
Nyonya Karin menatap penuh rasa kasihan melihat Tamara, yang kini tengah menyantap makanan yang di belikan oleh karyawannya. Ia tidak bisa membayangkan jika hal yang sama terjadi pada putrinya.
Teringat akan Regina, wanita paruh baya itu pun berniat menghubungi sang putri.
“Lanjutkan makan mu, ibu tinggal sebentar.”
Tamara hanya mampu mengangguk.
Nyonya Karin kembali ke dalam ruangan, dan mengambil ponsel untuk menghubungi sang putri.
“Hallo, Bu? Ada apa?” Terdengar suara sang menantu di sebarang panggilan. Dahi nyonya Karin berkerut tipis. Ia kemudian memeriksa kembali layar ponsel, benar ia telah menghubungi sang putri.
“Hallo, nak William. Putri dimana?” Tanya nyonya Karin.
“Putri?” Sang menantu terdengar bertanya kembali.
Istri pak Regan itu menepuk dahinya. Ia lupa, jika hanya dirinya dan sang suami saja yang memanggil anak perempuan mereka dengan nama Putri.
“Ah, maksud ibu, Regina. Dimana dia? Apa baik-baik saja?”
Terdengar kekehan kecil dari sang menantu di seberang sana.
“Gina sedang di kamar mandi, bu.”
“Apa dia masih sering muntah?” Nyonya Karin mulai khawatir.
“Hanya di pagi hari, bu. Itu dia sedang membersihkan diri.” Sang menantu terdengar ragu-ragu dalam menjawab, membuat wanita paruh baya itu mengerti.
“Ini masih pagi. Apa Regina tidak malu dengan mertuanya?”
“Kami menginap di apartemen bu. Menghabiskan masa cuti yang tersisa sampai besok.”
Ibu dua anak itu mengangguk paham, meski sang menantu tak melihat.
“Jangan terlalu sering. Ingat, Regina sedang hamil muda. Jangan sampai terjadi sesuatu dengan kandungannya.”
Terdengar helaan nafas kasar dari sang menantu.
“Bu, kami bahkan baru pertama melakukan ini, sejak tau Gina hamil, aku bahkan sekuat tenaga menahan diri.”
“Baguslah jika kamu mengerti hal seperti itu.”
“Oh ya, ada apa ibu menghubungi Gina? Apa terjadi sesuatu disana? Ibu dan ayah baik-baik saja?” William seperti mengalihkan topik pembicaraan, mungkin sekarang wajahnya sedang memerah karena membahas masalah ranjang dengan ibu mertuanya.
“Tidak, nak. Ibu hanya rindu saja dengan Regina. Tadi, ada wanita hamil muda datang ke toko. Ibu jadi teringat dengan Regina.” Jelas nyonya Karin.
William menyimak kalimat demi kalimat yang di ucapkan oleh ibu mertuanya, hingga ia ijin untuk pamit karena Regina terdengar muntah-muntah lagi.
“Bu, nanti aku akan menghubungi ibu lagi. Sepertinya Gina muntah lagi, Bu.”
Panggilan pun di akhiri.
“Bu.” Pak Regan datang memasuki ruangan yang di tempati oleh sang istri. Di toko mebel itu, nyonya Karin memang memegang jabatan tertinggi. Ia juga bertugas mengurus pembukuan. Sementara, pak Regan lebih banyak di lapangan.
“Siapa wanita muda di depan itu?” Tanya pria paruh baya itu lagi. Ia mengambil tempat tepat di depan sang istri, namun terhalang oleh meja kerja.
“Dia dari ibukota.” Nyonya Karin kemudian menceritakan kejadian yang terjadi di toko mebel mereka pagi ini.
“Siapa tau dia ada niat menipu, Bu.” Jawab pak Regan yang sedari tadi mendengar cerita sang istri.
“Hush.. ayah jangan bicara sembarangan. Ibu rasa, dia itu hamil di luar nikah. Yah, ibu teringat putri saat melihat dia pingsan tadi. Bagaimana jika anak kita yang mengalami hal seperti ini?”
“Ibu jangan bicara yang aneh-aneh, putri sudah bahagia bersama suaminya.” Pak Regan tak setuju dengan ucapan sang istri.
