
Keesokan harinya, di kampung halaman orang tua Regina.
“Bu, apa aku boleh masuk?” Tanya Tamara di ambang pintu ruang kerja nyonya Karin.
Ia memang sudah sering membersihkan ruangan itu, dan setiap kali ingin masuk, wanita yang tengah hamil muda itu selalu meminta ijin.
“Masuklah, nak.” Ucap nyonya Karin yang sedang fokus dengan laporan keuangan di tokonya.
Tamara mulai membersihkan ruangan itu. Dan nyonya Karin sama sekali tidak terganggu dengan kegiatan yang di lakukan oleh wanita hamil itu. Ia membersihkan dari kamar mandi, kemudian ke setiap sudut ruangan.
Hampir setengah jam Tamara bekerja, kini ia sampai di meja nyonya Karin.
Deg…
Tamara tersentak. Mata wanita berusia 26 tahun membulat sempurna. Kala melihat bingkai foto di atas meja. Ia sudah beberapa kali membersihkan ruangan itu, namun baru kali ini melihat ada pajangan di atas meja.
Sebuah pigura berukuran 10r, menampilkan empat orang berbeda usia. Sepertinya, itu adalah foto keluarga. Dan, Tamara mengenali tiga orang di dalam gambar itu.
‘Nona Regina? A-apa dia putri ibu Karin yang selalu di ceritakan itu? Tidak, ini tidak mungkin.’
Kepala wanita itu menggeleng beberapa kali. Ia ingin menepis anggapannya.
“Nak Tamara, ada apa?” Tanya nyonya Karin dengan alis berkerut. Ia melihat wajah wanita muda memerah, dan buliran keringat mengalir dari pelipisnya.
Nyonya Karin mengikuti arah pandangan Tamara. Wanita paruh baya itu kemudian tersenyum sembari mengusap bingkai foto yang terpajang di atas meja.
“Mereka anak-anakku.” Ucapnya kemudian.
Tamara tersentak. Ia menatap tak percaya, pada wanita paruh baya yang duduk di sampingnya itu.
“Anak-anak?” Ulang Tamara. Suara wanita itu terdengar sangat lirih. Namun masih di dengar oleh nyonya Karin.
“Iya. Yang perempuan anak pertamaku, dan yang laki-laki, anak kedua.”
“A-aku tidak pernah melihat ini sebelumnya?”
“Iya, tiba-tiba saja aku merindukan mereka. Jadi mulai sekarang aku akan memajang foto mereka disini.”
Nyonya Karin kemudian bangkit, ia mengambil bingkai itu, dan mengajak Tamara duduk di atas sofa.
“Mereka lebih tua darimu. Kamu baru 26 tahun, kan? Putriku sudah 28 tahun, dan putraku 27 tahun. Mereka sekarang tinggal di ibukota. Yang perempuan ikut dengan suaminya. Sementara, anak laki-laki ku bekerja di rumah sakit Hugo.” Nyonya Karin menjelaskan tanpa di minta.
“Suami? Dia sudah menikah?” Tamara terjekut ketika mendengar nyonya Karin mengatakan jika sang putri ikut bersama suaminya. Bukankah hubungan Regina dengan Alvino sudah berakhir? Lalu dengan siapa wanita itu menikah? Sederet pertanyaan pun muncul di benak wanita itu.
Nyonya Karin menghela nafasnya pelan.
“Dia baru menikah. Hampir satu bulan.”
Dahi Tamara berkerut halus. Hampir satu bulan? Bukannya itu waktu yang sama saat ia meninggalkan ibukota?
“Apa dia menikah dengan kekasihnya?” Meski tau jawabannya, namun Tamara tetap bertanya. Ia ingin tau siapa pria yang menikahi Regina, bahkan saat hubungan Regina dan Alvino belum lama berakhir.
Nyonya Karin menatap Tamara penuh tanya.
“Ah, maksudku, apa putri ibu sudah lama berpacaran dengan suaminya?” Tamara meralat pertanyaannya.
