BOSS WITH BENEFIT

BOSS WITH BENEFIT
Bab. 70. Aku Sengaja Melakukannya.



Regina memukul lengan William dengan keras. Bagaimana bisa William mengatakan itu foto polaroid.


“Sakit, Honey. Kenapa memukulku?” William mengusap lengan yang terasa panas setelah di pukul.


“Apa kamu bilang tadi? Foto polaroid?” Regina merebut kertas itu dari tangan William, kemudian ia menaiki ranjang dan tidur meringkuk.


“Dia marah?” Gumam William. Pria itu kemudian ikut menyusul ke atas tempat tidur.


“Hey, Honey. Ada apa? Kenapa merajuk?”


Regina tak menjawab, ia membalik badan. Dan memunggungi William.


“Astaga, ada apa ini?”


“Sayang, teganya papamu mengatakan kamu foto polaroid.” Regina berbicara dengan foto hasil USG itu.


Dan William pun mendengar itu. Membuat alisnya berkerut.


“Tunggu, apa yang kamu katakan tadi? Papamu?” William mendekat, dan mendekap tubuh Regina.


Wanita itu memberontak. Namun William semakin mengeratkan pelukannya.


“Katakan nyonya William. Apa maksudmu?” Ia pun menyerukan wajahnya pada lekukan leher Regina.


“Lepaskan aku dulu.”


“Tidak mau. Katakan dulu.”


Regina menghela nafasnya pelan. Ia kemudian memutar tubuhnya, menjadi telentang. Mau tak mau, William ikut bergeser. Pria itu kemudian mengukung tubuh Regina.


“Aku hamil.” Ucap Regina.


Alis William berkerut. Namun, sedetik kemudian matanya membulat sempurna.


“Apa? Kamu hamil?” Tanya William.


Dan Regina menganggukkan kepalanya.


Dengan cepat pria itu bangkit dari atas tubuh Regina.


“Honey, katakan sekali lagi.” Pinta William. Ia menarik wanita itu agar ikut duduk di atas tempat tidur.


“William Sanjaya. Aku hamil. Dan kamu akan menjadi seorang ayah.”


William terharu mendengar ucapan Regina. Ia kemudian memeluk wanita itu dengan erat.


“Aku sangat mencintaimu.” Ia kemudian menghujami ciuman bertubi-tubi pada wajah Regina.


Beberapa saat kemudian, Regina duduk dengan menyadarkan punggung pada kepala ranjang. Dan William tidur di atas paha wanita itu.


“Sudah berapa lama, Hon?” Tanyanya sembari menyingkap piayama Regina. Kemudian mengecup perut rata itu. Akhirnya, yang ia inginkan terwujud. Regina hamil. Itu artinya, wanita itu akan menjadi miliknya seutuhnya.


“4 minggu.” Jawab Regina sembari mengusap kepala William.


“Satu bulan ya?”


“Boleh aku bertanya sesuatu?” Tanya Regina kemudian.


“Tanyakan lah, Honey.” Pria itu terus saja menciumi perut rata sekretarisnya itu.


“Sejak kapan, kamu tidak menggunakan pengaman?”


Deg..


William tersentak. Mungkin memang seharusnya ia jujur pada Regina. Pria itu kemudian bangkit. Duduk di samping sang pujaan hati, mengenggam tangan wanita itu.


“Maafkan aku, Honey.” Ucapnya sembari menunduk.


“Maaf untuk apa?” Tanya Wanita itu bingung. Ia tau, William memang sangat mudah sekali terbawa perasaan. Karena itu, Regina berusaha bertanya secara hati-hati agar William tidak terbawa perasaan.


“Aku sengaja melakukannya.” Ucap pria itu pelan.


Mendengar itu, mata Regina membulat sempurna.


“Apa maksudmu?”


“Aku sengaja melakukannya, supaya kamu cepat menjadi milikku, Hon. Aku tidak mau kehilangan kamu. Hanya dengan itu, cara satu-satunya agar aku bisa memilikimu.”


Kepala Regina menggeleng kecil. Sebegitu takutkah William akan kehilangan dirinya?


“Lalu? Sejak kapan kamu melakukan itu?”


“Setelah kamu datang bulan.”


“Bukannya kita masih menggunakan pengaman?”


William mengangkat wajahnya sebentar. “Maaf” ucapnya kembali menunduk.


“Setelah kamu tertidur, aku melakukannya lagi. Dan membiarkan boy muntah di dalam.”


Regina membuang nafasnya kasar. Membuat William mengangkat wajahnya.


“Honey, kamu boleh marah padaku, boleh menghukumku. Tapi aku mohon, jangan tinggalkan aku, Hon. Kasian anak kita tidak punya orang tua lengkap.”


