
“Kenapa tidak melawan, sih?” Tanya Regina dengan mata berkaca-kaca. Ia kini tengah mengobati luka goresan di sudut bibir William.
Tangannya dengan hati-hati menekan kapas berisi obat merah, bibir tipisnya sesekali meniupkan udara, agar bibir pria tampan itu tidak terasa perih.
“Aku tidak bisa bela diri.” Ucap William bergurau.
Mendengar itu, Regina menghentikan kegiatannya.
“Apa iya?”
William menipiskan bibirnya. Ia tak tega melihat mata sang pujaan hati yang semakin berair. Pria itu tak pernah tega melihat mata indah itu mengeluarkan air.
“Aku bercanda. Tadi hanya belum siap melawan saja. Kamu tau, kemarin bahkan aku menghajar pria itu sampai tak berdaya.”
“Benarkah?”
William mengangguk. Ia kemudian merengkuh tubuh sang sekretaris kesayangannya itu.
“Aku sudah menghajarnya kemarin, jika saja selingkuhannya itu tidak melerai, mungkin si rahwana sekarang sudah berada di rumah sakit.” Jelasnya sembari mengusap punggung Regina. Ia ingin menyalurkan ketenangan pada wanita itu.
“Tapi kamu tidak apa-apa kan?” Tanya Regina khawatir. Ia pun membalas pelukan William. Mendekap erat tubuh kekar berbalut kemeja putih, karena William telah melepas jas yang ia kenakan untuk bekerja.
“Aku tidak apa-apa. Dia tidak sempat menghajar ku kemarin.” William melepaskan pelukannya. Ia kemudian menangkup kedua pipi sekretarisnya.
“Honey, tadi itu aku hanya belum siap, dan lagi, itu di tempat umum. Aku tidak mau menjadi pusat perhatian orang-orang.”
Regina menganggukkan kepalanya. Ia kembali memeluk tubuh sang atasan.
“Maafkan aku. Karena aku, kamu jadi begini.”
“Tidak, Honey. Sudah seharusnya aku melindungi kamu. Aku sangat mencintai kamu. Luka sekecil ini, tidak masalah bagiku.”
Mereka melerai pelukan, saling menatap satu sama lain, hingga pandangan mereka terkunci pada satu titik.
Dan entah siapa yang memulai, bibir mereka kini telah menyatu satu sama lainnya. Namun, Regina lebih mendominasi. Ia memberikan sentuhan lembut, pada bibir tebal milik William. Tak ingin bibirnya sampai menyentuh luka bibir pria itu.
“Apa bibirmu masih sakit?” Tanya Regina sembari mengusap sudut bibir William.
“Sedikit.”
Mereka kembali menyatukan bibir masing-masing.
“Boy bangun, Will.” Ucap Regina kala tangannya tak sengaja jatuh di pertengahan tubuh atasannya.
“Biarkan saja, Honey.” William kembali mengikis jarak diantara mereka.
“Pasti rasanya tidak nyaman. Biar aku tidurkan dia.” Regina berucap seolah ia akan menidurkan seorang bayi.
William terkekeh, ia kemudian mendekap tubuh sekretarisnya itu.
“Yakin kamu ingin menidurkannya?”
Regina menganggukkan kepalanya.
“Ya sudah. Ayo kita ke kamar, ini sudah malam. Kita juga belum mandi.” William meraup tubuh Regina dan menggendongnya seperti bayi koala.
******
Sementara itu, di kediaman keluarga Mahendra, mama Alvino sekarang sedang meradang.
Nafasnya masih memburu, mengingat apa yang dia dengar di parkir restoran tadi.
“Mama mau, papa pecat wanita itu dari kantor.” Ucapnya kepada sang suami yang sedang duduk bersandar di atas tempat tidur, sembari memangku sebuah buku.
Ia memang tidak ikut makan malam di luar, karena baru saja pulang dari luar kota.
Ia lalu meletakan buku di atas nakas.
