
Pengantin baru itu kini tengah berada di dalam kamar mereka. Sudah di putuskan oleh para orang tua, mulai saat ini William dan Regina tinggal di rumah keluarga Sanjaya.
Supaya Regina tidak kesepian jika tinggal di apartemen, setidaknya di rumah Sanjaya, ada nyonya Aurel yang lebih banyak tinggal di rumah. Dan bisa memperhatikan Regina.
Untuk sementara William mengiyakan perintah sang papa. Namun, diam-diam ia telah membangun rumah impiannya. Yang akan ia tempati nanti bersama istri dan anaknya. Ya untuk saat ini sampai Regina melahirkan, mereka akan tinggal bersama orang tua. Namun, setelah rumah itu selesai di bangun, ia akan memboyong keluarga kecilnya kesana.
“Kenapa tidak tinggal di apartemen saja?” Tanya Regina yang sedang berbaring, dengan kepala yang berada di atas dada sang suami.
“Tinggal disini lebih baik, banyak orang. Jadi kamu tidak akan kesepian.” Jawab William sembari mengusap punggung sang istri.
“Kita kan bisa membayar seseorang untuk bekerja di apartemen. Jadi aku tidak sendirian.” Ucap wanita itu lagi.
William menghela nafasnya pelan. Berbicara dengan sang istri, harus lebih hati-hati, mengingat wanita itu sangat sensitif.
“Iya, tetapi disini lebih baik. Kamu lebih nyaman. Lebih banyak orang yang memperhatikan kamu saat aku tidak ada. Aku janji, di akhir pekan kita akan menginap disana.”
“Benarkah?” Tanya Regina sembari mendongak.
“Benar, Honey.” Ucap William sembari mencium kening sang istri.
“Terima kasih.” Regina membalas dengan mengecup rahang sang suami.
“Jangan menggodaku.” Ucap William kemudian.
“Siapa yang menggodamu? Kamu nya saja yang mudah sekali tergoda”
“Hanya denganmu, Honey.”
Regina sedikit merubah posisi tidurnya, menjadi menyamping, dan memeluk pinggang sang suami.
“Boleh aku bertanya sesuatu?”
Alis William berkerut, sepertinya akan ada drama berurai air mata setelah ini.
“Tentang apa, Hon?”
“Kapan pertama kali kamu melakukan itu?”
“Melakukan apa?” Tanya pria itu bingung.
“Jasa mulut. Apa lagi?”
William menelan ludahnya kasar. Ia takut menjawab, lebih tepatnya takut salah menjawab, dan sang istri akan menangis.
“Kamu serius ingin tau?”
“Iya.” Jawab Regina sembari mengangguk.
William menghela nafas pelan.
“Di malam kelulusan kuliahku.”
“Apa?” Mata Regina membulat sempurna. Itu artinya sekitar sembilan atau sepuluh tahun yang lalu.
‘Astaga, benarkan? Aku jawab salah, tak di jawab akan semakin salah. Drama di mulai.’
“Selama itu?” Gumam Regina. Namun William masih mendengarnya.
“Tetapi tidak sering, Honey.” Jawab William dengan cepat. Ia tidak mau sang istri berpikiran buruk tentang dirinya.
“Sejak pertama itu, boy sudah menunjukkan kelemahannya. Aku sempat berhenti melakukan itu. Hingga aku memiliki klub, aku tertarik lagi, menguji ketegangan boy, tetapi tetap sama.”
“Kapan kamu memiliki klub?”
“Saat aku berusia 27 tahun.”
“Lalu, kemana kamu dari lulus kuliah hingga berusia 27 tahun?” Regina semakin penasaran dengan kisah hidup sang suami.
“Setelah lulus, aku melanjutkan kuliah ke Inggris. Sambil kuliah aku bekerja. Dan setelah lulus, aku menetap disana. Dan saat aku pulang, seseorang menawari ku klub malam miliknya. Aku tertarik, kemudian membelinya.” William menjelaskan panjang lebar.
“Lalu, kenapa tidak pernah ke kantor?”
“Meski aku belajar bisnis, tetapi aku tidak tertarik duduk di dalam ruangan. Aku lebih suka kebebasan. Dan tidak terikat.”
Regina menganggukkan kepalanya. Ia pun semakin mengeratkan pelukan pada sang suami.
“Honey, untuk saat ini, tidak apa-apa kan jika kita tidak pergi berbulan madu? Perutmu masih rentan keguguran jika di bawa naik pesawat. Jadi, bagaimana jika nanti saja, kita sekalian babymoon?”
