
Tiga hari menjelang Pernikahan.
Keluarga Sanjaya di sibukkan dengan segala macam persiapan pernikahan William dan Regina. Meski telah menyewa Wedding Organizer, namun Nyonya Aurel dan Nyonya Karin ikut langsung memantau persiapan acara pernikahan anak-anak mereka.
Konsepnya pun menurut mereka sangat sederhana, sebuah Garden party, yang di gelar di halaman samping, hingga halaman belakang rumah keluarga Sanjaya.
Pernikahan itu, hanya akan di hadiri oleh Keluarga, kerabat dekat serta para pekerja Sanjaya Group. Jika di jumlah, mungkin sekitar 200 orang, dan itu telah di bagi dua. Para keluarga dan kerabat dekat, di minta hadir saat pengucapan janji suci pernikahan. Sementara, para petinggi dan karyawan Sanjaya Group, di undang pada saat jamuan makan siang.
William sengaja tidak melangsungkan resepsi pernikahan yang mewah, mengingat Regina sedang hamil muda. Tidak boleh terlalu lelah. Pria itu, lebih mementingkan kesehatan calon istri dan anaknya, ketimbang mengadakan pesta hingga larut malam.
Willona sebagai adik calon pengantin pria juga ikut andil mempersiapkan pesta pernikahan sang kakak. Gadis itu bahkan telah mengosongkan jadwal pemotretan, demi memastikan semuanya berjalan lancar.
Adik William itu, berperan sebagai Wedding planner, atau orang yang merencanakan segala sesuatu terkait pernikahan.
Konsep Garden party, juga adalah ide gadis itu. Sebenarnya, pesta pernikahan yang ia rancang untuk sang kakak, adalah pernikahan impiannya. Namun, karena ia belum memiliki kekasih, jadi Willona merealisasikan lewat pernikahan William dan Regina.
“Bunganya harus yang segar, aku tidak mau ada bunga yang layu sebelum acara di mulai.”
Willona berkata kepada salah satu pekerja yang di tugaskan oleh WO yang mereka pesan.
Seorang pekerja pria, berusia sekitar 25 tahunan, pun mengangguk patuh. Ia mencatat keinginan kliennya itu. Sang atasan telah berpesan, untuk menuruti segala keinginan keluarga Sanjaya, karena mereka telah membayar dua kali harga normal.
“Kenapa tidak kamu saja yang membeli bunganya sendiri?” Suara maskulin, menyela di antara mereka berdua.
Alis Willona berkerut, ia merasa tidak asing dengan suara pria itu. Gadis itu memutar tubuhnya, dan benar saja, Reka sedang berdiri sembari bersedekap dada di belakangnya.
“Apa yang kamu lakukan disini?”
“Memang kenapa? Orang tuaku ada disini. Dan lagi, ini adalah persiapan acara pernikahan kakakku, aku juga harus ambil bagian.” Ucap pria itu santai.
“Jangan terlalu banyak mawar merah muda. Gunakan Mawar putih, Lily putih, atau krisan putih. Ini acara pernikahan, bukan hari kasih sayang.” Reka berbicara ke arah pekerja WO yang masih berada disana.
“Apa-apan ini? Aku yang menentukan. Kenapa kamu ikut campur?” Gerutu Willona. Pria itu selalu saja membuatnya kesal.
“Yang menikah bukan kakakmu saja, tetapi kakakku juga. Jadi aku juga boleh ikut menentukan.”
“Tidak bisa begitu.”
“Kalau begitu, kakakmu menikah sendiri saja. Jangan mengajak kakakku. Mudah, bukan?” Jawab Reka sembari mengedikan bahunya.
“Kamu.” Tangan Willona mengepal di udara. Ingin sekali ia meninju pria ini.
Tak jauh dari mereka, Regina sedang mengamati dengan gemas. Ia melihat adik dan calon adik iparnya seperti pasangan di dalam drama Korea.
“Awalnya bertengkar terus, lama-kelamaan menjadi budak cinta.” Ucap wanita hamil itu.