“Oh.. itu mereka di jodohkan. Putriku menikah dengan atasannya, yang kebetulan adalah teman masa kecilnya.” Jelas nyonya Karin penuh senyuman.
“Putriku baru saja patah hati. Dia di khianati oleh kekasihnya. Jadi, sahabatku berencana menjodohkan dengan putranya, yang kebetulan atasan putriku di tempatnya bekerja.” Lanjut ibu dua anak itu.
‘Jadi nona Regina menikah dengan pak William? Apa Alvino tau tentang hal ini?’
“Ah aku lupa meminta foto pernikahan mereka. Aku akan menghubungi Aurel, supaya dia mengirimnya.”
Nyonya Karin kembali bangkit, dan mengambil ponsel di atas meja kerja, kemudian menghubungi sahabat sekaligus besannya, supaya mengirimkan foto pernikahan putri dan menantunya.
****
Semenjak percakapan di ruangan nyonya Karin, kini perasaan Tamara menjadi tidak tenang. Ada rasa bersalah yang muncul di benak wanita itu. Ia sudah menyakiti Regina, dan kini, keluarga wanita itu yang telah menolongnya, dan memberi penghidupan.
“Katakan padaku, aku harus berbuat apa, nak? Apa aku harus pergi dari tempat ini?” Kepala wanita hamil itu menunduk. Ia berbicara dengan perutnya yang sudah mulai membuncit di bagian bawah. Tamara kini tengah duduk di sebuah kursi, di halaman belakang toko mebel milik orang tua Regina.
“Tuhan, apa engkau sengaja mempertemukan aku dengan orang tua nona Regina, agar rasa bersalah ini semakin besar tumbuh di hatiku?” Pandangan wanita itu berubah, dari menunduk menjadi menengadah ke atas.
“Aku harus berbuat apa? Pergi dari sini? Itu artinya aku tidak tau berterima kasih. Tapi, jika tetap disini, suatu hari nanti aku pasti akan bertemu dengan nona Regina.” Tamara membuang nafasnya kasar. Pandangannya pun kini lurus kedepan.
“Untuk meminta pertolongan pada Tuhan saja, aku merasa tidak pantas.” Ucapnya lirih.
Lama wanita itu berkutat dengan pikirannya sendiri. Ia menimbang, apa yang harus wanita itu lakukan sekarang, tetap bertahan atau pergi.
“Tetapi, kalau pergi aku harus kemana lagi? Tabungan ku sudah berkurang, aku tidak mungkin menghabiskannya, itu simpanan untuk melahirkan mu.” Tangan Tamara mengusap perutnya sendiri. Tanpa ia sadari, nyonya Karin datang menghampiri.
“Nak Tamara, apa ada masalah?”
Wanita hamil itu tersentak, namun, ia berusaha menyembunyikan keterkejutannya.
“Tidak, Bu. Hanya saja, aku merindukan nenekku.” Ucapnya dengan senyum memaksa.
Nyonya Karin mengambil tempat di samping wanita muda itu.
“Kamu pasti memiliki kenangan yang indah bersama nenekmu, kan?” Tanyanya kemudian.
“Ya, lebih banyak waktu yang aku habiskan bersama nenek, daripada dengan orang tuaku. Bukan berarti aku tak merindukan papa dan mama, hanya saja, kebersamaan dengan nenek yang masih terbayang di benakku.” Suara Tamara terdengar berat. Hal itu membuat nyonya Karin merasa iba.
“Kemarilah.” Wanita paruh baya itu merangkul bahu Tamara. Kemudian membawanya kedalam pelukan.
“Bu?”
“Tidak masalah. Anggap aku seperti ibumu. Jika kamu merindukan mereka, kamu bisa datang padaku.”
Tangis Tamara pun pecah mendengar ucapan wanita berusia lima puluhan tahun itu. Bukan karena ia merindukan keluarganya, namun karena rasa bersalah yang kian besar menghinggapi hatinya.
‘Maafkan aku, Bu. Andai ibu tau siapa aku, apa ibu masih akan sebaik ini padaku?’
.
.
.
Bersambung