BOSS WITH BENEFIT

BOSS WITH BENEFIT
Bab. 87. Berebut Sekotak Susu.



Drama kembali terjadi saat William dan Regina mengantar pak Regan dan nyonya Karin ke bandara.


Regina kembali menangis saat orang tuanya akan melakukan check in. Wanita hamil itu tidak ingin di tinggalkan dan belum puas bersama mereka.


William hanya mampu mengelus dada. Ia tidak menyangka jika wanita hamil akan seperti ini. Mudah sekali menangis dan membesar-besarkan masalah kecil.


*“Honey, *nanti jika perutmu sudah boleh di bawa terbang, kita pulang kampung, okey?” Kalimat bujukan terakhir, yang William harap mampu menghentikan tangis sang istri. Ia merasa jengah, di lihat beberapa pasang mata. Karena istrinya itu menangis hingga sesenggukan.


“Iya, nak. Benar apa kata William. Nanti setelah perutmu sudah lebih besar, dan sehat. Dokter pasti mengijinkan kamu untuk naik pesawat.” Nyonya Karin menambahkan. Ia ikut mengusap lengan Regina yang kini bergelayut padanya.


“Benarkah?” Tanya Regina tertuju pada sang suami, yang berdiri di hadapannya.


“Benar. Nanti sekalian kita babymoon.”


Dan Regina pun menganggukkan kepalanya. Ia kemudian melepaskan dekapannya pada sang ibu. Kemudian memeluk sang ayah.


“Jaga kesehatan ayah, ya. Jangan main burung terus.”


Pak Regan menghela nafasnya pelan. Ia tidak mau menyinggung masalah si pipit lagi. Tangis putrinya baru saja reda.


“Kamu juga jaga kesehatan. Jaga cucu ayah baik-baik.”


Regina menjawab dengan anggukan kepala.


Mereka kemudian saling memeluk satu sama lain. Setelah itu, pak Regan dan nyonya Karin meninggalkan kedua anak muda itu.


Seperti ucapannya tadi di rumah, William pun mengajak sang istri untuk berjalan-jalan. Mereka masih memiliki cuti selama dua hari dan ingin memanfaatkan waktu dengan baik.


“Kita mau kemana?” Tanya Regina kepada sang suami.


“Berpacaran.”


“Aku serius.”


“Aku juga serius, Honey, bunny, sweety. Bagaimana jika kita jalan-jalan di pusat perbelanjaan. Kamu beli apa saja yang kamu inginkan. Sepuasnya.” Ucap William kemudian.


Mendengar perkataan sang suami, membuat mata Regina berbinar. Ia memang sangat suka berbelanja. Apalagi ada yang membelanjakannya, ia sangat lebih suka.


Ia pun menyetujui ucapan sang suami. Tak lama kemudian, mobil yang mereka tumpangi tiba di salah satu pusat perbelanjaan di ibukota.


Tempat yang pertama mereka kunjungi adalah toko pakaian. Regina membeli dua pasang setelan untuk bekerja, dan dua pasang setelan santai. Ia juga membelikan untuk sang suami, bagaimana pun, pria itu yang akan membayar belanjaannya.


Dari toko pakaian, mereka menuju toko sepatu. Lagi-lagi, Regina membeli dua pasang. Satu untuknya, dan satu untuk sang suami.


“Mau membeli apa lagi?” Tanya William sambil menenteng barang belanjaan yang di beli sang istri.


“Makanan.” Ucap istrinya singkat.


William melirik arloji mahal di pergelangan tangannya. Waktu menunjukkan pukul 11 siang. Pria itu kemudian mengambil kesimpulan, mungkin istrinya mulai lapar. Maka, ia menuntun sang istri ke arah food court.


“Aih, bukan kesini.” Regina menghentikan langkahnya. Membuat alis sang suami berkerut.


“Lalu?”


“Kita beli bahan makanan. Lalu memasaknya kemudian.” Jawab Regina.


“Honey, di rumah ada banyak bahan makanan. Kita tidak perlu berbelanja lagi.”


“Bukan untuk di rumah, kita masak di apartemen. Bukannya waktu cuti kita masih dua hari? Jadi, kita akan menginap di apartemen. Anggap saja bulan madu.”


William menganga mendengar kalimat panjang lebar yang sang istri ucapkan. Dan seperti tersugesti, pria itu pun menurut dan mengikuti langkah Regina menuju tempat penjualan bahan makanan.


*“Kita juga harus membeli susu untukmu, Hon. *Tidak mungkin juga kita pulang hanya untuk mengambil sekotak susu.” Ucap William ketika mereka sedang memilih daging ayam. Regina ingin memasak steak ayam.


*“Iya, daddy* benar. Tolong belikan aku yang rasa almond.” Wanita itu berucap tanpa melihat sang suami. Ia sibuk memilih ayam yang paling berat. Regina begitu saja menyebut rasa susu, tanpa tau apa ada atau tidak, susu rasa almond itu.


