
Di tempat lain, tepatnya di rumah kontrakan Tamara, wanita hamil itu sedang menikmati makan malam bersama seorang rekan kerjanya.
Wanita berusia seumuran dengan Tamara, yang bernama Nita itu, memang sering datang membawakan makan malam untuk Tamara.
Nita merasa iba melihat keadaan Tamara. Wanita itu hamil tanpa suami, dan tak memiliki keluarga. Ia tau, bagaimana rasanya hidup tanpa keluarga di sekitar kita sangatlah sulit.
Jadi, semasih Nita mampu, ia ingin membantu Tamara, walau hanya sekedar memberi makan.
“Ada apa, Ta? Kenapa kamu melamun?” Tanya Nita sembari meletakan sepiring nasi goreng di hadapan Tamara.
“Terima kasih, Nit.” Tamara meraih piring itu agar lebih dekat dengannya.
“Kamu kenapa?” Tanya Nita lagi, karena ia melihat Tamara tak kunjung memakan makanannya.
Kepala Tamara menggeleng kecil, ia kemudian menyuapkan satu sendok nasi goreng ke dalam mulutnya.
“Aku tidak apa-apa, Nit.” Jawabnya kemudian.
“Jangan membohongi ku, Ta. Aku tau kamu, walau kita belum lama saling mengenal. Aku tau, Pasti ada hal yang kamu pikirkan, bukan?”
Ya, meski belum genap dua bulan mengenal Tamara, namun sedikit banyak Nita tau tentang wanita itu. Ia sering melihat Tamara melamun setelah bekerja. Kadang, saat bekerja pun wanita itu terlihat tidak bersemangat seperti biasanya.
“Apa kamu memikirkan ayah bayi itu?” Tanya Nita lagi.
“Untuk apa aku memikirkan orang yang tidak memikirkan aku?” Tamara berbalik melontarkan pertanyaan. Tatapan wanita hamil itu terlihat sendu.
“Apa kamu mencintai pria itu, Ta?”
Tamara menghela nafas panjang. Ia kemudian menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi.
“Harusnya aku tidak mencintainya, Nit. Aku yang terlalu bodoh, sehingga menyakiti diriku sendiri.”
Alis Nita berkerut. Ia tidak mengerti apa maksud ucapan teman barunya itu.
“Aku melakukan kesalahan, Nit. Waktu itu, aku bingung harus mencari uang kemana, sementara nenek harus segera mendapat penanganan.” Tamara kembali menghela nafasnya. Dan Nita, gadis itu pun mendengarkan dengan seksama, setiap kata yang di ucapkan wanita hamil itu.
“Aku meminjam uang pada atasanku, dia memberikan, asal aku mau menjadi pem*as naf-sunya. Aku menolak, tetapi keadaan nenek semakin mengkhawatirkan. Tidak ada pilihan lain, karena nenek harus segera di tangani.” Tamara menundukan wajahnya. Setiap mengingat sang nenek, rasa bersalah karena tidak ada di samping beliau di saat terakhirnya selalu menghantui.
“Ta?” Nita bangkit dari duduknya, kemudian mendekap tubuh Tamara.
“Cinta itu datang begitu saja. Padahal, kami sudah sepakat, tidak boleh ada cinta di antara kami. Karena, dia mencintai wanita lain. Andai aku tidak ceroboh, Nit. Semua ini pasti tidak akan terjadi.” Tangis Tamara pun pecah. Ia tidak pernah bercerita kepada siapapun sebelumnya.
“Sabar, Ta.” Nita mengusap punggung Tamara dengan lembut.
“Apa pria itu tau kamu hamil anaknya?”
Tamara menganggukkan kepala dalam dekapan Nita. “Dia tidak menginginkan anak ini, Nit. Karena itu, aku memilih pergi.”
“Aku salut sama kamu, Ta. Kamu bahkan tidak menggugurkan kandunganmu.”
“Aku tidak mau menambah dosa, Nit. Sudah terlalu banyak dosa yang telah aku perbuat. Bayi ini tidak mempunyai salah apapun. Dia tidak pernah meminta untuk di lahirkan.”
Nita melepas pelukannya, gadis itu kemudian menarik kursi dan duduk lebih dekat dengan Tamara. Ia lalu menggenggam tangan wanita hamil itu.
“Kamu benar, Ta. Dia tidak salah. Jangan sakiti dia, karena bukan inginnya untuk hadir. Kamu yang kuat, ya. Tuhan pasti akan selalu menjaga kalian.”
