
“Abang mau kemana?” Tanya Willona kepada sang kakak yang berjalan menuju pintu keluar.
“Aku mau mencari Regina.”
“Mencari kemana?”
“Kemana pun. Aku bisa melacak nomor ponselnya.”
“Tapi ponsel Regina tidak aktif.” Reka menyela diantara kakak beradik itu.
William membuang nafasnya kasar.
“Aku akan mencari kemana pun. Aku yakin akan menemukan dia. Ke ujung dunia sekalipun, akan cari.”
William pun keluar dari rumah itu.
“Tunggu aku.” Reka mengejarnya.
“Hei, Reka. Tunggu.” Willona menarik tangan pria itu.
“Lepaskan aku. William bisa meninggalkan aku.” Reka memberontak.
“Biarkan saja.” Willona melambaikan tangan pada mobil sang kakak yang perlahan melaju meninggalkan halaman rumah.
“Willona. Lepas!!”
“Galak sekali.” Adik William itu pun melepaskan tangannya.
“Astaga, William benar meninggalkan aku. Aku harus mencari Regina. Pinjamkan aku mobil satu. Nanti aku kembalikan.” Ia menengadahkan tangan pada Willona.
“Sudah, tidak perlu mencari Regina.” Willona menepuk telapak tangan Reka, seperti sedang melakukan high Five.
“Apa maksudmu? Kakakku entah berada dimana, dan tidak bisa di hubungi. Enteng sekali kamu mengatakan tidak perlu mencarinya?” Mata Reka mendelik ke arah Willona.
Gadis itu pun menelan ludahnya kasar.
“Sabar. Ayo temani aku sarapan. Setelah itu, akan aku beritahu dimana kakakmu.”
Mata Reka memicing. Jadi gadis itu tau dimana Regina berada? Ia pun mengikuti Willona ke ruang makan.
“Katakan.” Ucap Reka saat Willona hendak menyuap sesendok nasi goreng.
“Astaga. Sebentar. Biarkan aku sarapan dulu. Bukannya kamu seorang dokter? Sarapan itu penting, bukan?”
“Bukannya kamu seorang model? Apa tidak takut gemuk?”
Willona memutar matanya malas. “Tidak. Aku hanya tidak makan berat saat malam hari.” Tukasnya kemudian.
“Kamu seorang dokter. Kenapa waktu itu berada di tempat pemotretan?” Tanya Willona penasaran.
“Fotografernya teman ku.” Jawab Reka singkat. Pria itu meraih satu buah jeruk yang tersedia di atas meja.
“Manis.” Ucapnya sembari menatap Willona yang sedang mengunyah makanan.
Hal itu membuat Willona salah tingkah.
“Aku memuji jeruknya. Bukan dirimu.”
“Dasar menyebalkan.” Gerutu gadis itu.
Beberapa menit kemudian, Willona pun telah menyelesaikan sarapannya.
“Cepat katakan. Aku tidak punya banyak waktu, bagaimana jika terjadi sesuatu dengan kakakku?”
Willona menghela nafasnya pelan, sebelum berbicara.
“Kakakmu aman. Dia sedang bersama mama, papa, ayah dan ibumu liburan. Mereka pergi ke puncak. Aku sengaja menyembunyikan mobilnya, dan minta dia mematikan ponselnya. Supaya Abang tidak bisa menemukannya. Ya, setidaknya, satu dua hari ini.” Willona menjelaskan panjang lebar.
Reka menatap tak percaya apa yang di ucapkan gadis yang berprofesi sebagai model itu.
“Jadi kalian ada di balik semua ini?” Reka dapat bernafas lega. Ia pun menyandarkan punggung pada sandaran kursi.
“Kami hanya ingin memberi pelajaran pada Abang. Dia sudah keterlaluan. Setelah menidur* kakakmu, dia justru pergi begitu saja setelah tau jika Regina ternyata gadis ingusan di masa kecilnya. Abang bahkan mendiami Regina selama di kantor. Jadi, tidak ada salahnya memberi dia sedikit pelajaran.”
Reka semakin tak percaya mendengar penuturan Willona. Keluarga Sanjaya begitu perduli pada kakaknya. Reka yakin, jika sampai Regina menikah dengan William, wanita itu akan di sayangi oleh orang tua William.
“Jadi aku tidak perlu mencari Regina?”
Kepala Willona mengangguk. “Dia baik-baik saja. Apa kamu tau jika mereka sebelumnya tinggal bersama?”
“Apa kamu juga tau?” Gadis itu kembali mengangguk.
“Tetapi, aku hanya mengatakan pada mama. Aku merasa, perlu menceritakan pada seseorang. Karena itu aku cerita pada mama. Aku sudah meminta mama merahasiakan ini dari orang tua mu.”
