BOSS WITH BENEFIT

BOSS WITH BENEFIT
Bab. 62. Aku Juga Mencintaimu.



Regina menatap nyalang pria yang tengah duduk di atas sofa, di dekat lantai dansa. Wanita itu tau kemana harus mencari William. Dan benar saja, pria itu kini berada di klub malam miliknya, dan sedang menenggak minuman beralkohol.


Seorang wanita dengan pakaian kekurangan bahan mendekat ke arah William. Pria itu nampak tak menanggapi, namun saat wanita itu mencoba mendekat, William dengan serta merta mendorong wanita itu hingga jatuh terjengkang.


Meski hatinya terasa tercubit, namun Regina tak kuasa menahan senyumnya. Ia pun mendekat ke arah sofa itu.


“Maaf, mbak. Biar dia aku yang urus. Dia atasanku.”


Wanita dengan pakaian kekurangan bahan itu mendengus kesal. Ia kemudian meninggalkan kedua orang itu.


“Jangan mendekat.” Tangan William terangkat. Ia tidak mau ada orang yang mendekatinya.


Pria itu kemudian meneguk minuman langsung dari botolnya.


“Kamu sudah mabuk, Will.” Regina melihat, dua buah botol telah kosong di atas meja. Ia tau, William bukanlah pria yang kuat minum, minuman beralkohol. Pria itu kini sudah sangat mabuk.


“Diam.. suara mu mengingatkan ku pada seseorang…. Cinta ku… tetapi dia ternyata gadis ingusan itu…” William bicara putus-putus. Tangannya pun ikut naik turun tak karuan.


“Sudah, ayo kita pulang.” Regina merengkuh bahu pria yang kini di ambang kesadarannya itu.


“Hei, jangan menyentuhku. Aku sudah mempunyai calon istri. Pilihan orang tuaku. Wanita yang sangat cantik. Tetapi dia waktu kecil ingusan…. Meler…” Ucap William sembari bergidik.


“Sudah cukup, Will.” Regina mencegah tangan William yang hendak meraih botol di atas meja.


“Beraninya, kamu— William menoleh ke arah wanita di sampingnya dengan tatapan sayu. Pria itu kemudian terkekeh. “Lihatlah… tak hanya suara mu yang mirib dengan cintaku… tetapi…. Wajahmu juga…” tangan William terulur hendak menyentuh wajah wanita itu, namun ia urungkan.


“Ah tidak, tanganku… tidak boleh menyentuh wanita lain…. Hanya boleh menyentuh….. cintaku….”


William menyandarkan punggungnya pada sandaran sofa. Kepalanya menengadah ke atas, dengan mata terpejam.


“Regina… kenapa… harus kamu gadis kumal dan ingusan itu… aku cinta sama kamu… Regina…” pria itu terus merancau. Hatinya kini tak baik-baik saja. Ia berencana memberi kejutan pada kedua orang tuanya, namun justru dia lah yang di berikan kejutan.


“Gadis ingusan itu…..”


Regina merasa jengah mendengar ucapan William, dengan berani, ia membungkam bibir William dengan bibirnya sendiri.


“Hmmmppttt.” William memberontak. Ia mendorong tubuh Regina begitu saja.


“Si-al. Beraninya kamu menciumku.. bibirku milik cintaku Regina… kurang ajar kamu…” pria itu mengusap kasar bibirnya sendiri dengan tangan. Ia tidak mau ada bekas wanita lain yang tertinggal di bibirnya.


“Regina bisa marah jika tau aku bersama wanita lain.” William kemudian mencoba bangkit, namun tubuh pria itu terhuyung.


“Jangan menyentuhku.” Peringatnya saat Regina mencoba merangkul tubuhnya.


Regina membuang nafasnya pelan. Meski ia merasa senang karena William begitu menjaga dirinya dari wanita lain, namun ia juga merasa sangat kesal. Ingin sekali memukul kepala William supaya pria itu menurut.


“Ada yang bisa aku bantu, nona?” Jimmy datang mendekat, dan menawari bantuan. Membuat Regina bisa bernafas lega.


“Pak Jimmy, bantu aku bawa dia ke mobil. Dia mabuk berat.”


“Baik, nona.” Jimmy pun merengkuh tubuh atasannya. Ia yang biasa bertugas di klub, tanpa sengaja melihat William yang sedang menolak Regina, maka ia pun berinisiatif mendekat.


Regina mengambil blazer William yang tergeletak di atas sofa. Wanita itu merogoh saku baju itu, untuk mencari kunci mobil yang William kendarai.


“Pak, mobilnya di sana.” Tunjuk Regina ke arah mobil yang terparkir.


“Apa perlu aku yang menyetir, nona?”


“Tidak perlu, pak. Biar aku saja.”


“Tapi nanti di apartemen bagaimana, nona?”


“Aku akan memaksanya.”


Jimmy pun menurut. Ia memasukkan tubuh William ke dalam mobil di bangku belakang.


