BOSS WITH BENEFIT

BOSS WITH BENEFIT
Bab. 83. Wedding Day.



Hari yang di nantikan tiba. Sejak pagi, karangan bunga bertuliskan selamat menempuh hidup baru, telah berdatangan ke halaman rumah keluarga Sanjaya.


Para penghuni rumah juga telah di sibukkan dengan kegiatan merias diri.


Pengantin wanita dan para wanita lainnya, sedang bersiap di ruangan yang biasa di gunakan untuk melakukan perawatan kecantikan di rumah itu. Regina di bantu oleh dua orang perias profesional. Sementara, nyonya Aurel, nyonya Karin, dan Willona di bantu masing-masing oleh satu orang perias.


Dan para pria, mereka bersiap di kamar tamu, tentu juga di bantu oleh beberapa orang perias. Semua ingin terlihat sempurna di hari yang membahagiakan ini.


“Kamu cantik sekali, sayang.” Ucap nyonya Aurel mendekat ke arah calon menantunya. Ia menatap pantulan Regina di dalam cermin.


“Terima kasih, ma.”


Terdengar langkah kaki mendekat, membuat nyonya Aurel dan Regina menoleh. Tampak Willona berjalan ke arah mereka dengan wajah yang di tekuk.


“Ada apa, Na?” Tanya calon kakak iparnya.


“Apa tidak ada gaun lain untukku? Mama dan tante Karin menggunakan gaun berwarna putih, kenapa aku menggunakan gaun berwarna merah muda begini?” Gadis itu kembali protes. Sebenarnya bukan karena warna gaun, tetapi karena pakaian itu berpasangan jas yang di gunakan Reka.


“Bukannya mama sudah katakan, acara kita mendadak, butik hanya mempunyai itu. Mama tidak sempat ke tempat lain. Lagi pula, sebentar lagi acara di mulai. Mama tidak mau ada yang terlambat datang.”


Willona semakin kesal. Harusnya dia menjadi adik yang paling bahagia karena sang kakak menikah. Namun, hari ini dia justru di buat sangat kesal.


“Hanya satu hari ini saja, Na. Gunakan itu untuk ku dan keponakanmu.” Regina ikut berucap. Dan Willona pun hanya mampu mendengus.


“Kamu cantik sekali, Nak.” Nyonya Karin mendekat ke arah Willona dan memuji penampilan gadis itu. Tentu saja, apa pun yang di pakai Willona pasti terlihat pas di tubuhnya. Karena dia memiliki bentuk tubuh yang sangat bagus.


“Terima kasih, tante.” Ucap Willona dengan senyum terpaksa.


Terdengar suara di ketukan dari arah pintu. Willona mendekat, kemudian membukanya.


Mata gadis itu membulat sempurna, kala mendapati Reka berdiri di depan pintu, dengan setelan celana dan jas berwarna merah muda.


“Ada apa?” Ucap Willona ketus.


“Apa kakakku sudah siap? William sudah menunggu di halaman.” Ucap pria muda itu, sembari meneliti penampilan Willona.


Salah satu sudut bibir Reka terangkat. Ia melihat gadis di hadapannya ini lebih cantik dari hari biasanya.


“Apa lihat-lihat!!” Tangan Willona terulur menutup mata Reka.


“Dasar gadis gede rasa.”


“Kamu—


“Ada apa, ka?” Nyonya Karin datang mendekat, saat mendengar perdebatan semakin sengit di antara kedua anak muda itu.


“Apa kakak sudah siap, Bu? William sudah menunggu di halaman.”


“Lalu dimana ayahmu? Dia yang harus menyerahkan putrinya kepada calon suaminya.”


“Aku disini.” Pak Regan datang sembari membenarkan jas yang ia pakai.


“Wah, ayah tampan sekali. Lebih tampan dari hari pernikahan kita.”


Pak Regan pun mencebikan bibirnya.


“Pengantin wanita siap.” Ucap Willona mendekat ke arah keluarga Prayoga sembari menggandeng lengan Regina.


“Kamu cantik sekali, nak.” Puji pak Regan kepada sang putri.


“Aku juga cantik kan, om?” Sela Willona.


“Dih, minta di puji.” Celetuk Reka.


“Apa sih. Terserah aku dong.”


Regina dan nyonya Karin saling tatap. Mereka terlihat seperti kucing dan tikus.


