
Waktu menunjukkan pukul 3 dini hari, saat William tiba di parkir bawah tanah, gedung apartemen yang ia tempati.
Rencana ingin menyelesaikan masalah dengan Regina, hanya tinggal rencana. Masalah yang terjadi di klub miliknya, membuat ia harus tertahan di tempat itu selama berjam-jam.
Seperti biasa, selalu ada saja pengunjung yang bersitegang satu sama lain, bahkan pernah ada yang berebut seorang wanita. Hingga berakhir dengan baku hantam. Yang membuat William mau tidak mau, harus ikut terlibat menyelesaikan masalah, karena tempat usahanya menjadi tempat kejadian perkara.
Dengan tubuh lelah, dan mata mengantuk, William melangkah meninggalkan mobilnya. Namun, langkah pria itu terhenti di depan pintu lift. Ia kemudian memutar sedikit tubuhnya.
Alis William berkerut, kala ia melihat kebelakang, tak ada mobil Regina terparkir di tempatnya. Bukannya tadi pagi wanita itu ke kantor mengendarai mobil. Harusnya ia juga pulang dengan mobil itu.
Dengan jantung yang mendadak bergemuruh, William menekan tombol lift. Ia bahkan berlari menuju unit tempat tinggalnya, kala lift telah terbuka kembali.
Deg..
Jantung William berdetak semakin kencang, saat suasana sunyi dan gelap menyapa kala ia membuka pintu.
“Honey?”
Tanpa menutup pintu kembali, William berlari menapaki tangga.
“Jangan tinggalkan aku, Honey. Aku tidak mau.” Dengan kasar pria itu membuka kamarnya.
Gelap.
Ia kemudian menyalakan lampu utama kamar itu, tempat tidur nampak masih berantakan seperti tadi pagi ia tinggalkan.
William kemudian pergi ke ruang ganti. Ia mengecek lemari tempat Regina menyimpan pakaian. Pria itu bisa bernafas sedikit lega, karena semua pakaian Regina masih tersusun rapi di dalam lemari.
“Kamu pasti pulang ke kontrakan. Aku harus menyusul mu kesana. Aku tidak mau kamu salah paham semakin lama.”
Hendak menutup pintu apartemen, pergerakan William terhenti kala arlojinya menunjukan pukul 3.30 dini hari.
“Ah, aku tidak akan kesana sekarang. Reka bisa curiga, dan membunuhku.”
William pun mengurungkan niatnya, dan memutuskan kembali ke dalam apartemennya. Untuk mengistirahatkan tubuhnya sejenak.
Pagi menjelang. Di kediaman keluarga Sanjaya, pak Antony, nyonya Aurel, pak Regan, nyonya Karin dan Regina tengah bersiap untuk pergi liburan. Mereka bangun tidur lebih pagi, agar tidak terjebak macet di jalan.
“Re, berikan aku kunci mobilmu.” Willona menengadahkan tangan ke arah Regina.
“Untuk apa, Na?”
“Aku akan menyembunyikan mobilmu di garasi. Aku yakin, pria bucin itu akan datang kemari mencari mu karena orang tuamu ada disini.”
Regina setuju. Ia pun menyerahkan kunci mobilnya pada Willona.
‘Putri punya mobil baru? Mahal pula. Darimana dia dapat uang sebanyak itu?’
Pak Regan mengamati interaksi Regina dan Willona. Pria paruh baya itu juga memperhatikan dengan lekat, mobil yang sedang di pindahkan oleh anak kedua pak Antony.
Setelah semua siap, rombongan itu pun berangkat dengan sebuah mobil Alphard berwarna putih.
Willona melambaikan tangan ke arah mobil yang melaju pelan meninggalkan pekarangan rumah. Gadis itu tidak ikut berlibur karena siang ini, ia ada jadwal pemotretan dengan salah satu brand kosmetik.
****
Dengan tampilan segar, William pun bersiap menyambangi rumah kontrakan yang dulu Regina tempati.
Pria itu sudah tidak sabar bertemu sang pujaan hati. Mendiami wanita itu seharian, ternyata membuat hati William cukup merana.
“I’m coming, Honey.”
William tiba setelah dua puluh menit berkendara. Tak lupa ia mematut diri, agar terlihat tampan di mata Regina.
Namun alis pria itu kembali berkerut, tak ada mobil Regina terparkir di depan rumah kontrakan itu.
“Jangan bercanda, Honey.”
Dengan langkah lebar, William berjalan ke arah pintu, kemudian menggedor tanpa henti.
Tak berselang lama, pintu terbuka, menampilkan Reka dengan wajah kesalnya. Ia yang tengah menikmati sarapan, harus terganggu dengan suara gedoran pada pintu rumah itu.
‘Mati aku.’ Batin William.
“Kenapa menggedor pintu seperti itu?”
“Jika rusak nanti aku ganti.”
Reka menghela nafasnya pelan.
“Ada apa pagi-pagi datang kemari? Apa terjadi sesuatu dengan Regina?”
Deg..