Pria itu pun meninggalkan sang istri disana, dan berpesan untuk menunggu.


Tiba di tempat susu, William meneliti satu persatu kotak-kotak karton yang tersusun dengan rapi. Hampir lima menit mencari, akhirnya ia melihat satu deretan susu yang khusus untuk ibu hamil.


Indera penglihatan William kembali meneliti, melihat satu persatu kotak, yang berisi gambar wanita hamil itu. Ia tersenyum senang kala mendapati susu dengan rasa yang di inginkan sang istri.


Saat hendak mengambil kotak itu, tiba-tiba ada tangan lain yang ikut menjangkau. Sehingga membuat satu kotak, di pegang dua tangan.


“Aku dulu.” Ucap William.


“Maaf, aku lebih dulu.” Ucap seorang yang ikut memegang kotak susu itu. Seorang pria yang usianya lebih tua dari William itu berucap dengan sopan.


William menghela nafasnya pelan. Ia kemudian melepaskan pegangannya.


“Ya, sudah. Ambillah.” William mengikhlaskan. Tangan pria itu kembali terulur ke arah tempat susu, namun kosong. Susu ibu hamil rasa almond, hanya tinggal satu. Dan itu sudah di ambil pria tadi.


“Ada yang bisa aku bantu?” Ucap pria dengan kacamata hitam yang menghiasi wajah tampannya.


“Itu, bolehkah susu itu untukku? Istri ku sedang hamil dan menginginkan susu rasa itu.” William menunjuk susu dalam dekapan pria itu.


“Tetapi aku lebih dulu yang mengambilnya. Dan lagi, istriku juga sedang hamil. Dan menginginkan susu ini.”


“Ayo lah, bung. Berikan padaku. Aku akan membayar dua kali lipat padamu.” William menawar. Ia pun merogoh saku, mengambil dompetnya.


“Maaf, tetapi aku tidak membutuhkan uangmu.”


“Kalau begitu. Berikan padaku secara percuma. Kamu cari ditempat lain saja.”


“Kenapa tidak kamu saja yang mencari ke tempat lain?”


Perdebatan pun terjadi diantara William dan pria itu. Ditempat lain, Regina sudah selesai memilih bahan makanan. Ia pub menghampiri sang suami ke tempat dimana susu di pajang.


Dari kejauhan ia melihat sang suami berbicara dengan seorang pria. Wanita itupun semakin mendekat. Namun, alisnya tiba-tiba berkerut, ketika mendengar perdebatan diantara mereka berdua.


“Will.”


“Honey. Kamu sudah selesai?”


Regina mengangguk, ia mengamati pria du hadapan sang suami.


“Tuan Hugo?” Ucapnya ragu-ragu. Regina seperti mengenali pria itu, namun karena kaca mata hitam yang menutupi mata pria itu, membuat Regina ragu.


Alis William berkerut. Ia seperti tidak asing dengan nama yang di sebut oleh sang istri.


“Kamu mengenalku?” Ya, pria yang berebut susu rasa almond dengan William itu adalah Edward Hugo. Ia mendapat telpon dari sang istri, yang menginginkan susu rasa itu, karena bosan dengan susu yang sering ia minum.


Regina menganggukkan kepalanya. Para pekerja di industri bisnis pasti mengetahui siapa itu Edward Hugo. Bahkan, banyak yang ingin bekerja sama dengan perusahaannya.


*“Honey*, dia mengambil susu rasa almond yang kamu inginkan.” Adu William kepada sang istri.


“Aku yang lebih dulu mengambilnya. Jadi susu ini milikku.”


“Wah, sombong sekali. Kamu belum membayarnya. Jadi susu itu masih milik toko ini.” Ucap William tak terima.


Edward Hugo mencebik. “Jangankan susu ini, gedung ini pun milikku.”


Mata William membulat sempurna. Ia merasa orang ini begitu sombong.


“Kamu—


“Sudah cukup, Will.” Regina memberi tatapan tajam pada sang suami.


“Tapi, Hon—


“Sudah.”


Regina kemudian tersenyum pada pria dewasa di hadapannya.


“Tuan susunya untuk anda saja. Aku biar membeli rasa yang lain.”


“Itu lebih baik.” Pria itu kemudian pergi meninggalkan sepasang suami istri itu.


“Hei, tidak bisa begitu.” William ingin mengejar pria itu lagi.


“Sudah, kita cari susu yang lain.” Regina menarik tangan sang suami.


*“Tapi, Honey, *susu rasa almond itu tinggal satu, itu saja.”


“Tidak apa-apa. Aku juga asal mengucapkannya tadi. Sebenarnya aku tidak tau, ada susu hamil rasa itu. Biarkan saja, mungkin istri tuan Hugo lebih menginginkannya.”


Regina kemudian melihat-lihat susu untuk ibu hamil yang lainnya.


“Memangnya, dia tadi itu siapa, Hon?” Tanya William sembari mendorong troli belanja.


“Pemilik gedung ini.”


.


.


.


Bersambung.