Tamara menganggukkan kepalanya.
“Aku sudah begitu banyak berbuat dosa, Nit. Tetapi Tuhan begitu baik kepada ku. Aku di pertemukan dengan orang-orang baik seperti kalian. Kamu, ibu Karin. Kalian bahkan menerima aku begitu saja tanpa rasa curiga.”
“Ibu Karin memang orang yang baik, Ta. Beliau selalu mengajarkan kepada kita, agar selalu berbuat baik pada orang sekitar. Karena, baik yang kita perbuat, baik pula hasil yang akan kita dapatkan suatu hari nanti.”
‘Ya, tetapi, jika kalian tau siapa aku. Apa kalian masih akan menerima aku disini?’
“Hei, Ta? Kenapa kamu bengong?” Tanya Nita sembari mengibaskan tangan di depan wajah Tamara.
“Mm, itu, apa kamu mengenal putri ibu Karin?” Tanya Tamara dengan Ragu.
“Iya, semua karyawan mengenal anak-anak ibu Karin. Biasanya, sebulan sekali mbak Regina pulang kampung. Tetapi, sekarang sudah menikah, dan sedang hamil muda, jadi tidak bisa pulang.” Nita menghela nafasnya sebentar.
‘Hamil? Bukannya mereka baru menikah? Apa dugaan ku selama ini benar? Jika nona Regina dan pak William memiliki hubungan?’
“Aku kasihan dengan mbak Regina, katanya dia di khianati oleh kekasihnya.” Ucap Nita kemudian.
Deg.. Tamara merasa tersindir mendengar ucapan gadis itu.
“Lalu, putra ibu Karin?” Tanya Tamara mengalihkan pembicaraan.
“Dia seorang dokter. Sekarang tugas di rumah sakit pusat yang ada di ibukota.”
Tamara pun menganggukkan kepalanya. Mereka pun melanjutkan makan malamnya sembari mengobrol.
****
“Ada apa, sayang?” Reka memeluk dari belakang tubuh semampai milik Willona. Gadis itu tengah berdiri di balkon apartemen dokter muda itu. Sementara kedua kakak mereka telah kembali pulang, setelah menghabiskan makan malam.
Sebelum pulang, sepasang suami istri itu berpesan agar kedua muda-mudi tidak melakukan hal-hal yang di inginkan. Agar tak salah langkah seperti mereka berdua.
Reka dan Willona juga telah menjelaskan tentang hubungan mereka, yang memang belum jelas statusnya. Tak lupa mereka meminta kepada William dan Regina untuk sementara merahasiakan dari keluarga, tentang kedekatan mereka. Sepasang suami istri itu menyanggupi, asalkan mereka berdua bisa menjaga diri.
“Tidak apa-apa. Hanya saja, apa mereka benar-benar bisa menjaga rahasia?”
“Apa kamu tidak yakin dengan abang mu?” Dokter muda itu mengeratkan pelukannya.
“Entah. Abang kadang tidak bisa di percaya.”
“Kenapa kaku begini?” Tanya Reka sembari mengendus pipi mulus Willona.
Alis gadis itu pun berkerut.
“Apanya yang kaku?” Ia tak mengerti ucapan Reka.
“Tubuhmu. Kita sudah biasa begini. Kenapa masih kaku? Hmm?”
Willona menghela nafasnya pelan.
“Jujur, aku tak pernah seperti ini dengan seorang pria. Ya, meski dalam pekerjaan sudah biasa, tetapi dalam hubungan belum sama sekali.”
“Apa? Lalu dengan mantanmu?”
“Kami jarang bertemu. Kalau bertemu, paling hanya menggenggam tangan, dan mencium pipi.” Willona menjawab dengan jujur.
Reka pun mencebikan bibirnya. Ia salut dengan gadis itu, meski berprofesi sebagai seorang model, Willona mampu menjaga dirinya dengan baik.
“Kamu harus bertanggung jawab padaku, Na.” Ucap Reka yang kembali mengeratkan pelukannya. Ia sungguh gemas dengan gadis itu.
“Bertanggung jawab untuk apa?” Tanya Willona bingung.
“Karena kamu membuat aku semakin jatuh cinta padamu.”
Willona mencebikan bibirnya.
“Dasar dokter tukang gombal.”
.
.
.
Bersambung.