BOSS WITH BENEFIT

BOSS WITH BENEFIT
Bab. 42. Cintaku Bertepuk Sebelah Tangan.



“Honey… i’m home.” Begitulah William selalu berteriak saat membuka pintu apartemennya. Dan itu sudah menjadi kebiasan untuknya.


William menyapu pandangan ke seluruh ruangan di lantai 1 apartemen mewah itu. Namun, tak ada tanda kehidupan disana.


Ia lalu pergi ke arah dapur, tak juga ia dapati jejak atau bekas memasak disana.


“Astaga, Honey. Apa kamu tidak makan siang?” Pria itu bergegas menaiki tangga penghubung ke lantai dua, dimana kamarnya berada. Tanpa mengetuk, ia membuka begitu saja pintu kamarnya.


Pandangan pria itu jatuh ke atas tempat tidur, dimana Regina tengah terlelap dengan damai. William dapat bernafas dengan lega, kala ia mendapati bekas kotak makanan di atas nakas.


“Kamu memesan makan siang? Aku pikir kamu tidak makan, Honey.” Ucapnya seraya memperhatikan kotak bekas makanan itu, tertulis nama sebuah restoran di atasnya.


Pria itu kemudian melepas jas, sepatu serta melonggarkan dasinya. Kemudian ia bergabung bersama Regina di atas tempat tidur.


Dengan pelan William melingkarkan tangannya di atas pinggang Regina. Ia kemudian memejamkan matanya. Melepas lelah yang menggerogoti tubuh dan pikirannya.


Entah sudah berapa lama ia tertidur, Regina merasakan jika dirinya tengah memeluk tubuh seseorang. Dengan mata yang masih berat untuk di buka, wanita itu sedikit mendongak. Ia mendapati William disana.


“Bahkan, aku sampai bermimpi memelukmu, Will.” Ucap wanita itu dengan suara serak khas bangun tidur. Namun, terpaan nafas dari hidung pria itu, membuat alis Regina berkerut.


Ia kemudian mengerejapkan mata beberapa kali, hingga matanya benar-benar terbuka lebar.


“Jam 7 malam?” Ucapnya saat melihat jam kecil di atas nakas. “Jadi ini bukan mimpi?” Regina menarik tangan yang membelit pinggang William. Ia kemudian mengusap pipi pria itu. Seketika senyum terkembang di wajah cantiknya.


“Kamu pasti begitu lelah bekerja sendirian hari ini.” Regina kemudian menegakkan tubuhnya. Ia merasa baikan, kepalanya pun sudah tidak sepusing pagi tadi.


Wanita itu perlahan turun dari tempat tidur, ia lalu mengambil kotak bekas makan siangnya, kemudian keluar dari dalam kamar.


Sesampai di lantai satu, membuang kotak makan itu kedalam tempat sampah, Regina lalu pergi ke kamar mandi yang ada di dekat dapur, kemudian mencuci wajahnya. Sengaja ia melakukan itu di lantai bawah, karena tidak ingin tidur William terganggu.


Setelah selesai, Regina kemudian bergegas menuju ke dapur, untuk membuat makan malam untuk mereka.


Sementara itu, di kamar tubuh William mulai menggeliat. Meski masih terpejam, tangan pria itu mengusap sisi tempat tidur di sampingnya.


Kosong?


Sontak membuat mata pria itu terbuka lebar. Pandangannya menyapu penjuru kamar, suasana nampak temaram. Itu artinya hari sudah berubah gelap. William pun bangkit, ia pergi ke kamar mandi sebentar. Kemudian keluar dari kamarnya.


“Kenapa tidak membangunkan aku?” Ucap pria itu, sembari melingkarkan tangannya di pinggang sang sekretaris yang sedang menata makanan di meja makan.


“Sepertinya kamu begitu lelah. Aku tidak tega jika membangunkannya.” Ucap Regina sembari mengusap tangan sang atasan.


“Ayo kita makan malam. Kamu pasti sudah lapar.” Regina melepas tangan William kemudian menuntun pria itu untuk duduk.


William menarik pinggang Regina, membuat wanita itu duduk di pangkuannya.


“Bagaimana keadaan mu? Apa masih pusing?” Tanyanya sembari menyelipkan anak rambut Regina, ke balik telinga wanita itu.


“Sudah tidak lagi.” Dan William menanggapi dengan anggukan kepala.


“Kamu memesan makan siang?” Regina juga menanggapi dengan anggukan kepala.


