BOSS WITH BENEFIT

BOSS WITH BENEFIT
Bab. 104. Tidak Mau Berdiri.



Di sore hari, setelah mengunjungi calon buah hatinya, William mengajak sang istri untuk jalan-jalan. Pria itu mengerti, wanita hamil tidak boleh setres, jadi sebisa mungkin, ia ingin memanjakan Regina.


“Kita Mau kemana, dad?” Tanya Regina saat mobil telah meninggalkan kompleks perumahan.


Tadi sang suami hanya mengatakan akan pergi jalan-jalan, tanpa memberitahu kemana tujuannya.


“Kamu mau kemana dulu? Shopping? Atau makan? Terserah. Kita nikmati hari ini.” Ucap William yang tengah fokus menyetir. Namun, saat bicara ia menoleh sebentar ke arah sang istri.


Regina tersenyum mendengar ucapan sang suami. Kata Terserah yang terlontar dari bibir pria itu, akan ia manfaatkan dengan baik.


“Shopping dulu, dad.” Putusnya dengan cepat. Waktu masih sore. Terlalu cepat jika makan malam sekarang.


“As you wish, Honey.” William kemudian melajukan mobil mewahnya menuju pusat perbelanjaan.


Tiga puluh menit berkendara, mobil mereka pun memasuki pelataran gedung bertingkat lima. Laju mobil melambat, ketika akan menuju ke arah parkir bawah tanah gedung itu.


“Ada apa, dad? Apa tidak tempat parkir?” Regina bertanya sembari menatap ke luar jendela mobil.


“Mm, Hon. Kita ke tempat belanja yang lain saja bagaimana?” Tanya William meragu.


“Memangnya kenapa, dad?” Tanya Regina dengan alis yang hampir menyatu.


“Aku teringat terakhir kali kita kemari, dan berakhir dengan berebut susu hamil.” Jawab William sembari menghela nafas panjang.


Ya, pusat perbelanjaan yang mereka datangi adalah salah satu bisnis milik Edward Hugo, di bawah naungan Hugo Group.


“Aku kira apa?” Regina menggeleng pelan.


“Sudah, tempat ini luas. Tidak mungkin bertemu pria itu lagi.” Lanjut wanita yang tengah hamil itu.


William kembali menghela nafas panjang. Ia tak mungkin membantah ucapan sang istri, karena bisa membuat wanita hamil itu akan marah.


Mobil telah terparkir dengan sempurna. Pasangan suami istri itu pun melangkah dengan bergandengan tangan.


Mereka pun telah berada di dalam gedung pertokoan. Sebenarnya tidak ada yang ingin Regina beli, ia hanya ingin melihat-lihat saja. Jika ada yang menurutnya bagus dan menarik perhatian, baru akan di pertimbangan untuk di bawa pulang.


“William?” Terdengar suara feminin menginterupsi sepasang suami istri yang tengah memilih piyama tidur berpasangan.


Tangan Regina yang hendak mengambil pakaian itu pun menggantung di udara. Kepala wanita hamil itu ikut menoleh ke arah sumber suara.


Alis William berkerut menatap wanita cantik yang kini tengah memandanginya dengan senyum menawan. Pria itu mengingat-ingat siapa kiranya makhluk cantik yang mengenalinya itu.


Beberapa saat kemudian, mata William membulat sempurna, kala ia ingat siapa wanita itu.


‘Gawat, bisa terjadi perang dunia ketiga, jika mereka berdua saling bicara.’


“Siapa dia, dad?” Tanya Regina mulai curiga saat melihat ekspresi sang suami.


“I-itu, itu dia—.”


Belum selesai William berbicara, wanita cantik itu mendekat ke arah mereka berdua.


“Ternyata kamu benar William. Apa kabar?” Wanita itu meraih tangan William kemudian membenturkan pipi kiri dan kanannya pada pipi William.


Kini, giliran Regina yang membulatkan matanya melihat aksi wanita itu.


“Kenapa, Will? Jangan katakan jika kamu sudah lupa padaku?” Ucap wanita itu.


“Aku? Ya, aku lupa.” Jawab William kemudian.


“Dia siapa, Dad?” Tanya Regina sekali lagi. Wanita hamil itu masih mencoba tenang. Mungkin, wanita cantik itu adalah teman sekolah sang suami dulu.


Wanita cantik itu menatap ke arah Regina. Ia sedikit tersentak, kala mendengar wanita itu memanggil William dengan sebutan ‘dad.’


“Hai, aku Stella.” Wanita itu mengulurkan tangan ke arah Regina. Dan William, pria itu gelagapan, kala sang istri menyambut uluran tangan itu begitu saja.


“Aku Regina. Istrinya William.” Jawab wanita hamil itu sembari tersenyum.