William tersentak. Pertanyaan yang Reka lontarkan, mengartikan jika Regina tidak ada di rumah itu.
“Regina tidak ada disini?”
“Apa maksudmu? Bukannya kakak ku tinggal dengan mu?” Reka bertanya dengan tatapan nyalang.
‘Astaga, aku salah bicara.’
“Itu—.”
Reka menarik William masuk ke dalam rumah.
“Katakan dimana Regina?”
Tatapan Reka semakin tajam, seakan ia ingin memakan William hidup-hidup.
Suara William seakan tercekat di tenggorokan. Susah payah ia menelan ludahnya, agar mampu berbicara.
“Itu, terjadi salah paham di antara kami.” Ucap William lirih.
“Aku akan menghubunginya.” William merogoh saku jas yang ia gunakan untuk mengambil ponsel. Kemudian menghubungi nomor kontak Regina.
“Nomor yang anda tuju, sedang tidak aktif, atau berada di luar jangkauan. Cobalah beberapa saat lagi.”
“Tidak aktif.” Ucap William pelan.
“Astaga, kemana kamu Re.”
William sejenak berpikir. Kemudian ia teringat dengan pak Regan dan istrinya.
“Aku tau dia dimana.” Ucapnya kemudian.
“Dimana?” Tuntut Reka.
“Dia pasti ada di rumahku. Orang tuanya sedang menginap di rumahku.”
Alis Reka berkerut mendengar ucapan William.
“Ayah ibuku ada di rumahmu?” William pun mengangguk.
“Untuk apa?”
“Mereka sahabat orang tuaku.” William pun bergegas meninggalkan rumah itu.
“Tunggu, aku ikut.” Reka mengambil ponselnya di atas meja makan, kemudian ikut pergi bersama William.
“Jadi kamu anak om Antony? Wah.. kebetulan macam apa ini?” Tanya Reka tak percaya. Mereka kini berada di dalam mobil, menuju rumah keluarga Sanjaya.
“Tetapi itulah kenyataannya. Kita bahkan saling mengenal sejak kecil.”
“Ceritakan padaku kesalahpahaman yang terjadi diantara kalian.”
William menghela nafasnya pelan. Kemudian menceritakan apa yang terjadi dua hari lalu.
“Kurang ajar, kamu. Bagaimana jika kakakku hamil?”
“Aku akan menikahinya.” Jawab William tegas.
Reka mencebik. “Menikahinya? Bagaimana kamu menikahinya, jika kamu j*j*k dengan kakakku?”
“Itu dulu waktu kecil, Ka.”
“Iya, tetapi kamu masih mengingatnya sampai sekarang. Buktinya kamu mendiami kakakku hanya karena kejadian di masa kanak-kanak dulu.”
“Maafkan, aku.” Ucap William lirih, namun masih di dengar oleh Reka.
“Minta maaf lah pada kakakku.”
William pun menganggukkan kepalanya.
Setelah tiga puluh menit, mereka akhirnya tiba di kediaman mewah keluarga Sanjaya.
William keluar dari mobil dengan tergesa-gesa. Ia mengabaikan asisten rumah yang menyapanya.
“Honey, Hon.? Dimana kamu?” Suara William menggema di lantai bawah rumah mewah itu.
“Regina tidak ada disini, bang.” Suara sang adik menghentikan langkah William yang hendak menapaki tangga.
“Jangan bohong kamu.” Dam Willona pun hanya mengedikan bahu. Tanda tak tau.
William pun berlari ke lantai dua.
“Hei, untuk apa kamu disini?” Willona mencegat Reka yang hendak menyusul William.
“Aku mencari kakakku.”
“Kakakmu? Siapa?”
“Regina, siapa lagi?”
Mata Willona membulat sempurna. Baru kemarin ia mengutarakan niat ingin berkenalan dengan adik Regina. Ternyata pria itu sudah beberapa kali di temuinya.
“Kamu, kenapa ada disini?” Kini giliran Reka yang bertanya.
“Ini rumah orang tuaku. Tentu saja aku harus berada di sini.” Jawab Willona sembari bersedekap dada.
“Apa? Jadi kamu adiknya William?”
Willona menjawab dengan anggukan kepala.
“Kebetulan macam apa ini?” Pria itu tersenyum kecut. Sungguh dunia begitu sempit. Gadis yang beberapa kali bertemu dengannya, ternyata adik dari William.
“Katakan, Na. Dimana Regina?” Tanya William yang telah kembali dari lantai atas.
“Sudah aku katakan tidak ada.”
“Lalu dimana ayah dan ibuku? Bukannya kamu bilang mereka ada disini?”
“Papa dan mama mengajak om Regan dan tante Karin berlibur ke puncak. Mereka masih terguncang dengan kejadian kemarin. Apalagi mengetahui jika anaknya sudah tidak gadis lagi.” Ucap Willona sembari menatap sang kakak.
“Honey, kamu dimana?” William frustrasi. Ia sangat takut di tinggalkan oleh Regina.
.
.
.
Bersambung.