****


Halaman rumah keluarga Sanjaya telah di penuhi para tamu yang di undang untuk menyaksikan pengucapan janji suci pernikahan.


William telah siap, dengan penampilan sempurnanya. Menunggu kedatangan calon istrinya dengan perasaan gugup dan jantung yang berdetak dua kali lebih cepat.


“Tunggu sebentar lagi, Regan sedang menjemput putrinya.” Ucap sang papa yang tiba-tiba ikut berdiri di sampingnya.


“Membuat aku kaget saja.” Gerutu William, dan membuat sang papa terkekeh.


Ia melihat-lihat ke sekeliling halaman yang telah di sulap menjadi sangat cantik, penuh hiasan bunga.


Pandangan William juga nampak menyapu ke semua meja yang telah di tempati oleh para undangan. Terlihat keluarga om Adrian hadir disana, begitu pula dengan kedua sahabat William.


Namun, alis William nampak berkerut saat mendapati empat pria asing yang menempati salah satu meja. Ia tak mengenali keempat orang itu.


“Pa, mereka berempat siapa?” William berbisik. Ia gunakan dagu untuk menunjuk.


“Itu?” Pak Antony melihat kemana dagu sang putra. “Mereka sepupu-sepupunya Regina.”


William menelan ludah dengan susah payah. Keempat pria itu terlihat garang, berbadan besar layaknya seorang Bodyguard.


“Setelah menikah, jangan coba-coba menyakiti Regina. Lihatlah, penjaganya banyak. Belum lagi ayah mertua dan adik iparmu.” Pak Antony menakut-nakuti sang putra.


“Jangan menakut-nakuti ku, pa.”


“Papa serius, Will. Papa harap, kamu jangan pernah menyakiti Regina kedepannya. Papa ingin, kamu mencontoh rumah tangga papa dan mama. Segala permasalahan kami bicarakan berdua. Saling percaya, saling terbuka satu sama lain. Jangan pernah berbohong, jujur yang utama, meski itu menyakitkan.”


William mengangguk. Baru kali ini, ia di beri wejangan oleh sang papa.


“Kamu sekarang akan menjadi kepala keluarga, papa harap, kamu bisa membuang kebiasaan buruk mu, jangan lagi membuang banyak waktu di klub. Apalagi sekarang istrimu sedang hamil. Dia membutuhkan mu kapan saja. Kamu harus menjadi pria yang bertanggung jawab pada keluarga mu. Yang sekarang adalah istri dan anakmu.”


“Iya, pa. Maafkan aku, karena selama ini aku belum bisa menjadi anak yang baik untuk mama dan papa.”


“Kemarilah.” Pak Antony meraih pundak sang putra. Mereka kemudian saling memeluk satu sama lain.


Tak lama kemudian, nampak Willona datang dengan mengandeng lengan Reka. Itu semua ulah kedua mama mereka.


“Awas saja mama dan tante Karin. Aku akan membuat perhitungan dengan mereka.” Bibir mungil Willona tak hentinya mengumpat.


“Tidak boleh mengumpat orang tua.” Bisik Pria di sampingnya.


“Kamu juga. Kenapa mau-maunya menggunakan pakaian warna merah muda begini?”


“Ini permintaan kakakku, aku tidak mungkin menolaknya. Dia sedang hamil. Emosi nya akan cepat sekali terpancing.” Jawab Reka santai.


“Menyebalkan.”


Mereka terus berjalan memasuki tempat pernikahan. Di belakang mereka, nampak pak Regan dan Regina. Tangan kanan Regina bergelayut pada lengan kiri sang ayah. Sementara, tangan kiri wanita itu memegang buket bunga.


“Lihatlah. Pengantin mu sangat cantik.” Ucap pak Antony pada sang putra.


“Cantik sekali, pa.” Ucap William.


Putri Regina Prayoga terlihat sangat cantik hari ini. Ia menggunakan gaun pengantin berwarna putih, berlengan panjang, dan menjuntai indah menutupi kakinya. Rambut wanita itu terikat menggulung di atas kepala. Dan di sematkan sebuah mahkota kecil di depannya. Tak lupa, kain tipis yang menjuntai dari ujung kepala hingga punggungnya yang nantinya juga akan menutupi wajah pengantin wanita itu.


.


.


.


Bersambung.