“Maka dari itu, ibu menolong wanita itu. Niat ibu cuma menolong. Jika dia punya niat jahat, biarkan dia sendiri yang menanggung akibatnya.”
****
Kembali ke ibukota. Bersamaan dengan pingsannya Tamara.
Setelah pasangan William dan Regina kembali ke kamar, Willona memutuskan untuk meninggalkan apartemen sang kakak. Ia tidak mau berlama-lama dengan Reka. Pria paling menyebalkan yang pernah ia kenal.
Tanpa sepatah kata, gadis itu bangkit dan berjalan menuju pintu. Reka pun tak tinggal diam. Ia kemudian mengejar, dan mencekal lengan adik dari kakak iparnya itu.
“Kamu mau kemana?” Tanyanya sembari menatap lekat ke dalam manik indah milik Willona.
“Bukan urusanmu. Lepaskan tangan aku, Ka.” Willona berusaha melepaskan cengkeraman tangan pria itu.
“Tidak akan.” Reka menarik tangan gadis itu. Membawanya keluar dari unit apartemen kakak iparnya. Ia tidak mau, jika sampai sang pemilik rumah mengetahui tentang masalah mereka. Tak lupa pula pria itu menutup pintu apartemen.
“Reka, lepaskan.”
Namun pria itu tak memperdulikan. Ia pun membawa Willona kedalam lift.
“Tidak bisakah kamu bersikap manis seperti kemarin?” Pria itu menghimpit tubuh Willona pada dinding kotak besi itu.
Jarak wajah keduanya sangat dekat, membuat Willona memalingkan wajah, agar tak bersentuhan dengan pria itu.
“Lepaskan aku, Reka.”
Namun, bukannya melepaskan, Reka justru menyatukan bibir mereka. Willona memberontak, sekuat tenaga ia mendorong tubuh dokter muda itu. Membuat tautan mereka terlepas. Hendak kembali menangkup wajah gadis cantik itu, pintu lift pun terbuka. Membuat Reka mengumpat kesal.
Pria itu kembali meraih jemari Willona, membawanya keluar dari dalam lift.
“Reka—
“Temani aku mencari mobil.” Adik Regina itu memotong dengan cepat, sebelum Willona menyelesaikan ucapannya.
Willona menghela nafasnya kasar. Reka benar-benar pria paling menyebalkan yang pernah ia kenal.
“Ayolah, sayang. Temani aku sebentar ya. Mobil bekas pun tidak apa-apa. Kamu pasti tau wilayah disini. Sementara, aku masih baru. Apa kamu tega membiarkan aku terluntang lantung sendirian?”
Reka sedikit melunakan sikapnya. Ia ingat ucapan sang kakak ipar, yang mengatakan jika Willona suka kelembutan.
Adik William itu mendengus kesal. Ia pun pada akhirnya menuruti keinginan pria menyebalkan itu.
Mereka pun meninggalkan gedung apartemen itu.
Sementara itu, pasangan William dan Regina kini tengah bergelut, berbagi peluh bersama di pagi hari.
Niat Regina menyusul sang suami ke dalam kamar, untuk memperjelas ucapan pria itu. Apa benar ingin menikahkan adik-adik mereka. Namun, wanita hamil itu justru terpancing, kala mendapati sang suami yang sedang berdiri di balkon kamar, hanya dengan menggunakan celana pendek tanpa baju.
Wanita hamil itu mendekat, kemudian mendekap tubuh sang suami dari belakang. William sudah berusaha menahan diri sekuat tenaga, namun, iman lemahnya tak mampu menahan sentuhan lembut sang istri. Maka, di pagi yang cerah itu, terjadilah apa yang seharusnya terjadi.
“Apa Aku menyakiti kalian? Hmm sshh..” tanya William di sela guncangan pelan yang ia lakukan. Pria itu benar-benar takut, jika ia sampai menyakiti jabang bayi di dalam perut sang istri.
“Ti-tidak.. dadhh..” Regina mengusap lembut punggung sang suami.
Mereka pun terbuai, terbang tinggi menikmati indahnya dunia..
.
.
.
Bersambung.