
Tubuh William menggeliat. Ia mencoba membuka mata, namun rasa pusing begitu keras melanda.
Tangan pria itu meraba sisi tempat tidur di sampingnya, namun kosong. Perlahan William memaksa diri untuk bangkit. Dan selimut yang menutup tubuh polosnya pun terbuka.
“Si-al.. semalam aku tidak bisa mengontrol diri.” Ucapnya melihat tubuhnya yang tak memakai sehelai benang di balik selimut itu.
Menggelengkan kepala beberapa kali. William dapat bernafas lega karena dia berada di apartemennya.
“Jadi semalam itu benar kamu, Honey? Maafkan aku, jika aku menyakitimu. Aku benar-benar belum siap menerima kenyataan jika kamu adalah putri Om Regan.”
Membuang nafasnya kasar, William memutuskan untuk membersihkan diri. Namun, baru satu kaki yang menapaki lantai, ekor mata pria itu, tanpa sengaja menangkap sesuatu di atas meja nakas.
‘Aku sudah buatkan air lemon hangat. Mungkin ini bisa meredakan rasa mabuk mu. Minumlah.’
Sebuah catatan kecil, terselip di bawah cangkir berisi air lemon, yang sudah tidak hangat lagi.
“Aku sudah berlaku kasar padamu. Tetapi kamu masih perhatian padaku.” William meraih cangkir itu, kemudian menyesap isinya.
Tak hanya air lemon, Regina juga menyiapkan air hangat untuk pria itu mandi, namun suhu air di dalam bak besar itu sudah tidak sehangat saat Regina menyiapkan. Walau begitu, William tetap menggunakannya untuk mandi.
Pakaian kerja juga telah Regina siapkan. Membuat senyuman terbit di wajah tampan William. Regina memang wanita yang sangat baik, tak salah jika kedua orang tua William menginginkan wanita itu sebagai menantunya.
Setelah bersiap, William turun ke ruang makan, lagi-lagi ia mendapati sarapan yang telah tersaji di atas meja. Namun, satu hal yang kurang, wanita yang menyiapkan semua itu, tidak terlihat batang hidungnya sejak tadi.
“Ternyata sudah jam 9. Pantas saja, air mandi sudah dingin, dan kamu tidak ada di sini.” William menatap arloji di pergelangan tangannya, kemudian menyantap sarapan yang telah Regina siapkan.
“Maafkan aku, Honey. Aku tidak tau harus bagaimana menghadapi mu. Satu sisi aku sangat mencintaimu, tetapi di sisi lain jika mengingat kamu yang dulu, membuatku bergidik.”
William menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi. Rasanya begitu berat ia melangkah menuju kantor. Ia tak tau harus bagaimana bersikap di depan Regina. Pria itu yakin, semalam pasti sudah bicara hal yang mungkin menyinggung perasaan wanita itu.
“Ah, ternyata benar yang pangeran Chu Pat Kay ucapkan, ‘begini lah cinta, deritanya tiada akhir.”
Pria itu mengacak rambutnya sendiri. Ia tidak menyangka masalah percintaannya akan serumit ini.
Sebenarnya tidak rumit, jika William tidak teringat dengan tampilan Regina di masa kecil. Apalagi, kedua orang tua William sangat merestui jika mereka bersama. Hanya saja, bayangan wajah gadis berkepang dua, tersenyum dengan gigi ompong, dan ingus yang meler, membuat William selalu bergidik ngeri.
“Oh Tuhan, haruskah aku pergi ke psikiater untuk konsultasi? Aku tidak mungkin meninggalkan Regina hanya karena hal ini.”
William benar-benar dalam dilema.
“Regina pasti menganggap aku tidak serius dengannya. Hanya karena ingus, aku jadi begini.” Pria itu kembali mengacak rambutnya.
“Oh Tuhan, mengapa engkau buka identitas Regina sekarang? Astaga, aku juga yang bodoh. Kenapa aku tidak mencari tau tentang dia setelah malam itu? Aku justru jatuh cinta padanya.”
Membuang nafasnya kasar, William kemudian bangkit. Meletakan piring kotor pada wastafel dapur. Ia lalu memutuskan untuk pergi ke kantor.
