BOSS WITH BENEFIT

BOSS WITH BENEFIT
Bab. 97. Kita Perlu Bicara



Sementara itu, Reka yang sedang mengecek keadaan seorang pasien opname karena mengalami demam tinggi, tiba-tiba saja ingin bersin. Halhasil, pria itu memalingkan wajah, kemudian menjauh dari pasien.


Ia bersin beberapa kali. Sebelum kembali mendekati pasien, Reka memutuskan untuk menggunakan masker.


“Anda baik-baik saja, dok?” Tanya seorang suster yang menjadi asisten pria itu.


“Aku baik-baik saja. Mungkin hanya kemasukan debu.” Jawab Reka yang kemudian melanjutkan tugasnya. Ia tidak tau, jika sekarang dirinya sedang menjadi topik pembicaraan antara kakak dan kakak iparnya.


Setelah selesai, ia pamit meninggalkan pasien. Dokter muda itu kembali ke ruangannya.


“Dokter, ada yang menunggu di dalam.” Ucap seorang suster yang berjaga di meja depan.


Alis Reka berkerut. Ia melihat arloji di pergelangan tangannya. Belum waktunya ia menerima pasien karena baru selesai makan siang.


“Siapa? Apa pasien darurat?” Tanya pria itu sembari melepas maskernya. Ya, memang hanya pasien darurat saja yang akan di terima suster, di jam makan siang.


“Bukan, dok. Dia seorang gadis cantik. Katanya, dia kekasih dokter.” Jelas suster itu.


Mata Reka membulat. Tentu ia tau siapa gadis yang mengaku sebagai kekasihnya. Pria itu pun bergegas menuju ruangannya, namun sebelum membuka pintu, ia memberi pesan kepada suster jaga.


“Jangan menganggu ku, selain keadaan darurat.”


“Baik, dok.” Suster pun mengangguk paham.


Dengan cepat Reka membuka pintu ruangannya. Ia melihat seorang gadis tengah berdiri mengahadap ke arah jendela.


Pria itu menutup pintu ruangannya. Kemudian mendekat ke arah sang gadis. Senyum tipis tersungging di sudut bibir Reka. Tebakannya benar, jika wanita cantik yang di maksud suster itu, adalah Willona.


“Apa sudah lama?” Ia mendekap pinggang gadis itu. Membuat Willona tersentak, kemudian melayangkan pukulan bertubi-tubi kepada Reka.


“Kurang ajar. Kenapa suka sekali mengambil kesempatan?” Gadis itu mengeram marah.


“Aw, sakit sayang. Apa kamu tidak bisa bersikap manis padaku?” Reka menangkap kedua tangan gadis itu. Kemudian menariknya, membuat tubuh mereka saling menempel.


Hal itu membuat pipi Willona bersemu merah. Tak ingin Reka menyadari itu, ia pun memalingkan wajahnya.


“Ada apa mencariku?” Tanya Reka dengan jarak wajah yang begitu dekat dengan pipi mulus gadis itu.


“Kenapa tidak mengangkat panggilan ku?” Tanya Willona dengan wajah yang masih berpaling.


“Apa ada hal penting? Aku sedang memeriksa pasien. Ponselku tertinggal di meja.” Pria itu melirik benda pintarnya yang tertinggal di atas meja kerjanya.


Willona menghela nafas kasar. Ia kemudian berusaha melepaskan diri dari jerat Reka.


“Lepaskan aku, Ka. Kita perlu bicara serius.”


Melihat raut wajah serius gadis itu, Reka pun melepaskannya. Ia kemudian mengajak adik William itu duduk di atas sofa.


“Ada apa?”


Willona mengambil ponsel dari dalam tas tangannya. Kemudian menunjukkan sesuatu pada pria itu.


Bukannya terkejut, Reka justru tersenyum. Membuat dahi Willona berkerut.


“Kenapa kamu tersenyum? Ini tidak lucu Reka.” Gadis itu mengeram kesal.


“Aku harus apa? Lagipula tidak ada yang tau, jika kamu menciumku waktu itu.” Pria itu menjawab dengan santai. Ia menyerahkan kembali ponsel milik Willona. Kemudian menyandarkan punggungnya pada sandaran sofa.