“Tadi siang aku masih merasa sedikit pusing, jadi malas untuk memasak makanan.”


“Ya, memesan lebih baik. Daripada kamu tidak makan sama sekali. Tadi aku sempat khawatir, karena tak mendapati jejak orang memasak di dapur.”


Regina tersenyum mendengar ucapan panjang lebar atasannya. Ia merasa sangat beruntung, di perhatikan, dan di cintai oleh William.


“Maaf juga, tadi siang tidak sempat menghubungimu. Mama tiba-tiba datang ke kantor, dan pulang menjelang makan siang.”


“Ayo kita makan. Aku sangat lapar.” Regina turun dari pangkuan William. Kemudian mengambilkan makanan untuk pria itu.


“Thank you, Honey.” Ucap William dengan mengedipkan salah satu matanya.


****


Setelah makan malam, William dan Regina memutuskan mandi bersama. Hanya mandi, karena William tidak ingin Regina menganggapnya pria yang haus akan hubungan berbagi peluh.


Ia tidak ingin membuat Regina merasa jika Ia hanya menginginkan tubuh wanita itu saja. William ingin, Regina jatuh cinta kepadanya karena perhatian dan kasih sayang yang pria itu berikan.


Kini mereka menghabiskan malam dengan duduk setengah bersandar di atas sofa bed, yang tersedia di balkon kamar apartemen itu.


Tadinya, Regina meminta di temani dengan meminum, minuman keras lagi. Namun, William menolak. Pria itu beralasan, tak mau Regina mabuk lagi. Padahal, sebenarnya William tak ingin pembuahan yang ia lakukan semalam gagal. Mulai saat ini, William akan membuat Regina berhenti meminum minuman beralkohol.


“Berhenti minum minuman beralkohol mulai sekarang.” Ucap pria itu sembari mendekap erat pundak Regina.


“Kenapa?” Tanya wanita itu mendongak.


“Hanya tidak ingin terjadi sesuatu dengan rahimmu. Meski belum pasti kapan kamu menerima ku, aku hanya ingin memastikan, tempat tumbuh calon penerusku sehat.” Satu tangan William bergerak mengusap perut Regina.


Dalam hati, pria itu berharap ada benihnya yang lolos dan berhasil menempel di dalam rahim wanita itu.


“Apa begitu ingin menikah dengan ku?”


“Tentu saja. Bahkan jika kamu berkata iya hari ini, besok aku akan mengajak mu ke pencatatan sipil untuk mendaftarkan pernikahan kita.”


“Lalu bagaimana dengan keluarga mu?” Tanya Regina, ia teringat dengan pak Antony yang ingin menjodohkan William dengan gadis pilihannya.


“Bukannya kamu sudah mengenal keluarga ku?”


Regina mencebik, bukan itu jawaban yang ia inginkan. Apa William benar tak mengerti?


“Tentu saja aku akan mengatakan kepada keluarga ku. Aku putra satu-satunya, dalam keluarga Sanjaya, seorang putra berkewajiban meneruskan usaha keluarga. Sementara, seorang putri, di haruskan ikut dengan suaminya kelak.”


William tau apa yang Regina maksudkan. Tentu ia akan mengatakan kepada keluarganya. Namun, mungkin tak sekarang. Ia baru saja menceritakan kepada sang mama perihal Regina telah putus dengan kekasihnya. Jika William mengatakan sekarang kepada keluarganya, tentang ia dan Regina yang mempunyai hubungan, maka Regina akan terlihat buruk di mata keluarga Sanjaya. Dan William tidak mau itu terjadi.


“Tunggu saat yang tepat. Aku ingin, kamu menerima aku dulu. Baru setelah itu, aku akan mengatakan pada mereka jika kita memiliki hubungan.”


William menghela nafasnya pelan. Ia mengecup sebentar kening sekretarisnya. Kemudian melanjutkan ucapannya.


“Kamu saja belum menerima aku. Jika aku mengatakan sekarang pada mereka, pasti aku akan di tertawakan oleh mereka.” Imbuh pria itu lagi.


“Kenapa di tertawakan?” Tanya Regina kembali mendongak.


“karena— William menjeda ucapannya, ia kemudian melanjutkan dengan nyanyian.


“cintaku bertepuk sebelah tangan.” Potongan bait lagu dari salah satu group band terkenal di ibukota.


Regina mencebik, ia kemudian mencubit pinggang atasannya itu. Di saat serius, pria itu selalu saja melontarkan sebuah lelucon.


.


.


.


Bersambung.