
“Apa ada yang ingin kalian jelaskan padaku?” Tanya Reka kepada William dan Regina yang duduk di hadapannya.
Setelah tadi melakukan pemeriksaan, dan dokter mengatakan jika kandungan Regina sehat dan baik-baik saja. Kini mereka berbicara enam pasang mata, di kantin rumah sakit.
“Kami akan menikah minggu depan.” Ucap William menjawab pertanyaan Reka.
“Apa kamu sudah bisa menerima Regina? Bukannya kamu geli dengan kakakku?” Nada suara Reka terdengar tidak ramah. Sejatinya, ingin sekali Reka meninju William, namun ia tidak mau membuat keributan, apalagi ini di rumah sakit. Ia tidak mau kariernya sebagai dokter berakhir.
“Ka, jangan mengungkit itu lagi.” Peringat Regina.
“Kenapa? Kamu takut dia pergi lagi?”
“Maafkan aku, Ka. Aku salah telah meninggalkan Regina waktu itu. Jujur, aku sangat terkejut waktu itu. Kamu seorang dokter, tentu kamu tau bagaimana orang yang memiliki trauma. Begitu pula aku, Regina pernah mengejarku hingga aku jatuh ke dalam selokan. Karena itu, aku trauma dengannya.”
“Will, maafkan aku.”
“Tidak apa-apa, Hon.”
Reka menghela nafas, dan membuang pandangan ke arah lain.
“Apa ayah dan ibu tau kamu hamil?” Adik Regina itu mengalihkan topik pembicaraan.
Regina mengangguk.
“Kemarin sampai di puncak, aku pingsan. Saat bangun, ayah mengatakan jika aku hamil.”
Reka membuang nafasnya kasar. Ia sudah menduga hal ini akan terjadi pada kakaknya.
“Bukankah sudah aku katakan, jaga dirimu. Kenapa bisa kecolongan begini?” Tatapan tajam Reka tertuju pada pria yang duduk di samping kakaknya.
‘Apa anak dan ayah ini suka makan cabai? Kenapa omongan mereka pedas sekali?’
William menelan ludahnya kasar. Baru saja ia bisa mernafas lega, karena pak Regan sudah merestui, kini datang lagi perkara baru yang bernama Reka.
‘Ini namanya Keluar dari kuburan, malah masuk ke pemakaman.’
“Aku sengaja melakukannya.” Jawab William kemudian. Pria itu menyandarkan punggung pada sandaran kursi.
“Aku ingin kakakmu secepatnya menjadi milikku. Karena itu, aku melakukan ini. Regina sudah menjaga dirinya dengan baik, hanya saja, aku yang mencuranginya.”
Regina menatap lekat pria di sampingnya. Apa sebegitu cintanya William kepada dirinya? Sehingga William menyalahkan diri sendiri?
“Kamu memang pria kurang ajar.”
“Tetapi aku hanya melakukan dengan Regina, dan aku melakukan itu, karena aku mencintainya. Aku bukanlah pria nakal yang suka jajan di luar sana.” William menghela nafasnya pelan.
“Bukannya aku membela diri. Tetapi itulah kenyataannya. Aku punya—William menghentikan ucapannya kala tangan Regina menggenggam tangannya, dan wanita itu menggelengkan kepala. Meminta William agar tidak membuka rahasia dirinya.
“Aku punya masalah sendiri, dan hanya Regina yang tau. Bahkan, keluarga ku tidak tau.” Ucap William kemudian.
“Kamu tidak menipu kakakku, kan?”
“Tidak sama sekali. Tetapi, terserah padamu mau menilai ku bagaimana, yang jelas, Regina tau bagaimana aku. Tidak ada rahasia yang aku tutupi darinya.”
“Will..” Regina berusaha menenangkan William yang terdengar mulai terpancing. Bukannya apa-apa, wanita itu tau betul bagaimana sepak terjang William jika pria itu sudah marah.
“Aku tidak apa-apa, Hon.” Ucap William tersenyum kepada Regina.
“Jadi kalian akan menikah minggu depan?” Reka pada akhirnya mengalah. Ia melihat begitu besar binar cinta di mata sang kakak untuk William.
“Ya, dan mulai hari ini aku tinggal di rumah keluarga Sanjaya bersama ayah dan ibu. Nanti, kamu ke sana, ya. Ayah dan ibu ingin bertemu.”
Reka menganggukkan kepalanya. “Ya. Aku tidak bisa memberikan apapun untuk kalian. Aku berharap, kalian bahagia. Dan kamu— Reka menatap William dengan lekat.
“Tolong jaga kakakku dengan baik. Aku tidak mau dia kecewa untuk yang kedua kalinya. Jika sampai kamu menyakiti Regina, aku orang pertama yang akan menghajar mu.”
