BOSS WITH BENEFIT

BOSS WITH BENEFIT
Bab. 114. Kamu Ingin Merebut Orang Tuaku?



Wanita muda yang mengetuk pintu itu mematung di tempatnya. Ia menelan ludah dengan kasar, seperti ada batu besar yang tersangkut di kerongkongannya.


Hawa tiba-tiba berubah panas, Tamara merasakan buliran air mulai keluar dari pori-pori kulitnya.


“M-mbak Regina?” Ucapnya nyaris tak terdengar.


“Apa yang kamu lakukan disini?” Yang bertanya bukanlah Regina, karena wanita itu juga terpaku di tempatnya. Namun, William sang suami yang penasaran dengan keberadaan Tamara.


“Honey, bukannya dia yang di cari-cari si rahwana?” Tanyanya ke arah sang istri.


Regina hanya mengangguk, tanpa mengalihkan pandangannya. Ia masih mencerna situasi yang terjadi. Kenapa Tamara bisa berada di toko milik orang tuanya.


“Dimana anak-anak kurang ajar itu?”


Terdengar suara pak Regan mendekat ke arah ruangan. Namun langkah pria paruh baya itu terhenti di ambang pintu, karena Tamara berdiri disana.


“Permisi.” Ucap ayah dari dua orang anak itu. Ia kemudian menyela, dan masuk begitu saja.


“Ayah.” William menyapa ayah mertuanya lebih dulu dengan memberi salam dan mencium tangan.


“Menantu kurang ajar. Kenapa datang tidak memberi kabar? Nanti kalau terjadi sesuatu di jalan bagaimana?” Ucapnya dengan mata yang terbuka begitu lebarnya.


“Maafkan aku ayah.” William mengatupkan kedua tangan di depan dada.


“Putri?” Nyonya Karin menatap sang putri dengan dahi berkerut. Pasalnya, istri William itu masih saja mematung menatap Tamara, begitu pula sebaliknya.


“Ada apa sayang?” Tanya nyonya Karin kemudian. Hal itu membuat perhatian Pak Regan dan William teralihkan.


“Ibu, kenapa dia ada disini?” Tanya Regina kepada sang ibu. Namun, padangannya masih berpusat pada Tamara.


“Oh, nak Tamara? Dia salah satu pekerja di toko ini.” Jawab nyonya Karin.


“Kamu mengenalnya, Put?” Tanya pak Regan mulai curiga. Kepala Regina mengangguk kecil.


“Honey.” William mendekat ke arah sang istri.


“Apa kalian saling mengenal?” Tanya nyonya Karin kemudian.


“B-Bu, a-aku permisi dulu.” Sebelum Regina menjawab, Tamara lebih dulu menyela. Ia ingin pergi secepat mungkin sebelum semuanya terbongkar. Dan nyonya Karin mungkin akan memukulnya.


“Tunggu, kamu mau kemana? Apa kamu ingin pergi lagi?” Regina mencegah pergerakan wanita itu.


“Apa maksudmu, nak?” Nyonya Karin tak mengerti ucapan sang putri.


“Apa dia tidak menceritakan siapa dirinya? Kenapa ibu begitu sembarangan menerima orang?” Regina menatap tak percaya ke arah sang ibu. Ia tak habis pikir, wanita yang menjadi orang ketiga dalam hubungan asmaranya dulu, kini berada di tempat orang tuanya.


“Honey, tenang dulu.” William mengusap lengan sang istri. Mencoba menenangkan wanita hamil itu.


“Aku perlu penjelasan mu, Tamara. Apa setelah menghancurkan hubunganku dan Alvino, kamu juga ingin merebut kedua orang tuaku?” Ucapan Regina terdengar sangat tenang, namun sangat menusuk kedalam hati Tamara.


Deg..


Nyonya Karin tersentak mendengar ucapan sang putri. Ia pun mulai mengambil kesimpulan. Dengan cepat menarik Tamara masuk kedalam ruangannya, wanita paruh baya itu kemudian menutup pintu. Ia tak mau pekerja yang lain mendengar pembicaraan mereka. Sepertinya, ada hal pribadi yang terjadi antara kedua wanita muda itu.