“Siapa yang mengatakan jika tidak ada yang tau itu kamu?” Suara Willona mulai meninggi.


“Pelankan suaramu, sayang. Ini rumah sakit.”


“Sayang, sayang. Sembarangan.” Gerutu gadis itu.


“Benarkah?” Tanya Reka tak percaya.


“Iya. Apa kamu pikir tidak ada yang mengenali dirimu meski dari belakang?”


“Menurutku tidak.” Pria itu masih bersikap santai.


“Reka.. aku bahkan tau dari mereka. Astaga.. mereka pasti sedang membicarakan kita sekarang.” Nada suara Willona terdengar frustrasi.


Reka kemudian menegakan tubuhnya, dan meraih jemari gadis itu.


“Apa ini menjadi aib bagimu? Sehingga kamu begitu frustrasi?”


Deg..


Willona tersentak. Ia merasakan ada yang berbeda dari genggaman tangan pria itu.


“A-aku..” seketika lidah gadis itu merasa kelu. Ia tak tau harus menjawab apa. Hubungan yang mereka jalani juga tak ada kejelasan. Setiap bertemu selalu bertengkar. Kejadian di pesta ulang tahun beberapa waktu lalau itu pun hanya untuk mengusir mantan kekasih yang selalu menganggu.


“Jika menurutmu ini sebuah aib, katakan saja. Aku tidak masalah.” Reka melepaskan tangan gadis itu. Ia kemudian bangkit dan mengambil ponselnya.


Benar saja, banyak pesan dan panggilan tak terjawab dari sang kakak. Salah satu pesan itu pun menampilkan link tautan tentang berita Willona dan dirinya.


“Apa aku salah? Tidak, kan? Itu pasti kamu. Kita sedarah, mana mungkin aku salah mengenali saudara sendiri.” Isi pesan yang di kirim oleh sang kakak.


“Dia juga mengirim padaku.” Ucapnya, kemudian kembali duduk disamping Willona.


“Apa kamu tidak punya teman yang bisa menghapus berita ini? Aku tidak mau kamu terbebani oleh hal tidak penting seperti ini.”


Willona menatap tak percaya ke arah dokter muda itu. Meski nada suara pria itu terdengar santai, namun kalimat yang terucap terdengar menyakitkan.


“Reka, bukan seperti itu. Aku hanya tidak tau harus menjawab apa kepada Regina.” Kepala gadis itu menunduk. Ia memainkan jemarinya di atas pangkuan.


Reka kemudian mengangkat dagu Willona, membuat pandangan mereka saling beradu.


“Jangan khawatir, biar aku yang menjawabnya nanti.”


“Kamu akan menjawab apa? Mereka pasti tidak puas jika hanya mendengar dari versimu. Apalagi, aku yang akan bertemu mereka dirumah nanti malam.”


Reka dapat melihat kekhawatiran di dalam manik mata indah milik gadis itu. Entah mendapat bisikkan darimana, pria itu kemudian menyatukan bibir mereka dengan sangat lembut. Willona yang tadinya tersentak, dan ingin menolak, ia urungkan, karena merasa perlakuan Reka yang begitu lembut. Ia pun membalas apa yang dokter muda itu lakukan, dengan mengalungkan kedua tangan pada leher Reka.


Pertautan mereka membuat hati gadis itu sedikit lebih tenang. Gundah di hatinya sedikit menguap. Lama keduanya berpagut, hingga suara ketukan di pintu menginterupsi mereka.


“Katakan saja yang sebenarnya. Maksudku, jangan katakan kita benar sedang berciuman, katakan itu hanya untuk mengelabui mantanmu.” Ucap Reka setelah pagutan mereka terlepas.


Willona menganggukkan kepalanya. Suara ketukan pada pintu kembali terdengar. Gadis itu pun pamit kembali pulang.


“Maaf, dok. Ada keadaan darurat. Dokter di minta membantu ke IGD.” Ucap suster jaga, saat Reka membuka pintu untuk mengantar Willona.


“Hmm.” Reka mengangguk kepada suster.


“Hati-hati di jalan. Kabari aku jika terjadi sesuatu.” Pesannya kepada Willona.


Adik William itu pun hanya menjawab dengan anggukan kepala. Kemudian ia pergi meninggalkan rumah sakit itu.


.


.


.


Bersambung.