BOSS WITH BENEFIT

BOSS WITH BENEFIT
Bab. 59. Cara Membatalkan Perjodohan 21++



Setelah kepergian Willona. William mengirim pesan kepada sang papa, menanyakan jam berapa mereka akan kembali ke rumah.


William menyeringai, kala mendapat balasan dari sang papa. Mereka kemungkinan akan pulang malam. Sementara ini baru mendekati sore.


William melihat ke segala penjuru di lantai dua rumah itu. Ia memastikan tidak ada orang di sekitarnya. Pria itu kemudian mendekat ke arah sang sekretaris, setelah merasa keadaan aman terkendali.


“Honey, aku merindukan mu.” William mendekap tubuh Regina.


Sementara wanita itu tersentak. Jantungnya berdetak lebih cepat. Ia tidak boleh membiarkan William begini. Ini rumah keluarga Sanjaya. Bagaimana jika ada yang melihatnya?


“Will, ini di rumah orang tua mu.” Regina berusaha melepaskan dekapan pria itu.


“Memang, siapa yang mengatakan ini rumah orang tua mu.” Namun William semakin mendekap tubuh sang sekretaris.


“Will. Nanti ada yang melihat.”


“Tidak ada siapapun, Honey.”


William mulai mendekatkan wajahnya.


“Kita ke kamar, Honey.” Suara pria itu terdengar berat. Jika sudah begitu, Regina tau apa yang sedang pria itu rasakan.


“Kita pulang ke apartemen, ya.” Tawar wanita itu.


“Ke kamar ku, Honey. Kamar ku kedap suara. Kamu tenang saja.” William sudah mulai mengecupi pipi Regina.


“Tapi, bagaimana jika orang tuamu kembali?”


“Mereka masih lama.” William membuang nafasnya kasar.


“Please, Honey. Sepertinya aku salah minum tadi. Pasti ada salah satu temanku yang memasukkan obat kedalam minuman ku.” William meraih tangan Regina, kemudian membawa ke arah si boy.


“Rasakan, Honey. Dia sudah sangat keras.”


Regina menelan ludahnya dengan susah payah.


“Kenapa bisa begini?”


“Honey, di klub ku sudah biasa membicarakan hal-hal berbau dua satu ples. Diantara mereka, hanya aku yang belum mempunyai kekasih, makanya mereka mengerjaiku.”


William menyerukan wajahnya pada leher Regina.


“Jika bukan karena ini, tidak mungkin aku pulang secepat ini. Kamu sendiri tau kan, di akhir pekan aku selalu pulang menjelang petang.”


Kepala Regina mengangguk. Memang jika William pergi dengan teman-temannya, selalu pulang menjelang petang.


“Tolong aku, Honey. Aku bisa mati jika ini tak tersalurkan.” William mengangkat tubuh Regina. Menggendong seperti pengantin baru.


Dengan perasaan was-was, Regina menoleh ke segala penjuru, ia kemudian mengalungkan kedua tangan pada leher William.


“Will, kamu yakin kamar ini kedap suara?” Tanya Regina setelah tubuhnya terlempar di atas ranjang nan empuk.


Regina memindai ke segala penjuru sudut kamar William. Kamar yang di dominasi warna abu-abu dan hitam. Ciri khas kamar seorang pria.


“Yakin, honey.” Pria itu berbalik, kemudian menutup pintu dan menguncinya. Ia lalu membuka satu persatu kain yang menempel pada tubuh kekarnya. Membuang begitu saja di atas lantai kamar.


Regina menelan ludahnya susah payah. Ia melihat boy, begitu tegak, berdiri kokoh.


“Tolong dia, Honey.” Ucap William mendekat ke arah ranjang. Tangan pria itu dengan lembut mendekap si boy.


“Wi-Will.. bagaimana jika orang tuamu pulang. Ki-kita ke apartemen saja, ya.” Regina menawar kembali.


“Jangan banyak menawar, Honey. Ini tidak akan lama jika kamu tidak banyak bicara.” William menaiki ranjang. Kemudian merangkak di atas kaki Regina.


Tanpa banyak perlawanan, Regina pun pasrah. Tunduk, dan mengalah di bawah rasa dan sentuhan yang William berikan. Regina akui, ia tidak pernah bisa menolak pesona William.


“Will—ssshh.” Regina menggigit bibir bawahnya, agar ia tidak mengeluarkan suara keramatnya.


Sementara William sedang membenamkan kepalanya di tempat ternyaman boy.


“Let me in, Honey.” Bisik William saat Regina tengah meresapi apa yang pria itu lakukan. Kepala wanita itu pun mengangguk.


Sedetik kemudian, boy pun sudah bersarang pada tempatnya. Pertempuran panas pun terjadi. William begitu bersemangat menaklukan Regina. Dan wanita itu, meski ia juga menikmati apa yang mereka lakukan, namun hatinya juga was-was, jika sampai keluarga William tiba-tiba datang.


“Honey.. ohh.. si-al.” William merancau tak jelas. Ia begitu menghayati, tak sia-sia ia meminta obat lak-nat itu kepada salah satu temannya. Ternyata membuat William tak tertandingi.


“Will, hhh.”


“Sabar, Honey. Sepertinya aku meminum obat dosis tinggi. Si-al, Akh.. aku akan memberi pelajaran orang itu.” Tentu William berdusta. Ia sendiri yang meminta obat itu kepada salah satu temannya. Bukan tanpa sengaja meminumnya.


“A-apa sangat menyiksa?” Tanya Regina dengan nafas tersengalnya. Ia sudah tak sanggup mengimbangi William lagi. Pria itu lebih bertenaga dari biasanya.


