
Di pagi yang sama.
Alvino baru saja tiba di kantor, beberapa karyawan menyapa. Dan di balas dengan senyum ramah oleh pria itu.
Tiba di lantai ruangan kerjanya. Ia mendapati meja yang biasa di tempati Tamara, kosong. Bahkan terlihat sangat rapi. Pria itu tak menghiraukan. Kemudian berlalu menunju ruangannya.
Baru lima menit Alvino duduk di kursi kebesarannya, suara ketukan terdengar pada pintu ruangan itu.
Dia menduga, itu pasti Tamara yang datang. Dengan menghela nafasnya pelan, Alvino mempersilahkan orang itu masuk.
Namun, alis pria itu berkerut, menatap orang yang memasuki ruangannya. Seorang pria berusia 30 tahunan, yang menjabat sebagai menejer HRD, masuk dengan membawa sebuah amplop di tangannya.
“Selamat pagi, pak.” Ucap pria itu ramah.
“Pagi, ada yang bisa aku bantu?”
“Mohon maaf pak, kedatangan saya kemari, untuk menyerahkan surat pengunduran diri dari Ibu Tamara.” Pria itu menyodorkan amplop putih itu di atas meja.
Deg..
Alvino tersentak. Surat pengunduran diri dari Tamara? Apa dia tak salah mendengarkan?
“Tamara siapa? Defisi mana?” Alvino belum mau menduga.
“Sekretaris anda, pak. Kemarin, ibu Tamara datang, tetapi bapak tidak di tempat. Makanya, beliau menitipkan pada saya.”
Jantung Alvino semakin berdetak lebih cepat. Apa maksudnya semua ini?
“Kamu yakin?”
“Saya yakin, pak. Ibu Tamara sendiri yang menitipkan pada saya.”
Alvino diam menatap Amplop itu. Sang menejer pun undur diri.
Perlahan, tangan pria itu terulur, meraih amplop berisi surat pengunduran diri dari sekretarisnya.
“Apa-apaan ini, Tamara Pradipta? Beraninya kamu pergi begitu saja?” Alvino meremat surat itu, hingga tak terbentuk.
Kemarin ia tidak sempat ke kantor, karena ada salah satu proyek yang harus ia pantau langsung pengerjaannya. Dan hari ini, kejutan besar ia dapatkan saat baru sampai di gedung Mahendra.
Alvino kembali keluar dari ruangannya, berlari menuju parkiran. Kemudian memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi. Tujuan pria itu adalah gedung apartemen yang di tempati oleh Tamara selama ini.
“Si-al.” Alvino menendang lemari tempat penyimpanan pakaian sang sekretaris. Benda berbentuk persegi panjang yang berdiri itu, kosong. Tak satupun barang Tamara yang tertinggal disana.
“Seenaknya saja kamu pergi, Tamara Pradipta. Kamu pikir kamu siapa?” Pria itu menggerutu. Ia kembali keluar dari apartemen. Tujuannya sekarang adalah rumah nenek wanita itu.
“Maaf, pak. Mencari siapa ya?” Tanya seorang wanita muda, ketika melihat Alvino berdiri di depan pintu rumah nenek Tamara.
Rumah itu nampak sepi, namun Alvino meyakini, jika Tamara berada di dalam.
“Aku mencari Tamara.”
“Oh, apa bapak yang akan membeli rumah ini?”
Alis Alvino berkerut, kala wanita muda itu menyebutnya pembeli rumah.
“Apa rumah ini di jual?”
“Ya, kemarin mbak Tamara berpesan, jika ada yang datang membeli rumah ini, berikan saja. Dia juga menitipkan nomor rekeningnya pada saya.” Wanita itu menjelaskan dengan sopan.
“Lalu, dimana wanita itu?”
“Saya kurang tau, pak. Katanya sih, dia mau keluar kota untuk mencari pekerjaan dan suasana baru. Ya, saya maklum, dia baru saja di tinggalkan oleh neneknya. Mungkin perlu menenangkan diri juga.”
Alvino kembali tersentak. Tamara keluar kota, dalam keadaan hamil muda? Apa wanita itu tidak memikirkan keselamatannya?
“Aku permisi.” Alvino pergi begitu saja.
Di dalam mobil, pria itu mengamuk. Ia tanpa henti memukul setir mobilnya.
