BOSS WITH BENEFIT

BOSS WITH BENEFIT
Bab. 102. Siapa Yang Kamu Pilih?



Sepanjang perjalanan kembali ke kantor, Regina tampak termenung di kursi penumpang. Ia merasa sangat prihatin melihat keadaan Alvino. Apalagi, pria itu bercerita jika sang mama tidak merestui hubungannya dengan Tamara.


“Apa kamu memikirkan si Rahwana itu?” Tanya William saat mobil berhenti, karena lampu lalu lintas berwarna merah.


“Hmm, aku kasihan melihat dia seperti itu. Apalagi, dia mengatakan jika mamanya tidak merestui hubungan mereka. Bukan apa-apa, aku kasihan memikirkan bayi mereka.” Jelas Regina. Takut suaminya salah paham. Pria itu mudah sekali cemburu.


“Ya, kamu benar, Honey. Bagaimana pun juga, bayi itu tidak bersalah. Dia tidak pernah meminta untuk hadir.” Ucap William menimpali. Ia perlahan melajukan kembali mobilnya, karena lampu lalu lintas sudah berwarna hijau.


“Dad, jika kamu di posisi Alvino, apa yang kamu lakukan? Maksudku, siapa yang kamu pilih? Aku yang hamil anakmu, atau orang tua mu?” Tanya Regina menatap sang suami.


Pria itu menghela nafasnya dengan panjang. Ia memutar kemudi, agar mobil bisa berbelok ke arah kiri, untuk memasuki halaman gedung perkantoran Sanjaya Group.


Mobil pun terparkir dengan sempurna pada tempatnya di basemen gedung. Parkir yang di khususkan untuk pemilik perusahaan.


Sebelum menjawab pertanyaan sang istri, William terlebih dulu melepas sabuk pengaman yang membelit tubuhnya, kemudian melepaskan sabuk pengaman pada tubuh sang istri.


Ia lantas meraih jemari tangan Regina, menggenggam dengan lembut. Kemudian mengecupnya.


“Aku pilih kamu, dan anak kita.” Jawab pria itu, sembari menatap lekat manik mata sang istri.


“Aku mungkin berdosa telah menjadi anak durhaka karena melawan orang tua. Tetapi, aku akan lebih berdosa, jika menelantarkan darah dagingku sendiri.” Lanjutnya kemudian.


Regina terharu mendengar ucapan sang suami. Ia pun meraih bahu pria itu, kemudian medekapnya erat.


“Sudah, jangan memikirkan yang tidak penting. Ingat, fokus pada kehamilan mu. Kesehatan kalian yang paling penting.” Ucap William sembari mengusap lembut punggung sang istri.


“Hmm, terima kasih telah mencintai ku begitu dalam, dad. Maaf, jika aku belum bisa menjadi istri yang baik untukmu.”


William melepaskan pelukannya. Ia kemudian menangkup kedua pipi sang istri yang sudah mulai berisi.


“Di mataku, kamu sudah sangat sempurna, Regina.” Ia kemudian mengecup kening sang istri penuh kasih.


Lama keduanya larut dalam emosi. Ketukan pun terdengar dari jendela mobil. William menoleh, seorang petugas keamanan terlihat berdiri di samping mobilnya.


“Astaga, Hon. Kita sudah terlalu lama disini.” Ucapnya terkekeh. Mereka kemudian keluar dari dalam mobil.


“Maaf, pak. Saya pikir terjadi sesuatu.” Ucap pria berbadan tegap itu. Ia merasa malu, sekaligus takut karena telah menganggu kegiatan sang atasan dan istrinya di dalam mobil.


“Tidak seperti yang kamu pikirkan.” Ucap William sembari menepuk pundak bawahannya itu.


Petugas keamanan itu pun sedikit membungkukkan badan, kala kedua atasannya pamit dari tempat parkir itu.


“Kamu lihat, Hon. Pria tadi pasti mengira jika kita melakukan kegiatan berbagi keringat di dalam mobil.” Ucap William tergelak di dalam lift.


Regina pun hanya tersenyum, sembari menggelengkan kepalanya. Pipi wanita itu tiba-tiba memanas, membayangkan apa yang di pikirkan petugas keamanan itu tentang mereka.


****


Siang ini, Reka kembali menjemput Willona ke tempat dimana gadis itu melakukan pemotretan. Mereka rencananya akan melihat gedung apartemen yang terletak tak jauh dari rumah sakit Hugo.


“Kamu sudah makan siang?” Tanya Willona saat sudah berada di dalam mobil dokter muda itu.