“Siap tidak siap, aku harus bertemu dengannya.”
****
Sudah beberapa hari berlalu, namun hubungan Tamara dan Alvino kian merenggang. Pria itu bersikap layaknya atasan kepada bawahan yang tidak pernah saling mengenal sebelumnya. Bahkan, Alvino tidak perduli, saat Tamara muntah-muntah saat sedang bekerja.
Hati Tamara semakin hancur. Ketika ia mencoba mengajak Alvino berbicara, namun pria itu tak mendengarkan dan justru meninggalkan ia sendirian.
Tamara masih mencoba menguatkan hatinya, menghibur diri, meyakinkan bahwa Alvino perlu waktu untuk menerima semua ini. Tamara akan bersabar menanti hari dimana Alvino mau berbicara dengannya, membahas tentang calon bayi yang kini semakin tumbuh di dalam perut Tamara.
“Apa kamu tidak bisa membantuku sedikit saja? Apa kamu tidak kasihan melihat aku seperti ini? Aku tidak menyakitimu. Tolong, bantu aku.” Kepala wanita itu menunduk, maniknya menatap ke arah perut yang masih rata.
“Nek, andai nenek masih ada.” Tiba-tiba mata wanita itu memanas ketika mengingat kembali sang nenek. Rasa bersalah karena tidak ada di sisi wanita renta itu saat menghembuskan nafas terakhir, selalu menghantuinya.
Mungkinkah ini hukuman untuk Tamara karena mengabaikan sang nenek, sehingga ia kini diabaikan oleh Alvino?
Ingin rasanya Wanita itu menyusul sang nenek. Namun, ia tidak ingin menyakiti bayi yang sedang tumbuh di rahimnya.
“Kamu masih bekerja disini?”
Deg…
Suara nyonya Mahendra mengagetkan Tamara. Perasaan gugup tiba-tiba menyerangnya.
“Apa kamu tidak bisa lepas dari putraku? Tentu saja, darimana kamu mendapatkan kemewahan jika meninggalkan putraku?”
Nyonya Mahendra mencebik. Ia mendekati meja Tamara, kemudian bersedekap dada.
“Dengar, aku tidak akan pernah merestui hubunganmu, dengan putraku. Jangan pernah berharap kamu akan menjadi menantu keluarga Mahendra. Itu, tidak akan pernah terjadi.”
“Mama.” Alvino tiba-tiba keluar dari dalam ruangannya.
“Al.” Nyonya Mahendra mendekat ke arah sang putra.
“Mama merindukanmu.” Wanita itu memeluk Alvino.
“Kita masuk ke ruangan ku, ma.”
“Tunggu, Al. Kenapa dia masih bekerja disini?” Tanya wanita paruh baya itu sembari menunjuk Tamara dengan dagunya.
“Biarkan saja, ma.” Jawaban Alvino terdengar ketus di telinga sang mama. Membuat wanita yang melahirkannya itu tersenyum penuh kemenangan.
‘Sepertinya hubungan kalian sedang bermasalah. Aku akan membuat hubungan kalian berakhir. Jangan harap kamu bisa menjadi menantuku.’
****
Regina membuang nafasnya kasar. William datang, sama sekali tidak menyapanya. Jangankan menyapa, pria itu pun tidak menoleh padanya.
William melewatinya begitu saja, dengan mata yang fokus pada ponsel yang ia genggam.
“Apa aku begitu menj*j*kan di matamu, hingga kamu tidak ingin melihatku?”
Suara Regina sedikit keras. Tentu William mendengar. Namun pria itu tetap berlalu, bahkan menutup kembali pintu ruang kerjanya.
“Maafkan aku, Honey. Aku benar-benar belum siap. Tolong beri aku waktu sebentar untuk menerima semua ini.” Gumam William yang berdiri di balik pintu. Ia tidak ingin bicara terlalu keras. Kamera pengawas di ruangannya terhubung pada laptop yang Regina gunakan. Jujur, Hatinya sangat sakit mengabaikan Regina.
Pria itu mengacak rambutnya. Kemudian menghempaskan bokong pada kursi kebesarannya.
.
.
.
Bersambung.