
Nyonya Aurel masih saja memandangi bingkai foto Putri nyonya Karin. Wanita paruh baya itu masih belum menyangka, ternyata waktu telah merubah banyak hal, termasuk penampilan anak sahabatnya itu. Gadis kecil yang dulu selalu ingusan, sekarang berubah menjadi gadis yang sangat cantik.
“Jangan di pandangi terus, Au. Nanti dia keluar dari bingkai itu, lho.” Nyonya Karin berseloroh.
“Kamu yakin dia putri ‘nya Regan, Kar?” Nyonya Aurel kembali bertanya hal yang sama dan entah itu pertanyaan yang sudah ke berapa kalinya.
“Apa maksudmu, Au? Tentu saja dia anakku dan Regan.” Nyonya Karin mulai kesal.
“Kamu meragukan aku?” Tuduhnya pada sang sahabat.
Nyonya Aurel menggelengkan kepalanya.
“Bukan begitu maksudku, Kar. Jangan marah, aku hanya bercanda. Aku masih belum percaya jika putri kalian berubah menjadi sangat cantik seperti ini.”
Nyonya Aurel mengangkat bingkai itu.
Mereka pun kembali mengobrol banyak hal, mulai dari tumbuh kembang anak-anak mereka, hingga ke masa sekarang. Hingga tak terasa waktu berlalu. Para suami mereka pun telah kembali.
Menyadari suaminya datang, nyonya Aurel menyembunyikan bingkai foto yang ia bawa di balik bantal sofa. Ia tidak mau pak Antony melihat wajah putri ‘nya sahabat mereka. Jika pak Antony sampai melihat, pria itu pasti akan mengacaukan rencana nyonya Aurel.
“Kalian terlalu sibuk bergosip, hingga lupa waktu. Ini sudah menjelang sore. Kita perlu makan malam.” Pak Regan berujar sembari menghempaskan bokongnya di atas sofa.
“Tidak perlu repot Gan, kita makan di luar saja, sekalian mencari tempat menginap.” Pak Antony memberi pendapat.
“Lho, kalian menginap disini saja. Kenapa harus mencari penginapan lagi?” Nyonya Karin ikut bersuara.
“Tidak apa-apa, Kar. Lagi pula, selain pulang kampung, tujuan kami kemari juga untuk bulan madu.” Pak Antony menjawab sembari menyeringai. “Iya kan, ma?” Pria itu mencari dukungan dari sang istri, dengan mengedipkan salah satu matanya, memberi sebuah tanda. Mereka tidak mungkin menginap di rumah sahabatnya itu, karena tidak ingin merepotkan.
“Ah, ya. Sudah lama, kami tidak menghabiskan waktu berdua. Antony terlalu sibuk di kantor, dan baru sekarang pensiun.” Nyonya Aurel berpura-pura tersipu, untuk mendukung jawaban sang suami.
Sementara dua orang tuan rumah itu, menganga mendengar ucapan para sahabatnya.
“Ingat umur, Ton. Kamu sudah pantas menjadi kakek.” Tukas pak Regan.
“Aku ingat, Gan. Kamu tenang saja. Kita bermain aman.” Jawab pak Antony tergelak. Mereka berempat pun tertawa bersama. Kemudian keluar dari rumah sesuai keinginan pak Antony, mencari penginapan dan makan malam bersama.
“Oh, ya Gan. Anakmu mana? Kenapa tadi tidak ada di rumah?” Pak Antony bertanya di sela acara makan malamnya. Mereka sudah menemukan penginapan, setelah melakukan check-in, para manula itu lantas mencari tempat makan malam.
“Anak-anak ada, hanya belum waktunya pulang, biasalah para anak muda.” Jawab pak Regan terkekeh.
Pak Antony mengangguk. Lalu kembali melanjutkan acara makan malamnya.
***
Sementara itu, di ibukota. William dan Regina baru saja selesai melakukan lembur. Ini sudah memasuki minggu terakhir dalam satu bulan. Jadi, banyak pekerjaan yang harus di selesaikan.
“Makan malam di luar saja, bagaimana menurutmu, Honey?” Tanya William sembari menyalakan mesin mobilnya.
Regina nampak berpikir sejenak, kemudian ia menganggukkan kepalanya. William kemudian melajukan mobilnya, menuju salah satu restoran yang sering ia kunjungi.
“Apa ini restoran milik mbak Alisha?” Tanya Regina saat mobil mewah itu berhenti di parkiran sebuah restoran mewah.
“Bukan, Honey. Aku bahkan tidak mengenal siapa pemilik restoran ini. Makanan disini enak dan sesuai dengan lidahku.” William menjawab sembari melepas sabuk pengaman yang membelit tubuh kekarnya. Ia kemudian melakukan hal yang sama pada Regina.
“Ayo kita turun.”
Mereka berjalan beriringan, dengan Regina yang mengekor di belakang William. Salah seorang pramusaji yang sudah mengenali William pun, mengantar mereka ke tempat dimana William sering menghabiskan waktunya di restoran itu.
“Pacarnya ya, mas?” Tanya pramusaji itu sembari meletakan daftar menu di atas meja.
