
Hening meliputi di dalam mobil yang di tumpangi oleh pasangan William dan Regina. Tak ada satupun dari mereka yang berbicara, walau hanya sekedar basa-basi. Keduanya larut dalam pikiran masing-masing.
William fokus dengan kemudi, sesekali melirik ke arah sang istri yang entah melamun atau sedang menatap banyaknya kendaraan lalu lalang di luar sana. Namun, ia dapat melihat jika wajah wanita itu sedang muram.
“Ekhmm.” William mencoba mencairkan suasana. Ia takut hati Regina terusik dengan kedatangan mantannya tadi.
“Honey.” William sendiri bingung harus memulai dari mana. Jujur ia tidak mau membahas tentang Alvino.
“Hmm.”
“Ada apa? Apa kamu merasa pusing? Mual? Apa baby menyusahkan mu?”
Regina yang duduk bersandar pada sandaran kursi, dan menghadap keluar, kemudian mengalihkan pandangannya, untuk menatap sang suami.
“Boleh aku bertanya sesuatu?” Ucap wanita itu. Membuat William melirik sebentar, kemudian mengangguk.
“Sejak kapan kamu berada di koridor toilet itu?”
William menghela nafas pelan.
“Saat dia mengucapkan selamat pernikahan padamu. Aku khawatir terjadi sesuatu padamu di toilet, karena itu aku menyusul. Apa dia menyakitimu?” Tanya William sembari fokus mengemudi, namun sesekali menatap kepada lawan bicaranya.
“Aku tidak tau jika dia ada disana. Kamu jangan salah paham. Aku sudah berusaha pergi, tetapi dia menghadang jalanku.” Regina menjelaskan meski tak diminta, ia tak mau sang suami salah paham. Apalagi cemburu, dan berakhir dengan amukan pria itu.
“Aku tau, kamu tidak ingin lagi berdekatan dengan pria itu. Hanya saja, aku sedikit cemburu, mendengar dia mengatakan tentang pernikahan pesta kebun itu. Jadi kalian sudah berencana sejauh itu?”
Mendengar ucapan sang suami, membuat Regina menatap pria itu.
“Kami tidak pernah merencanakan apapun. Hanya saja, dulu dia pernah bertanya, pesta pernikahan apa yang aku impikan. Ya, aku menjawab pesta kebun. Aku masih ingat, dia menanggapi hanya dengan mengangguk, tanpa membahas lebih jauh.”
William menatap sekilas sang istri. Senyum tersungging di wajah tampannya. Pria itu semakin menganggap Alvino pria pecundang, yang tak berani berkomitmen.
“Aku sangat bersyukur dia mengkhanati mu, Hon. Dia pria yang tidak bisa menghargai apa yang sudah menjadi miliknya.”
Regina mencebik. “Seharusnya aku yang berterima kasih pada Alvino atas pengkhianatan yang telah dia lakukan. Karena perbuatannya itu, aku bisa bertemu denganmu. Dan kita suami istri sekarang.”
“Hmm, dan aku masih tidak menyangka. Ternyata kamu gadis kecil yang selalu mengejarku dulu.” Ucap William terkekeh.
“Jangan membahas masa kecil lagi.” Sela Regina dengan cepat. Ia tidak mau sang suami kembali pergi meninggalkannya.
“Kamu takut aku pergi?” Tanya William sembari tersenyum.
“Ya.” Wanita itu mengangguk.
“Tidak akan lagi, Honey. Aku sudah belajar berdamai dengan masalalu kita.”
Regina mengangguk. Mereka kembali mengobrol dan mengingat masa kecil.
Di tempat lain.
Alvino yang juga berada di jalan raya, ia tidak kembali ke kantor, namun melajukan mobilnya menuju apartemen yang dulu di tempati oleh Tamara.
Sedari tadi, ucapan Regina yang mengatakan untuk menjalani hidup masing-masing, terus terngiang di benaknya. Hal itu membuat Alvino teringat kepada Tamara.
Sudah seminggu lebih wanita itu menghilang tanpa jejak. Orang suruhan yang ia bayar juga belum memberikan kabar baik.
Sampai di apartemen, suasana dingin, dan senyap menyapa pria itu. Jantung Alvino bergemuruh. Tempat tinggal itu gelap, tak berpenghuni.
Alvino kemudian menyalakan satu persatu lampu di ruang tamu.
“Ta, kamu dimana?” Lirihnya memindai segala penjuru ruangan. Bayangan sang sekretaris tiba-tiba bermunculan dimana-mana.
Pria itu menghela nafasnya pelan. Bayangan Tamara perlahan menghilang. Ia pun berlalu menuju kamar yang ditempati wanita itu, tempat yang menjadi saksi perbuatan mereka berdua hingga membuahkan hasil.
Sama seperti saat membuka ruang tamu, dingin dan sepi Alvino rasakan saat memasuki kamar tidur itu. Ia pun menyalakan penerangan. Aroma parfum yang biasa Tamara gunakan, masih tercium di ruangan luas itu. Alvino memejamkan matanya, menghirup aroma yang ia rindukan. Tak di pungkiri, meski ia tak mencintai wanita itu, rasa kehilangan kini menggerogoti hati mantan kekasih Regina itu.