“Asal ibu tau, dia wanita yang menjadi selingkuhan mantan kekasihku dulu.” Jelas Regina langsung pada intinya.


Mata nyonya Karin membulat sempurna mendengar ucapan Regina. Bagaimana bisa, wanita hamil yang ia kasihani, ternyata adalah orang yang telah merusak hubungan sang putri.


“Apa benar yang putriku katakan?” Tanyanya ke arah Tamara.


Kepala wanita itu menggeleng dengan kencang.


“A-aku— kepala wanita itu kemudian menunduk. “Maafkan aku, mbak Regina. Aku menyesal telah melakukan semua itu.” Suara Tamara terdengar berat. Dengan susah payah ia menahan tangisnya agar tidak pecah.


“Aku tidak percaya ini. Sejak awal, aku sudah memperingatkan mu , Bu. Jangan terlalu baik padanya, lihatlah. Ternyata kucing yang kamu pelihara, adalah seekor ular berbisa.” Pak Regan berbicara. Ia yang sejak awal memang tidak menyukai keberadaan Tamara di sekitarnya, ternyata memiliki riwayat tidak baik.


Nyonya Karin menggeleng tak percaya. Selama ini, ia melihat Tamara begitu baik. Tidak terlihat gelagat mencurigakan sama sekali.


“Katakan, Tamara. Apa kamu sengaja mendekati oranh tuaku? Apa kamu juga ingin merebut mereka dariku?” Regina kembali berbicara.


“Tidak, mbak. Aku bahkan tidak tau, jika bapak dan ibu adalah orang tua mbak Regina.” Air mata wanita itu pun akhirnya terjatuh, kala mendengar tuduhan yang Regina ucapkan.


“Lalu? Kenapa kamu bisa ada disini? Apa tidak ada tempat lain untukmu melarikan diri?”


“Honey, sudah. Jangan emosi. Ingat itu tidak baik untuk kandunganmu.” William mendekap tubuh sang istri dari samping.


“Bukannya kita sudah janji pada si Rahwana akan membantu mencari sekretarisnya? Kenapa sekarang kamu marah-marah?” Tanya William kembali.


“Ya, tadinya begitu. Tetapi, setelah melihat dia ada disini, entah kenapa aku menjadi emosi. Dia boleh saja merebut Alvino, tapi jangan harap dia bisa merebut orang tuaku.”


“Mbak, aku bersumpah, tidak ada niatku merebut siapa pun darimu.” Kepala Tamara menggeleng kencang.


“Nak Tamara, apa benar kamu tidak tau tentang kami? Bukannya waktu itu, kamu sempat melihat foto anak-anakku?”


Deg..


“Maafkan aku, Bu. Aku memang baru tau jika ibu orang tua mbak Regina, setelah melihat foto itu. Tetapi, demi Tuhan. Aku tidak memiliki niat apapun. Aku bertahan disini karena aku sudah tidak memiliki sisa uang lagi. Tadinya aku ingin pergi setelah tau semuanya. Tetapi, aku tidak tau harus kemana.” Tamara menjelaskan dengan terisak. Ia berbicara jujur, uangnya sudah berkurang. Dan ia ingin menggunakan untuk biaya persalinan nanti. Karena itu, ia memutuskan untuk bertahan di tempat orang tua Regina.


“Apa aku bisa mempercayai ucapanmu?” Tanya nyonya Karin. Ia sudah menganggap Tamara seperti putrinya. Sulit di percaya jika wanita itu yang telah menyakiti sang putri.


“Ibu boleh tidak percaya padaku, tetapi itulah kenyataannya. Aku sudah tidak memiliki apapun, Bu.” Kepala Tamara kembali menunduk.


“Honey, kasihan dia. Bukannya dia juga sedang hamil?” William berbisik kepada sang istri. Rasa iba muncul di hatinya, kala melihat wanita itu sesenggukan.


Regina menghela nafasnya pelan.


“Aku ingin bicara berdua dengannya.”


.


.


.


Bersambung.