BOSS WITH BENEFIT

BOSS WITH BENEFIT
Bab. 84. Beautiful In White.



Mata William tak berkedip melihat Regina yang begitu sangat cantik. Pria itu pun sampai berhalusinasi melihat Regina kecil, berhias seperti pengantin dan berada di samping Regina dewasa. Berjalan dengan anggun, layaknya seorang pengantin wanita.


‘Gadis ingusan ku, cantik sekali.’


William mengelengkan kepala beberapa kali, membuat bayangan gadis kecil itu perlahan menghilang. Dan ia kembali mengagumi kecantikan calon istrinya.


Pak Antony bahkan sampai menyenggol bahu sang putra, agar pria itu tersadar dari keterpanaannya.


“Usap liur mu, malu dilihat para tamu.” Bohong pak Antony. Refleks tangan William mengusap sudut bibirnya.


“Tidak lucu, pa.” Ucapnya saat menyadari bibirnya kering.


Regina dan pak Regan semakin dekat, membuat jantung William berdetak semakin kencang.


‘Oh, Tuhan. Terima kasih untuk ciptaan mu yang begitu indah. Aku sungguh mencintainya.’


“William Antony Sanjaya, aku serahkan putri kesayanganku padamu. Semoga, kamu bisa menjaga dan mencintainya, seperti aku menjaga dan mencintainya selama ini.” Pak Regan menyerahkan tangan Regina kepada William. Dengan penuh rasa haru, William menyambut tangan sang pujaan hati.


“Terima kasih telah membesarkan putri secantik ini, ayah. Aku berjanji, akan selalu berusaha membahagiakan putrimu.”


Nyonya Karin dan nyonya Aurel merasa sangat terharu, mereka pun saling mendekap satu sama lain.


“Kamu sangat cantik, Honey.” Bisik William tepat di telinga Regina.


“Kamu juga sangat tampan, daddy.” Balas Regina. Ia merasa ada yang berbeda dari penampilan William pagi ini. Pria yang sering menggunakan setelan celana bahan dan jas hitam, hari ini terlihat lebih tampan menggunakan setelan celana dan jas pengantin berwarna putih.


Setelah berbisik-bisik ria, acara pun di mulai. William dan Regina bergantian mengucap janji suci pernikahan, kemudian saling menyematkan cincin pada jari manis masing-masing. Setelah itu, William mengecup kening istrinya dengan penuh kasih sayang. Sebenarnya, ingin sekali William mengecup bibir sang istri. Namun, begitu banyak pasang mata yang menyaksikan, membuat pria itu mengurungkan niatnya.


William tetap William. Meski ia begitu cinta mati dengan Regina, namun tak serta merta berani mengumbar kemesraan di depan umum.


“Aku mencintaimu, Putri Regina Prayoga.” Bisik William di atas kening sang istri. Dan Regina, wanita itu hanya mengangguk sebagai jawabannya. Meski ia telah memiliki rasa yang sama terhadap William, namun entah kenapa, begitu sulit untuk Regina mengucapkan secara langsung, kepada pria itu.


Rasa bahagia bercampur haru William dan Regina rasakan. Tidak ada yang menyangka, jika cinta satu malam yang mereka lakukan beberapa bulan yang lalu, mengantarkan kedua insan itu menjadi sepasang suami istri.


Setelah pengucapan janji suci selesai, sepasang pengantin baru itu di arahkan untuk menandatangani beberapa dokumen, untuk mengesahkan pernikahan mereka di mata negara.


“Kartu identitas, akte pernikahan dan kartu KK yang baru, akan selesai seminggu lagi, bapak dan ibu.” Ucap seorang petugas dari pencatatan sipil yang di undang pagi itu.


“Terima kasih, pak.” Ucap William dan Regina bersamaan.


William dan Regina kemudian menghampiri meja keluarga mereka. Sebelum nantinya menyapa para tamu yang telah menyempatkan diri untuk hadir.


Satu persatu para keluarga memberi ucapan selamat kepada pasangan pengantin baru itu.


Tak jauh dari meja keluarga Sanjaya, nampak Romi dan Alisha duduk berdua. “Apa kamu ingin menangis?” Tanya Romi kepada Alisha yang sedari tadi terus mengamati pergerakan pasangan pengantin baru itu.


“Untuk apa? Bukannya kamu sendiri yang mengatakan jika Tuhan memang tak mengijinkan kami bersama? Lagi pula, kami memang tidak pernah bersama sebelumnya, jadi, untuk apa di tangisi.” Pandangan Alisha jatuh pada nyonya Aurel yang begitu hangat kepada sang menantu. Wanita paruh baya itu, terlihat menyuapi Regina.


‘Cih. Beruntung sekali wanita itu.’


“Aku harap, apa yang kamu ucapkan, sama dengan apa yang kamu rasakan Al.”


