
Seminggu berlalu, sore ini rencananya Alvino akan membawa Tamara bertemu dengan orang tua pria itu. Ia ingin segera menikahi Tamara, sebelum perut wanita itu semakin membesar.
Selama seminggu ini, hubungannya dengan Tamara berjalan normal, meski wanita itu sekarang lebih pendiam. Alvino membiarkan wanita itu tinggal sendiri di apartemen. Sementara, ia tinggal di rumah orang tuanya. Pria itu hanya mampir saat jam pulang kantor, hingga makan malam. Setelah itu, kembali pulang setelah memastikan Tamara tertidur.
Alvino tidak mengijinkan Tamara kembali bekerja. Ia ingin wanita itu tetap di rumah, berfokus pada kandungannya.
Waktu menujukkan pukul 5 sore. Dan Alvino telah kembali dari kantor. Pria itu berjalan gontai menuju unit apartemennya. Rasa lelah begitu menggelayuti tubuh. Ingin rasanya ia menghempaskan raga di atas tempat tidur. Namun, ia harus menepati janji, membawa Tamara menemui orang tuanya, meminta restu untuk menikahi wanita itu.
Entah akan di restui atau tidak, Alvino akan tetap menikahi Tamara. Ia hanya ingin memberitahu kedua orang tuanya, bahwa ia akan menikahi Tamara.
Setelah membersihkan diri, dan berganti pakaian, Alvino pun mengajak Tamara menuju rumah orang tuanya.
“Apa harus sekarang, Al?” Tanya Tamara. Jujur ia enggan bertemu orang tua pria itu.
“Lebih cepat lebih baik, Ta. Perutmu sudah semakin membesar.” Pria itu menyalakan mesin mobil. Dan beranjak meninggalkan parkir apartemen.
Sudah sejak seminggu yang lalu, Alvino ingin membawa wanita itu menemui orang tuanya. Namun, Tamara selalu menolak. Belum siap, adalah alasan yang selalu wanita hamil itu ucapkan.
“Tetapi, bagaimana jika mereka tak merestui?”
“Harus berapa kali aku katakan, dengan atau tanpa restu mereka, aku akan tetap menikahimu.” Alvino berucap tegas dan tak terbantahkan.
Tamara pun hanya mampu menghela nafas pasrah.
Setelah hampir dua puluh menit berkendara, mereka pun akhirnya tiba di kediaman keluarga Mahendra. Alvino pun menggenggam tangan Tamara, untuk meyakinkan wanita itu, jika dirinya benar-benar serius ingin menikahinya.
“Ayo.”
Mereka pun berjalan bergandengan menuju pintu masuk.
“Mas Al? Ibu dan bapak sudah menunggu.” Ucap asisten rumah yang membukakan pintu untuk mereka.
Jelas Pak Mahendra dan sang istri sudah menunggu, karena Alvino sudah mengabari orang taunya, bahwa ia akan datang bersama Tamara sore ini. Dan ingin membicarakan sesuatu.
“Ma. Pa.” Alvino menyapa kedua orang tuanya.
Pak Mahendra meminta sang putra dan Tamara untuk duduk.
“Jadi, dia sudah ketemu?” Terdengar nada sinis dari ucapan sang mama. Sebari memicingkan mata pada Tamara.
“Ma.” Pak Mahendra memperingati sang istri.
Wanita paruh baya itu mencebik, kemudian mengalihkan pandangannya.
Asisten rumah kembali datang membawakan teh hangat dan camilan. Setelah pekerja itu pergi, pak Mahendra pun mempertanyakan apa yang ingin sang putra bicarakan dengan mereka.
“Aku ingin menikahi Tamara, pa, ma.” Ucap Alvino pada intinya. Ia tidak ingin mengulur waktu, apalagi melihat Tamara yang tidak nyaman berada disana. Pria itu dapat merasakan dari telapak tangan wanita itu yang mengeluarkan keringat.
Nyonya Mahendra berdecak kesal. Ia sudah tau maksud kedatangan sang putra, saat pria itu mengatakan akan datang bersama Tamara. Apalagi jika bukan meminta restu untuk menikah?
