BOSS WITH BENEFIT

BOSS WITH BENEFIT
Bab. 54. Bagaimana Bisa?



“Bagaimana bisa hamil, Ta?” Alvino mencengkeram setir dengan kuat, hingga buku tangan pria itu menonjol.


Pria yang sedari tadi hanya diam saat dokter menjelaskan tentang hal-hal yang berhubungan dengan kehamilan. Kini tak dapat lagi membendung amarahnya. Ia sudah mewanti-wanti sekretarisnya itu agar tidak hamil. Tetapi, sekarang malah begini. Dapat Alvino bayangkan bagaimana reaksi kedua orang tuanya. Pasti akan semakin murka.


“Katakan Tamara Pradipta!!” Suara Alvino menggelegar di dalam mobil. Untung saja, semua kaca jendela mobil itu tertutup rapat. Sehingga, suara Alvino tidak sampai terdengar keluar.


Kepala Tamara menggeleng. Ia hanya mampu menunduk sembari terisak. Ia juga tidak menyangka, bagaimana dirinya bisa hamil padahal ia mengonsumsi obat pencegah kehamilan.


Deg..


Tamara tersentak, kala ia teringat dengan obat pencegah kehamilan yang selalu ia minum. Dan, astaga.. bahkan ia lupa kapan terakhir kali mengonsumsi obat itu.


“A-aku..” suara Tamara tercekat di tenggorokan. Ia takut Alvino akan mengamuk lagi.


“Si-al.” Pria itu memaki sembari memukul setir mobilnya, mereka masih berada di parkir rumah sakit.


Alvino kemudian melajukan mobilnya, memacu dengan kecepatan tinggi. Emosi kini memenuhi hati dan kepalanya.


“A-al.. pelan-pelan.” Tamara perpegangan pada sisi mobil.


“Kenapa? Apa kamu takut terjadi sesuatu dengan bayi dalam perutmu?” Alvino menyeringai, membuat Tamara bergidik ngeri. Ini bukan Alvino yang ia kenal.


“Al, aku mohon.”


Hanya beberapa menit saja, mereka sudah tiba di parkiran gedung apartemen yang di tempati oleh Tamara.


“Keluar!!” Perintah Alvino tanpa menoleh pada wanita yang duduk di sampingnya. Namun, Tamara tak bergeming.


“Aku katakan sekali lagi, cepat keluar!! Atau kamu mau aku bawa ngebut lagi?” Alvino mencebik. Ia siap menginjak pedal gas dengan kecepatan penuh. Namun, Tamara menolak.


“Ba-baik lah, a-aku keluar.” Wanita itu terbata.


“CEPAT!!” Pria itu kembali berteriak. Emosi sudah tidak dapat di bendung lagi.


Setelah Tamara berada di luar, Alvino pun kembali melajukan mobilnya. Dan Tamara yang melihat itu, hatinya merasa teriris sembilu. Lebih menyakitkan daripada saat Alvino menyebut nama Regina saat mereka ber*cinta.


“Kamu tidak menginginkan anak ini, Al?” Gumam Tamara sembari mengusap perutnya.


Dengan langkah gontai, wanita itu kembali ke unit yang di tempatinya.


“Kenapa kamu harus hadir? Hadir mu hanya membuat Alvino marah, bahkan membenci ku.”


Tamara seolah berbicara dengan jabang bayi yang ada di perutnya. Tubuhnya luruh di atas lantai. Dunia Tamara kini benar-benar hancur. Kehilangan neneknya, bahkan ia juga mungkin akan kehilangan Alvino.


Tangis wanita itu pun semakin menjadi. Ia meraung di dalam unit apartemennya sendirian. Sendiri meratapi kebodohannya, andai ia tidak lupa meminum obat itu. Alvino tidak mungkin semarah ini padanya.


Padahal, sebelum ke rumah sakit tadi, Alvino begitu perhatian kepadanya. Namun, semuanya berubah saat dokter mengatakan jika dirinya hamil. Tidak ada sedikitpun raut kebahagiaan dari wajah pria itu.


