
Willona menatap tak percaya, bangunan di depannya. Mobil mewahnya kini telah terparkir di depan rumah kontrakan yang di tempati oleh Reka. Gadis itu merasa heran, di jaman sekarang, masih ada anak muda yang tinggal di rumah sekecil itu, apalagi pria itu berprofesi sebagai seorang dokter.
“Ada apa?” Tanya Reka ketika mata gadis itu tak berkedip memandangi tempat tinggalnya.
“Kamu tinggal disini?”
“Menurutmu? Untuk apa aku membawamu kesini, jika bukan tempat tinggalku?” Pria itu melepas sabuk pengaman yang membelenggu tubuhnya.
“Kenapa tidak tinggal di apartemen?” Willona bertanya dengan polosnya.
Hal itu membuat Reka mencebik.
“Aku baru seminggu lebih disini.” Pria itu ikut menatap tempat tinggalnya.
“Dan lagi, aku hanya seorang dokter umum. Aku harus menabung untuk bisa menyewa sebuah apartemen. Lagi pula, rumah ini masih layak untuk di tempati. Ini rumah Regina sebelumnya. Untuk apa membuang-buang uang.”
Willona memutar kepala menatap pria yang masih duduk di balik kemudi mobilnya, ia sungguh tak percaya.
“Kenapa? Kamu malu melihat tempat tinggalku?.”
Kepala Willona menggeleng.
“Baguslah, bukannya aku tidak punya uang. Tetapi, aku ingin membeli mobil terlebih dulu. Supaya lebih gampang kemana-mana, dan tidak malu dengan calon mertua.”
Alis Willona berkerut mendengar ucapan terakhir dari pria itu.
“Aku malu dengan calon mertua, jika kemana-mana selalu menggunakan mobil putri mereka.” Ucap pria itu sembari menatap lekat, wajah gadis di sampingnya.
Tiba-tiba saja pipi Willona memanas. Namun ia tak mau besar kepala. Belum tentu juga kalimat itu Reka tujukan kepadanya.
Wajah pria itu perlahan mendekat, Willona bahkan dapat merasakan hembusan nafas pada pipi mulusnya. Dengan cepat ia menahan dada Reka.
Pria itu menyeringai, tangannya meraih sabuk pengaman yang membelit tubuh Willona.
“Apa kamu kira aku akan mencium mu lagi?”
“Ya, apa lagi?”
Reka terkekeh.
“Berikan ponselmu padaku.” Ucapnya kemudian.
Mata Willona memicing.
“Apa kamu tidak punya ponsel?”
“Berikan saja, aku tidak akan menjualnya.”
Gadis itu berdecak kesal. Ia kemudian merogoh tas tangannya, dan memberikan ponselnya pada Reka.
“Buka sandinya.”
“Menyebalkan sekali, sih.” Gerutu Willona. Namun ia mengikuti apa yang pria itu katakan.
Reka memasukkan nomor ponselnya di sana. Ia kemudian menghubungi nomornya sendiri.
“Ini.” Pria itu mengembalikan benda pintar milik Willona itu.
“Terimakasih atas tumpanganmu, sayang.” Ucap Reka, ia kemudian keluar dari dalam mobil Willona.
Jantung gadis itu kembali berdetak kencang, saat Reka memanggilnya dengan kata sayang. Anak bungsu pak Antony itu pun berusaha menetralkan degup jantungnya dengan menarik dan membuang nafas beberapa kali. Hingga kemudian ia berpindah ke balik kemudi, dan meninggalkan rumah kontrakan itu.
Reka menyunggingkan sudut bibir sembari menatap mobil sedan hitam yang mulai menjauh dari rumahnya.
“Kamu pasti akan menjadi milikku, Willona Sanjaya.”
Pria itu benar-benar telah jatuh hati dengan adik ipar kakaknya. Ia begitu mensyukuri pertemuan tak terduga mereka di bandara beberapa waktu lalu.
***
Keesokan paginya, Reka pergi ke apartemen William untuk membawakan bubur ayam pesanan sang kakak.
