BOSS WITH BENEFIT

BOSS WITH BENEFIT
Bab. 39. Maafkan Aku Melanggar Janji.



Pergulatan panas yang sedari tadi sore William nantikan, kini benar terjadi. Mereka bahkan tidak sempat membersihkan diri sejak pulang kantor tadi.


Sudah hampir setengah jam bergulat, belum ada tanda-tanda dari boy, ingin menumpahkan benihnya. Regina sudah terkapar tak berdaya di bawah kukungannya. Mungkin karena pengaruh alkohol. Hal itu membuat William menyeringai. Pria itu pun semakin bersemangat untuk mewujudkan keinginannya.


“Will… pelannnn…hhh.” Ucap Regina lirih.


Tak lama kemudian tubuh Regina bergetar hebat. Nafas wanita itu pun semakin memburu. William berhenti sejenak, membiarkan wanita itu mengendalikan dirinya.


‘Honey, maafkan aku melanggar janji. Ini demi rasa cinta ku padamu. Katakan saja aku egois, tetapi aku harus melakukan ini. Kamu harus mengandung anakku. Dengan begitu, mau tidak mau, kamu harus menerima aku sebagai suamimu.’


Setelah membatin panjang lebar. William merasakan sesuatu yang sangat mendesak. Ia pun semakin bergerak cepat. Hingga, boy pun menumpahkan semuanya di dalam rahim Regina.


William bahkan menunggu hingga boy benar-benar berhenti. Setelah itu, ia melepaskan diri.


“Terima kasih, Honey. Aku mencintaimu.” Tak lupa ia mengecup kening basah sang wanita. Kemudian menyelimuti tubuh polos mereka berdua.


William menarik dan membawa Regina ke dalam dekapannya. Menyandarkan kepala wanita itu di atas dadanya.


“Tidurlah, Honey.” Tangan pria itu bergerak dengan lembut di atas kepala dan punggung Regina, wanita itu tidak menganggapi. Ia sudah tidak memiliki tenaga lagi.


Menjelang subuh, William merasa ingin buang air kecil. Ia pun bangun secara perlahan, agar tidur Regina tidak terusik.


Setelah menuntaskan hajatnya, William kembali ke atas tempat tidur dan masih dalam keadaan polos. Ia kembali bergabung ke dalam selimut. Namun, pria itu teringat sesuatu, ia pun memeriksa pangkal paha Regina.


Bibir William menyeringai. Ia masih mendapati bekas benih yang di tumpahkan oleh si boy disana.


William pun kembali mendekap tubuh sang sekretaris yang juga sama- sama masih polos.


“Aku sudah tidak sabar menjadikan kamu istriku, Honey. Hanya kamu, tidak ada yang lain.”


Dan William imam William yang hanya sebesar biji kacang hijau itu kembali tergoda, kala dua aset milik Regina, menempel di atas dada bidangnya.


‘Oh ****, boy..’


ia mengumpat dalam hati karena boy dengan mudahnya terbangun saat bersentuhan tanpa penghalang dengan Regina. Dengan perlahan, dan menahan nafasnya, ia kembali mempertemukan boy dan girl, di bawah sana. Agar Regina tak terbangun. Dan, mungkin wanita itu memang sudah sangat lelah, dan sedikit mabuk, ia pun hanya melenguh, tanpa membuka matanya.


William bisa bernafas lega, ia kemudian memejamkan matanya, dengan sesekali bergerak pelan di bawah sana.


‘William junior, kamu harus tumbuh setelah malam ini.’


****


Keesokan paginya, William bangun terlebih dulu. Masih di posisi yang sama, Regina tak terlepas dari dekapannya. Bahkan, mereka masih menyatu di bawah sana.


William mengecup kening Regina, ia kemudian menggeser tubuh polos wanita secara perlahan agar tidurnya tak terusik. Setelah mereka benar-benar terpisah, William memeriksa kembali.


Pria itu menelan ludahnya kasar. Saat mendapati jejak boy, yang tertinggal.


‘Astaga, boy muntah lagi?’


Namun seketika ia menyeringai. Pria itu pun bangkit dari tempat tidur untuk membersihkan diri.


‘Yang mulia raja dan yang mulia ratu pasti senang, mereka akan segera menjadi kakek dan nenek. Dan si bawel akan menjadi tante.’


Pria itu masih membatin, sembari berjalan memasuki kamar mandi.


Tubuh Regina menggeliat, ia meraba tempat tidur di sampingnya, namun kosong. Wanita itu dengan terpaksa membuka matanya. Ia meraih jam kecil yang ada di atas nakas.


