
Waktu berlalu, musim pun telah berganti. Tak terasa kini kehamilan Regina memasuki usia ke tujuh. William pun semakin posesif padanya.
Hari ini, adalah jadwal periksa kandungan Regina. Sepulang kantor nanti, calon orang tua baru itu akan pergi ke rumah sakit.
Sebenarnya, mama dan papa Sanjaya sudah meminta Regina untuk berhenti kerja, namun wanita hamil itu beralasan ingin selalu dekat dengan sang suami, dan mengatakan jika itu keinginan dari bayi dalam kandungannya.
Jika sudah membawa-bawa, tentu saja calon oma dan opa baru tidak bisa berkutik. Mereka hanya mampu menurut agar sang menantu tidak merajuk.
“Honey. Sudah rapikan barang-barang mu. Sebentar lagi kita pulang.” Sang atasan sekaligus suaminya itu memberi perintah.
Regina menurut, ia merapikan berkas yang tak seberapa banyaknya. Karena, semenjak hamil ia memang tidak di berikan banyak pekerjaan oleh suaminya. Setengah tugasnya di limpahkan kepada Jimmy, asisten sang suami.
Wanita dengan perut membuncit itu pun menemui William di ruangannya.
“Apa daddy masih banyak pekerjaan?” Tanyanya melihat sang suami yang masih berkutat dengan komputer lipatnya.
“Ini sudah selesai.”
William kemudian mematikan benda itu. Menyimpan di dalam tas kemudian meletakkan di dalam lemari kaca di belakang meja kerjanya.
Pria itu lantas menghampiri sang istri yang berdiri di tengah ruangan.
“Daddy rindu sekali dengan kalian.” Ia kemudian mendekap tubuh gempal istrinya.
Jika sudah berbicara seperti itu, Regina tau kemana arahnya.
“Tidak sekarang, dad. Kita harus periksa dulu.”
William menghela nafas pelan.
“Baiklah. Tapi nanti malam, daddy tidak mau mendengar penolakan apapun.”
Regina menganggukkan kepalanya. “Yes, daddy.” Ucapnya sensual.
Mereka kemudian meninggalkan gedung perkantoran Sanjaya Group, menuju rumah sakit Hugo, untuk melakukan pemeriksaan.
****
Seperti biasa, Regina selalu ingin mengantri bersama ibu-ibu hamil lainnya. Ia senang jika ada ibu hamil yang mengajaknya mengobrol dan bertukar pengalaman semasa hamil.
Apalagi jika ada ibu hamil yang membawa serta anak balita mereka untuk periksa, Regina akan betah duduk mengantri.
“Hallo, tante cantik.” Seorang bocah berusia delapan tahun menyapa Regina yang sedang duduk di kursi pojok. Sementara sang suami sedang pergi ke toilet.
“Hai.” Regina nampak berpikir sejenak. Siapa kiranya anak laki-laki itu.
“Ah, ya. Tante ingat. Kamu yang waktu itu mengantar mami mu periksa ‘kan?”
Bocah itu mengangguk, kemudian mengambil tempat duduk di samping Regina.
Istri William itu berdecak kagum. Padahal, mereka bertemu kurang lebih dua bulan yang lalu. Tetapi, bocah itu masih mengingatnya.
“Apa tante akan periksa?” Tanyanya polos.
“Iya. Oh, ya. Waktu itu kamu belum sempat menyebutkan namamu. Bagaimana jika sekarang kita berkenalan.” Regina menyodorkan tangan kepada anak itu. Ia merasa jatuh hati pada bocah laki-laki itu.
Anak laki-laki itu menjabat tangan Regina. “Namaku Devano, tante.”
“Aku Regina. Senang berkenalan dengan Devano.”
“Panggil saja aku Devan, seperti yang lain.”
Regina mengangguk paham. “Oh, ya. Apa yang kamu lakukan disini? Apa menemani mami mu periksa lagi?”
Kepala Devano menggeleng kecil. “Tidak, aku menjenguk adik bayi.”
“Apa mami kamu sudah melahirkan?”
Devano menjawab dengan anggukan kepala. “Adik laki-laki. Apa adik di dalam perut tante cantik juga laki-laki?” Tanya sembari menatap ke arah perut buncit Regina.
