyonya Aurel.
Kedua orang tau nyonya Aurel memang bukan orang asli pulau ini, namun semenjak remaja mereka telah tinggal disana, dan semenjak menikah, mereka menetap di kota, yang kini menjadi kampung halaman untuk nyonya Aurel.
“Agus, saya boleh minta nomor kontak kamu? Nanti saya hubungi jika mau kemana-mana.” Ucap pak Antony sembari menyodorkan ponsel mahalnya kepada sopir tadi.
Pria muda itu mengangguk, kemudian mengetik deretan angka nomor ponselnya. Pak Antony kemudian memberikan uang kepada pemuda itu. Lalu ia pamit undur diri.
“Pa.. ternyata semuanya sudah berubah ya.” Nyonya Aurel menatap ke sekelilingnya. Tempat yang dulu di penuhi hamparan sawah, kini telah di tanami beton.
“Rumah Regan dimana ya, pa?” Nyonya Aurel celingukan. Sepertinya dulu jalan yang ia pijak, tidak seluas dan semulus sekarang.
“Kita tanya saja, ma. Ingat, malu bertanya, kita balik lagi.” Jawab pak Antony bergurau.
Hal itu membuat nyonya Aurel mencebik. Mereka kemudian berjalan beberapa meter, hingga melihat sebuah warung makan.
“Maaf, Bu. Saya mau bertanya, rumahnya bapak Regan di sebelah mana ya?” Tanya nyonya Aurel kepada pedagang wanita di balin meja berjualan nya.
“Apa pak Regan suami ibu Karin?” Tanya balik wanita itu.
“Iya, bu.”
Pedagang itu kemudian menunjukan arah menunju rumah sahabat orang tua William dan Willona itu.
Mereka kembali berjalan beberapa meter, dengan pak Antony yang menggeret koper di tangannya.
“Tau begini, tadi jangan biarkan Agus pergi.” Pria paruh baya itu menggerutu.
“Sudah, pa. Sebentar lagi sampai.”
Dan benar saja, mereka kini tiba di tempat yang di beritahu oleh pedagang tadi.
“Kar-kar?!!” Seru nyonya Aurel saat melihat seorang wanita yang hampir seumurannya sedang menyapu di bawah pohon mangga.
“Au-Au?” Ucapnya tak percaya. Mereka memang mempunyai nama panggilan unik.
Kedua wanita paruh baya itu mendekat, kemudian saling memeluk. Menumpahkan semua kerinduan yang selama ini terpendam. Hampir dua puluh tahun tidak bertemu, untung saja mereka masih mengingat wajah satu sama lainnya.
“Apa kabar Au? Kenapa tidak pernah pulang?” Suara sahabat nyonya Aurel itu terdengar berat, ia nampaknya menahan haru karena bisa bertemu lagi dengan sahabat masa remajanya.
“Maafkan aku, Kar. Aku terlalu sibuk di ibukota.”
Hmm!!
Sepertinya mereka melupakan seseorang.
“Apa dia An-An?”
Nyonya Aurel mengangguk. Nyonya Karin pun mendekati pak Antony.
“Ya Tuhan, An-An. Apa Au-Au tidak memberimu makan? Kenapa tubuhmu masih saja kurus begini?”
Nyonya Karin membolak-balik tubuh pak Antony. Membuat pria itu memicingkan matanya.
“Aku sengaja menjaga bentuk tubuhku, Kar. Biar Au-Au tidak berpaling.”
“Alah, gayamu. Regan juga sudah mulai tambun, tetapi aku masih setia sama dia.”
Mereka pun asyik mengobrol hingga suami dari nyonya Karin, yang bernama Pak Regan itu muncul dari belakang pak Antony.
“Anton?!”
Pak Antony merotasikan badannya, ia sedikit terlonjak, kala mendapati sang sahabat terlihat sangat berbeda dari sebelumnya.
“Regan? Apa yang terjadi? Kenapa kamu bengkak begini? Apa Karin merendam mu di dalam minyak tanah?”
Pak Regan memukul lengan sahabatnya itu. Dari dulu, pak Antony memang suka melucu.
“Karin memanjakan ku dengan memberikan makanan enak setiap hari, jadinya ya, begini.”
Mereka pun tertawa bersama. Pak Regan kemudian mengajak pak Antony berkeliling menggunakan sepeda motor. Sementara, nyonya Karin mengajak nyonya Aurel mengobrol di dalam rumah.
“Au, apa kamu ingin mengunjungi rumahmu yang dulu?” Tanya nyonya Karin sembari meletakan secangkir teh di hadapan tamunya.
“Nanti saja, Kar.” Nyonya Aurel menyesap isi cangkir yang di berikan nyonya Karin. Namun, baru sedikit meminum isinya, wanita paruh baya itu tersedak, kala manik matanya tak sengaja melihat sebuah foto di atas meja di sudut ruang tamu rumah itu.
Nyonya Aurel kemudian bangkit, ia berdiri di depan bingkai foto yang kira-kira berukuran 10R itu.
“Kar, apa dia putri ‘mu?” Tanya nyonya Aurel, sembari meraih bingkai foto itu. Dimana terlihat wajah seorang gadis cantik yang sedang tersenyum menggunakan toga.
“Iya, dia putri ‘ku.” Jawab nyonya Karin dengan sebuah senyuman.
“Cantik sekali. Kamu yakin? Dia putri yang dulu sering ingusan, yang suka mengejar William hingga membuat anak itu trauma datang kemari?”
Nyonya Aurel seolah tak percaya dengan apa yang ia lihat. Putri nyonya Karin sekarang sangat cantik, berbeda dengan yang dulu, kumal dan ingusan.
“Au-Au, memangnya berapa lama kamu sudah tidak pernah berkunjung kesini? Dua puluh tahun mungkin lebih. Jaman sudah maju, dan berkembang. Tentu saja, sekarang putri ‘ku benar-benar sudah berubah menjadi seorang putri yang sangat cantik. Bahkan di sukai banyak pria.”
“Kar, putri ‘mu untuk aku saja ya. Dia sangat cocok untuk William.” Ucap nyonya Aurel sembari menatap kembali bingkai foto itu.
Nyonya Karin menggeleng, ia ingat betul dulu William tidak menyukai putrinya. Bahkan pernah mendorong hingga sang putri menangis.
“William mu tidak menyukai putri ‘ku. Aku tidak mau nanti William mendorongnya lagi.”
Kali ini nyonya Aurel yang menggeleng.
“Aku yakin, William tidak akan menolak jika tau gadis kecil yang menyukainya dulu, sekarang secantik ini.”
Dalam hati, nyonya Aurel kini menyusun rencana. Dan rencana yang ia buat, harus lebih dulu berhasil daripada rencana sang suami.
“Pokonya tenang Kar, dia pasti akan menjadi menantu ku.”
.
.
.
Bersambung