BOSS WITH BENEFIT

BOSS WITH BENEFIT
Bab. 69. Aku Sangat Mencintainya.



William hendak menyalakan mesin mobil. Namun, ia teringat akan ponselnya. Pria itu merogoh saku celana panjangnya, kemudian menyalakan benda pipih pintar itu.


Banyak notifikasi masuk pada ponselnya. Namun hanya satu yang menarik hati William, panggilan tak terjawab dari sang mama.


Dengan cepat pria itu menghubungi nomor sang mama kembali.


“Hallo, ma?” Ucapnya setelah panggilan di jawab oleh sang mama.


“Kamu dimana, Will?” Nada suara nyonya Aurel terdengar cemas.


Hal itu membuat William tersenyum.


“Aku ada di klub, ma. Mama dimana?” William berpura-pura tidak tau. Ia akan memberikan kejutan lagi, kepada mereka.


“Mama, papa dan orang tuanya Regina berada di villa kita.” Terdengar helaan nafas dari wanita yang telah melahirkannya itu. “Kata adikmu, kamu sedang mencari Regina. Kemana kamu mencarinya Will?”


“Aku mencarinya ke kampung kalian. Tetapi aku tidak menemukannya, ma.” William juga ikut menghela nafasnya.


“Kamu jangan khawatir, Regina baik-baik saja. Dia— tut..tut


Panggilan tiba-tiba saja terputus. William semakin yakin jika pujaan hatinya ada bersama mereka sekarang. Dan pasti ada orang yang melarang sang mama mengatakannya pada William.


“Kalian pasti sengaja menyembunyikan Regina dari aku. Silahkan saja, aku akan datang mengambil kembali apa yang harus menjadi milikku.”


William kemudian menyalakan mesin, perlahan mobil mahal itu melaju meninggalkan parkiran klub malam.


“Dewi Sinta, tunggu Dewa Rama akan datang menjemput mu.”


Setelah satu setengah jam di perjalanan, William tiba di halaman villa milik keluarganya, tepat pukul 10 malam.


Seorang penjaga villa menyapanya. Mereka pun berbasa-basi sebentar. William mencebik, kala mendapati lampu masih menyala di dalam villa mewah itu.


Menarik dan membuang nafasnya berulang kali. William kemudian masuk kedalam villa.


“Lihat, siapa yang datang.” Pak Regan berucap. Nada suaranya terdengar tidak bersahabat.


Regina yang sedang duduk termenung di atas karpet bulu, pun mengangkat pandangannya.


“Will..?” Mata wanita hamil itu berbinar. Melihat pria yang ia rindukan kini berada di sana. Apalagi, William sedang tersenyum ke arahnya. Itu artinya, pria itu sudah tidak marah lagi.


Dengan cepat Regina bangkit, ia bahkan berlari kecil untuk cepat sampai pada William.


“Sayang, jangan berlari.” Peringat nyonya Aurel, seketika Regina memelankan langkahnya.


Hendak mencapai William yang telah merentangkan kedua tangan, tiba-tiba pak Regan menghalangi, sehingga yang Regina peluk adalah ayahnya.


“Ayah?”


“Apa?”


“Minggir, Yah.”


“Kamu mau memeluk pria yang sudah meninggalkan, dan mendiami mu hanya karena ingus?”


Regina mendengus kesal. Sang ayah mengingatkan lagi. Jangan sampai William kembali pergi meninggalkannya.


“Ayah.” Nada suara Regina terdengar memelas.


“Gan, biarkan saja.” Nyonya Aurel merasa tidak tega melihat Regina yang mulai berkaca-kaca.


Pak Regan pun berdecih.


“Om, maafkan aku. Aku telah berbuat salah. Om boleh menghukum aku apa saja, asal jangan pisahkan aku dengan Gina. Aku sangat mencintainya, Om.” William bersuara. Ia pun berjalan mendekati pasangan ayah dan anak itu.


“Will..?” Regina merasa terharu mendengar ucapan William.


“Sangat mencintainya? Tetapi kamu pergi begitu saja, setelah tau siapa Regina yang sebenarnya.”


“Maafkan aku, Om. Saat itu aku benar-benar terkejut. Aku belum siap dengan kenyataan, jika Gina adalah putri Om.” William menghela nafasnya pelan.


“Tetapi, tak ada sekalipun niat ku untuk meninggalkan Regina Om. Aku hanya membutuhkan waktu untuk menerima semua ini. Aku sangat mencintainya Om.”


Pak Regan menatap sinis calon menantunya itu.