“Sudah jam 6 pagi.”


Ia kembali meletakan petunjuk waktu itu, kemudian mencoba bangkit, namun kepalanya tiba-tiba berdenyut. Wanita itu pun kembali merebahkan tubuhnya.


“Pusing sekali” ucapnya sembari memijat kening.


Tak lama, William pun keluar dari kamar mandi, dengan hanya menggunakan handuk untuk menutupi bagian tubuh bawahnya.


“Kamu sudah bangun, Hon?”


Pria itu mendekat, sembari menggosok rambutnya yang basah dengan sebuah handuk kecil.


“Hmm, Will, apa aku boleh ijin hari ini? Kepala ku pusing sekali.” Nada suara wanita itu terdengar serak dan lemah.


William pun mendekat ke tepi ranjang, lalu meraba kening sang sekretaris.


“Tidak panas, apa begitu sakit?” Tanyanya khawatir.


“Ya, mungkin karena aku terlalu banyak minum.”


William siap meraup tubuh Regina, untuk membawa wanita itu ke kamar mandi.


“Nanti saja. Aku masih mau tidur.” Wanita itu menahan tangan William.


“Ya sudah, tidurlah. Biar aku buatkan sarapan.” William kembali mengecup kening Regina, kemudian ia ke ruang ganti untuk mengambil celana. Lalu turun ke dapur membuat sarapan.


Hendak memejamkan mata, ponsel Regina yang berada di atas nakas berdering. Tangan wanita itu terulur meraih benda pintar itu. Dengan malas, ia membuka matanya. Untuk melihat nama siapa yang menghubunginya pagi ini.


Wanita itu melempar ponselnya pada sisi ranjang yang kosong, saat melihat Alvino yang menghubunginya. Ia membiarkan saja, benda itu berteriak. Tanpa ada rasa terganggu.


Dan entah berapa lama mata wanita itu kembali terpejam, William kembali datang dengan membawa sarapan.


“Honey, bangun.” William mengusap pipi Regina dengan lembut. Membuat wanita itu membuka matanya.


“Ayo sarapan.” William membantu Regina untuk duduk bersandar pada kepala ranjang.


“Tolong ambilkan bajuku, Will.”


William menurut, ia mengambilkan kemeja yang kemarin Regina gunakan.


“Kamu belum mandi dari kemarin Honey.” Ucap William terkekeh. Ia duduk bersila di atas ranjang, kemudian memangku nampan yang berisi sarapan.


Regina membuang muka, tiba-tiba pipinya memanas mendengar ucapan William.


“Sudah, tidak perlu malu. Ayo kita makan.” William menyodorkan satu sendok nasi goreng ke depan mulut wanita itu.


“Kamu yang masak?” Tanya Regina menatap sendok itu.


“Ya, cobalah. Kamu belum pernah makan, masakan ku kan?”


Regina membuka mulutnya. Sendok berisi nasi itu pun masuk kedalam. Wanita itu perlahan mengunyah, kemudian menelannya.


“Bagaimana?”


“Tidak buruk. Tetapi lebih enak buatan Reka.”


William mencebik, ia kemudian menyuap sesendok penuh ke dalam mulutnya sendiri.


“Apa Reka pandai memasak? Bukannya dia seorang dokter?” Tanya William sembari mengunyah makanannya.


“Ya, dia tinggal sendiri. Jadi dia harus pandai memasak.”


“Dia tidak tinggal dengan ayah dan ibumu?” Tanya William lagi, kini kembali menyuapi Regina.


“Tidak. Dia tinggal di dekat rumah sakit tempatnya bekerja.”


William mengangguk. Mereka melanjutkan sarapan sambil mengobrol ringan.


“Minum air lemon ini, Hon. Supaya rasa pusing mu mereda.” William menyodorkan gelas berisi air putih bercampur perasaan lemon.


Regina menerima gelas itu. Mata wanita itu terpejam kala rasa pahit melewati kerongkongannya.


William meletakkan piring kosong di atas nakas, ia kemudian menuju ruang ganti, untuk memakai pakaian kerjanya.


“Aku ke kantor dulu, Hon.” William sedikit membungkuk, kemudian mengecup kening Regina.


“Jangan lupa mandi.” Imbuhnya lagi. Pria itu mengambil nampan berisi piring kosong, dan membawanya ke dapur.


“Hati-hati di jalan, Will.”


“Sure, Honey.”


Regina menatap punggung William yang telah menghilang di balik pintu. Wanita itu menghela nafasnya pelan.


“Terima kasih telah menyayangi ku, Will.”


.


.


.


Bersambung.