
Akhir pekan adalah hari dimana saatnya semua anggota keluarga Sanjaya berada di rumah. Menghabiskan waktu dengan melakukan perawatan bersama bagi para wanita, dan bermain games untuk para pria.
Jika sebelumnya, William hanya akan bermain dengan sang papa, hari ini ia mengundang adik iparnya untuk bergabung.
Reka tak dapat menolak perintah kakak iparnya, karena pria itu mengatakan jika pak Antony akan membahas perjodohan Willona dengan anak salah satu koleganya.
Tentu saja William berdusta, sang papa tidak pernah membahas masalah perjodohan sang adik. Suami Regina itu hanya ingin mengerjai adik dan adik iparnya. Ia sudah membayangkan betapa menyenangkan hari ini di habiskan untuk menggoda pasangan muda itu.
“Wah adik iparku sudah datang.” Ucap William yang tengah berjalan menuju ruang keluarga, dimana Reka dan pak Antony berada.
“Tumben kamu berada di rumah, biasanya kan ngumpul bersama teman-temanmu.” Reka tak mau kalah menyahuti ucapan kakak iparnya.
William mencebik, ia pun mengambil tempat di samping pria yang 5 tahun lebih muda darinya itu.
“Tidak selalu. Sekarang aku sudah punya istri. Jadi harus pandai membagi waktu.”
Reka menganggukkan kepalanya.
Beberapa saat kemudian, William kembali bangkit dan menyalakan video games, keluaran terbarunya.
“Ayo kita tanding bola.” Ucapnya sembari mengulurkan stik games pada adik iparnya itu.
Dokter muda itu mendekat. Mereka pun duduk lesehan di atas karpet, di depan televisi.
Hampir setengah jam bermain games, Reka mulai celingukan. Sejak ia datang, tak sekalipun melihat keberadaan sang kakak maupun pujaan hatinya.
Ia hendak bertanya kepada kakak iparnya, namun di urungkan. Karena pria itu pasti akan menggodanya.
“Dia sedang melakukan perawatan.” Celetuk William, namun matanya masih tetap fokus pada layar televisi.
“Siapa?” Reka berpura-pura tidak tau maksud ucapan kakak iparnya.
“Jangan pura-pura tidak mengerti. Aku tau kamu mencari adikku, kan?”
“Tidak.” Jawab Reka cepat. “Aku mencari kakakku. Dimana dia? Apa tidak tau jika adiknya datang?”
“Gina juga ikut perawatan.”
Alis Reke berkerut. “Dimana? Apa kalian sudah memastikan produk yang di gunakan aman untuk wanita hamil?”
“Tenang adik iparku, sayang. Mereka perawatan di rumah ini.” William menunjuk ke arah sebuah pintu yang tak jauh dari mereka. “Tuh disana. Dan kamu tidak perlu khawatir, semua produk yang di gunakan aman untuk wanita hamil. Sebelum kamu memberitahu, mama sudah lebih dulu mengurusnya.” Ucap William panjang lebar sembari menepuk-nepuk bahu adik iparnya.
Tak berapa lama, pak Antony bergabung bersama mereka. Pria paruh baya itu baru saja memandikan burung-burung peliharaannya. Hobi baru yang ia geluti, karena pengaruh besan sekaligus sahabatnya. Siapa lagi jika bukan pak Regan.
“Sudah lama, ka?” Tanya suami nyonya Aurel itu sembari menepuk pundak anak kedua sahabatnya.
“Baru satu jam, om.” Jawab Reka terkekeh, namun ucapannya benar adanya. Ia sudah satu jam berada di rumah keluarga Sanjaya.
“Apa papa sudah selesai dengan burung-burung papa itu?” William bertanya ke arah sang papa.
“Om memelihara burung? Sejak kapan?” Reka ikut bertanya.
“Itu karena ayahmu. Setiap menelpon selalu saja membahas burung. Jadi ya, om terpengaruh dan ikut-ikutan.” Jawab pak Antony tergelak. Bahkan meminta besannya mengirimkan kontak-kontak para penjual burung.
“Bukannya Ayah Regan cuma memelihara pipit?” Tanya William dengan menaikan satu alisnya.
“Pipit cuma nama burungnya. Mertuamu itu bahkan memelihara burung yang harganya belasan juta.” Jelas pak Antony membuat William menganga tak percaya.
“Apa iya?” Suami Regina itu meminta jawaban pada adik iparnya.
“Ya, karena itu kalau ayah dan ibu tidak di rumah dalam jangka waktu yang lama, mereka suka menitipkan pipit pada tetangga. Selain takut burung itu hilang, supaya ada yang memberi makan juga.” Jelas Reka panjang lebar.
William pun menganggukkan kepalanya tanda paham. Ia pun jadi penasaran dengan burung peliharaan ayah mertuanya.
Ketiga pria berbeda usia itu kembali mengobrol, dengan William dan Reka yang bermain games.
