BOSS WITH BENEFIT

BOSS WITH BENEFIT
Bab. 124. Minum Apa?



“Apa harus pergi ke pesta itu?”


Tanya Reka pada Willona yang sedang mematut diri di depan meja rias. Pulang dari pemotretan, gadis itu menumpang mandi dan berganti pakaian di apartemen Reka, karena jaraknya lebih dekat.


“Hmm.”


“Bukannya kamu bilang, yang membuat pesta itu sainganmu? Kenapa repot-repot untuk datang?”


Reka seperti tidak ikhlas jika gadis itu pergi. Ia dapat membayangkan, orang-orang yang datang ke pesta itu.


“Jika aku tidak datang, dia akan semakin bersikap buruk padaku.” Jawab Willona tanpa melihat lawan bicaranya, tangan gadis itu sibuk memoles wajah dengan riasan yang tidak begitu menor.


Reka kemudian mendekat, lalu mendekap tubuh pujaan hatinya dari belakang.


“Perasaan ku tidak enak.” Ucap pria itu kemudian.


Willona terkekeh. Ia kemudian menghempas tangan pria itu. Membalik badannya, lalu menangkup kedua pipi dokter muda itu.


“Aku hanya pergi ke pesta, bukan pergi berperang.” Ia kemudian melabuhkan kecupan singkat pada bibir pria itu.


Reka pun hanya mampu membuang nafas kasar.


“Akhir pekan nanti, bagaimana jika kita pulang kampung? Aku akan mengambil cuti dua hari dari rumah sakit.”


“Mm, aku juga sudah lama tidak pulang ke kampung halaman mama.” Jawab gadis itu dengan anggukan kepala.


Pria itu kemudian mengambil jaket kulit di dalam lemari untuk di pakainya.


“Mau kemana?” Tanya Willona memicingkan matanya.


“Mengantarmu.” Jawab Reka singkat.


‘Astaga, dia posesif sekali.’ Adik William itu menganga melihat tingkah dari adik kakak iparnya.


Willona pun mengikuti langkah pria itu, keluar dari kamar menuju parkiran.


Menempuh perjalanan kurang lebih lima belas menit, mereka pun tiba di tempat tujuan.


“Hubungi aku jika terjadi sesuatu.” Pesan Reka ketika membukakan sabuk pengaman untuk sang pujaan hati.


Willona kembali menghela nafasnya. Belum menjadi suami saja, pria ini begitu posesif dengannya. Apalagi sudah menjadi suami, jangan sampai Reka membatasi ruang geraknya.


Gadis itu hanya mengangguk, kemudian keluar dari dalam mobil.


Setelah melihat sang pujaan hati memasuki tempat pesta, Reka pun memarkirkan mobilnya di tempat parkir.


Ia tidak kembali pulang. Entah kenapa perasaan pria itu tidak enak. Maka ia memutuskan menunggu Willona di parkiran.


Willona memasuki tempat pesta dengan rasa malas. Benar yang di ucapkan Reka, harusnya ia tidak datang ke pesta itu.


Si pemilik acara merupakan saingannya di dunia model.


“Datang sendiri, Na?” Tanya salah seorang model yang datang mendekat.


“Ya.” Jawabnya singkat. Ia memang tidak begitu mendekatkan diri dengan teman sesama modelnya. Menurut adik William itu, tak ada yang tulus berteman dengannya.


Willona berjalan ke arah dimana pemilik acara sedang berdiri bersama teman-temannya. Ia sengaja menampakkan diri, agar saingannya tau, kalau dirinya datang menghadiri pesta.


“Aku kira kamu tidak akan datang, Na.” Ucap si pemilik acara. Mereka saling membenturkan pipi kanan dan pipi kiri.


“Tidak ada alasan untuk tidak datang.” Jawab Willona bersikap sopan.


“Lihat, Bobby juga datang.” Salah satu teman pemilik acara berucap. Pria yang disebutkan namanya itu adalah mantan kekasih Willona.


“Dia bersama wanita baru lagi. Apa kalian benar-benar sudah putus, Na?”


“Hmm.” Willona menanggapi dengan anggukan kepala.


“Kemana saja, kamu. Willona kan sudah punya pacar baru. Lebih tampan dari Bobby.” Teman yang lain ikut bersuara.


Willona hanya menanggapi dengan malas.


Hampir satu jam pesta berlangsung. Tiba-tiba Bobby datang mendekati Willona dengan membawa dua gelas minuman.