Astaga. Ingin sekali Regina meremat pria itu. Namun, sebaliknya. Wanita itu justru meraih bahu William. Membawanya kedalam dekapan.


“Bukannya aku tidak percaya, Hon. Hanya saja, aku sudah tidak sabar. Aku baru pertama kali jatuh cinta, dan aku tidak mau kehilangan.”


“Ya, aku mengerti.”


Hening. Mereka berpelukan cukup lama.


“Hon, aku belum mandi.” Celetuk William memecah keheningan.


Regina mengurai pelukan mereka, kemudian meneliti pria di hadapannya.


“Sejak kapan?”


“Tadi pagi. Pagi-pagi sekali aku ke kontrakan mencari mu. Kamu tidak ada, dan Reka hampir saja menghajar ku. Lalu kami mencari mu ke rumah papa, tetapi tidak ada. Kemudian aku mencari mu ke kampung. Hasilnya nihil juga.”


“Mencari hingga ke kampung?”


“Ya, aku takut orang tuamu membawa kamu pulang, dan melarang kita bertemu.”


William membuang nafasnya kasar.


“Ya sudah, mau aku siapkan air mandi?”


Dan William menggelengkan kepala.


“Ini sudah malam, kamu tidak boleh terlalu lelah. Tunggu sebentar, aku akan mandi dengan cepat.”


Regina menganggukkan kepalanya. “Apa kamu membawa pakaian ganti?”


“Sayangnya tidak, Hon. Yang aku pikirkan hanya bertemu dengan mu. Aku tidak memikirkan yang lain.”


“Ya sudah. Sana mandi, aku akan tanyakan pada papa atau ayah, mungkin mereka membawa pakaian lebih.”


William mengangguk, kemudian menuruni ranjang. Sebelum berlalu, ia sempatkan untuk mengecup kening Ibu dari calon anaknya itu.


****


Beberapa saat kemudian. William telah selesai mandi. Ia keluar dari kamar mandi dengan selembar handuk yang menutupi si boy. Dan menggosok rambutnya dengan handuk kecil.


“Will, ini ada celana olahraga dan kaos, punya papa. Ayah hanya membawa tiga pisang baju.”


“Tidak apa-apa Hon.” William meraih celana itu, kemudian dengan santai memakainya di depan Regina. Ia kembali ke dalam kamar mandi untuk meletakan handuk.


“Kemarilah.” William menarik tubuh Regina, agar tidur menempel padanya. Pria itu tidur hanya menggunakan celana saja, tanpa menggunakan baju.


“Bagaimana kamu tau, jika sedang hamil?” Tanya William sembari mengusap punggung Regina dengan lembut.


“Tadi pagi, sampai disini aku muntah, kemudian pingsan. Entah berapa lama aku tidur, saat bangun ayah sudah mencecarku dengan pertanyaan, siapa ayah bayi yang aku kandung.”


William tersentak mendengar ucapan sang pujaan hati. Seketika rasa bersalah menghinggapinya.


“Kamu pingsan?” Dan Regina mengangguk.


“‘Maafkan aku, Hon. Tidak seharusnya aku meninggalkan mu waktu itu.”


“Jika tidak begitu, kita mungkin tidak akan tau kalau aku hamil.” Jawab Regina, wanita itu tiba-tiba saja ingin mengendus aroma tubuh William.


“Jadi para orang tua itu tau jika mereka akan mempunyai cucu?”


“Ya. Bahkan papa berencana menikahkan kita, sebelum perutku membesar.”


“Pantas saja, ayahmu menatapku dengan tatapan sinis. Seakan aku ini seorang buronan saja.” William menghela nafasnya pelan. “Aku setuju. Kita memang harus menikah secepatnya.” Ucap William yang kemudian mengecup kepala Regina.


Mereka pun saling memeluk, menyalurkan rasa rindu yang telah lama terpendam.


“Aku mencintai mu, Regina.”


“Aku juga, mencintaimu.” Gumam Regina lirih, namun masih di dengar oleh William.


Deg…


William tersentak, ia kemudian mengangkat kepalanya.


“Honey, katakan sekali lagi.”


Namun wanita itu hanya diam. Yang terdengar hanya suara nafas teratur yang keluar dari Indra penciuman wanita itu.


“Kamu tidur? Cepat sekali.” William tersenyum. Meski wanita itu berucap dalam tidurnya, pria itu yakin, jika Regina juga memiliki rasa yang sama dengannya.


Tangan pria itu turun mengusap perut Regina.


“Baik-baik dalam perut mommy. Jangan buat mommy kesusahan. Daddy akan menuruti apapun keinginanmu.”


Setelah itu, William ikut menyusul Regina ke alam mimpi.


.


.


.


Bersambung.