****
Hingga menjelang makan siang, belum ada satu wanita pun yang keluar dari pintu yang di tunjuk William tadi.
Para pria sudah menghabiskan banyak camilan dan minuman kaleng, yang mereka nikmati sembari bermain games.
“Pa, aku lapar.” Seru William sembari melepaskan stik games nya. Pria itu mengacak rambutnya kesal. Rasa bosan menunggu para wanita itu mulai menghinggapi.
“Sebentar lagi. Papa rasa, makan siang juga hampir siap.” Pak Antony menepuk pundak sang putra.
“Apa tidak boleh makan terlebih dulu? Aku bisa kena asam lambung.” Suami Regina itu mulai hiperbola.
“Kalau kamu sakit, itu minta obat sama adik iparmu.” Tunjuk pak Antony pada Reka yang duduk di samping William.
Ketika rasa bosan semakin besar William rasakan, pintu ruang perawatan kecantikan itu pun terbuka. Dan keluarlah satu per satu wanita yang ia cintai.
“Akhirnya..” pria 32 tahun itu pun bernafas lega. Karena setelah ini, ia bisa menikmati makan siangnya.
Dokter muda itu pun bangkit menghampiri sang kakak.
“Hai?” Ucap Reka memeluk sang kakak, namun pandangannya jatuh pada Willona yang berdiri di belakang Regina.
“Apa sudah lama?” Tanya Regina pada sang adik.
“Hmm, sudah hampir 4 jam.” Jawab Reka. Membuat Regina menganga.
“Wah, maafkan aku. Aku tidak tau jika kamu datang.” Regina merasa bersalah pada sang adik.
“Tidak apa-apa. Lagipula, hari ini aku libur.” Ucap Reka menenangkan kakaknya.
Regina menganggukkan kepala. Sang adik kemudian menyalami nyonya Aurel.
“Yang satu, tidak disapa?” Celetuk William dengan menatap adiknya.
“Apa sih, bang?” Willona berucap dengan berbisik.
“Sudah, ayo kita makan siang. Bukannya kamu sudah kelaparan? Papa takut kamu kena busung lapar, jika telat makan.”
“Astaga, papa.” Mata William membulat mendengar ucapan sang papa.
“Amit-amit, jabang bayi.” Ia pun berlari mendekati Regina, kemudian mengusap perut sang istri.
Dan semua orang di ruang keluarga itu pun tergelak melihat tingkah William.
***
Usai makan siang, Regina mengajak sang adik untuk mengobrol berdua. Mereka memilih halaman belakang rumah Sanjaya, sembari bersantai. Sementara, anggota keluarga yang lain berada di dalam rumah.
“Ada apa? Apa William menyakitimu?” Sebuah pertanyaan Reka lontarkan. Ia tau, jika sang kakak sudah bergelayut manja padanya, pasti ada sesuatu yang wanita itu alami.
Kepala Regina yang bersandar di bahu adiknya, menggeleng. Ia mengeratkan pelukan pada lengan sang adik sebelum menjawab.
“Aku rindu ibu.” Jawabnya kemudian.
“Apa tidak pernah bertukar kabar dengan ibu?”
“Sering, tetapi bertemu secara langsung akan lebih mengobati rasa rindu itu, bukan?”
Reka mengangguk tanda setuju.
“Apa perlu aku meminta ibu dan ayah untuk datang kemari?” Tanyanya memastikan.
“Tidak.” Jawab Regina dengan cepat.
“Ibu bercerita kalau ayah mendapatkan banyak orderan sekarang. Akan menganggu jika meminta mereka untuk datang.” Ucap Regina sembari menghela nafasnya pelan.
Dari jarak dekat, William mengamati interaksi sang istri dengan adik iparnya. Ia juga mendengar apa yang mereka bicarakan.
“Apa kamu ingin pulang kampung?” Reka menebak maksud ucapangl sang kakak.
William semakin menajamkan pendengarannya. Ia ingin mendengar jawaban sang istri.
“Ya, tetapi—,” Regina menjeda ucapannya.
“Tetapi apa?”
“Tetapi aku belum boleh naik pesawat, kan?”
Reka dapat merasakan ada kesedihan di balik kalimat yang terlontar dari bibir sang kakak.
“Kamu sabar, ya. Sebentar lagi bukannya sudah mau trimester kedua? Itu artinya kamu boleh naik pesawat. Tetapi sebelum itu, kamu harus periksa dulu ke dokter kandungan mu.” Jelas Reka, membuat kepala Regina mengangguk.
“Mereka mesra sekali ya, bang.” Tiba-tiba Willona sudah berdiri di samping sang kakak.
“Jangan cemburu. Mereka sama seperti kita.” Tukas William yang kemudian berlalu dari tempat itu.
Willona mendengus kesal. Ia kembali melihat ke arah Reka dan Regina berada.
“Siapa yang cemburu?” Ucapnya yang kemudian menyusul sang kakak.
.
.
.
Bersambung.