****


“Will, besok ada undangan jamuan makan malam dari PT. Adi Karya. Apa kamu akan datang?” Regina bertanya kepada sang atasan yang tengah sibuk berkutat dengan tumpukan map di atas meja kerjanya. Sementara, wanita itu duduk di atas sofa, sembari memangku laptopnya.


William nampak berpikir sejenak. “Kita datang bersama.” Jawab pria itu kemudian.


“Aku?” Regina menunjuk dirinya sendiri.


“Iya, Honey. Bukannya mereka mengundang kita berdua?”


Regina mengangguk. Ia kemudian melanjutkan pekerjaannya. Tanpa ia sadari, William sudah duduk di sampingnya.


“Aku merindukan mu.” Ucap pria itu yang tiba-tiba mendekap tubuh Regina. Wanita itu tersentak. Hampir saja menjatuhkan komputer lipatnya.


“Jangan berlebihan, kita bertemu setiap hari.”


Regina menggelengkan kepalanya. Ia lupa jika atasannya ini adalah mantan Casanova.


“Aku lupa jika kamu adalah mantan Casanova.”


Mata William membulat. Ia tidak terima dikatakan seperti itu.


“Tidak ada yang seperti itu, Honey. Jangan mengada-ada.”


Regina terkekeh, mereka kembali melanjutkan pekerjaan masing-masing.


“Mau makan siang apa, bos?” Tanya Regina saat jam makan siang tiba.


“Dirimu.” Jawab William tanpa mengalihkan pandangan dari berkas yang ada di atas meja kerjanya.


“Aku serius, Will.”


“Apa saja. Minta OB yang belikan. Aku tidak bisa keluar. Kamu tau kan, ini deadline.”


“Baiklah, bos.”


Regina meminta salah satu OB membeli makan siang untuk mereka berdua. Menunggu hingga 20 menit, seorang OB datang membawa dua porsi makanan.


Saat hendak menyajikan, William meminta Regina menyiapkan dalam satu tempat saja. Pria itu meminta sang sekretaris menyuapinya. Karena ia harus menyelesaikan pekerjaan dengan cepat.


Regina menurut, makanan yang tadinya dua porsi, ia tempatkan dalam satu piring. Kemudian, ia menyuapi sang atasan dan sesekali menyuapi dirinya sendiri.


Waktu berlalu, jam pulang kantor pun tiba. William meminta Regina pulang sendiri, karena ia harus ke rumah sang papa untuk membawa beberapa dokumen.


William tiba di kediaman orang tuanya. Saat salah seorang asisten rumah membukakan pintu untuknya, ia tak mendapati salah satu keluarganya.


“Dimana semuanya?” Tanya William kepada asisten rumah.


“Bapak ada di atas, tuan. Ibu ada di ruang keluarga. Nona Willona belum pulang.” Jawab asisten rumah itu.


William mengangguk. Ia kemudian berlalu, hendak menyapa sang mama yang katanya berada di ruang keluarga


“Oh ya? Jadi minggu depan kalian mau datang ke kota?” Ucap Aurel yang sedang melakukan panggilan telepon.


William yang mendengar itu, sengaja memelankan laju kakinya. Ia ingin tau, dengan siapa sang mama berbicara.


“Kalian tidak perlu mencari tempat menginap. Tinggal di rumah kami. Katakan pada Regan, tak perlu membayar biaya menginap.” Ucap nyonya Aurel terkekeh.


“Aku akan mempertemukan kalian dengan William. Calon menantu kalian.” Lanjut wanita paruh baya itu.


Mendengar nama pak Regan di sebut, William tau, pasti sang mama sedang berbicara dengan istri pria itu.


‘Jadi mama benar-benar serius ingin aku bersama anak om Regan? Maaf ma, mama boleh berencana, tetapi akulah yang menentukan jalan hidupku.’


Pria itu mencebik. Ia tidak jadi menyapa sang mama. William memutar langkah, menuju tangga untuk langsung bertemu dengan sang papa.


“Teruslah berencana, ma. Tetapi, aku hanya akan menikahi Regina seorang. Bukan gadis ingusan itu.”


.


.


.


Bersambung.