Regina mendongak. Ia kembali mengecupi rahang sang suami.
“Tidak masalah. Tidak pergi juga tidak apa-apa. Toh dimana juga bisa melakukannya.”
Mata William membulat mendengar ucapan sang istri. Tentu dia tau apa yang dimaksud sang istri.
“Kenapa? Kan aku bisa melakukan jasa mulut.” Regina meluruhkan tubuhnya ke bawah, seketika tubuh William menegang, saat merasakan sesuatu yang hangat menyentuh boy disana.
“Ho-honey.. ja-jangan..”
“Jangan apa?” Tanya Regina mendongak. Namun tangannya tetap bekerja. Bibir wanita itu menyeringai.
“Ja-jangan berhenti… sshh.”
****
Keesokan harinya.
Pagi-pagi sekali Regina sudah berada di dapur. Ia membantu para asisten menyiapkan sarapan untuk keluarganya.
Sementara, sang suami masih berkelana di alam mimpi, akibat service yang di berikan oleh sang istri semalam.
“Loh, sayang apa yang kamu lakukan di dapur?” Nyonya Aurel terkejut mendapati menantunya berada di dapur.
“Aku membantu membuat sarapan, ma.” Ucap Regina santai.
“Tidak perlu sayang, kamu tidak boleh terlalu lelah. Ingat, kamu sedang hamil.”
“Aku hanya membantu sedikit saja, ma. Tidak terlalu melelahkan.”
Nyonya Aurel mengalah. Ia membiarkan sang menantu membantu menyiapkan sarapan.
Tak berselang lama, Regina pamit untuk membangunkan William.
Tiga puluh menit berlalu. Semua anggota keluarga telah berkumpul. Ada pak Regan dan Nyonya Karin yang masih disana dan akan kembali ke kampung hari ini. Sementara Reka dan Willona, mereka telah pergi bekerja.
Setelah sarapan pagi, William dan Regina akan mengantar pak Regan dan nyonya Karin ke bandara.
“Apa kalian tidak bisa tinggal lebih lama? Kita belum puas liburannya.” Ucap nyonya Aurel berusaha menahan para besan.
Kini mereka masih berada di meja makan. Dan mengobrol sebentar.
“Maunya sih gitu, Au. Tetapi, kami sudah lama meninggalkan toko. Dan, kami juga sudah terlalu lama menitipkan pipit pada tetangga.” Pak Regan menjelaskan.
“Siapa pipit?” Tanya Regina heran. Sepertinya mereka tidak mempunyai anggota keluarga yang bernama pipit.
“Burung kesayangan ayah.” Jawab William kemudian.
“Darimana kamu tau?” Alis pak Regan berkerut.
“Kata tetangga ayah.”
William menghela nafasnya pelan.
“Aku sempat mencari Gina ke kampung waktu itu. Karena aku takut, ayah dan ibu membawa Gina pulang. Disana aku bertemu dengan seorang tetangga, dia mengatakan jika ayah menitipkan burung kesayangan ayah padanya.”
Pak Regan menganga mendengar penjelasan menantunya. Bukan karena tentang burung kesayangannya. Namun, karena pria itu mengatakan mencari sang putri hingga ke kampung mereka. Hati pria paruh baya itu tersentuh dengan perjuangan William. Walau tak begitu berat, namun pria itu benar-benar mencintai putrinya.
“Sejak kapan ayah memelihara burung? Kenapa aku tidak tau?” Tanya Regina, membuyarkan lamunan pak Regan.
“Sejak kamu tinggal disini. Ayah kesepian. Biasanya ada saja yang cerewet selain ibumu. Jadi, ayah memutuskan mengadopsi pipit dari pasar burung.”
Mata Regina membulat sempurna. Dirinya disamakan dengan burung? Yang benar saja.
“Ayah menyamakan aku dengan burung?” Ucapnya dengan nada sedikit meninggi.
‘Astaga, drama akan segera dimulai.’ Batin William.
“Honey, ayo kita bersiap. Bukannya kita akan mengantar ayah dan ibu ke bandara. Setelah itu, ayo kita jalan-jalan. Mumpung masa cuti kita masih tersisa.” William dengan cepat menuntun sang istri kembali ke kamar mereka, sebelum drama burung pipit dimulai.
“Apa aku salah bicara?” Ucap pak Regan bingung.
“Jelas salah. Putri mengira Ayah menyamakan dia dengan burung.” Ucap nyonya Karin.
“Astaga bukan begitu maksudku.”
Pak Antony dan nyonya Aurel hanya terkekeh melihat tingkah besan mereka.
.
.
.
Bersambung.