
Keesokan harinya.
Pagi-pagi sekali William sudah bangun dari tidurnya. Pria itu pun telah selesai membersihkan diri, dan kini siap dengan setelan santai.
Sementara, sang istri masih terlelap. Wanita itu mungkin kelelahan, karena seharian kemarin tak beristirahat, apalagi di malam hari sang suami mengajaknya mencoba keempukan ranjang yang telah lama tak di tempati.
“Kamu pasti lelah, ya? Tidurlah lebih lama. Aku akan berjalan-jalan sebentar.” William mengecup lembut kening sang istri. Kemudian beranjak keluar dari dalam kamar.
Waktu menunjukkan pukul enam pagi, saat William tiba di ruang tamu rumah mertuanya. Pria itu mengedarkan pandangan ke segala penjuru. Hingga telinganya menangkap suara orang beraktivitas dari arah dapur.
Rasa penasaran menuntun suami Regina itu untuk mendekat. Ia mendapati sang ibu mertua sedang sibuk di balik meja dapur.
“Pagi, Bu.” Sapanya pada sang ibu mertua.
“Pagi, loh kenapa sudah bangun? Ini masih pagi. Tidur saja lagi, nak.” Sang ibu mertua menatapnya heran.
“Aku belum terbiasa, Bu.” Jawab pria itu jujur. Bagaimana pun, ini untuk pertama kalinya ia menginap di rumah sang mertua. William memang susah tidur nyenyak, jika di tempat baru.
Sang ibu mertua menganggukkan kepala tanda paham.
“Apa putri. Mm, maksud ibu, apa Regina belum bangun?” Nyonya Karin mengganti panggilannya pada sang putri. Takut sang menantu kembali teringat masa kecil mereka.
“Gina masih tidur, Bu. Biarkan saja. Dia pasti lelah. Seharian kemarin tidak beristirahat.”
“Ya, sudah.”
Nyonya Karin kembali melanjutkan aktivitasnya. Sembari mengajak sang menantu mengobrol. William pun membantu wanita paruh baya itu sebisanya.
“Wah, menantu kesayanganku sudah bangun rupanya.”
Suara bariton pak Regan menyela obrolan mertua dan menantu di balik meja dapur.
“Pagi, ayah.” Sapa William ramah.
“Apa yang kamu lakukan?” Selidik pak Regan.
“Tidak ada. Hanya sedikit merusak masakan ibu.” Jawab sang menantu bergurau.
“Sudah, biarkan ibumu yang memasak. Bukannya kamu ingin melihat pipit?”
Sebenarnya William ingin menjawab tidak. Tujuan dia datang ke rumah orang tuanya adalah untuk menyenangkan hati sang istri. Pria itu terlanjur menggunakan burung itu sebagai alasan kedatangannya. Agar tidak ketahuan jika dia menguping pembicaraan sang istri dengan adiknya.
Mau tak mau, William pun menjawab iya. Dan ikut dengan ayah mertuanya.
“Wah, jadi ini yang bernama pipit?” Tanya William saat melihat seekor burung berjenis lovebird, di sebuah sangkar yang tergantung pada teras belakang rumah mertuanya.
William terpana melihat warna burung yang seperti pelangi. Ia baru tau jika ada warna burung seperti itu. Yang ia tahu hanya burung warna hitam, putih atau pun coklat.
“Kenapa? Apa kamu suka?” Tanya sang mertua melihat kekaguman sang menantu.
Kepala William mengangguk kecil.
“Mau pelihara juga?” Tanya pria paruh baya itu lagi.
Namun sang menantu menggelengkan kepalanya.
“Tidak, nanti waktuku habis untuk mengurusi burung. Seperti papa, bisa-bisa burung yang lain tidak terurus.” Jawab William tanpa sadar.
Pak Regan yang mengerti ucapan sang menantu pun hanya mampu menganga.
“Ibu sedang melihat apa?” Tanya Regina menghampiri sang ibu yang tengah berdiri di ambang pintu belakang. Ia baru saja keluar dari kamarnya, untuk menyusul sang suami.
“Itu.” Tunjuk nyonya Karin dengan dagunya.
Regina menatap ke arah pandangan wanita paruh baya itu.
Senyum pun tersungging di wajah cantiknya.
“Ternyata, ayah dan suamimu bisa akur juga, ya? Tadinya, ibu takut mereka akan seperti kucing dan anjing saat bersama.” Ucap nyonya Karin sembari menghela nafas lega.
“Hmm, aku juga berpikir seperti itu, Bu. Tetapi, lihatlah. Mereka bahkan seperti pasangan ayah dan anak sungguhan.” Sambung Regina, melihat keakraban sang suami dan ayahnya.