Kemarin malam, saat menyimpan nomor kontak Willona di ponselnya, ia melihat ada banyak pesan dari ibu hamil itu.
Merasa kesal, adik Regina itu kemudian mengambil ponsel dan menghubungi sang kakak. Tak lama kemudian, pintu terbuka, menampakkan suami wanita itu.
“Apa kalian tidak mengenal waktu? Ini masih pagi. Aku tau kalian pengantin baru, tetapi ingat waktu.” Reka memberondong William dengan ucapannya, tanpa bertanya, pria muda itu mengambil kesimpulan sendiri. Apa lagi melihat penampilan kakak iparnya yang hanya menggunakan celana pendek tanpa baju.
William menganga mendengar ocehan adik iparnya. Jika ia tak mengingat pria itu adalah adik istrinya, mungkin ia sudah menghajarnya saat ini juga.
“Masuk bukannya memberi salam, malah menuduh yang bukan-bukan.” Gerutu William, ia mengikuti langkah Reka memasuki apartemennya.
“Apa aku salah?” Tanya dokter muda itu. Ia meletakkan bungkusan bubut ayam di atas meja makan.
“Salah besar. Bahkan, sejak resmi menjadi suami istri kami belum melakukan malam pertama.”
“Cih, malam pertama.” Ucap Reka tak percaya.
“Lalu dimana Regina?” Tanyanya sembari menghempaskan bokong pada kursi meja makan.
“Ada di kamar, dia muntah sejak tadi.” Ucap William sembari menghela nafasnya.
“Aku—
“Reka, kamu sudah datang? Dimana bubur pesanan ku?” Suara Regina membuat kedua pria itu menoleh.
“Astaga, Honey, bukannya sudah aku katakan, tunggu di kamar.” William mendekat kemudian menuntun sang istri ke meja makan.
“Ish, apaan sih. Aku hanya mual, bukan lumpuh.” Regina pun mengambil tempat di samping sang adik.
William kemudian mengambil alat makan untuk wanita itu.
“Kenapa hanya mengambil satu?” Tanya Reka dengan alis berkerut.
“Memangnya?”
“Aku membeli tiga. Aku juga belum sarapan.” Pria muda itu kemudian bangkit dan mengambil alat makan untuk dirinya.
“Kenapa tidak mengambil untuk William juga?” Tanya Regina heran.
“Dia bisa mengambil sendiri.” Dengan santai Reka mebuka bungkusan bubur ayam, tanp memperdulikan yang lainnya.
“Sudahlah, Hon. Kita bisa maka satu piring berdua.”
“Terserah kalian.” Reka acuh tak acuh kepada sepasang suami istri itu.
“Semalam kemana? Kenapa tidak menjawab satu pun pesanku?” Tanya Regina kepada sang adik di sela acara sarapannya.
“Aku menghadiri acara ulang tahun temanku.” Jawab Reka.
Regina ber’oh’ ria, sembari menganggukkan kepalanya.
“Apa di sana bertemu Willona? Dia juga mengatakan pergi ke pesta ulang tahun.”
Reka tiba-tiba tersedak mendengar pertanyaan sang kakak.
“Makan bubur saja sampai tersedak.” William menuangkan air minum untuk adik iparnya.
“Kenapa? Apa aku benar? Kalian bertemu? Atau kalian—.” Regina menjeda ucapannya, ia menaik turun kan alisnya.
William mengamati sang istri, imannya yang lemah pun langsung mengerti maksud wanita itu. Ia menggelengkan kepala, jangan sampai hal itu menimpa sang adik.
“Honey, yang ulang tahun pasti banyak. Dan lagi, mana mungkin teman Reka, temannya Willona juga. Secara mereka beda aliran.”
“Siapa tau saja.” Wanita itu mengedikan bahunya, seraya menyuap sesendok penuh bubur kedalam mulutnya.
‘Feeling wanita hamil memang tidak pernah salah.’ Ucap Reka dalam hati.
.
.
.
Bersambung.