Tangan Alvino bahkan sudah memerah karena memukul kemudi berkali-kali. Kini, penyesalan menghinggapinya. Andai saja, ia tidak mengabaikan wanita itu, mungkin kejadian ini tak akan terjadi.
“Si-al!!”
Alvino kembali mengumpat. Ia harus menemukan Tamara. Wanita itu tidak boleh pergi, apalagi dalam keadaan mengandung anak pria itu.
***
Menjelang siang, William dan Regina tiba kembali di ibukota. Dalam perjalanan, William tak pernah melepaskan tangan pujaan hatinya. Hati pria itu belum ikhlas, jika ibu dari calon anaknya itu, harus tinggal di rumah keluarga Sanjaya, sementara dia di apartemen.
Tadi William juga sudah bernegosiasi dengan kedua pasang orang tua itu. Ia ingin ikut tinggal di rumah keluarga Sanjaya, namun lagi-lagi pak Regan memberi pilihan. Jika William yang tinggal di rumah, maka Regina yang akan tinggal di apartemen bersama kedua orang tuannya.
Dan pria itu pun menyerah, membiarkan kekasih hati tinggal di rumah Keluarga Sanjaya, agar ada banyak orang yang memperhatikannya.
“Kita kemana dulu, Hon?” Tanya William. Kini mereka tengah mengemasi barang-barang Regina yang ada di rumah kontrakan wanita itu. Sementara, barang yang ada di apartemen, di biarkan disana.
“Makan siang.” Ucap wanita itu sembari memasukkan pakaian ke dalam koper.
Rumah kontrakan Regina sepi, karena Reka sedang bekerja. Untung saja, wanita itu masih memiliki kunci cadangan, sehingga bisa masuk kedalam.
“Baiklah, setelah itu kita ke dokter. Aku ingin tau secara langsung, keadaan anakku.” William menutup koper dengan rapat. Regina memastikan sekali lagi, jika tidak ada barang yang tertinggal. Mereka pun kemudian meninggalkan rumah itu.
Siang itu, Regina ingin makan masakan Padang, dan William menurutinya. Ia sudah berjanji pada dirinya sendiri, akan menuruti apapun keinginan wanita itu, asal masih masuk akal dan tidak berbahaya bagi kandungannya.
Setelah makan siang selesai, William mengajak Regina pergi ke rumah sakit Hugo. Salah satu rumah sakit swasta, terbaik di ibukota.
Masih dengan menggenggam tangan sang pujaan hati, William dengan sabar ikut mengantri di depan ruang dokter kandungan.
Karena tidak mendaftar sebelumnya, pasangan yang belum menikah itu mendapat nomor antrean paling belakang. Dan hampir dua jam menunggu, akhirnya nama Regina di panggil untuk memasuki ruangan Obgyn tersebut.
“Nyonya Regina Prayoga.” Ucap seorang suster.
Deg…
Reka yang berada tak jauh dari ruang tunggu dokter kandungan itu, tersentak. Ia merasa pendengarannya salah. Dengan cepat pria itu mendekat. Dan ia mematung seketika, saat melihat dua orang yang ia kenali memasuki ruang dokter kandungan.
“Regina?” Gumamnya. Reka pun mendekati ruangan itu.
Tanpa mengetuk pintu, dokter muda itu masuk begitu saja.
“Dokter Reka, ada yang saya bantu?” Tanya suster dengan sopan.
Mendengar suster menyebut nama sang adik, Regina dan William yang berada di balik tirai, saling memandang.
“Aku ingin memastikan sesuatu.” Reka berjalan ke arah tempat tidur yang terhalangi oleh tirai putih.
“Maaf dokter, sedang ada pasien.” Suster berusaha menghalangi.
“Aku tau.” Tangan panjang Reka menyibak tirai, membuat tiga orang yang berada di sana tercengang.
“Apa-apaan ini, dokter?” Tanya dokter kandungan itu bingung.
“Reka?” Ucap Regina dan William bersamaan.
“Saya ada urusan dengan mereka, dokter. Silahkan lanjutkan, saya tidak akan menganggu.” Reka berdiri di ujung ranjang sembari bersedekap dada. Hal itu membuat William menelan ludahnya kasar.
“Apa kalian mengenal dokter Reka?” Tanya dokter kandungan itu, sebelum melanjutkan melakukan USG.
“Dia adik saya dokter.” Ucap Regina pelan. Dokter pun menganggukkan kepala. Kemudian melanjutkan tugasnya.
.
.
.
Bersambung.