***
Hari menjelang siang, Alvino pun menemui Tamara di rumah kontrakan wanita itu, untuk mengajaknya kembali ke ibukota. Wanita itu pun telah siap dengan barang-barang yang akan ia bawa kembali pulang.
Namun, sebelum pergi, Tamara ingin berpamitan terlebih dulu kepada orang tua Regina. Bagaimana pun, mereka sangat berjasa dalam hidup wanita itu.
“Ibu dan bapak belum datang, Ta.” Ucap Nita, salah satu pekerja di toko mebel itu, ketika Tamara datang untuk berpamitan.
“Ya, sepertinya sedang menghabiskan waktu dengan mbak putri dan suaminya.”
“Kalau boleh, aku minta alamat rumah ibu, Nit. Aku ingin pamitan secara langsung dengan beliau.”
Nita pun mengangguk, dan memberitahu dimana alamat rumah orang tua Regina.
Sementara itu, kini di rumah pak Regan, William dan Regina sedang bercengkerama di teras depan. Mereka mengingat kembali masa kanak-kanak. Saat Regina kecil yang suka sekali mengejar William, hingga jatuh terjungkal ke dalam selokan yang ada di depan rumah itu.
“Mana selokannya, dad?” Tanya Regina sembari mengusap sudut mata yang mengeluarkan air, akibat terlalu lama tertawa.
Jujur, ia tak mengingat hal yang di ceritakan oleh sang suami. Namun, mendengarnya saja sudah membuatnya terbahak.
“Selokannya sudah di tutup. Kamu lihat sendiri, jalanan disini sudah bagus. Tak seperti dulu, aspalnya masih compang camping.”
Melihat istrinya yang tak berhenti tertawa, William pun merapatkan kursi. Kemudian mendekap wanita itu dari samping.
“Apa kamu puas menertawakan suamimu, mmm?”
“Dad, malu nanti dilihat orang.” Regina berusaha menghindar, karena pria itu hendak menggigit pipi bulatnya.
“Biar saja. Biar semua tetangga tau, jika putri ayah Regan ini milikku.”
Regina kembali tergelak karena sang suami menggelitik pinggangnya.
Larut dalam canda tawa, keduanya tak menyadari jika ada tamu yang datang.
“Permisi.”
Sontak tawa keduanya terhenti. Mereka dengan kompak melihat ke arah sumber suara.
“Tamara, Alvino?”
Regina seketika bangkit dari duduknya, diikuti sang suami/
“Maaf, mbak. Aku ingin bertemu bapak dan ibu. Apa mereka ada di rumah?”
Regina menganggukkan kepalanya. Kemudian mempersilahkan tamunya untuk masuk.
“Bu, Tamara ingin bertemu.” Ucap Regina menghampiri sang ibu yang sedang duduk di sofa ruang tamu bersama pak Regan.
Regina mempersilahkan mereka berdua untuk duduk. Ia dan sang suami pun ikut mengambil tempat.
“Ada apa, nak Tamara?” Nyonya Karin sebisa mungkin bersikap baik. Apapun yang telah di lakukan kedua orang itu kepada sang putri, nyatanya itu sudah berlalu. Dan Regina sudah mendapatkan yang terbaik.
Tamara menghela nafas pelan, sebelum berbicara.
“Bu, aku datang kesini untuk berpamitan sekaligus berterima kasih pada ibu dan bapak. Kalian selama ini sudah sangat baik padaku. Tanpa kalian, mungkin hidupku sudah terlunta di jalanan.” Wanita itu menjeda ucapannya, dan kembali menghela nafas.
“Maafkan, aku. Karena tidak jujur kepada kalian. Aku tidak berniat apapun. Aku hanya takut kalian mengusirku, sementara aku tidak tau harus kemana lagi.”
Nyonya Karin menatap sang suami, pria paruh baya itu hanya mengedikan bahu tanda tak acuh.
“Nak Tamara, ibu sudah memaafkan apapun yang telah kamu lakukan sebelumnya. Ibu harap, kedepannya tidak ada hal buruk lagi yang terjadi di antara kita. Ibu juga berharap, hubungan kalian semua membaik. Ibu tidak ingin ada permusuhan diantara kalian.”
Tamara menatap nyonya Karin dengan mata yang mulai memanas. Ia baru saja merasakan kasih sayang seorang ibu dari wanita paruh baya itu. Dan kini harus berpisah.
“Bu. Apa aku boleh memelukmu?” Tanyanya dengan suara menahan tangis.
“Tentu.”
Kedua wanita berbeda usia itupun bangkit dari duduknya, kemudian saling memeluk satu sama lain.
“Terimakasih, Bu.” Ucap Tamara terisak. Ia tak sanggup lagi menahan tangisnya.
“Sama-sama. Jaga dirimu baik-baik.” Pesan nyonya Karin.
Tamara menganggukkan kepalanya.
.
.
.
Bersambung.