
Hingga sore hari, William masih saja cuek dengan Regina. Bahkan pria itu meminta seorang OB membelikan makan siang untuk dirinya sendiri. Mereka hanya berinteraksi sebatas memberi dan menerima dokumen. Selebihnya, suasana kembali membeku.
Regina merasa jengah. Ia pun memutuskan untuk tidak pulang ke apartemen. Ia akan memberi waktu kepada William untuk sendiri dulu.
Percuma juga pulang ke apartemen, jika suasana akan kembali canggung begini.
Regina pun memutuskan untuk pergi ke rumah keluarga Sanjaya. Menemui orang tuanya yang menginap disana.
Tanpa berpamitan kepada sang atasan yang masih berkutat dengan pekerjaan di ruangannya, Regina pun meninggalkan meja kerjanya.
Tak berselang lama, William pun menyusul. Keluar dari ruang kerja. Seketika alis pria itu berkerut, ketika mendapati meja kerja sang sekretaris telah kosong.
“Honey?” Gumamnya kecil. Ia takut wanita itu masih berada di sekitar ruang itu. Celingukan kepalanya memindai, namun tak ada tanda-tanda Regina masih ada disana.
“Apa kamu marah padaku? Bahkan kamu tidak berpamitan padaku.” Pria itu membuang nafasnya kasar. Salahnya sendiri yang bersikap cuek pada Regina. Ya, begini jadinya.
William dengan tergesa memasuki mobilnya, ia ingin mengejar Regina, dan meminta maaf pada wanita itu. Namun, ponselnya berdering. Dan Jimmy mengabarkan jika ada masalah di klub. Mau tidak mau, William harus datang ke klub, supaya masalah tidak berbuntut panjang.
“Tunggu aku, Honey. Kita selesaikan semuanya malam ini.”
Sementara itu, Regina kini telah tiba di rumah keluarga Sanjaya. Seorang asisten rumah membukakan pintu untuknya. Dan mempersilahkan masuk. Setelah kejadian kemarin, semua asisten rumah telah di beritahu jika Regina adalah calon mantu keluarga Sanjaya.
“Sayang?” Nyonya Aurel yang baru keluar dari dapur melihat kedatangan Regina. Wanita paruh baya itu kemudian memberikan nampan berisi camilan yang ia bawa, kepada asisten rumah yang mengantar Regina.
“Bawa ke belakang.” Perintahnya. Dan asisten itu menurut.
“Ma.” Mereka saling memeluk sebentar. “Ayah dan ibu, dimana?” Tanya Regina kemudian.
“Ada di taman belakang.” Dan Regina pun mengangguk.
“Kamu sudah bertemu William?”
“Sudah, ma.”
“Apa kalian sudah baikan?”
Regina membuang nafasnya kasar, kemudian menggelengkan kepala.
“Mama sudah tau semuanya.”
Alis Regina berkerut mendengar ucapan ibu dari William dan Willona itu.
“Tentang apa, ma?” Tanyanya bingung.
“Hubungan kalian berdua. Semalam, Willona sudah menceritakan kepada mama.”
Mata Regina membulat sempurna. Bukannya Willona sudah berjanji kepada William untuk tidak menceritakan kepada keluarga Sanjaya?
“Ma—.” Regina merasa jengah, ia pun hanya mampu menundukkan kepalanya.
“Kamu tenang saja, Willona hanya cerita kepada mama. Papa, ayah dan ibu mu tidak tau. Mama juga tidak memberitahu mereka.”
Mendengar ucapan nyonya Aurel, Regina kembali mengangkat wajahnya.
“Ayo kita duduk dulu. Bertemu ayah dan ibu mu nanti saja.”
Regina mengangguk, dan menurut. Mereka pun duduk bersisian di satu sofa.
“Maafkan aku, ma. Aku tidak bermaksud mempermainkan William. Aku—.”
“Sudah. Mama tau perbuatan kalian itu salah. Kalian sudah berbuat dosa terlalu banyak. Maka dari itu, mama akan menikahkan kalian berdua.” Nyonya Aurel mengusap lembut lengan Regina.
“Tapi, ma. William masih marah padaku. Bahkan hari ini, dia tidak menyapa, dan hanya mendiami ku.”
“Apa kamu mencintai William?”
Regina menoleh ke arah nyonya Aurel.
“Bukan apa-apa, bagaimana pun juga, kalian baru bersama selama dua bulan. Apalagi, hubungan kamu sebelumnya sangat lama, dengan mantan mu itu. Jadi, apa sudah ada cinta untuk William?”