“Yah, biarkan mereka bertemu. Kasihan, jangan sampai Regina stres Yah.” Nyonya Karin bersuara. Ia melihat sang putri yang mulai terisak. Wanita paruh baya itu tau, perasaan seorang wanita hamil sangat sensitif.


“Baiklah. Aku ijinkan kalian bicara berdua. Tetapi ingat, jaga batasan. Jangan sampai kelewatan, kalau lewat, kalian harus balik lagi.” Pak Regan pun menyingkir, dan membiarkan Regina dan William bertemu.


“Honey.”


“Will.”


“Aku sangat merindukanmu, Honey.” William menghujami ciuman bertubi-tubi pada wajah Regina.


Wanita mengangguk sambil tersenyum. Dengan mata yang berkaca-kaca.


“Hey, pergi ke kamar sana. Jangan menodai mata ku dengan adegan tak senonoh kalian.” Pak Regan merasa jengah sendiri melihat kelakuan dua anak muda itu.


“Apa kamu membiarkan mereka satu kamar, Gan?” Pak Antony bertanya kepada sang sahabat.


“Cih, tidak aku biarkan juga, putramu nanti akan menyelinap ke kamar putriku. Lagi pula, selama ini mereka sudah tinggal bersama. Apa lagi yang harus di halangi. Bahkan dia— pak Regan menujuk William dengan dagunya. “Sudah meniduri putriku berkali-kali.”


“Ayah.” Nyonya Karin memperingati sang suami.


“Aku bicara kenyataan, Bu.”


“Sudah-sudah. Ini sudah malam. Regina juga harus beristirahat.” Nyonya Aurel menengahi.


“Sayang, kamu ke kamar istirahat ya, sudah malam. Ingat jangan bergadang.” Ia kemudian berbicara pada Regina.


“Iya, ma. Kalau begitu aku permisi ke kamar dulu. Yah, Bu, ma, pa. Aku permisi.”


“Hmm.”


William menganga, sepertinya dia melewatkan sesuatu. Sampai tidak tau jika Regina kini memanggil orang tuanya dengan sebutan mama dan papa.


“Aku juga ikut ke kamar.” William menyusul.


“Jangan macam-macam. Apalagi membuat putriku kelelahan.” Ancam pak Regan.


“Tidak Om.” Jawab William sembari mencium punggung tangan calon mertuanya itu.


“Tidak janji.” Ucapnya kemudian. Membuay mata pak Regan membulat sempurna. Dan William pun mengambil langkah seribu, sebelum pria paruh baya itu berubah pikiran.


*****


“Honey.” William mendekat ke arah Regina yang sedang berganti pakaian. Untung saja wanita itu sudah menggunakan piyamanya dengan lengkap.


“Maafkan aku, Honey. Aku tidak bermaksud meninggalkan mu waktu itu. Aku juga tidak bermaksud mendiami mu di kantor. Aku hanya sangat terkejut dengan semua ini.” Ucap William sembari mendekap erat tubuh Regina.


“Iya, aku tau. Karena itu, aku tidak mengganggumu.” Wanita itu mengusap lembut punggung tangan William yang sedang melingkar di perutnya.


‘Sayang. Apa kamu merasakan? Tangan papamu sedang memelukmu.’


“Jangan pernah pergi seperti ini lagi, Honey.”


“Aku tidak pergi. Aku hanya mengunjungi ayah dan ibu. Setelah itu mama mengajak aku ikut liburan. Aku pikir tidak ada salahnya. Sambil memberi kamu waktu untuk sendiri.”


“Kamu memanggil orang tuaku mama dan papa?” William lebih penasaran dengan itu.


“Ya, kata mama saat kecil dulu, aku memanggil mereka begitu.”


“Itu artinya, aku juga harus memanggil orang tua mu, ayah dan ibu.”


“Terserah padamu, Will.”


William memutar tubuh Regina, membuat wanita itu menghadap ke arahnya.


“Aku merindukan mu.” William kemudian menyatukan kedua bibir mereka. Yang awalnya lembut, semakin lama semakin menuntut.


“Will..sshh.. jangan.” Regina menghentikan aksi William yang akan melakukan lebih.


Alis pria itu berkerut. Baru kali ini Regina menolaknya.


“Kamu menolakku? Apa kamu masih marah padaku?”


Kepala Regina menggeleng. Wanita itu kemudian memutar tubuhnya, mengambil sesuatu di atas nakas. Kemudian memberikan kepada William.


William membolak-balik gambar hitam putih yang di berikan Regina padanya.


“Ini apa, Honey? Kenapa seperti foto polaroid?”


.


.


.


Bersambung.