BOSS WITH BENEFIT

BOSS WITH BENEFIT
Bab. 81. Mereka Di Jodohkan.



Dua hari menjelang pernikahan. Kesibukan semakin terlihat di kediaman keluarga Sanjaya. Siang ini, gaun dan setelan pengantin yang akan di gunakan Regina dan William, serta seragam para keluarga akan di antar ke rumah.


Selain itu, para wanita juga sibuk melakukan perawatan, agar terlihat cantik di hari pernikahan nanti.


“Ma, kenapa gaun ku harus berpasangan dengan pakaiannya Reka?”


Willona cemberut, ia protes pada sang mama. Mereka kini tengah mencoba gaun yang di bawakan oleh salah seorang asisten dari perancang busana, langganan keluarga Sanjaya.


“Lah, memangnya kenapa? Kan semua seragam itu berpasangan. Mama sama papa, om Regan sama tante Karin.” Ucap nyonya Aurel santai, ia tengah memeriksa gaun yang akan di gunakan oleh Regina.


“Tetapi, tidak sama Reka juga kan, ma?”


“Lalu? Kamu mau berpasangan dengan siapa?”


Gadis itu pun mendengus kesal. Mau tidak mau, suka atau tidak, Willona harus terima memakai pakaian setelan berpasangan dengan Reka.


‘Pria menyebalkan itu, pasti akan semakin besar kepala.’


Tak lama kemudian, Regina dan nyonya Karin ikut bergabung. Nyonya Aurel memberikan pakaian setelan kepada calon besannya. Ia juga meminta Regina untuk mencoba gaun pengantinnya.


Regina menurut, ia pun pergi ke salah satu kamar terdekat dari ruang keluarga.


“Biar aku bantu, Re.” Willona ikut calon kakak iparnya.


“Bagaimana Au? Apa Willona mau menggunakan pakaian setelan dengan Reka?” Tanya nyonya Karin, setelah kedua anak mereka menghilang.


Ya, ide supaya Willona menggunakan pakaian berpasangan dengan Reka adalah usul dari nyonya Karin. Jika sebelumnya, nyonya Aurel yang ingin menjodohkan anak pertama mereka, kini giliran nyonya Karin yang ingin anak kedua mereka bersama.


“Terpaksa, Kar. Mereka sepertinya tidak akur.”


“Itu hal biasa Au, seperti di drama-drama Korea gitu. Awalnya benci, lama-kelamaan menjadi bucin, alias budak cinta.” Ucap nyonya Karin terkekeh.


“Iya sih, Kar. Tapi, apa kamu yakin Reka belum punya kekasih? Jangan sampai kejadian Regina ini, terulang oleh Reka.”


“Aku yakin, Au. Dia sudah lama melajang, karena pacarnya tidak suka jika Reka jarang ada waktu untuk bertemu. Ya maklumlah, Reka seorang dokter muda, dia banyak menghabiskan waktunya untuk belajar, dan bekerja.”


Nyonya Aurel mengangguk paham.


“Aku—


Ucapan istri pak Antony itu terputus, kala mendengar suara pintu terbuka. Nyonya Karin memberi kode diam, dengan mengatupkan bibirnya.


“Wah, kamu cantik sekali, sayang.” Nyonya Aurel terpukau melihat penampilan calon menantunya.


Gaun berwarna putih, berlengan panjang, yang menjuntai hingga menutupi kaki Regina, sangat pas di tubuh wanita berusia 28 tahun itu.


“Pilihan mama memang tidak salah. Dan sesuai dengan keinginan William.”


Nyonya Aurel teringat kembali, ketika sang putra memintanya mencarikan gaun yang tertutup untuk Regina. Ia menyanggupi, karena meskipun acara mereka mendadak, namun ibu dua anak itu sudah memiliki butik langganan sendiri. Ia tinggal merogoh saku dua kali lipat, maka apa yang diinginkan pasti akan ia dapatkan.


“Terima kasih, ma. Aku suka sekali dengan gaun ini.” Ucap Regina tulus.


“Sama-sama sayang. Mama senang sekali bisa melakukan ini untukmu.”