Alisha mencebik, tentu saja yang dia ucapkan, dan apa yang ada di hatinya itu berbeda. Jujur, hati wanita dewasa itu sangat sakit, melihat pria yang di cintainya bersanding dengan wanita lain.


Kembali pada pasangan pengantin baru, dan keluarganya.


Reka memberikan kursi yang ia tempati, untuk sang kakak beristirahat sejenak. Ia tau, wanita hamil mudah sekali lelah. Maka dari itu, Reka berinisiatif memberikan tempat duduknya.


“Apa kakak mau makan sesuatu?” Tanya Reka kemudian.


“Boleh, tapi jangan yang berat-berat, kue atau buah saja.”


Reka mengangguk, ia permisi untuk mengambilkan cemilan untuk sang kakak.


“Hon, aku mau menyapa sahabatku dulu.” William meminta ijin kepada sang istri. Ia menunjuk kedua sahabatnya. Regina mengangguk.


Namun, baru saja William memutar badan, sang asisten datang bersama istrinya untuk memberikan selamat.


“Bos, maaf aku terlambat.” Ucap Jimmy sembari meraih tangan sang atasan. Kemudian mereka saling memeluk.


“Hey, Jimmy kemana saja kamu baru datang?” Pak Antony bertanya dengan satu alis mata yang terangkat.


Ya, yang di ucapkan Jimmy memang benar adanya. Klien menghubungi saat Ia dan Jenny sedang dalam perjalanan. Halhasil, pria itu memilih untuk menemui klien terlebih dulu, dan terlambat ke acara pernikahan sang atasan.


“Kamu memang asisten yang bisa di andalkan.” Puji William dengan bangga kepada asistennya.


“Ya sudah, kalian mengobrol dulu disini, aku mau menyapa sahabat ku dulu.”


William meninggalkan meja keluarganya, dan menghampiri para sahabatnya.


“Selamat, Will.” Ucap Romi sembari memeluk William.


“Thanks, bro.”


Begitu pula Alisha, ia juga memberikan selamat kepada William.


“Apa dia sudah menerima cintamu?” Tanya Alisha saat mereka telah duduk kembali.


William mencebik, ia menatap sang istri dari tempatnya duduk.


“Belum. Tetapi dia sudah menjadi milikku sekarang. Jadi, tidak masalah untukku.” Jawabnya kemudian.


“Jadi kalian di jodohkan?” Tanya Romi penasaran.


“Hmm, dia teman masa kecilku.” Ucap William dengan senyum terkembang di bibirnya.


Romi dan Alisha saling menatap satu sama lain, mereka kemudian mengangguk tanda paham. Obrolan pun berlanjut, hingga tanpa mereka sadari, Regina datang mendekat.


“Will.”


“Honey.”


William bangkit, dan meraih jemari sang istri.


“Honey, kamu sudah mengenal mereka bukan? Ini Romi pemilik showroom, dan ini Alisha pemilik kafe.”


Regina mengangguk. Mereka pun bersalaman dan mengucapkan selamat pada Regina.


“Will, itu kata papa kamu harus menyapa om dan tante mu. Juga ada sepupu-sepupuku.” Ucap Regina kemudian. Bukan bermaksud menganggu obrolan mereka. Tetapi pak Antony memang berpesan begitu.


“Ah ya, baiklah kita temui mereka.” William dan Regina pun pamit, dan meninggalkan kedua orang itu.


“Penurut sekali William.” Dengus Alisha.


“Wajarlah, Al.” Jawab Romi kemudian.


William mengajak Regina menyapa om Adrian dan keluarganya. Ia mengenalkan sang istri kepada mereka.


“Kalian sangat serasi.” Ucap nyonya Erica.


“Terima kasih, tante.” Ucap Regina tulus.


“Pintar juga kamu mencari istri.” Ucap pak Adrian kemudian.


“Iya dong, om. Kan bakat aku menurun dari om.” Jawab William. Ia tau jika papa dan om nya ini tidak akur, namun William masih bersikap sopan kepada om nya itu.


Setelah mengobrol dengan keluarga pak Adrian, Regina mengajak William menyapa para sepupunya.


“Honey, bisa tidak nanti saja bertemu mereka?” Langkah William melemah, saat melihat tatapan empat pria dewasa itu.


“Mereka baik semua, Will.” Ucap Regina saat menyadari sang suami seperti ketakutan melihat para sepupunya.


Setelah sampai di meja para sepupunya, Regina mengenalkan sang suami kepada mereka. Sungguh, nyali William terasa menciut. Benar apa yang dikatakan sang papa, jangan sampai ia menyakiti Regina di kemudian hari, atau nyawanya akan hilang di tangan keempat orang itu.


.


.


.


Bersambung.