“Iya hhh.. Honey. Aku bisa mati jika ini tak tertuntaskan.” William terus memacu boy di bawah sana.


Tak seperti yang di ucapkan William sebelumnya, pertempuran itu pun berlangsung cukup lama. Tidak hanya di atas ranjang, namun juga di sofa, tidak hanya merebah, tetapi juga tengkurap, berdiri, bahkan saling pangku.


Entah berapa lama mereka bertempur, hingga Regina pun terkulai lemas tak berdaya. William berusaha mengatur nafasnya. Menstabilkan kembali detak jantungnya. Kemudian ia menarik tubuh polos Regina membawa ke dalam dekapannya. Tak lupa pria itu menyelimuti tubuh mereka berdua. Lelah tak hanya Regina yang rasa, tetapi ia juga.


‘Maafkan aku, Honey, aku harus melakukan ini, hanya ini cara satu-satunya, agar mama dan papa mengurungkan niatnya menjodohkan aku dengan pilihan mereka. Karena aku punya pilihan sendiri. Yaitu, kamu. Putri Regina Prayoga.’


******


Sementara itu, hari kini telah menjelang petang. Pak Antony bersama rombongan yang rencananya akan pulang malam, ternyata datang lebih awal.


Di antar seorang sopir, para lansia itu tiba di rumah keluarga Sanjaya saat waktu menunjukkan pukul 6.30 sore.


“Wah.. ini rumah, apa istana kepresidenan Au?” Mata nyonya Karin berbinar menatap megahnya rumah sang sahabat.


“Jangan berlebihan, Kar. Ini masih kecil.” Nyonya Aurel menggandeng lengan sahabatnya. “Loh, ada William juga di rumah.” Ucapnya ketika melihat mobil sang putra terparkir di halaman rumah.


Pak Antony dan pak Regan mengikuti para istrinya dari belakang.


“Ternyata kamu sudah sehebat ini, An.” Ucap pak Regan sembari menggeret kopernya.


“Jangan berlebihan, Gan. Ini tidak ada apa-apanya.”


Mereka pun masuk kedalam rumah. Nyonya Aurel meminta seorang asisten membawa koper pak Regan ke dalam kamar tamu yang sudah di siapkan.


Istri pak Antony itu juga meminta seorang asisten lainnya membuatkan minum untuk para tamunya.


“Sebentar, ya. Aku panggilkan William. Dia pasti senang bertemu kalian.” Nyonya Aurel bergegas meninggalkan para sahabat bersama sang suami di ruang keluarga.


Saat menapaki tangga, seorang asisten rumah yang lain, mengikutinya.


“Ada apa kamu mengikutiku?” Tanya saat sampai di ujung tangga.


“I-itu, tu-tuan muda.” Asisten itu bingung menjelaskan. Tanpa sengaja tadi beberapa jam yang lalu, ia melihat William menggendong Regina masuk ke dalam kamar.


“Ada apa dengan William?” Tanya nyonya Aurel menghentikan langkahnya.


“Tuan muda, di- di dalam kamar-,”


“Iya aku tau William pasti di dalam kamarnya.” Ia kembali melanjutkan langkahnya.


“Tapi, nyonya, itu. Tuan muda di dalam bersama nona Regina.” Wanita berusia 40 tahunan itu memberanikan diri untuk berbicara.


Dahi nyonya Aurel berkerut. Langkahnya kembali terhenti.


“Ada Regina disini?”


Dan asisten itu mengangguk.


“Tadi siang, nona Regina datang bersama nona Willona. Tetapi, nona Willona pergi lagi karena ada urusan mendadak. Dan nona Regina di tinggal di rumah bersama tuan muda.”


“Lalu.. sejak kapan mereka di dalam kamar?”


“Kira-kira dua jam yang lalu, nyonya.”


“Apa?” Nyonya Aurel bergegas. Ia kemudian mengetuk pintu kamar sang putra, namun percuma.


Deg…!!


Wanita paruh baya itu tersentak, kala ia mencoba membuka pintu kamar, namun terkunci dari dalam.


“Kamu yakin Regina ada di dalam?”


Panik, dan pikirkan yang bukan-bukan kini menghantuinya. William dan Regina di dalam kamar yang terkunci? Apa yang mereka lakukan?


“Iya, nyonya. Maaf, tetapi tanpa sengaja saya melihat tuan muda menggendong nona Regina masuk ke dalam.” Wanita itu menunjuk kamar putra sang majikan.


Astaga.. pikiran ibu dua anak itu semakin kacau.


“Apa yang mereka lakukan? Astaga, di bawah ada Regan dan Karin. Bagaimana jika mereka membatalkan rencana perbesanan kita?”


Istri pak Antony itu mondar-mandir di depan kamar sang putra.


“Kamu kenapa diam? Cepat ambilkan kunci cadangan.”


Asisten itu pun mengambilkan kunci cadangan yang tersimpan di laci, sebuah meja di lantai dua itu.


“Ini nyonya.”


Dengan tangan gemetar, nyonya Aurel membuka pintu kamar sang putra. Ketika pintu telah terbuka, mata wanita itu membulat sempurna, kala melihat pakaian sang putra berserakan di lantai. Di dekat tempat tidur, ia melihat pakaian wanita sedang tumpang tindih.


“Jangan mendekat.” Tangan nyonya Aurel menahan sang asisten rumah. Namun pandangannya tetap ke dalam kamar sang putra.


Jantung wanita paruh baya itu semakin bergemuruh saat melihat pemandangan di atas tempat tidur. Sang putra sedang tidur saling memeluk dengan Regina. Dapat ia pastikan, di balik selimut mereka berdua tidak menggunakan sehelai benang.


“WILLIAM!!”


.


.


.


Bersambung