
Di ibukota.
Reka yang seharusnya bekerja di rumah sakit, harus meminta ijin cuti, karena ia mengalami demam tinggi.
Pria itu pun menghubungi Willona agar menemaninya di apartemen hari ini. Bukan karena manja, tetapi Reka tau jika adik William itu tidak ada pekerjaan.
Willona pun menyanggupi. Daripada berdiam diri di rumah.
“Ternyata, dokter juga bisa sakit, ya?” Ucapnya sembari membawa baskom kecil berisi air hangat, untuk mengompres demam pria itu.
“Aku manusia, Na. Bukan dewa.” Ucap Reka menganggapi. Ia sedang berbaring di atas tempat tidur.
“Katakan padaku, obat apa yang bisa menurunkan demam mu, biar aku belikan.” Ucap gadis itu seraya menempelkan handuk kecil yang telah di celupkan ke dalam air hangat, pada dahi pria itu.
“Aku sudah meminta orang untuk membawakan obat. Kamu cukup rawat aku di sini.” Ucap Reka sembari menaik turunkan alisnya.
“Kamu itu masih sakit. Masih sempatnya menggombal.”
“Namanya juga usaha, Na. Supaya hati kamu cepat luluh untuk aku.” Ucap Reka terkekeh.
Gadis itu berdecak kecil. Willona akui, hatinya mulai luluh dengan perjuangan yang Reka lakukan. Namun, ia masih ingin melihat seberapa keras usaha pria itu.
“Aku akan membuatkan bubur untukmu.” Gadis itu mencelupkan kembali handuk kecil ke dalam baskom, kemudian meletakan di atas kening Reka.
“Hmm, jangan terlalu pedas. Tidak baik untuk orang sakit.”
“Iya, dokter.” Ucap gadis itu tergelak.
Ia kemudian meninggalkan kamar dokter muda itu.
Hampir lima belas menit berada di dapur, tiba-tiba saja sepasang tangan melingkar pada pinggang ramping gadis itu. Ia sedikit terkesiap. Namun sudah tau siapa pemilik tangan itu.
“Kenapa lama sekali?” Tanya Reka sembari menumpangkan dagu pada bahu gadis itu.
“Aku membuat bubur ayam.”
Reka melihat kedua tungku api pada kompor itu menyala. Satu panci kecil berisi bubur putih, sementara satunya lagi berisi kuah kaldu ayam.
“Sudah tidak pedas, kan?”
“Iya, bawel.”
Reka terkekeh, kemudian mengecup pipi model cantik itu.
“Panas mu belum turun. Kenapa keluar kamar?” Tanya Willona sembari mengaduk bubur agar tidak mengendap di dasar panci. Ia dapat merasakan hawa panas dari kulit pria itu.
“Bosan tidur terus. Kamu tau, cara ampuh menghilangkan demam itu seperti apa?”
Kepala gadis itu menggeleng.
“Seperti ini. Skin to skin.” Pria itu mengeratkan pelukan pada Willona.
Adik William itu melirik sebentar, Reka tidak menggunakan baju. Hanya celana panjang berbahan kain.
Gadis itu menghela nafas pelan.
“Reka.”
“Apa sayang?”
“Nanti kalau ada yang datang, mereka akan berpikir yang tidak-tidak tentang kita.”
Bukan tanpa alasan Willona berbicara seperti itu. Karena ia juga hanya menggunakan tank top dan rok jeans selutut.
“Kenapa memikirkan orang lain. Disini hanya ada kita berdua.” Reka kembali mengecup pipi model cantik itu.
Suara bel di pintu masuk, membuat Reka melepaskan dekapannya.
Ia kemudian pergi ke depan untuk membuka pintu.
“Dokter Silvia?” Alis Reka bertaut ketika melihat rekan kerjanya berada di ambang pintu dengan membawa sebuah kantong plastik kecil.
“Kenapa bisa dokter? Bukannya aku meminta suster Ria yang membawakan?” Tanya Reka terheran. Sebab tadi ia meminta suster yang biasa menjadi asistennya di rumah sakit untuk membawakan obat.
“Ya, kebetulan aku satu arah dengan gedung ini. Dan suster Ria di minta membantu dokter Doni.” Jelas dokter wanita itu. Ia terpesona melihat penampilan Reka, yang tak menggunakan pakaian atasan.