“Bukan, tetapi calon istri.” William menjawab dengan serius. Memang Regina bukan pacarnya, tetapi ia yakin, wanita itu akan menjadi istrinya.
Pipi Regina memanas mendengar ucapan William. Di tambah pramusaji yang terus menatapnya dengan senyum usil.
“Pesan yang seperti biasa saja dua porsi. Minumnya jus buah dua, dan air putih dua.” William berucap tanpa membuka buku menu.
Pramusaji itu mengangguk, kemudian undur diri.
“Apa kamu mengenalnya?” Tanya Regina saat hanya tinggal mereka saja di sana.
“Tidak begitu, hanya saja, beberapa kali aku datang kesini, selalu dilayani wanita itu.”
Regina mengangguk, mereka kemudian mengobrol banyak hal, hingga makanan mereka datang.
Setelah selesai menyantap makan malamnya, William dan Regina pun bergegas meninggalkan restoran mewah itu. Namun, langkah mereka terhenti, kala mendapati Alvino di depan mata.
“Sayang?” Ucap pria itu. Ia mendekat ke arah Regina, sontak wanita itu mundur dan bersembunyi di balik punggung William.
“Mau apalagi, kamu?” Bukan Regina, namun William yang bertanya.
“Bukan urusan mu.”
“Tentu menjadi uruskan ku. Jika itu berhubungan dengan sekretarisku.”
Alvino berdecak sebal. Sepertinya, William sudah terlalu jauh ikut campur urusan pribadi Regina. Apalagi, kemarin pria itu ikut memergoki dirinya dan Tamara.
“Kamu sudah terlalu jauh ikut campur urusan Regina.”
William menyeringai. “Karena itu tugas pria sejati, melindungi wanita. Bukan malah menyakitinya dengan sengaja.”
Tangan Alvino terkepal dengan sempurna. Ia ingin sekali menghajar pria di hadapannya ini, namun mengingat mereka sedang berada di tempat umum, Alvino pun berusaha menahan emosinya.
“Pak, ayo kita pergi.” Ucap Regina dari balik punggung William.
Pria itu mengangguk, meraih tangan Regina, dan membawanya keluar dari restoran itu.
Melihat hal itu, Alvino semakin terbakar amarah. William baru saja hendak mebuka pintu mobilnya, namun tubuh pria itu tertarik ke belakang, dan sebuah pukulan pun mendarat tepat di rahangnya.
“Kurang ajar.” Alvino meraih kerah kemeja yang William gunakan. Kemudian kembali melayangkan pukulan.
“ALVINO STOP!!”
Regina berteriak. Ia menarik tubuh Alvino, kemudian berdiri melindungi William yang tengah terhuyung akibat serangan Alvino.
“Jangan melindunginya, Re. Aku akan mengajar pria kurang ajar itu, karena telah berani memegang tanganmu.”
“Cukup Alvino!!” Regina menaikan tangannya di depan dada.
“Apa aku menjambak selingkuhan mu? Tidak kan? Jadi untuk apa kamu menghajar atasanku? Kamu marah hanya karena dia memegang tanganku? Lalu bagaimana dengan kamu?” Regina menunjuk tepat di depan wajah mantan kekasihnya itu.
“Aku melihat dengan mata kepalaku sendiri, kamu berbagi peluh dengan sekretarismu itu, tetapi aku tidak memukul wanita itu. Karena bagiku itu hanya membuang waktuku,”
“Re, aku bisa menjelaskan.”
“Cukup!!” Wanita itu kembali menaikan tangannya, pertanda tidak mengijinkan pria itu berbicara.
“Aku sudah menganggap hubungan kita berakhir, saat pertama kali aku melihat mu dan sekretaris mu, bergulat di hari jadi kita. Jadi, sekarang aku mohon, tolong, berhenti menganggu aku.” Regina membalik tubuhnya. “Biar aku yang menyetir.” Ia mengambil kunci mobil dari tangan William. Kemudian mereka memasuki mobil dan pergi dari parkiran restoran itu.
Alvino mematung di tempatnya. Ia kini telah kehilangan kekasihnya.
Plak!!!
Pria itu terlonjak, matanya membulat sempurna, kala sebuah tamparan mendarat di pipinya.
“Mama?” Ucap pria itu nyaris tak terdengar.
“Apa yang di katakan Regina tadi itu benar?” Nyonya Mahendra meraih kerah kemeja sang putra. Ia ikut terbakar amarah, ketika mendengar semua yang di ucapkan oleh Regina.
“Katakan, Al. Apa yang mama dengar tadi itu benar?” Wanita paruh baya itu menguncang tubuh sang putra. Namun, Alvino hanya diam, menundukkan kepalanya.
Ya, Alvino datang ke tempat makan itu bersama sang mama. Namun, tadi ketika ia melihat Regina, sang mama sedang pergi ke toilet. Dan kini, wanita paruh baya itu pun tau semuanya.
“Ma.” Alvino seolah susah untuk berbicara, lidahnya terasa sangat kelu.
“Mama kecewa denganmu, Al.” Wanita itu pun pergi meninggalkan sang putra.
.
.
.
Bersambung.