“Sudah, tadi ada pasien yang mentraktir makan siang.” Ucap Reka sembari memasang sabuk pengaman. Kemudian menyalakan mesin mobil.


“Bagaimana dengan Kamu? sudah makan siang?” Pria itu berbalik melontarkan pertanyaan.


Mobil melaju dengan kecepatan sedang. Lalu lintas yang sedikit padat, karena jam makan siang, membuat kereta besi yang mereka tumpangi, berhenti di beberapa titik.


Setelah tiga puluh menit berada di jalanan, mereka akhirnya tiba di sebuah gedung apartemen berlantai 20 puluh. Hunian yang menawarkan tempat tinggal, mulai dari harga ratusan juta hingga milyaran.


Reka sudah membuat janji dengan seorang pria yang menjabat sebagai menejer pemasaran di gedung apartemen itu. Kedatangan mereka pun telah di nanti, di Lobby gedung itu.


Mereka Mengobrol sebentar, setelah itu Reka dan Willona di ajak untuk melihat secara langsung unit yang akan di perjual belikan.


Setelah melihat lima unit apartemen dengan harga berkisar di antara 200 jutaan, Reka pun memilih satu. Sebuah hunian yang di lengkapi dengan dua kamar tidur, dapur, ruang makan dan ruang tamu.


Adik Regina itu membeli apartemen dengan cara mencicil selama beberapa tahun kedepan. Setelah menandatangani beberapa berkas, akhirnya hunian itu menjadi milik Reka dan sudah bisa di tempati, namun masih dalam keadaan kosong.


“Apa kamu menyukai tempat ini?” Tanya Reka sembari membelit pinggang ramping Willona dengan kedua tangannya.


Gadis itu sedang berdiri di balkon apartemen. Menunggu Reka melakukan transaksi pembayaran uang muka, dan penandatanganan surat-surat.


“Kenapa bertanya kepada ku? Bukannya kamu yang akan tinggal disini?” Adik William itu berbalik melontarkan pertanyaan.


“Bukan hanya aku, tetapi kita.” Ucap Reka sembari menumpangkan dagu pada bahu Willona.


“Aku tidak mau tinggal bersamamu.”


“Sekarang memang tidak. Tempat ini juga masih kosong. Tetapi nanti, setelah tempat ini terisi, dan kita menikah, kamu akan tinggal disini bersamaku.” Tukas Reka kemudian.


Willona mencebikan bibirnya. “Siapa yang mau menikah dengan mu?”


“Willona Aureli Sanjaya. Siapa lagi?”


Willona kemudian membalik badannya. Membuat ia dan Reka saling berhadapan. Gadis itu pun mengalungkan kedua tangan pada leher dokter muda itu.


“Pak dokter yang tampan, sebelum kamu menikahi ku, isi dulu perabotan di apartemen mu ini. Asal kamu tau, aku tidak mau di ajak hidup susah. Orang tuaku membesarkan aku dengan penuh kasih sayang. Mereka tak mungkin mengijinkan putrinya di ajak hidup sengsara oleh menantunya.”


Ucapan panjang lebar Willona membuat dahi Reka berkerut.


“Aku yakin, papa dan mama mu tidak akan tega melihat anaknya tinggal di tempat kosong begini. Mereka pasti akan langsung mengisinya.” Jawab Reka sembari terkekeh.


“Lalu? Apa kamu tidak malu menempati apartemen yang barang-barangnya di belikan oleh mertuamu?” Tanya Willona tak mau kalah.


“Hei, Willona Aureli Sanjaya, kamu lupa siapa orang tua ku? Mereka memiliki usaha mebel di kampungnya. Jadi, aku tidak perlu memerima pemberian mertua ku. Karena orang tua ku pasti akan mengirimkannya.” Reka juga tak mau kalah.


“Tetapi aku tidak mau. Aku ingin, semua isi tempat ini, dari hasil kerja keras mu. Ingat bung, cinta itu butuh perjuangan. Tak hanya bermodal rayuan gombal.” Willona kemudian melepaskan diri, dan beranjak meninggalkan pria itu. Namun, baru dua langkah, tangan gadis itu sudah di tarik oleh Reka, dan membuat mereka kembali saling menempel.


“Tentu, sayang. Aku akan bekerja keras untuk itu. Asalkan, kamu tetap berada di samping aku. Dan menjadi penyemangat ku.”


Willona pun tersenyum dan menganggukkan kepalanya.


.


.


.


Bersambung.