Kini giliran Reka yang menanggapi dengan anggukan kepala.
“Baiklah. Kalau begitu, aku permisi.” Pria itu bangkit dari tempat duduknya. Hendak melangkah, namun ia urungkan.
Reka mencebikan bibirnya.
“Aku tidak membawa uang untuk ongkos pulang. Bisakah kamu mengantarkan aku? Atau pinjamkan salah satu mobilmu.”
Willona mendengus kesal. “Biar aku antar. Aku tidak mau meminjamkan mu mobil, takut nanti tidak di kembalikan.” Gadis itu pun berjalan mendahului Reka.
Dan Reka, pria itu hanya mampu tersenyum melihat tingkah Willona.
****
Sementara itu, di dalam perjalanan. Perut Regina mendadak mual. Dengan susah payah ia menahan, agar tidak sampai muntah.
Regina pun menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi. Ia yang mendapat tempat duduk paling belakang, sementara para pasangan suami istri, duduk di bangku depan.
Wanita berusia 28 tahun itu mencoba memejamkan matanya. Selain perut yang bergejolak, kepalanya juga terasa pusing.
“Sayang. Kamu mau makan sesuatu?” Nyonya Aurel menengok ke arah belakang. Dan Regina hanya menggelengkan kepala.
“Ada apa dengan dia?” Tanya nyonya Karin yang ikut menoleh ke belakang.
“Mungkin dia lelah, Kar. Biarkan saja, dia pasti memikirkan William juga.” Nyonya Aurel berpendapat.
Meski merasa ada yang aneh dengan sang putri. Nyonya Karin menurut, dan tak mempertanyakan lagi.
Setelah hampir dua setengah jam, di dalam perjalanan. Mobil yang mereka tumpangi pun tiba di sebuah villa mewah, milik keluarga Sanjaya.
Dengan terburu-buru, Regina keluar dari dalam mobil. Ia tak menghiraukan teriakan para wanita dewasa yang memintanya berhati-hati.
Merasa tidak tahan, Regina pun berjongkok di atas rerumputan. Kemudian memuntahkan semua isi perutnya.
“Bu, lihat putrimu.” Seru Pak Regan yang sedang menurunkan barang bawaan mereka
“Astaga, putri.” Nyonya Karin mendekat, kemudian mengusap tengkuk sang putri.
“Kamu kenapa, nak? Apa mabuk perjalanan?” Tak biasanya Regina seperti ini.
Regina tak sanggup menjawab. Ia hanya menggeleng.
“Sayang, minum dulu.” Nyonya Aurel datang menyerahkan sebotol air mineral kepada Regina.
Dengan tangan gemetar, Regina menerima dan meminum air itu.
“Sudah? Mau muntah lagi?” Tanya sang ibu penuh perhatian.
Kepala Regina menggeleng. Ia kemudian hendak bangkit dari berjongkoknya. Namun, belum sempurna berdiri, tubuh wanita itu limbung, menimpa sang ibu.
“Putri, kamu kenapa?”
“Regina?” Teriak nyonya Aurel.
Pak Regan dan pak Antony pun mendekat.
“Ada apa?” Ucap kedua pria dewasa itu bersamaan.
“Astaga. Putri.” Pak Regan meraih tubuh sang putri. Kemudian menggendongnya.
“Pak, bawa barang kami ke dalam.” Pak Antony memberi perintah kepada sopir yang mengantar mereka tadi.
Ia juga ikut membawa barang yang lain. Menyusul masuk ke dalam villa.
“Yah, putri kenapa?” Nyonya Karin sangat khawatir melihat keadaan sang putri.
“Ayah juga tidak tau, Bu.”
“Bawa ke kamar, Gan.” Nyonya Aurel membukakan pintu salah satu kamar. Pak Regan pun membawa Regina kesana.
“Pa, minta menjaga memanggil dokter.”
“Iya, ma.” Pak Antony kembali ke luar villa, mencari penjaga villa, untuk memanggil dokter.
“Au, Putri kenapa?” Suara nyonya Karin terdengar berat. Ini untuk pertama kalinya Regina pingsan.
“Mungkin dia kelelahan, Kar. Kamu jangan khawatir.” Nyonya Aurel mengusap bahu sang sahabat yang tengah duduk di pinggir tempat tidur, dan sedang menggenggam tangan sang putri.
“Aku takut, Au. Putri belum pernah pingsan selama ini.”
“Tenanglah, Bu. Semoga putrimu baik-baik saja.” Pak Regan ikut bersuara, mencoba menenangkan sang istri. Meski dirinya juga khawatir dengan sang putri.
.
.
.
Bersambung.