
Di pagi hari.
Willona menggeliat, matanya mengerajap beberapa kali, hingga benar-benar terbuka sempurna.
Ia merasakan kepalanya sedikit pusing. Tangannya pun terangkat memijat kening.
Deg!!
Willona tersentak kala selimut yang menutupi tubuhnya tersingkap.
‘Kenapa aku tidak menggunakan baju?’
Gadis itu kemudian memeriksa kedalam selimut. Membuat matanya membulat sempurna.
Ia mendapati tubuhnya polos, dan sebuah tangan sedang melingkar pada pinggangnya.
“Re-Reka.”
Kepala Willona menggeleng dengan kencang. Reka juga terbaring tanpa busana di sampingnya.
“Apa yang terjadi?” Willona menarik tubuhnya, kemudian duduk setengah bersandar pada pinggiran ranjang. Adik William itu berusaha mengingat. Ingatannya kembali pada saat ia meneguk minuman yang di berikan Bobby padanya.
“A-apa minuman itu?” Willona juga teringat, ia menghubungi Reka setelah merasakan keanehan pada tubuhnya.
“TIDAK!!!”
Tangisnya pun pecah. Ia tidak dapat membayangkan apa yang telah terjadi pada dirinya. Kehormatan yang ia jaga selama ini, mungkinkah telah hilang? Apa dirinya dan Reka semalam melakukan hal itu?
“Sa-sayang?” Reka terbangun saat mendengar jeritan Willona. Pria itu pun bangkit, kemudian mendekap tubuh sang pujaan hati.
“Apa yang sudah kita lakukan, Reka?” Tanya Willona dalam isakannya.
“Sayang, aku janji kita akan segera menikah. Hari ini, aku akan menemui orang tua mu.”
Kepala Willona kembali menggeleng kencang. Ia menghujamkan pukulan pada dada bidang pria itu.
“Apa kita— model cantik itu tak sanggup melanjutkan ucapannya. Tangisnya pun semakin kencang.
“Maafkan aku, sayang.” Reka mengeratkan pelukannya, sembari mengecup puncak kepala gadis itu.
Inilah yang Reka takutkan. Willona melupakan apa yang terjadi semalam. Padahal, gadis itu lah yang menginginkan semuanya.
Willona mendongak, sehingga membuat Reka juga menunduk menatapnya.
“Apa aku—
Kepala Reka mengangguk. Membuat Willona kembali menenggelamkan wajahnya pada cerukan leher pria itu.
“Sayang, aku sudah berusaha menghentikan mu. Tetapi pengaruh obat itu begitu kuat.” Jelas Reka kemudian.
Willona kembali mendongak. Ia menatap kedua manik mata pria itu. Tidak ada kebohongan disana. Gadis itu justru menemukan kesedihan di mata Reka.
“Maafkan, aku.” Suara pria itu mulai berat. Ia pun ikut menitikan air mata.
“Aku sungguh tidak ingin merusakmu. Bukankah kita sudah sepakat, No s*x before married? Aku bahkan sudah mengingatkan mu. Tetapi kamu tidak mau mendengarkan aku.” Jelas Reka dengan memejamkan matanya.
Willona melihat Reka begitu tulus padanya. Belum pernah sebelumnya ada pria yang mencintainya seperti pria itu.
Reka bahkan menangis setelah apa yang mereka lakukan bersama.
Hati Willona tersentuh, tangannya pun terulur mengusap pipi pria itu.
“Maafkan aku, Reka.”
“Tidak, sayang. Aku yang salah. Harusnya aku tidak menuruti keinginanmu.”
Kepala Willona menggeleng, ia kembali teringat, semalam Reka sudah memintanya untuk tidak datang ke pesta itu, namun ia tak mendengarkan.
“Maaf karena aku tidak mendengarkan mu. Kamu benar, harusnya aku tidak datang ke pesta itu.”
Mereka berdua kembali berpelukan. Terisak bersama.
“Aku mencintaimu, Willona. Percaya padaku. Aku akan bertanggung jawab.”
Kedua insan tanpa ikatan itu saling menatap satu lain. Padangan mereka terkunci, entah siapa yang memulai, bibir keduanya telah menyatu. Saling memagut, lembut dan penuh cinta.
“Kamu tidak akan meninggalkan aku setelah ini, kan?” Tanya Willona setelah pagutan mereka terlepas.
“Tidak akan, sayang. Bila perlu besok kita menikah.” Jawab Reka dengan tegas.
Kepala Willona mengangguk. Mereka pun kembali berciuman, sentuhan yang di awali kelembutan, semakin lama semakin memanas dan menuntut. Hingga kedua raga itu kembali menyatu.
Jika semalam mereka melakukan dalam keadaan Willona yang terpengaruh obat, tidak dengan pagi ini. Sepasang muda-mudi itu bergulat dalam keadaan sama-sama sadar.
Willona bahkan tak hentinya menyebut nama pria yang sedang mengukungnya.
“Aku mencintaimu.. hhh.” Ucap Reka di sela guncangan yang ia berikan pada tubuh Willona.
“Aku juga mencintai…sshh.. mu, Rekahh.”
Guncangan Reka seketika memelan setelah mendengar ucapan Willona.
Willona tersenyum. Ia menarik wajah pria di atasnya, kemudian menyesap bibir pria itu.