Interaksi kedua dokter itu tak luput dari perhatian Willona. Sebagai seorang wanita, ia bisa melihat gelagat mencurigakan dari dokter wanita itu.
“Sayang, bubur mu sudah siap. Kenapa tamunya tidak di persilahkan masuk?”
Willona mendekat, mendengar ucapan gadis itu, senyum terkembang di wajah tampan Reka. Namun tidak dengan dokter wanita yang masih berdiri di ambang pintu. Wajahnya seketika berubah masam, saat mendengar seorang wanita memanggil Reka dengan sebutan sayang. Di tambah lagi, wanita itu hanya menggunakan pakaian minim.
“Apa dia yang membawakan mu obat?” Tanya gadis itu sembari bergelayut pada lengan Reka.
“Hmm. Dia dokter Silvia, rekan kerja ku.” Jelas Reka.
“Oh, Hallo dokter Silvia. Aku Willona, terima kasih telah membawakan Reka obat.” Tangan Willona terulur, namun bukan untuk menyalami, tetapi mengambil kantong plastik yang di bawa dokter itu.
“Kalau begitu, aku permisi dulu, dokter Reka.”
“Lho, kenapa buru-buru? Silahkan masuk dulu, biar aku buatkan teh. Sebagai tanda terima kasih karena telah repot-repot membawa obat kemari. Iya, kan Sayang?” Willona berbicara dengan senyum yang di buat-buat. Ia belum juga menerima cinta Reka, tetapi sudah ada calon pelakor yang mendekati.
“Ah, terima kasih. Tetapi aku ada urusan lain.” Ucap dokter wanita itu.
“Oh, kalau begitu. Hati-hati dijalan.” Ucap Willona sembari melambaikan tangan.
***
Reka tergelak melihat tingkah laku Willona. Bagaimana tidak, setelah dokter Silvia menghilang, dan pintu kembali di tutup, gadis itu begitu saja menghempaskan tangannya.
“Sayang, jangan marah. Dia hanya rekan kerja, tidak lebih.” Pria itu mengejar Willona ke meja makan. Kemudian mendekapnya dari belakang.
“Kamu menggemaskan sekali kalau cemburu.”
“Lepaskan aku. Makan bubur mu sana. Nanti dingin.” Gadis itu memberontak.
Reka pun melepaskannya, dan duduk di kursi meja makan. Begitu juga Willona, ia duduk di samping pria itu dengan wajah cemberut.
“Jangan cemberut begitu. Aku jadi tidak nafsu makan.” Reka berpura-pura meletakan kembali sendok yang ia gunakan untuk menyantap bubur.
“Jangan banyak drama. Habiskan cepat. Setelah itu minum obatmu.” Gadis itu menyodorkan kantong plastik yang tadi ia rebut dari dokter Silvia.
“Jangan marah. Aku tidak tertarik dengan wanita lain.” Ucap Reka sembari meraih jemari Willona yang berada di atas meja.
“Ya, kamu mungkin tidak. Tetapi wanita tadi, jelas matanya jelalatan. Sengaja ya, pamer punya bentuk tubuh yang bagus?”
Reka melihat dirinya sendiri. Kini ia mengerti kenapa gadis itu marah padanya.
“Maafkan aku. Aku tidak bermaksud memamerkan tubuhku pada wanita lain.”
“Alasan. Bilang saja memang sengaja.” Willona mendengus kesal. Entah kenapa ia tidak suka Reka bertelan*jang dada di hadapan wanita lain.
“Hhmmpptt.”
Tak tahan mendengar ocehan gadis itu, Reka pun membungkam bibir Willona dengan sebuah ciuman.
Willona memberontak, namun sedetik kemudian ia pasrah, karena Reka menekan tengkuknya.
“Maaf. Aku ceroboh. Lain kali tidak akan mengulangi lagi. Aku hanya akan begini di hadapanmu.” Ucap dokter muda itu saat tautan mereka terlepas. Ia merangkum kedua pipi Willona. Membuat bibir gadis itu mengerucut.
Merasa gemas, ia pun kembali menyesapnya.
.
.
.
Bersambung.