
Nyonya Mahendra merasa tak terima dengan perkataan teman-temannya itu. Ia tidak suka anaknya di katakan kurang bersyukur, meski mereka tidak tau, jika yang sedang di bicarakan adalah putranya.
“Bisa jadikan si wanitanya juga berkhianat, dan hal itu yang membuat pacarnya berpaling.” Nyonya Mahendra berpendapat.
“Lagi pula, masa iya baru putus, sudah mau menikah dengan pria lain?” Ujarnya lagi.
Kelima orang lainnya saling tatap. Mereka merasa ada yang janggal dari ucapan nyonya Mahendra.
“Aku juga tidak tau, aku tidak begitu dekat dengan iparku. Tetapi, kata dia, gadis ini sudah tidak mau lagi berpacaran membuang-buang waktu, jika pada akhirnya akan di khianati lagi. Makanya, dia setuju untuk menikah dengan anaknya Aurel. Mereka juga teman masa kecil, sudah mengenal satu sama lain.” Nyonya Erica bersuara.
Ia memang tidak begitu dekat dengan nyonya Aurel, mengingat para suami mereka yang bersitegang, tetapi komunikasi sebatas bertukar kabar masih ia lakukan dengan adik iparnya itu. Dan apa yang ia ucapkan, adalah yang istri pak Antony katakan padanya di telpon tempo hari.
“Jaman sekarang ya, cepat sekali para muda mudi berpaling, kalau jamannya kita, tujuh hari tujuh malam tidak enak makan.” Salah seorang dari mereka bersuara.
“Iya, sekarang mah, masih terikat dengan seseorang, eh sudah menjalin hubungan dengan orang lain. Tidak cukup satu.” Sambung ketua perkumpulan itu.
Hati nyonya Mahendra semakin terbakar. Tangannya terkepal di bawah meja.
‘Aku tidak yakin, apa hanya Alvino yang berkhianat pada hubungan mereka? Apa mungkin Regina tidak? Mereka berpacaran selama tiga tahun, kenapa secepat itu Regina mengambil keputusan untuk menikah dengan pria lain?’
“Oh iya Jeng Mahendra, bukannya punya anak laki-laki ya, sudah punya pacar belum? Kalau belum, boleh dong kenalkan dengan putriku.” Ketua perkumpulan itu berucap.
“Ah, itu. Dia sudah mempunyai calon istri.”
Meski tak menginginkan Tamara menjadi menantu, namun tak dapat di pungkiri jika wanita itu kini tengah mengandung calon cucunya. Ia tidak mau menelantarkan keturunan keluarga Mahendra. Nyonya Mahendra akan meminta Alvino untuk mencari Tamara, menikahi wanita itu, kemudian berpisah setelah anak mereka lahir.
“Maaf semuanya, aku permisi dulu. Aku ada janji dengan putraku.” Nyonya Mahendra bangkit.
“Oh ya. Untuk liburan lusa, aku tidak jadi ikut. Aku lupa ada hal penting yang harus aku lakukan.” Setelah itu, nyonya Mahendra pergi meninggalkan teman-temannya.
“Dia kenapa? Dari sejak mendengar nama calon mantu Jeng Erica, seperti ada yang aneh dengan tingkahnya. Apa jangan-jangan yang kita bicarakan itu, putranya dia?” Salah seorang yang dari tadi diam, akhirnya mengeluarkan suara.
“Apa iya?”
“Sudahlah janga di pikirkan. Dia memang biasa seperti itu. Ayo kita lanjutkan lagi.” Ucap nyonya Erica kemudian.
Nyonya Mahendra meminta sopir taxi yang ia tumpangi, mengantar ke kantor sang putra. Waktu menunjukkan pukul 4 sore. Itu artinya, Alvino masih berada di kantor.
Tiba di gedung berlantai 5 itu, nyonya Mahendra langsung menuju ruangan sang putra.
Wanita paruh baya itu membuka pintu ruangan dengan kasar. Membuat Alvino tersentak, dan membulatkan matanya.
“Ada apa, ma?” Tanyanya kemudian.
“Regina akan menikah lusa, apa kamu sudah tau?” Tanya sang mama langsung pada intinya. Wanita paruh baya itu berdiri tepat di depan meja kerja sang putra.