“Aku juga mencintaimu, Reka Prayoga.” Ucapnya kemudian.
Mendengar itu, Reka tak dapat membendung rasa bahagianya. Ia pun kembali menguncang tubuh Willona dengan cepat, namun masih penuh dengan kelembutan.
“Reka..hhh..” Gadis itu memekik. Ia mencengkeram dengan kuat lengan dokter muda itu, saat tubuhnya bergetar dengan hebat.
Reka membiarkan Willona mengontrol dirinya.
“Menikahlah denganku, Willona.” Ucap pria itu setelah nafas Willona memelan.
Jika orang lain melamar pasangannya dengan cara yang romantis, berbeda dengan Reka, jangankan kejutan romantis, mereka bahkan baru selesai menangis bersama.
“Ya, aku akan menikah denganmu, Reka.”
Seiring jawaban yang di ucapkan pujaan hatinya, Reka kemudian menekan tubuh bawahnya semakin dalam. Ia pun menumpahkan semua amunisi di dalam tubuh Willona.
****
William dan Regina pulang dari kantor tepat waktu. Mereka yang rencananya bekerja lembur, membatalkan niatnya atas permintaan kedua adiknya.
Tadi siang, Willona dan Reka meminta mereka untuk berada di rumah saat makan malam. Ada hal penting yang ingin kedua muda-mudi itu sampaikan.
“Memangnya mereka mau bicara apa sih, Hon?” Tanya William pada sang istri yang sedang mematut diri di depan cermin. Sementara pria itu sedang memakai pakaian santainya. Mereka baru saja selesa mandi setelah pulang dari kantor.
“Aku tidak tau, dad. Kata Reka ini hal penting. Entahlah.” Wanita hamil itu mengedikan bahunya. Namun, sesaat kemudian, ia tertegun.
“Dad. Apa jangan-jangan mereka, seperti kita?”
Alis William bertaut mendengar pertanyaan sang istri. Ia pun mendekat pada wanita itu.
“Maksud mu?”
Kepala Regina menggeleng kencang. “Tidak, semoga tidak seperti yang aku pikirkan.”
Perasaan Regina menjadi tidak enak. Ia takut Willona mengalami hal yang sama dengan dirinya. Hamil di luar nikah.
Waktu menunjukkan pukul tujuh malam. Sebelum pergi ke meja makan, keluarga Sanjaya kini tengah mengobrol di ruang keluarga.
Obrolan ringan mereka terhenti, kala mendengar langkah kaki mendekat.
Empat orang yang berada di ruang keluarga serempak menoleh ke arah sumber suara. Nyonya Aurel dan Regina menganga, sementara pak Antony dan William memicingkan mata.
Bagaimana tidak, mereka mendapati Reka dan Willona datang dengan tangan keduanya saling menggenggam. Setahu mereka, hubungan keduanya tidaklah sedekat itu, setiap bertemu selalu bertengkar. Kecurigaan pun mulai muncul pada benak masing-masing pasangan itu.
Willona dan Reka pun mendekat. Mereka menyapa satu persatu anggota keluarga.
“Sayang, kamu kenapa? Sakit? Wajahmu pucat begitu?” Tanya nyonya Aurel saat sang putri mendekat dan mencium tangannya.
Willona hanya tersenyum sembari menggelengkan kepala. Ia pun beralih menyalami sang papa.
“Papa kira kamu lupa jalan pulang.” Celetuk pak Antony.
Namun Willona tak menanggapi, biasanya gadis itu akan menjawab gurauan sang papa.
Tingkah aneh gadis itu, semakin memancing kecurigaan.
“Kamu apa kan adikku?” Tanya William saat Reka menyapanya.
Dokter muda itu menghela nafas pelan. Tak menjawab pertanyaan sang kakak ipar. Ia justru menuntun Willona untuk duduk bersamanya.
“Astaga. Punya adik ipar kenapa tidak sopan begini.” Gerutu pria itu.
“Reka, ada apa?” Tanya Regina kepada sang adik. Hati wanita hamil itu berdebar, kecurigaannya semakin kuat, apalagi setelah melihat wajah pucat Willona.
Reka kembali menghela nafas sebelum berbicara.
“Om, tante, kakak dan kakak ipar. Hal penting yang ingin aku bicarakan adalah, Aku ingin melamar Willona, putri dan adik kalian, untuk aku jadikan istri, sekaligus teman hidupku.” Reka berucap dengan mantap.
Membuat pasangan William dan Regina terpana akan ucapan dokter muda itu.
“A-apa melamar Willona? Bukannya kalian tidak akur?” Tanya nyonya Aurel kemudian.
Reka kemudian melepas tautan tangannya dari Willona, ia kemudian mendekat dan bersimpuh di hadapan wanita paruh baya itu.
Di raihnya jemari tangan nyonya Aurel yang sedang bertaut di atas lutut.
“Tante, maafkan aku. Aku sangat mencintai putrimu. Sebenarnya, kami tidak ingin menikah sekarang. Tetapi, kami telah melakukan kesalahan.” Wajah pria muda itu tertunduk. Air matanya pun tak dapat di bendung.
“Ijinkan aku menikahi Willona secepatnya.”
.
.
.
Bersambung.