“Ada apa lagi dengannya? Bukan kah mereka tinggal bersama? Bertengkar atau ketahuan selingkuh?” Jimmy bermonolog sembari menatap mobil Roll-Royce Ghost milik William yang melaju keluar meninggalkan basemen klub malam itu.


****


“Pak, tolong bantu aku.” Regina mendekati penjaga keamanan yang bertugas di parkir bawah tanah, gedung apartemen yang William tempati.


“Ada apa, nona?”


“Tolong, bantu aku bawa William ke atas.”


Penjaga keamanan yang tau siapa itu William, pun menganggukkan kepalanya.


Ia memapah tubuh lemas William, sementara Regina mengikuti dari belakang.


“Terima kasih, pak.” Ucap Regina tulus, setelah tubuh tak berdaya itu tergeletak di atas tempat tidur. Regina mengantar penjaga keamanan itu hingga pintu utama, kemudian menguncinya.


“Apa… yang… kamu… lakukan…?” William mencekal pergelangan tangan Regina yang hendak membuka kancing kemeja yang pria itu gunakan.


“Jangan…. Menyentuhku….aku milik Regina…”


Regina hanya mampu membuang nafasnya kasar.


“Apa kamu begitu mencintai Regina? Sehingga kamu seperti ini?” Terlintas ide di benak Regina untuk mengulik isi hati pria itu. Ia juga ingin tau, kenapa William begitu membenci putri pak Regan.


“Aku…. Aku… sangat, sangat, mencintainya… tetapi…. Dia tidak… dia mencintai si rahwana.. pria br*ngs*k yang sudah menduakannya…”


Tubuh William menggeliat. Pria itu dengan susah payah bangkit. Kemudian menyandarkan punggung pada kepala tempat tidur.


“Aku ingin… dia…Menjadi milikku… hanya aku…” William kembali berucap dengan kepala yang menunduk.


“Lalu, kenapa kamu mabuk begini?”


“Aku?— menunjuk dirinya sendiri. “Mabuk? Tidak… aku hanya terlalu banyak minum…” jawab William sembari terkekeh.


“Aku,, aku belum siap… kenapa… harus Regina… putri… om Regan…” suara William melemah. Tubuhnya kemudian jatuh ke tengah tempat tidur.


“Kenapa kamu membenci putri om Regan?”


“Aku… aku…. Tidak membencinya… hanya.. hanya saja… dia… gadis kumal, dekil, gigi ompong… dan.. dan kamu tau…” pria itu kembali menegakkan tubuhnya.


“Ingus dia…. Meler….”


Regina menggelengkan kepalanya. Ia mengambil kesimpulan, jika William tidaklah membencinya, namun, pria itu mungkin merasa geli melihat tampilan Regina waktu masih kecil.


“Kumal, dekil, gigi ompong, ingusan. Bagaimana jika sekarang dia menjadi cantik, dan se*si?”


“Itu… itu… tidak mungkin….”


Tubuh William kembali ambruk. Dan Regina hanya bisa pasrah, ia kemudian melanjutkan membuka kemeja pria itu.


“Sudah aku katakan, jangan menyentuhku.”


William menarik, kemudian mengukung Regina di bawahnya. Mata pria itu terbuka, meski masih sangat sayu.


“Kamu,.. siapa… kamu….? Kenapa… wajah cantik.. cintaku….?”


“Aku Putri om Regan.”


“Cih.. omong kosong. Kamu bukan Regina, kamu bukan cinta ku. Aku akan memberi kamu pelajaran karena kamu telah berani menyentuhku.”


Sedetik kemudian, William pun menyatukan bibir mereka berdua. Pagutan yang sangat kasar, membuat Regina kesulitan mengimbanginya.


Lama mereka berpagutan, hingga tanpa di sadari, semua kain yang menempel pada tubuh mereka, telah berserakan di atas lantai.


“Si-al. Aku baru saja selesai bermain dengan cintaku. Tetapi, tetapi kamu membuatku ingin lagi. Siapa kamu sebenarnya?” William mencengkeram kedua pipi Regina dengan satu tangannya.


“Aku putri Om Regan.”


“Omong kosong.”


Pria itu kemudian memaksa boy terbenam di bawah sana. Membuat Regina tersentak.


“Will—hhpppmmtt”


“Kamu putri Om Regan bukan? Mama ingin aku menikahi mu. Baiklah. Aku akan menghamili mu.” Pria itu bergerak dengan cepat.


“Akh, tidak ssshh… kamu tidak boleh hamil. Aku.. hhh.. hanya akan menghamili… Regina.”


William terus saja merancau.


“Hhh hanya Regina,, yang boleh mengandung anak ku hh.. si-al.. kenapa.. rasa kalian sama… hhh” William menekan semakin dalam, hingga tak dapat ia hindari, boy memuntahkan semuanya di dalam.


“Aku mencintai Regina.”


Tubuh pria itu ambruk di atas tubuh Regina, seiring kesadarannya yang perlahan menghilang.


“Aku juga mencintaimu.”


.


.


.


Bersambung.