“Lakukan lah. Reka, kamu tau aku sekarang sudah pasrah. Kalian, maksudku ayah dan kamu. Jika ingin menghajar ku sekarang, lakukanlah. Asal kalian mengijinkan aku menikah dengan Regina.”
“Apa sebegitu pasrahnya?”
“Ya. Aku tau, aku salah. Tetapi kesalahan yang aku buat, karena aku mencintai Regina.”
*****
Setelah bersitegang dengan Reka, kini William dan Regina dalam perjalanan menuju rumah Sanjaya.
Regina mengamati pria yang sedang memegang kemudi itu, sedari tadi William hanya diam. Namun masih tetap mengenggam tangan Regina.
“Will..” Regina berinisiatif memulai pembicaraan, ia takut William berbuat sesuatu lagi, seperti beberapa hari lalu, pulang dalam keadaan mabuk.
“Maaf, jika ucapan Reka membuatku sakit hati, dia memang seperti itu. Dia sangat mirib dengan ayah.”
“Tidak apa-apa, Hon. Aku sudah mulai kebal. Ayah saja bisa aku atasi, apalagi Reka.”
Regina mencebik, bukannya tadi pria itu sudah pasrah jika di hajar oleh adiknya.
Mobil pun tiba di halaman rumah keluarga Sanjaya. William turun lebih dulu, membukakan pintu untuk calon istrinya, kemudian menurunkan koper wanita itu.
“Regina.” Seru Willona dari depan pintu. Gadis berusia 25 tahun itu, kemudian berlari mendekat, dan merangkul lengan Regina.
“Mama sudah bercerita semua padaku. Aku senang sekali. Anggota keluarga kita akan bertambah. Ayo masuk.” Willona menuntun calon kakak iparnya masuk ke dalam rumah, di ikuti William dari belakang, sembari membawa koper Regina.
“Aku sudah meminta mbak, menyiapkan kamar untukmu.” Ucap Willona lagi.
“Tidak. Gina akan tidur di kamar ku.” Tukas William. Pria itu pun membawa koper Regina ke kamarnya.
“Dasar budak cinta. Tidak bisa menunggu sampai minggu depan.” Willona menggelengkan kepalanya.
“Sekarang atau minggu depan sama saja, Gina akan tinggal di kamar itu.” William menjawab sembari menapaki anak tangga.
“Ayo kita duduk. Kamu tidak boleh lelah.” Willona kembali menuntun Regina ke arah sofa.
“Mau minum sesuatu? Atau keponakan ku ingin makan sesuatu?” Nafa suara Willona terdengar sangat antusias.
“Tidak, Na. Kami baru saja minum di kantin rumah sakit.”
“Untuk apa ke rumah sakit? Apa terjadi sesuatu dengan keponakan ku?”
“Tidak, William hanya ingin memastikan langsung, apa calon anaknya baik-baik saja. Dan setelah itu, tanpa sengaja bertemu dengan adikku disana?”
“Pria menyebalkan itu?”
Alis Regina berkerut mendengar ucapan Willona.
“Apa yang kamu katakan, Na?”
“Adikmu itu, pria yang sangat menyebalkan.” Gerutu model cantik itu.
“Kamu mengenalnya? Bukannya waktu itu kamu bilang—
“Ya, aku mengenalnya.” Willona kemudian bercerita tentang saat pertama kali bertemu Reka, hingga pertemuan-pertemuan mereka berikutnya. Regina hanya terkekeh mendengar cerita adik William itu.
“Memang dia bekerja di rumah sakit mana, Re?”
“Rumah sakit Hugo.”
“Wah. Pria menyebalkan itu pintar juga ya.”
“Aku setuju, adiknya memang menyebalkan.” William datang menyela dan duduk di samping Regina. Kemudian merangkul bahu wanita hamil itu.
“Istirahat ya. Kamu baru datang dari melakukan perjalanan jauh.”
“Ah, ya Re. Istirahat lah. Kita mengobrolnya nanti saja lagi. Masih banyak waktu.”
Regina pun menganggukkan kepalanya. Dan William mengantar calon istrinya ke kamar.
“Apa kamu akan pergi?” Tanya Regina setelah ia berada di atas tempat tidur. Dan William duduk di tepi ranjang.
“Kenapa?”
“Apa boleh aku minta, kamu menemani ku dulu. Setidaknya sampai aku tidur.” Nada suara terdengar memelas. Membuat senyuman terbit di wajah William.
“Aku akan disini sampai para lansia itu datang.”
Mata Regina berbinar. Itu artinya William akan menemani hingga esok hari.
“Kemarilah.” Regina menepuk sisi kosong tempat tidur. Dengan senang hati William menempatinya dan mereka pun tidur saling memeluk.
.
.
.
Bersambung.