
Dan disini lah pasangan Reka dan Willona berada. Di bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai, Bali. Saat waktu menunjukkan pukul dua belas siang. Mereka pun di jemput oleh seorang pemuda, dari hotel yang telah di pesan oleh Regina.
“Bli, kita mampir makan siang dulu, ya.” Ucap Reka saat pemuda itu membantunya memasukkan koper di pintu belakang mobil.
“Iya, pak. Mau makan dimana?” Tanya pemuda itu dengan ramah.
Reka menatap sang istri. Meminta jawaban wanita itu. Karena Willona sudah sering datang ke pulau dewata ini.
“Makan ayam betutu yang terkenal itu saja, Bli.” Usul Willona. Wanita itu menyebut salah satu nama ayam betutu yang sudah terkenal di Bali. Sopir pun menyanggupi, dan membawa mereka disana.
Setelah menikmati makan siang, dan bersantai selama dua jam. Pasangan pengantin baru itu kini tiba di salah satu hotel ternama di daerah Jimbaran, Bali.
Dengan di antar seorang petugas Bell boy, Reka dan Willona pun tiba di kamar mereka.
Mata Willona membulat sempurna. Kamar hotel yang di pesankan oleh kakak iparnya sangat cantik.
Ranjang yang di peruntukan untuk dua orang itu, telah dihias dengan kelopak bunga mawar berbentuk hati.
“Sayang, ini indah sekali. Sangat disayangkan jika kita merusaknya.”
Willona menatap sendu ke arah peraduan.
Reka terkekeh mendengar ucapan sang istri. Setelah meletakan koper di pojokan kamar, dokter muda itu kemudian mendekap tubuh Willona dari belakang.
“Lalu, kamu mau kita beradu gulat dimana? Di lantai? Sofa? Atau kamar mandi?”
Seketika pipi Willona bersemu merah. Semenjak menikah, Reka tak lagi menjadi pria kaku. Namun berubah menjadi pria omes.
“Ayo. Kita bersih-bersih dulu. Setelah itu kita tidur. Nanti malam, kita pergi makan malam di pinggir pantai.” Reka menuntun tubuh sang istri menuju kamar mandi yang tersedia di sudut kamar.
“Yakin setelah mandi, kita hanya tidur?” Tanya Willona tak percaya.
“Yakin.”
“Aku tidak.”
“Percaya padaku, sayang. Setelah mandi kita hanya tidur. Karena—.” Reka sengaja menjeda ucapannya.
“Karena apa?” Sang istri pun penasaran.
“Karena kita akan melakukannya di kamar mandi.”
Mata Willona membulat sempurna. Ia pun melepas belitan tangan sang suami. Dan dengan cepat berlari ke kamar mandi.
“Sayang. Hei. Tunggu aku.”
“Kamu mandi di tempat lain saja.” Teriak Willona dari dalam kamar mandi.
“Tidak, sayang. Kita mandi bersama untuk mempersingkat waktu.”
Reka pun menyusul sang istri ke dalam kamar mandi. Dan mandi bersama untuk mempersingkat waktu, hanya sebuah wacana. Karena pada kenyataannya, mereka justru menghabiskan waktu yang cukup lama didalam sana.
****
Di malam hari, ketika pasangan Reka dan Willona sedang menikmati makan malam romantis di tepi pantai, pasangan Alvino dan Tamara baru saja mendarat di bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai, Bali. Satu-satunya Bandara yang ada di pulau dewata itu.
“Indah sekali.”
“Iya, sangat indah.” Sahut Alvino yang berada di samping wanita itu.
Perjalanan dari bandara, menuju hotel tempat mereka menginap, memakan waktu selama satu jam.
Alvino memilih Ubud sebagai tempat destinasi bulan madu mereka. Daerah yang terletak tepat di jantungnya pulau Dewata. Tempat yang tak hanya menyajikan keindahan alam, tetapi juga kesenian dan budaya.
“Apa masih jauh?” Tanya Tamara kepada sang suami. Ia memang pernah ke Bali, tetapi itu hanya di daerah selatan, tak jauh dari bandara.
“Kira-kira satu jam dari bandara.”
Kepala wanita hamil itu mengangguk paham.
“Kamu kalau lelah, tidur saja dulu. Nanti aku bangunkan jika sudah tiba di hotel.”
Tamara menggeleng. “Aku ingin melihat pemandangan.”
Alvino mencebikan bibirnya. “Pemandangan apa yang kamu lihat? Di luar sudah gelap.”
“Apapun.”
Dan mereka pun tiba di hotel tujuan setelah satu jam lebih berkendara. Dengan di antar sopir yang menjemput mereka, Alvino dan Tamara melakukan reservasi ulang pada petugas resepsionis hotel.
Alvino sengaja memilih hotel yang kamarnya berbentuk villa. Sehingga mereka memiliki privasi.
“Silahkan masuk, tuan dan nyonya.” Petugas Bell boy membukakan pintu villa yang akan mereka tempati. Alvino pun memberikan uang tips kepada pemuda itu.
Seperti halnya kamar pasangan pengantin baru, yang melakukan bulan madu. Kamar yang di pesan Alvino juga telah di hias dengan sangat cantik.
“Apa kamu suka?” Tanya Alvino kepada sang istri yang terpaku menatap ke arah peraduan.
“Ya. Terimakasih.” Ucap wanita itu singkat.
Alvino menghela nafas panjang. Entah kapan sikap Tamara akan kembali ramah padanya. Wanita itu sekarang hanya bicara seperlunya. Pria itu merasa sabarnya telah di ujung batas.
“Ta.” Pria itu mendekat. Berdiri di hadapan Tamara.
“Ta. Aku tau, aku bukanlah pria baik. Aku banyak melakukan kesalahan dan menyakiti mu. Tetapi, aku mohon. Beri aku kesempatan untuk memperbaiki diri. Dan tolong bantu aku. Jika kamu terus menerus seperti ini? Apa aku bisa berubah? Kita pasti akan selalu bertengkar jika tak saling terbuka satu sama lain.”
Alvino kemudian meraih jemari tangan sang istri yang terlipat di depan dada.
“Aku mohon. Jangan seperti ini. Mari kita mulai semuanya dari awal. Bantu aku memperbaiki diri, agar aku bisa menjadi suami dan ayah yang baik untuk dirimu dan anak kita nanti.”
Tamara merasa terharu mendengar ucapan suaminya. Tanpa di minta, airmatanya mengalir begitu saja.
Alvino kemudian meraih tubuh wanita itu.
“Maafkan aku. Aku tidak akan memaksa jika kamu memang belum bisa memaafkan aku.”
Kepala Tamara menggeleng dalam dekapannya.
“Aku yang minta maaf, Al.” Wanita itu kemudian mendongak, menatap wajah sang suami yang juga menatapnya.
“Ayo kita mulai semuanya dari awal. Aku juga ingin menjadi istri dan ibu yang baik untukmu dan anak kita.”
Alvino tersenyum. “Mari kita sama-sama belajar, saling mengingatkan, saling menguatkan. Dan selalu bersama dalam keadaan apapun. Seperti sumpah yang telah kita ucapkan di hadapan Tuhan.”