“Apa kabar, sayang?” Tanya pria itu sembari menyodorkan satu gelas pada Willona.


Menghela nafas kasar, Willona pun menerima gelas itu. Kemudian meneguk isinya.


“Seperti yang kamu lihat, aku baik-baik saja.”


Willona tak menghiraukan pria dihadapannya. Ia memilih memainkan ponsel demi mengusir rasa jenuh.


Hingga lima belas menit berlalu, Willona merasakan ada yang aneh dengan tubuhnya.


“Mau kemana, sayang?” Tanya Bobby saat Willona beranjak dari tempatnya.


“Bukan urusanmu.”


Gadis itu pergi ke toilet untuk mencuci wajahnya. Ia merasa buliran keringat mulai keluar dari pori-pori kulit.


“Ada apa denganku?” Gumamnya sembari mengibaskan tangan di depan wajah.


Willona merasa semakin tidak nyaman. Ia merasakan tubuhnya semakin aneh. Belum pernah sebelumnya seperti ini.


“Reka.”


Gadis itu pun merogoh ponsel dalam tas kecil yang ia bawa.


“Sayang? Apa sudah selesai?”


“Reka tolong, a-aku.”


****


Reka mengemudi dengan tidak tenang. Bagaimana bisa tenang, sementara gadis di sampingnya berprilaku aneh. Willona menyingkap dress yang ia gunakan. Sehingga menampakkan celana pendek di dalamnya.


Untung saja pria itu masih berada di parkiran, sehingga dengan cepat bisa menolong Willona. Jika tidak, entah apa yang akan terjadi pada gadis itu, dan apa yang akan ia katakan pada keluarga Sanjaya.


“Kamu minum apa tadi?” Tanya pria itu curiga.


“Aku..sshh.. minum? Si-al.. ini pasti ulah Bobby.” Gadis itu menggeliat bagaikan cacing kepanasan.


“Bobby? Jadi pria itu juga ada disana?” Reka tentu tau siapa nama yang di sebut oleh Willona.


Kepala Willona mengangguk.


“Si-al.” Pria itu ikut mengumpat. Bobby pasti memberi Willona obat, sehingga gadis itu kepanasan seperti sekarang.


“Reka…ssst..” tiba-tiba Willona sudah bergelayut manja pada lengan dokter muda itu.


“Sayang, tenang lah, sebentar lagi kita sampai di apartemen.”


“Hmm.” Gadis itu tak menanggapi, ia kini sibuk menghirup cerukan leher Reka.


“Si-al.”


Sesampai di apartemen, Reka membawa Willona kedalam bak mandi. Ia merendam tubuh gadis itu dengan air dingin, membuat adik William itu memekik.


“Berendam lah. Supaya efek obatnya segera hilang.”


Willona hanya menganggukkan kepala. Ia sudah tidak dapat mengontrol dirinya sendiri.


Reka kembali ke kamar, memungut isi tas Willona yang tercecer di lantai kamar.


Ia kemudian menghubungi rekan sesama dokter. Menanyakan bagaimana cara mengatasi orang yang dalam pengaruh obat perang*sang.


“Aku sudah merendam tubuhnya. Semoga saja itu bisa memban— belum selesai pria itu berbicara, ia merasakan sepasang tangan melingkar di pinggangnya. Reka kemudian memutus panggilan secara sepihak.


“Sayang, apa yang kamu lakukan?” Pria itu dapat merasakan punggungnya basah. Meski masih terbalut kaos. Karena jaket kulitnya tertinggal di dalam mobil.


“Reka, bantu aku. Aku tidak kuat.” Suara gadis itu terdengar berat. Seketika membuat Reka membalik badan.


‘Jika dia meminum obat dosis rendah, berendam dengan air dingin saja bisa menghilangkan efeknya. Tetapi, jika dia meminum dosis tinggi, tidak ada cara lain selain berhubungan badan.’


Melihat wajah Willona yang begitu sayu. Membuat Reka kembali teringat ucapan temannya tadi.


“Sayang—mmmpptt.”


.


Bersambung.


“Hallo teman Readers, aku mau numpang promo. Aku ada novel baru, yang berjudul “CINTA BEDA KASTA.”


“Yang berkenan mampir ya. Aku udah up dua bab. Kalau tidak ketemu, klik saja profil aku. Nanti pasti ketemu disana. Di tunggu kedatangannya teman-teman. Terimakasih ❤️”