“Ada apa, ma? Pulang-pulang, bukannya memberi salam, mama malah mengamuk begini. Siapa yang harus papa pecat?”
“Tamara, siapa lagi.” Wanita itu mendekat ke arah ranjang, kemudian menghempaskan bokongnya di samping sang suami.
Alis pak Mahendra berkerut, kenapa sang istri menyuruhnya memecat Tamara?
“Maksud mama apa?”
Nyonya Mahendra menarik nafasnya dalam, kemudian membuangnya kasar.
“Mama tidak mau melihat dia ada di kantor lagi, pa. Dia sudah membuat hubungan Alvino dan Regina berakhir.” Jelas nyonya Mahendra kemudian.
“Apa maksud mama?” Tanya pak Mahendra sekali lagi. Ia benar-benar tak mengerti ucapkan sang istri.
Mama Alvino itu kemudian menceritakan apa yang ia dengar di parkir restoran. Ia mendengar jelas, jika Regina mengatakan jika hubungan mereka telah berakhir.
“Itu tidak mungkin, ma.” Ucap pak Mahendra. Ia tidak percaya jika sang putra berbuat serendah itu.
“Tetapi itu yang mama dengar, pa. Mama juga sudah bertanya kepada Alvino, tetapi dia hanya diam. Papa tau kan itu artinya apa? Jika putra kita sudah tidak bisa menjawab, itu artinya dia telah berbuat kesalahan.”
Pak Mahendra mencoba mencerna. Ia tidak mau gegabah mengambil keputusan.
“Lalu, sekarang dimana Alvino?”
“Entahlah, mama meninggalkan dia di parkir restoran. Mungkin sekarang dia sedang bersama wanita mura*han itu.” Nyonya Mahendra berdiri. Ia kemudian pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
“Apa benar yang mama mu katakan, Al?” Pak Mahendra bermonolog setelah sang istri memasuki kamar mandi.
****
Sementara itu, di luar kota pak Antony dan nyonya Aurel kini tengah berdebat. Nyonya Aurel mengatakan niatnya kepada sang suami, jika ingin menjadikan anak dari pak Regan sebagai menantu mereka.
Pak Antony tidak setuju, karena ia sudah mempunyai pilihan sendiri yaitu Regina. Namun, nyonya Aurel tetap pada pendiriannya.
“Anak Regan ada dua. Jodohkan saja yang satunya dengan Willona.” Ucap pak Antony yang tidak mau mengalah.
“Big No.” Telunjuk tangan kanan nyonya Aurel terangkat, dan bergerak ke kanan dan ke kiri.
“Ma, bukannya mama sudah tau niat papa dari jauh-jauh hari? Kenapa mama sekarang jadi begini? Kita masih punya anak lain yang bisa di jodohkan, ma. Tidak harus William kan?”
“Ya— ya karena mama ingin, punya menantu yang cantik.”
“Lalu apa kurangnya Regina? Dia cantik, bentuk tubuh bagus, berpendidikan tinggi—.”
“Oh,, jadi selama ini papa memperhatikan bentuk tubih Regina?” Mata nyonya Aurel membulat, bahkan siap melompat dari tempatnya. Ia berdiri dengan bertolak pinggang, seolah menantang sang suami.
“Bu-bukan begitu, ma.”
“Terus apa? Bagaimana papa bisa tau jika bentuk tubuh Regina itu bagus, jika papa tidak memperhatikannya?”
Pak Antony bangkit dari duduknya di atas ranjang. Ia kemudian mendekap tubuh sang istri. Tujuan mereka datang kemari, selain melepas rindu kampung halaman, juga ingin menghabiskan waktu berdua. Akan kacau semuanya, jika sang istri marah.
“Kita bahas ini besok saja lagi, ma. Sekarang ini sudah malam. Bukannya kita kesini ingin menghabiskan waktu berdua?”
Astaga.. nyonya Aurel ingin sekali menjadi istri durhaka yang memukul kepala suaminya. Pria itu, jika menyangkut urusan di bawah perut, selalu saja nomor satu.
.
.
. Bersambung