Pandangan pria berusia 30 tahun itu menyapu ke setiap penjuru ruangan. Dan netranya terkunci, saat mendapati sesuatu di atas meja nakas. Kaki jenjang pria itu pun perlahan mendekat. Tangannya terulur, meraih selembar foto hitam putih di atas meja.
Alvino ingat betul, gambar itu di berikan oleh dokter kehamilan saat mereka melakukan pemeriksaan beberapa waktu lalu.
“Maafkan aku. Aku belum siap menerima kehadiranmu.”
Ya, itu alasan kenapa Alvino belum menikah. Bahkan dengan Regina sekalipun. Ia belum siap untuk memiliki anak. Masih ingin bebas menjalani masa muda. Dan tidak terikat dalam aturan rumah tangga.
Perlahan tubuh pria itu luruh, jatuh di atas tempat tidur. Ia pun meringkuk sembari mendekap foto USG itu.
Menjelang sore, Reka bersiap untuk menghadiri pesta ulang tahun temannya yang berprofesi sebagai fotografer.
Sebenarnya ia tidak suka menghadiri pesta, namun karena yang berulang tahun itu teman masa sekolahnya, jadi mau tidak mau ia harus datang.
Reka memesan taxi online, ia baru beberapa minggu di ibukota, belum punya cukup uang untuk membeli mobil. Tempat tinggal pun, ia dapatkan dari kakaknya.
Hampir tiga puluh menit menumpang taxi, adik Regina itu sampai di sebuah hotel berbintang, dimana pesta di selenggarakan.
Ia menunjukkan undangan kepada petugas hotel yang berjaga di pintu depan.
Petugas itu mengangguk, kemudian mengarahkan Reka ke tempat di mana pesta di gelar.
Dokter muda itu sampai di sebuah ruangan yang di sewa khusus untuk menggelar pesta ulang tahun temannya itu. Sudah ada beberapa tamu undangan yang datang, dan terlihat mereka hampir seusia.
Reka menghampiri sang pemilik acara, dan memberi ucapan selamat. Mereka pun terlibat obrolan bersama.
Tengah asyik berbincang, netra Reka tak sengaja menangkap kedatangan sosok makhluk cantik yang kasat mata. Siapa lagi jika bukan Willona, adik ipar dari kakaknya.
Senyum tipis terbit di bibir pria tampan itu, namun mengingat hubungan mereka yang kurang baik, Reka pun bersikap biasa.
“Kamu mengundang model itu?” Tanya Reka kepada temannya.
“Hmm, aku beberapa kali terlibat kerja sama dengannya. Jadi, tidak ada salahnya kan jika mengundang dia.”
Reka mengangguk pelan. Dilihatnya Willona semakin mendekat, kemudian memberikan ucapan selamat ulang tahun kepada Arka, pria yang berulang tahun. Berbincang sebentar, kemudian gadis itu pamit menemui rekan sesama modelnya. Ia seolah tak melihat keberadaan Reka di sana. Membuat pria itu tersenyum kecut.
“Apa aku tak terlihat?” Gumam Reka.
“Kamu mengatakan sesuatu, Ga?” Arka memanggil Reka dengan nama Yoga, diambil dari nama belakang pria itu, Prayoga.
“Ah tidak.” Mereka pun kembali mengobrol.
Malam semakin larut dan pesta semakin panas, Reka kembali teringat kepada Willona. Ia pun memindai sekitarnya, mencari keberadaan gadis itu.
Dan pandangan dokter muda itu pun jatuh pada sudut ruangan, dimana Willona sedang berdiri bersama seorang pria. Reka terus mengamati. Dan dari pengamatannya, ia mengambil kesimpulan, jika Willona tidak suka berdekatan dengan pria itu. Terlihat dari bahasa tubuh gadis itu, yang selalu menghindar.
Senyum tipis terbit di bibir Reka. Pria itu kemudian mendekat ke arah kedua orang itu. Membuat Willona seperti menghela nafas lega.
“Sayang?” Willona mendekat padanya, kemudian bergelayut manja.
“Kenapa lama sekali ke toiletnya?” Ucap gadis itu dengan tatapan mata yang seolah meminta pertolongan kepada Reka. Pria itu mengerti, kemudian ikut bersandiwara.
“Maafkan aku. Tadi ada teman yang mengajak mengobrol.”
“Siapa dia, Na?” Pria itu meminta penjelasan kepada Willona.
“Dia pacarku.” Ucap Willona santai.
“Ya kan, sayang.”
Dan Reka pun menganggukkan kepalanya.
“Jangan bohong kamu, Willona. Kita baru satu bulan putus. Tidak mungkin secepat itu kamu melupakan aku.”
Mendengar ucapan pria itu. Reka menyunggingkan sudut bibirnya. Ia kini paham akan situasi.
“Kenapa tidak? Kamu saja bisa bergonta ganti teman kencan, kenapa aku tidak?”
Di akhir ucapannya, Willona melingkarkan tangan pada leher Reka. Ia kemudian menyatukan bibir mereka berdua, tak perduli ada beberapa pasang mata yang sedang menyaksikan hal itu.
Mantan kekasih gadis itu pun terkejut. Ia baru kali ini melihat Willona seperti itu. Hubungan mereka saja sebelumnya di rahasiakan.
‘Kamu milikku, Willona.”
.
.
.
Bersambung.