“Apa yang sedang kamu lihat, nak?” Tanya pak Regan mendekati sang putri.
“Kucing dan Tikus sedang berdebat.” Ucapnya terkekeh.
“Maksudmu?” Pak Regan celingukan mencari dimana ada kucing dan tikus yang di maksud Regina.
“Itu.” Tunjuknya dengan dagu.
Pak Regan melihat ke arah pandangan sang putri. Terlihat putranya sedang berbicara dengan putri pak Antony.
“Apa maksudmu mereka?” Pak Regan meyakinkan.
“Iya, Yah. Mereka seperti tikus dan kucing yang tidak pernah akur.” Jawab Regina tergelak. Ia ingat, beberapa hari lalu adiknya datang ke rumah Sanjaya, berujung perdebatan tanpa henti dengan Willona.
Pak Regan menganga mendengar ucapan sang putri. Kepala pria paruh baya itu sontak menggeleng.
“Tidak, nak. Ayah tidak mau kejadian seperti mu terulang kembali. Cukup kamu saja yang hamil di luar nikah, jangan sampai adikmu menghamili seorang gadis juga.”
Regina cemberut mendengar ucapan sang ayah. Usulannya tidak di setujui.
“Kemarilah.” Pak Regan meraih bahu sang putri. Membuat mereka saling berhadapan.
“Ayah sangat menyayangi kalian berdua. Kalian permata hati ayah. Kamu tau, ayah dan ibu lebih dulu menikah daripada Antony dan Aurel. Tetapi kamu hadir belakangan daripada William. Karena itu, ayah sangat menyayangi kalian berdua.”
Pak Regan menghela nafasnya pelan.
“Ayah hanya ingin memastikan yang terbaik untuk kalian. Ayah tidak mau anak-anak ayah salah jalan. Jujur, ayah merasa gagal menjadi seorang ayah yang baik, saat tau kamu hamil sebelum menikah.”
“Ayah, maafkan aku.” Ucap Regina dengan kepala menunduk.
Pak Regan mengangkat dagu sang putri, sehingga tatapan mereka saling beradu.
“Kamu tau, apa yang ayah takutkan saat tau jika kamu sedang hamil?”
Kepala Regina menggeleng.
“Ayah takut tidak ada pria yang bertanggung jawab kepada mu dan anak itu. Tetapi ayah lega, ternyata pria kurang ajar itu ternyata anaknya Antony.”
“Maafkan kami, Yah.” Ucap Regina lagi. Ia tau, seberapa banyak pun kata maaf yang ia ucapkan, tidak akan mampu menghapus rasa kecewa di hati sang ayah.
“Ayah sudah curiga saat melihat mobil baru yang kamu pakai. Tidak mungkin kamu membeli dengan gajimu, ayah tau harga mobil iti berapa. Sejak saat itu, hati ayah tak tenang, ayah takut kamu mengambil jalan yang salah.”
“Ayah—
“Katakan jika ayah salah. Apa mobil itu pemberian William?”
“Iya, ayah benar.”
Pak Regan kembali menghela nafasnya. Ia kemudian memeluk sang putri.
“Setelah ini, kamu akan memasuki kehidupan yang sebenarnya. Ayah berharap, kamu banyak belajar kedepannya. Mengambil sebuah keputusan, tolong kamu pikirkan dengan matang terlebih dulu.”
“Iya, ayah.” Suara Regina terdengar mulai serak.
“Jika kamu menemui jalan buntu, minta pendapat orang terdekat mu. Ingat, setelah ini, kamu bukan lagi tanggung jawab ayah. Kamu punya suami. Pria yang harus kamu patuhi, dan kamu hormati. Dia adalah kepala keluarga, seorang nahkoda yang akan membawa mu, mengarungi kehidupan berumah tangga.”
Pak Regan mengusap lembut punggung sang putri.
“Berbahagialah lah, nak. Doa ayah dan ibu akan selalu menyertai setiap langkah mu dan Reka.”
Dan Regina sembari terisak, ia hanya mampu mengangguk dalam dekapan sang ayah.
.
.
.
Bersambung.