Wanita berusia dua puluh delapan tahun itu menggeleng kecil. “Tante belum tau, sayang. Baru hari ini mau melihatnya.”
“Bolehkah aku mengusapnya?” Tanya Devano antusias.
Bocah delapan tahun itu kemudian mengusap perut buncit Regina, sembari mendekatkan wajahnya. “Hallo, adik bayi. Aku Devano. Senang bertemu dengan mu.”
“Hallo, kakak Devan.” Regina membalas dengan suara yang di buat seperti anak kecil.
“Astaga, Dev. Mama mencarimu kemana-mana. Ternyata kamu disini.” Seorang wanita dewasa datang menghampiri mereka.
“Mama.”
“Dev, lain kali jangan pergi tanpa ijin. Kamu membuat mama khawatir, sayang.” Wanita itu berucap sendu.
“Maafkan aku, mama. Habisnya Devan bosan di kamar mami. Semuanya tidur, mami tidur, adik tidur.”
Sang mama mengusap kepala Devano.
“Maaf, apa putraku nakal?” Tanyanya kepada Regina.
Regina bingung, bukannya Devano mengatakan jika ibunya sedang melahirkan? Lalu kenapa ada wanita yang mengaku sebagai mamanya?
“Apa Devan putra anda?”
Wanita itu menganggukkan kepalanya.
“Bukannya, mami Devan sedang melahirkan?”
Wanita yang mengaku sebagai mama Devano itu tersenyum hangat.
“Ya, maminya Devano memang baru saja melahirkan.”
“Tante cantik, aku punya dua. Satu mama, satu lagi mami.” Devano ikut bersuara. Sembari menunjukkan jari telunjuk dan jari tengah tangannya.
Regina mencoba menerka. Mungkin saja papa bocah itu sudah berpisah dengan mamanya, kemudian menikah lagi, dengan wanita yang kini Devano panggil mami. Istri William itu pun tak mengambil pusing.
“Oh, baiklah. Tante mengerti.”
“Terima kasih sudah menemani Devano. Maaf merepotkan mu.”
“Ah, tidak masalah, nyonya. Aku senang ada teman ngobrol sembari menunggu antrean.”
Mama Devano mengangguk paham, kemudian ia berpamitan mengajak sang putra kembali ke kamar maminya.
“Adik bayi, aku pergi dulu, ya. Suatu hari nanti, kita pasti akan bertemu lagi.” Ucap Devano ke arah perut Regina.
“Sampai jumpa lagi, Dev.” Regina melambaikan tangan.
“Sampai jumpa lagi, tante cantik.”
William pun datang mendekat, dan menatap penuh tanya kepada sang istri.
“Siapa mereka, Hon?”
“Kenalan baru, mami anak itu sedang melahirkan. Katanya dia bosan karena mami dan adiknya sedang tidur, jadi dia jalan-jalan keluar kamar.”
“Sepetinya kalian akrab sekali?” Tanya William penasaran. Ia sudah melihat saat bocah itu mengusap perut sang istri.
“Kami pernah bertemu dua bulan lalu. Aku tidak menyangka, jika dia masih mengingatku.”
William mengedikan bahunya. Ia kemudian duduk di samping sang istri.
Tak berselang lama, nama Regina pun di panggil oleh suster yang menjadi asisten dokter kandungan.
“Wah selamat, pak, Bu. Adik bayinya perempuan.” Ucap dokter kandungan saat mereka telah melakukan USG.
Mata William berbinar. Ia hampir saja melompat kegirangan. Ternyata benar dugaan Jimmy, anak dalam kandungan Regina perempuan, mungkin karena itu saat mengidam, Regina selalu ingin dekat dengannya.
“Perempuan, Honey.” William mengecup tangan sang istri yang sedari tadi ia genggam.
“Iya, dad.” Regina ikut bahagia. Bagaimana pun ia tau, jika sang suami begitu menginginkan anak pertama mereka perempuan.
“Wah, sepertinya bapak sangat bahagia sekali anaknya perempuan.” Dokter ikut penasaran.
“Iya dok.. entahlah, tetapi sejak awal aku memang menginginkan anak pertama kami perempuan.” Jelas William antusias.