Kedua alis wanita yang mengaku bernama Stella itu terangkat saat mendengar Regina menyebut sebagai istri William.


“Istri William?” Ulangnya tak percaya.


“Ya.” Jawab Regina sembari menganggukkan kepalanya.


Stella menggeleng tak percaya, ia kemudian mendekat ke arah Regina, meraih lengan wanita hamil itu, kemudian menyeretnya sedikit menjauh dari William.


“Kamu serius istrinya?”


Regina berdecak kesal. Ia kemudian melepas cincin kawin yang melingkar di jarinya. Kemudian menunjukkan pada Stella.


Mulut wanita cantik itu menganga sempurna. Namun dengan cepat ia mengatupkannya lagi. Nama William terukir indah di dalam benda berbentuk bulat itu.


“Aku tak percaya ini.” Ia mengembalikan cincin itu pada Regina.


“Apa kamu bahagia menikah dengan William?” Tanya Stella setelah Regina selesai memakai kembali cincin kawinnya.


“Tentu saja. Aku sangat bahagia.” Regina menatap sang suami. “Iya kan, dad?”


William pun mendekat. “Tentu saja.” Sembari merangkul pinggang sang istri.


“Kalian pasti bohong. Aku tebak, setiap malam kalian pasti bertengkar.” Ucap Stella meremehkan.


Alis Regina berkerut mendengar ucapan wanita itu. “Apa maksudmu?” Tanyanya kemudian.


Stella kembali mendekat dan berbisik. “Itu, punya suamimu kan loyo. Aku yakin, kamu pasti tidak pu-as dengan pelayanan yang diberikan olehnya.”


Mata Regina membulat sempurna. Stella tau tentang kelemahan sang suami, itu artinya wanita iti adalah salah satu dari mantan ‘jasa mulut’ pria itu.


“Kamu—.” William mengeram marah. Tangannya terkepal dan ingin sekali melayangkan sebuah tinjuan.


“Jadi kamu salah satu mantan partner suamiku?” Tanya Regina berusaha untuk tenang. Bagaimana pun, ia sudah tau tentang masa lalu sang suami.


Stella menganggukkan kepalanya. Ia menoleh ke kanan dan ke kiri, memastikan tak ada orang di sekitar mereka.


“Iya, tetapi sampai mulut ku berbusa pun, milik suami mu tidak mau berdiri tegak.” Ucap Stella sembari melirik bawah perut William.


Hal itu membuat William semakin geram. “Kurang ajar, kamu.”


“Ops.. maaf. Tetapi aku bicara kenyataan bukan.” Wanita itu terkekeh.


“Ya, memang milik suami ku tidak mau berdiri tegak. Kamu tau kenapa? Itu karena dia di sentuh oleh wanita sembarangan. Tetapi tidak dengan ku, saat bersama ku, dia akan berdiri sangat kokoh.” Ucap Regina panjang lebar. Sebenarnya ia jengah membahas masalah seperti ini dengan orang lain, apalagi orang yang tak ia kenali. Namun, mengingat wanita itu meremehkan suaminya, maka Regina merasa perlu menyombongkan diri.


“Tidak perlu berbohong, Regina. Aku mengenal William lebih dulu.” Stella berbicara sembari mengibaskan tangannya.


Regina mencebikan bibirnya. “Untuk apa aku berbohong, jika buktinya sudah ada.” Wanita itu mengelus perutnya yang sedikit membuncit di bagian bawah karena sudah memasuki bulan kedua masa kehamilan.


Stella hanya mampu menganga. “Itu tidak mungkin.” Gumamnya yang masih di dengar oleh sepasang suami istri itu.


“Itu kenyataannya. Dan asal kamu tau, yang istriku ucapkan benar adanya. Milikku, hanya akan berdiri saat bersama dia. Jadi, jangan pernah mengira jika kamu tau betul tentang aku. Karena, yang lebih tau tentang aku, hanya diriku dan istriku.” William kemudian merangkul pinggang sang istri, lalu membawanya keluar dari toko itu.


“Dad, aku mau membeli piyama berpasangan itu.” Regina tak mau di ajak keluar. Ia kembali menoleh ke belakang, namun tak dapat melihat piyama itu.


“Kita beli di tempat lain. Aku kehilangan selera di tempat itu karena si pengharum ruangan itu.” William terus merangkul sang istri hingga melewati beberapa toko.


“Pengharum ruangan?” Regina tak mengerti ucapan sang suami.


“Iya. Wanita tadi. Siapa namanya?”


“Stella.” Jawab Regina dengan cepat.


“Nah, bukannya itu merk pengharum ruangan?”


Regina menganga mendengar jawaban sang suami.


“Astaga, daddy.” Ia memukul lengan sang suami, karena merasa gemas mendengar lelucon pria itu. Mereka pun tergelak bersama.


.


.


.


Bersambung.