Alvino menghela nafasnya kasar. Ia kemudian menyandarkan punggung pada sandaran kursi.
“Aku tau.” Jawabnya singkat.
“Lalu kamu diam saja?” Sang mama kemudian mengambil tempat duduk di hadapan sang putra.
“Lalu aku harus apa, ma? Datang ke sana dan mengacaukan pernikahan mereka? Itu tidak akan membuat Regina kembali padaku. Yang ada dia akan semakin membenciku, ma.”
Semalam Alvino telah memikirkan perkataan William. Benar apa yang pria itu katakan. Yang salah disini bukan Regina, tetapi dirinya. Ia yang terlalu menuruti keinginan duniawi, dan membuat hubungannya dan Regina hancur.
“Jadi kamu tidak mau memperjuangkannya?”
“Ma, ada hal yang lebih penting, yang harus aku lakukan. Daripada memikirkan Regina yang jelas-jelas sudah sangat membenciku.”
“Jangan katakan jika itu Tamara?” Ucap nyonya Mahendra penuh selidik.
“Apa lagi ma? Aku sudah membuat satu kesalahan dengan menyakiti Regina. Aku tidak mau membuat kesalahan lain yang lebih besar lagi.”
“Sudah aku katakan, Tamara memang mengandung anakku ma. Dia hanya tidur denganku. Bahkan dia tidak memiliki kekasih. Sudah di pastikan jika itu memang anakku.”
Nyonya Mahendra menghela nafasnya pelan. Ia menatap sendu putra satu-satunya itu. Harapannya ingin memiliki menantu seorang Regina, telah sirna.
“Kenapa kamu tidak berpikir sebelum bertindak, Al? Apa kamu tidak bisa menahan sedikit saja n*fsu mu itu?”
“Aku menyesal, ma. Dan aku sadar, semuanya sudah terlambat.”
*****
Nyonya Mahendra kembali ke rumah dengan tampang lesu. Hal itu mengundang tanya di benak sang suami yang sedang duduk santai di teras rumah mereka.
Wanita paruh baya itu pun tak menyapa sang suami. Dia berlalu begitu saja memasuki rumahnya.
“Ma, ada apa?” Pak Mahendra mengikuti sang istri ke dalam rumah.
“Mama harus bicara dengan papa.”
Mereka pun masuk ke dalam kamar, agar tidak ada asisten rumah tangga yang mendengar pembicaraan mereka.
“Ada apa, ma?”
Kini mereka telah duduk berdua di atas tempat tidur.
“Pa, anakmu menghamili Tamara.”
Mata pak Mahendra membulat sempurna. Ia menatap dengan nyalang ke arah sang istri.
“Jangan bercanda ma. Ini tidak lucu.”
Kepala nyonya Mahendra menggeleng. “Mama serius. Tamara hamil, dan sekarang dia menghilang entah kemana.”
Wanita paruh baya itu menceritakan tentang Alvino, Tamara dan juga Regina.
“Jadi Regina akan menikah dengan anak Antony Sanjaya?” Pak Mahendra tentu tau siapa Antony Sanjaya, mereka pernah bertemu beberapa kali dalam pertemuan bisnis.
“Iya pa. Katanya mereka di jodohkan. Karena Regina sudah tidak mau lagi berpacaran.”
Pak Mahendra menghela nafasnya pelan.
“Itu yang terbaik untuk Regina, ma. Alvino sudah terlalu dalam menyakiti gadis itu.”
Nyonya Mahendra menatap tak percaya suaminya itu.
“Pa.”
“Ma, putramu itu harus mempertanggung jawabkan perbuatannya. Dia sudah menyakiti Regina. Sekarang dia juga menyakiti Tamara. Jangan sampai, suatu saat nanti, ada seorang anak yang membalas dendam pada putramu.”
Pak Mahendra memegang kedua bahu istrinya, membuat mereka saling berhadapan.
“Buka hati dan pikiran mama. Jangan egois. Tamara sedang mengandung keturunan kita. Jangan sampai kita di benci oleh darah daging kita sendiri.”
Nyonya Mahendra mendengus. Jujur dia belum bisa menerima Tamara menjadi menantunya.
.
.
.
Bersambung.