
William bangun di pagi hari, karena suara dering alarm dari ponselnya. Ia bangun lebih awal, sebelum Regina menghubunginya terlebih dulu.
Namun, hingga pria itu selesai mandi dan berganti pakaian, wanita hamil itu tidak ada menghubungi sama sekali.
William pun dapat bernafas lega. Setidaknya Regina tidak melihat lebam di pipi dan sudut bibirnya.
Tetapi, kelegaan William tak berlangsung lama, saat mengunci pintu kamar, ponsel di saku jasnya berdenting, tanda sebuah pesan telah di terima pada aplikasi berbalas pesan.
Pria itu merogoh saku, menekan tombol Power pada sebelah kanan ponsel. Mata William membulat kala membaca pesan yang tertera di layar benda pintar itu.
“Daddy, anakmu ingin sarapan bersamamu.”
Siapa lagi yang mengirim pesan itu, jika bukan calon istrinya. Belum juga sempat membalas, sebuah pesan susulan datang lagi.
“Daddy, apa belum bangun? Atau aku saja yang datang ke apartemen?”
William menghela nafasnya pelan. Jika wanita itu yang datang kemari, para orang tua di rumah Sanjaya pasti akan memarahi pria itu.
Ia pun mengirim pesan balasan.
“Aku akan datang, mommy. See you, soon.” Tak lupa William menambahkan gambar hati berwarna merah di akhir kalimatnya.
“Aku harus menutupi lebam si-alan ini.” William kembali membuka pintu kamar, ia kemudian pergi ke ruang ganti. Mencari sesuatu di meja rias dimana alat-alat kecantikan Regina tersimpan.
Pria itu tersenyum kala mendapati kotak foundation. Ia kemudian mengaplikasikan sedikit pada lebam di wajahnya. Lumayan, memar kebiruan itu tertutupi.
Setengah jam kemudian, pria itu sudah tiba di kediaman keluarga Sanjaya.
“Pagi-pagi begini sudah datang. Apa kamu tidak ke kantor?” Suara pak Regan menghentikan langkah William di ruang tengah.
“Dimana Gina, Yah?”
“Apa begitu caramu saat bertemu dengan orang tua?” Bukannya menjawab pertanyaan sang calon menantu, pak Regan justru melemparkan sebuah pertanyaan balik.
William menghela nafas pelan. Ia kemudian mendekat kepada pria paruh baya itu, kemudian mencium punggung tangannya.
“Gina memintaku datang untuk sarapan bersama, Yah. Aku sudah terlambat, bisa-bisa dia menangis karena aku tidak tepat waktu.” William menjelaskan tanpa di minta. Ia sengaja menjadikan Regina alasan, agar tidak di tahan lebih lama oleh calon mertuanya itu.
“Putri ada di kamar, tadi dia muntah.” Nyonya Karin datang dengan sebuah nampan berisi sepiring penuh nasi goreng, segelas susu, dan air putih.
William menoleh, wanita paruh baya itu lalu menyerahkan barang bawaannya kepada calon menantunya.
“Bawalah ke kamar, ibu sudah membuatkan lebih.” Ucapnya sembari menyerahkan nampan.
“Apa Gina baik-baik saja?” Tanya William cemas.
“Dia baik-baik saja. Wanita hamil memang biasa seperti itu. Cepat lah naik, sebelum dia menangis.” Ucap nyonya Karin terkekeh, semua orang di rumah itu tau, bagaimana Regina sekarang, mudah sekali menangis, jika keinginannya tak di turuti.
William mengangguk, ia kemudian pamit ke kamarnya.
Pintu kamar terbuka lebar, sehingga William masuk begitu saja. Di dalam kamar tak hanya ada Regina, tetapi juga nyonya Aurel.
“Ma?” William. Pria itu meletakan nampan di atas nakas. Kemudian ia mencium tangan sang mama.
“Nah, William sudah datang. Kalian berdua sarapan lah, mama turun dulu.” Nyonya Aurel meninggalkan kedua orang itu di dalam kamar.
“Tutup pintunya.” Ucap Regina yang sedang duduk bersandar pada kepala ranjang.
William menurut, ia kemudian menutup pintu kamarnya.
Kepala Regina menggeleng. Ia kemudian merentangkan kedua tangan. Yang berarti minta di peluk oleh William.
Mereka saling memeluk sejenak.
“Kita makan, ya. Kasihan baby, dia perlu sarapan.” Ucap William dengan lembut. Regina mengangguk, mereka kemudian sarapan dengan tenang.
Setelah makanan habis, William meletakkan kembali piring kosong di atas nakas. Pria itu memberikan susu kepada Regina, dan ia meminum air putih. Tanpa William sadari, ia menyeka sudut bibirnya sendiri. Sehingga, warna kebiruan pada sudut bibirnya terlihat.
“Apa muntah mu banyak?” Tanya William kemudian. Mereka duduk saling berhadapan di atas tempat tidur.
“Tidak, hanya sedikit. Hmm, lebih tepat aku sengaja. Supaya bisa sarapan di dalam kamar.” Ucap wanita itu terkekeh.
“Mommy nakal ya.” Ucap William mencubit hidung Regina.
Membuat wanita itu semakin tergelak. Namun, tawanya terhenti, kala melihat keanehan pada sudut bibir calon suaminya.
“Ini kenapa?” Tanya Regina, sembari mengusap sudut bibir William.
‘Astaga. Kenapa aku mengusapnya tadi?’ Pandangan William jatuh pada tissue di atas nakas. Kertas lembut berwarna putih itu, ternoda oleh foundation yang William pakai untuk menutupi lebam.
“Ini kenapa, Will?” Tanya Regina lagi, wanita itu menatap William penuh selidik.
“Kamu bertengkar dengan siapa?”
William diam, ia tak tau harus mulai darimana.
“William, katakan.” Regina menguncang lengan pria itu. Suara wanita itu mulai serak, dapat di pastikan sebentar lagi tangisnya akan pecah.
“Maafkan aku, Honey.” Ucap William dengan kepala menunduk. Pria itu menghela nafasnya pelan. Ia kemudian mengangkat wajahnya. Tatapan mereka beradu satu sama lain. William lantas menceritakan apa yang terjadi padanya.
“Itu upah karena kamu pergi ke klub tanpa ijin dariku.” Ucap Regina.
“Iya, maafkan aku. Lain kali, kemana pun aku pergi, aku akan minta ijin kalian dulu.” Ucap William sembari mengusap lembut perut Regina.
Wanita itu menghela nafasnya pelan. Ia merasa tidak enak hati, karena Alvino memukuli William.
“Maafkan aku, Will. Karena aku, kamu jadi bermasalah dengan Alvino.” Ucap Regina kemudian.
Kepala William menggeleng. “Tidak, Honey. Ini bukan salahmu. Aku pantas mendapatkan ini. Bagaimana pun, aku juga salah disini. Harusnya aku menunggu kamu putus dengan si Rahwana, baru kita melanjutkan hubungan.”
William meraih jemari wanita yang sangat ia cintai itu, kemudian mengecup dengan lembut.
“Setiap perbuatan kita, pasti akan ada balasannya, Hon. Baik atau buruk, semuanya akan mendatangkan hasil di kemudian hari.”
Regina menganggukkan kepalanya. Ia kemudian meraih tubuh William, dam mendekapnya.
“Aku mencintaimu, Regina. Pukulan sekecil ini, tidak ada artinya. Asalkan kamu menjadi milikku, seutuhnya.”
.
.
.
Bersambung.