“Apa kamu yakin akan menikahi wanita ini, Al? Apa kamu sudah memikirkannya dengan matang?” Wanita paruh baya itu berusaha menggoyahkan keinginan sang putra. Bagaimanapun juga, ia belum rela jika Tamara yang menjadi menantunya.
“Aku yakin, ma.”
“Pikirkan lagi, Al.”
“Ma.. Tamara sedang mengandung anakku, cucu mama. Tidak ada yang perlu aku pikirkan lagi. Aku sudah yakin. Anak itu membutuhkan kasih sayang orang tua kandungnya.”
“Kamu masih bisa bertanggung jawab pada bayi itu, tetapi tidak harus menikah dengan ibunya, kan?”
Deg!!
Hati Tamara seperti teriris mendengar ucapan nyonya Mahendra. Sebegitu tidak inginkah wanita paruh baya itu memiliki menantu seperti dirinya. Wanita hamil itu pun hanya mampu menundukkan kepala. Ia hanya orang yang tidak penting disini.
“Ma.” Kali ini pak Mahendra yang angkat bicara. Ia tak habis pikir dengan yang istrinya ucapkan.
“Papa tidak habis pikir dengan apa yang mama ucapkan. Mama seorang wanita, kenapa tega berbicara seperti itu?”
“Tapi, pa—
“Cukup! Aku datang kesini hanya ingin memberitahu kalian. Dengan atau tanpa restu kalian, aku akan tetap menikahi Tamara.”
Ucapan Alvino membuat Tamara mengangkat kepala, dan menatap pria disampingnya.
“Aku tidak meminta restu kalian.” Lanjut pria itu lagi. Ia pun menuntun Tamara untuk bangkit. Tidak ada gunanya berada di rumah itu lebih lama, jika akan ada omongan tidak menyenangkan dari sang mama.
“Aku permisi.” Ucap Alvino tanpa menatap orang taunya.
“Al, tunggu.” Pak Mahendra bangkit, membuat langkah Alvino dan Tamara terhenti.
Pria paruh baya itu mendekat, kemudian memeluk sang putra.
“Papa merestui, lakukan apapun yang menurutmu benar. Jangan membuat dosa lebih banyak dengan menelantarkan darah dagingmu. Kamu yang berbuat salah, jangan korbankan bayi tak berdosa itu.” Ucap pak Mahendra sembari mengusap lengan sang putra.
“Terimakasih, pa.” Alvino membalas pelukan sang papa.
“Kabari papa, kapan kalian akan menikah. Papa akan hadir untuk kalian.” Ucap pria paruh baya itu lagi.
“Iya, pa.”
“Kamu, kemarilah.” Pak Mahendra mengulurkan tangan pada Tamara. Wanita itu ragu, namun Alvino menganggukkan kepalanya.
“Papa titip Alvino padamu. Maafkan dia karena membuatmu seperti ini.” Ucap pak Mahendra sembari mengusap lengan calon menantunya.
Tamara hanya menganggukkan kepala. Jujur, ia tak tau harus menjawab apa. Penolakan nyonya Mahendra terlalu membuatnya tersentak.
Alvino dan Tamara pun pamit, meski pak Mahendra meminta mereka untuk ikut makan malam bersama, namun sang putra menolak.
“Ta, tolong maafkan ucapan mama. Aku harap kamu tidak terlalu mengambil hati.” Ucap Alvino ketika mereka kini tengah berada di dalam mobil.
“Aku tidak apa-apa, Al. Bukannya mama mu memang tidak menginginkan aku sebagai menantunya? Jadi, aku harus bisa menerima, apapun yang dia katakan, bukan?”
“Tidak seperti itu, Ta. Aku yakin, suatu saat nanti, mama pasti akan menerima mu. Mungkin saat ini, dia belum terima. Tetapi, suatu hari nanti, dia akan menjadi ibu mertua yang baik untukmu.” Ucap Alvino berusaha menghibur wanita itu.
“Mungkin.”
.
.
.
Bersambung.