******


Sementara itu, di tempat lain, tepatnya di sebuah Restoran, nyonya Mahendra sedang berkumpul bersama teman-teman arisannya. Perkumpulan itu berjumlah 6 orang, yang usianya rata-rata di atas 50 tahunan, namun masih terlihat glamor, karena mereka semua merupakan istri dari para pengusaha.


Mereka sedang membahas rencana pergi liburan dua hari lagi, ke pulau dewata, Bali. Tentu saja Nyonya Mahendra ikut. Ia ingin melepaskan penat sekaligus menenangkan pikiran, karena memikirkan masalah Alvino dan Tamara.


“Lalu, bagaimana dengan Jeng Erica, apa akan ikut dengan kami?” Ketua perkumpulan itu bertanya kepada salah satu peserta yang bernama nyonya Erica.


“Loh, kenapa Jeng?” Tanya yang lainnya.


“Keponakan ku dari pihak suami, akan menikah lusa. Jadi tidak enak rasanya jika aku tidak hadir.” Jelas nyonya Erica, wanita paruh baya itu tak lain adalah istri dari Pak Adrian Sanjaya, kakak dari Pak Antony Sanjaya.


“Keponakan mu yang mana, Jeng? Yang menjadi model itu?” Tanya sang ketua perkumpulan. Ia tau, jika nyonya Erica mempunyai keponakan yang berprofesi sebagai model, karena membawa nama Sanjaya di belakang namanya.


“Bukan, tetapi kakaknya, William.”


“Kok aku tidak begitu tau ya tentang anak pertama dari iparmu itu? Jarang kelihatan, apa tinggal di luar negeri?”


“Dia memang jarang muncul bersama orang tuanya.” Jawab nyonya Erica.


“Ada fotonya tidak, Jeng? Aku ingin tau, bagaimana wajah putra iparmu itu.” Salah satu anggota perkumpulan ingin tau.


“Ada, ini di undangannya.” Nyonya Erica mengeluarkan ponsel dari dalam tas, kemudian menunjukan undangan digital yang di kirim oleh nyonya Aurel kepadanya.


“The Wedding of William Antony Sanjaya and Putri Regina Prayoga.” Salah satu dari mereka membaca judul undangan digital itu.


Deg!!


Nyonya Mahendra yang sedari tadi hanya menjadi pendengar, tiba-tiba tersentak. Ia merasa tidak asing dengan nama pengantin wanita yang di sebut oleh temannya itu.


“Siapa Jeng, nama pengantin wanitanya?” Ia kemudian bertanya.


“Putri Regina Prayoga. Dia anak dari sahabat iparku.”


‘Bukannya itu nama lengkap Regina? Apa secepat itu Regina berpaling dari Alvino?’


Batin nyonya Mahendra bertanya-tanya.


“Apa ada fotonya, Jeng?” Tanya ibu dari Alvino itu. Ia ingin meyakinkan apa itu benar Regina yang ia kenal, atau bukan.


“Ini loh, Jeng. Cantik ya?” Ketua perkumpulan yang sedari tadi memegang ponsel nyonya Erica, menyodorkan benda pintar itu kepada nyonya Mahendra.


Mata wanita paruh baya itu membulat sempurna, kala melihat gambar Regina yang ia kenali, sedang bergandengan tangan dengan pria lain.


“Regina?” Gumamnya pelan.


“Apa kamu mengenalnya Jeng?” Tanya nyonya Erica.


“A-ah, tidak. Maksudku tidak begitu. Seperti pernah bertemu. Apa mereka sudah lama berpacaran?” Nyonya Mahendra ingin mendapatkan informasi lebih banyak.


“Tidak, kata iparku, mereka di jodohkan. Gadis ini baru saja dikhianati oleh pacarnya. Jadi, Aurel berniat menjadikan mantu.”


“Gadis secantik ini dikhianati? Wah, parah juga ya pacarnya. Sudah punya kekasih secantik ini, malah berkhianat. Tidak bersyukur sekali jadi laki.” Ucap salah satu dari mereka.


Nyonya Mahendra menjadi salah tingkah. Ia tau betul siapa yang sedang di bicarakan teman-temannya saat ini.


‘Alvino, apa yang kamu lakukan? Regina akan segera menikah, apa kamu tau?’


.


.


.


Bersambung.