BOSS WITH BENEFIT

BOSS WITH BENEFIT
Bab. 56. Percaya Diri Itu Perlu.



Keesokan harinya, dengan langkah gontai dan jantung yang berdetak lebih cepat, Tamara melangkah memasuki gedung perkantoran Mahendra. Ia menarik dan menghembuskan nafasnya berulang kali sebelum memasuki lift yang menuju lantai, dimana ruangan Alvino berada.


Pintu ruangan sang atasan masih tertutup rapat, wanita itu mencoba mengetuk beberapa kali, namun tak ada sahutan. Dengan memberanikan diri, Tamara membuka pintu itu, dan ternyata masih terkunci. Yang artinya, sang empunya belum berada di dalam ruangan itu.


Mungkin Alvino terlambat, pikirnya. Wanita itu pun memutuskan memulai pekerjaannya sendiri.


Hingga satu jam berlalu, sang atasan pun tak menampakkan batang hidungnya. Rasa cemas, dan berbagai pertanyaan pun bermunculan di benak Tamara. Ia pun mencoba menghubungi pria itu, namun nomor ponsel Alvino tidak aktif.


“Kamu kemana, Al?” Tamara bermonolog. Wanita itu kemudian mencoba menghubungi nomor telepon yang ada di unit apartemen Alvino. Namun, tak ada yang mengangkat panggilan itu.


“Al, kamu dimana?” Ucapnya sekali lagi. Hati wanita yang tengah hamil muda itu merasa semakin gusar. Alvino menghilang begitu saja.


Perut Tamara tiba-tiba bergejolak. Dengan cepat wanita itu berlari ke arah toilet yang tak jauh dari meja kerjanya. Ia menumpahkan semua isi perut yang ia makan pagi ini kedalam wastafel.


Dengan tangan gemetar, Tamara membasuh wajahnya. Ia menatap pantulan wajah pucat nya, karena pagi ini Tamara malas berdandan.


“Kenapa kamu menyusahkan aku? Tidakkah kamu kasihan padaku? Aku sendirian sekarang!”


Wanita itu menunduk, seolah berbicara pada jabang bayi yang ada di dalam perutnya. Meski tak menginginkan, namun Tamara juga tak berniat untuk menggugurkan kandungannya, bagaimana pun juga, bayi itu tidak bersalah. Ia dan Alvino lah yang bersalah disini.


“Aku tidak akan menyakitimu, tolong bekerja sama lah dengan ku. Jangan buat aku menderita lebih banyak.” Tanpa diminta, air mata wanita itu pun turun membasahi pipinya.


Ia meratapi kebodohannya sendiri. Andai dirinya tidak lupa meminum obat pencegah kehamilan, mungkin hal ini tidak akan terjadi.


“Aku harus mencari Alvino. Jangan sampai terjadi sesuatu padanya.”


Wanita itu pun bergegas. Ia menyimpan kembali pekerjaannya, mengambil tas yang selalu ia bawa, kemudian meninggalkan tempat itu.


Tujuan pertama wanita itu adalah unit apartemen Alvino. Ia menekan bel beberapa kali, namun tak ada yang membuka pintu. Dengan memberanikan diri, Tamara membuka kunci pintu apartemen itu, dengan sandi yang telah ia ketahui.


Namun sayang, tempat itu tak berpenghuni. Tamara sudah memeriksa ke segala penjuru ruangan. Ia kembali turun ke parkiran, sampai di sana ia merutuki kebodohannya, mobil Alvino tidak ada di tempat parkir.


“Kenapa aku bodoh sekali?” Wanita itu memukul kepalanya berulang kali. Ia kemudian memutuskan meninggalkan gedung itu. Entah harus kemana ia mencari Alvino. Tamara pun tidak tau.


****


“Will..” Regina mengibaskan tangannya di depan wajah William. Namun, pria itu tak bergeming. Ia sibuk termenung di atas kursi kerjanya. Entah apa yang pria itu sedang pikirkan. Saat Regina memasuki ruangan sang atasan, wanita itu melihat William sedang melamun.


“Will…” Regina memberanikan diri mengusap lengan pria itu. Sehingga membuat William tersadar.


“Hah.” Pria itu terlonjak. Ia memutar padangannya ke kanan dan ke kiri.


“Honey.”


“Ada apa?” Tanya Regina penasaran.


“Aku lelah, Honey.” Ucap William sembari mendekap tubuh Regina. Wanita itu membalas dekapan sang atasan. Ia mengusap lembut kepala pria itu.


“Apa yang terjadi? Apa kamu ada masalah?”


William mencebik, wanita pujaan hatinya memang sangat peka. Wanita itu penuh kasih sayang. Tak salah jika hati William tercuri olehnya.


“Tidak apa-apa. Hanya merasa sedikit lelah. Sepertinya aku perlu liburan. Biasanya, sebulan sekali aku pasti dapat waktu berlibur.”


“Mungkin ini saatnya kamu serius. Serius dalam mengurus bisnis. Kamu sudah dewasa, sudah bukan waktunya untuk main-main lagi.”


William tersenyum mendengar ucapan Regina. Pria itu menjadi gemas. Ia pun melabuhkan sebuah kecupan pada pipi Regina.


“I love you.” Ucap William kemudian.


Namun Regina hanya membalas dengan sebuah senyuman. William tak marah, ia menyadari, mungkin masih sulit bagi Regina untuk menjalin sebuah hubungan. Tetapi, William akan terus meyakinkan wanita itu, jika dirinya tidak seperti Alvino.


“Bagaimana jika akhir pekan ini, kita berlibur sebentar?” Regina memberi usul.


William nampak berpikir sebentar.


‘Akhir pekan? Bukannya om Regan dan keluarganya akan datang ke rumah? Ah, tidak. Aku ingin memberikan mereka kejutan.’


“Sepertinya tidak bisa Honey. Nanti saja kita liburannya. Sekaligus kita honeymoon.” Ucap William percaya diri.


Regina mencebik. Wanita itu mengusap dahi William yang sedikit berkeringat.


“Memangnya kapan kita akan honeymoon?”


“Secepatnya, Honey.” Balas William.


“Percaya diri sekali anda, Tuan William Antony.” Ucap Regina sembari mengalungkan kedua tangan pada leher sang atasan.


“Tentu. Percaya diri itu perlu, Honey. Kita harus memiliki keyakinan dalam diri. Apapun yang kita inginkan, harus dan pasti kita miliki.”


Setelah mengucapkan hal itu, William kemudian menyatukan bibir mereka berdua. Ia menumpahkan segala keresahan yang melanda di hatinya. Kali ini, ia siap melawan orang tuanya, demi bisa hidup bersama wanita yang ia cintai. Putri Regina Prayoga. Satu-satunya wanita yang mampu memberikan segalanya. Kasih sayang, kenyamanan, serta ke*nikmatan yang belum pernah ia rasakan selama ini.


.


.


.


Bersambung.