Regina tak mampu menjawab. Ia hanya menganggukkan kepalanya kecil.
Regina tidak pernah menyangka, akan secepat ini perasaannya berpaling dari Alvino kepada William. Mungkin karena kebersamaannya dengan Alvino sudah sangat jarang, sehingga dengan cepat rasa cinta itu menghilang. Apalagi ditambah dengan pengkhianatan yang lebih dulu pria itu lakukan, membuat rasa cinta itu semakin menghilang.
“Apa kamu sudah yakin?”
“Aku yakin, ma. Meskipun hubunganku dengan Alvino sudah tiga tahun, tetapi kami jarang bertemu. Hanya sesekali di akhir pekan. Bahkan tidak sama sekali.” Regina membuang nafasnya pelan.
“Dan mungkin, aku membutuhkan perhatian dan kasih sayang, seperti yang William berikan.”
“Bagaimana jika kamu ikut kami liburan besok?”
“Liburan, ma?”
“Iya, mama dan papa akan mengajak ayah dan ibu mu liburan ke puncak. Kamu ikut ya.” Ucap nyonya Aurel penuh harap.
“Tapi William—
Nyonya Aurel mencebik. “Sudah jangan pikirkan pria bodoh itu. Malam ini, kamu menginap disini. Besok pagi, ikut kita liburan.”
“Tapi aku tidak membawa barang-barang ma.”
“Itu gampang. Kita beli di jalan. Sudah, mama tidak mau mendengar penolakan. Kamu pokoknya ikut kita liburan.”
Nyonya Aurel memberi perintah mutlak tak terbantahkan.
“Lagipula, dia saja bisa mendiami mu seharian ini. Kamu juga harus bisa memberi pelajaran padanya sekali-kali. Hanya karena ingus di masa kecil, dia cuek padamu begini.”
Regina nampak berpikir sejenak. Kemudian kepalanya mengangguk.
“Tidak perlu membeli barang-barang, Re. Bawa punya ku yang belum terpakai saja.” Willona tiba-tiba datang menyela.
“Willona? Sejak kapan kamu datang?” Tanya sang mama.
“Sejak mama mengajak Regina ikut liburan. Ayo, ikut aku ke kamar. Banyak pakaian yang bisa kamu pilih.”
Regina setuju. Kemudian mengikuti adik William itu menuju kamarnya.
****
Setelah berkemas dan membersihkan diri di kamar Willona, Regina dan adik William itu memutuskan untuk turun makan malam bersama dengan para orang tua.
“William tidak ikut?” Tanya pak Antony kepada Regina.
“William ada urusan di klub, pa.” Jawab Regina berdusta, ia mulai terbiasa memanggil pak Antony dengan sebutan papa. Karena menurut nyonya Aurel, waktu kecil dulu Regina memanggil mereka dengan sebutan papa dan mama.
“Sudah papa suruh dia menjual tempat m*ksiat itu. Masih saja di urusi.”
Regina tak tau harus menjawab apa.
“Ayah, ibu.” Wanita itu memilih menghampiri orang tuanya, kemudian memeluk pasangan itu.
“Aku rindu kalian berdua.”
“Kami juga merindukan mu. Apa kamu sudah bertemu adik mu? Dia sudah pindah tempat tugas.” Tanya nyonya Karin kepada sang putri.
“Sudah, ma.”
“Nanti ajak ayah dan ibu ketemu adikmu.”
Regina menganggukkan kepalanya.
“Anak kedua kalian ada di kota?” Pak Antony menyela obrolan keluarga pak Regan.
“Iya, dia di pindah tugaskan ke rumah sakit pusat.” Jawab pak Regan.
“Anak kedua kalian dokter?” Tanya nyonya Aurel penasaran.
“Iya, dia dokter umum.” Jawab nyonya Karin.
“Tante, anak keduanya pria atau wanita?” Tanya Willona menyela.
“Seorang pria. Putra lebih tua setahun dari kamu.” Nyonya Karin menyebut nama anak keduanya dengan nama putra, bukan Reka. Karena memang sejak kecil, mereka memanggil anak-anaknya dengan nama depan, Putri dan Putra, bukan Regina dan Reka.
“Wah.. aku jadi penasaran. Ajak aku bertemu adikmu dong, Re.” Ucap Willona ke arah Regina.
“Tentu, nanti kita bertemu dengannya.”
.
.
.
Bersambung